Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 Menguping Telepon
Di dalam kamar yang sunyi, bunyi dering telepon terdengar begitu nyaring, memecah keheningan yang menyesakkan. Hanya selang satu detik, panggilan itu langsung diangkat.
Dean Junxian segera bangkit dari sisi tempat tidur. Tanpa berkata apa-apa, ia membawa ponselnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Pintu tertutup, namun tidak sepenuhnya meredam suara dari dalam.
Dari celah keheningan itu, aku masih sempat menangkap suara samar dari seberang sana, “Kamu sudah sampai?”
Aku menyipitkan mata, menatap ke arah pintu kamar mandi yang kini tertutup rapat. Ada sesuatu yang terasa janggal terlalu tergesa, terlalu tertutup.
Perlahan, aku menahan napas dan memasang telinga, berusaha menangkap setiap potongan suara yang mungkin lolos. Sayangnya, suara mereka terlalu pelan, hanya berupa gumaman tak jelas. Meski begitu, satu hal mulai terangkai di pikiranku seseorang di luar sana tahu bahwa Dean Junxian sudah kembali. Dan tanpa perlu banyak menebak, aku yakin orang itu adalah Deni Jufeng.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka kembali. Dean Junxian keluar dengan langkah cepat menuju ruang ganti, mengambil handuk bersih, lalu kembali masuk. Sepanjang itu, ponselnya tetap menempel di telinga. Ia hanya sesekali merespons dengan gumaman pendek, “Hmm,” seolah pembicaraan itu terlalu penting untuk diputus walau sedetik.
Entah dorongan nekat dari mana, aku menurunkan kaki dari tempat tidur. Lantai terasa dingin saat telapak kakiku menyentuhnya, namun aku mengabaikannya. Dengan langkah pelan dan hati-hati, aku berjinjit mendekati kamar mandi.
Setiap langkah terasa seperti perjudian.
Aku menempelkan telingaku ke dinding di samping pintu, berusaha menangkap suara yang kini terdengar sedikit lebih jelas.
“Cari orang untuk memeriksa rekaman CCTV, lalu kirimkan padaku,” suara Dean Junxian terdengar rendah, namun tegas. “Hal yang kusuruh kamu tangani, sudah beres belum? … Hmm, cepat selesaikan. Jangan ditunda lagi. Kalau dia masih keras kepala… beri dia sedikit pelajaran.”
Nada bicaranya dingin. Tanpa emosi. Bahkan cenderung menakutkan.
Jantungku berdetak lebih cepat.
“... Tapi... Suheng...” suara di seberang sana terdengar ragu-ragu.
Suheng?
Nama itu terasa asing, namun juga mengusik. Aku mengernyit, mencoba mendengar lebih jelas. Tanpa sadar, aku melangkah sedikit lebih maju.
Namun kecerobohanku langsung berbuah petaka.
Ujung kakiku tak sengaja menyenggol sesuatu di atas kabinet rendah dekat pintu. Sebuah benda tergeser dan menimbulkan bunyi “klak” yang cukup keras di tengah kesunyian.
Sekejap, semua suara dari dalam kamar mandi terhenti.
Darahku terasa membeku.
Detik berikutnya, pintu kamar mandi dibuka dengan kasar.
Dalam kepanikan, pikiranku berputar cepat. Tanpa sempat mempertimbangkan apa pun, aku refleks menyambar vas bunga di atas kabinet dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Siapa itu?! Keluar kamu!” teriakku, berusaha terdengar tegas.
Namun suaraku justru bergetar hebat, sarat ketakutan, sama sekali tidak meyakinkan.
Pintu terbuka lebar.
Dean Junxian melangkah keluar.
Aku sudah siap mengayunkan vas bunga itu ke arahnya, tetapi sebelum sempat melakukannya, ia dengan sigap menangkap pergelangan tanganku.
“Ini aku!” serunya tegas.
Gerakanku terhenti seketika.
Napas kami bertabrakan di udara yang masih dipenuhi ketegangan.
Aku menatapnya dengan pandangan kosong, seolah pikiranku belum sepenuhnya kembali. Rasa kaget itu masih menggantung, membuat seluruh tubuhku tiba-tiba kehilangan tenaga, lemas seakan tak bertulang.
Dean Junxian dengan cepat merebut vas bunga dari tanganku sebelum benar-benar terlepas. Tangannya yang lain langsung menopang tubuhku agar tidak terjatuh. Dengan alis berkerut dan nada suara yang terdengar kesal, ia bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”
Wajahku pucat, bahkan aku sendiri bisa merasakan dinginnya kulitku. Tanpa berpikir panjang, aku menyandarkan tubuh ke dadanya, seolah mencari perlindungan. Dengan sisa tenaga yang ada, aku memukulinya pelan dengan kepalan tangan.
“Kamu... kamu benar-benar membuatku takut setengah mati!” suaraku bergetar, nyaris tak terkendali. “Aku... aku kira ada orang asing yang masuk. Bukannya kamu bilang tidak akan pulang? Tiba-tiba aku dengar suara dari kamar mandi... aku benar-benar takut...”
Aku menatapnya dengan ekspresi polos bercampur cemas. Meski sebagian adalah akting, gemetar di tubuhku sama sekali bukan pura-pura rasa syok tadi masih belum sepenuhnya hilang.
Namun wajah Dean Junxian tetap dingin, nyaris tanpa perubahan. Nada suaranya pun tidak melunak sedikit pun.
“Memangnya siapa yang bisa masuk ke sini?” ujarnya datar. “Kamu ini selalu saja berlebihan. Sedikit-sedikit kaget.”
Kata-katanya seperti menyiramkan air dingin ke dalam hatiku.
Sekejap, ekspresiku ikut berubah. Rasa takut itu perlahan tergantikan oleh dingin yang menusuk. Aku menarik sedikit tubuhku darinya dan menatapnya tajam.
“Dean Junxian,” ucapku pelan namun tegas, “beraninya kamu membentakku?”
Ia tampak tertegun sesaat, seolah baru menyadari nada bicaranya tadi. Wajahnya yang semula kaku langsung melunak. Tanpa membuang waktu, ia meletakkan vas bunga itu ke samping, lalu meraihku kembali ke dalam pelukannya.
Kali ini pelukannya lebih erat, seakan berusaha menenangkan suasana yang sempat memanas.
Dengan gerakan lembut, ia membimbingku masuk ke kamar mandi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis senyum yang terasa sedikit dipaksakan.
“Sayang...” suaranya kini jauh lebih rendah, nyaris membujuk.
“Aku tadi hanya tidak suka melihatmu ketakutan seperti itu,” lanjutnya, berusaha terdengar tulus. “Coba pikirkan, siapa lagi yang mungkin masuk ke rumah kita tengah malam begini kalau bukan aku?”
Ia mengusap lenganku perlahan, seakan ingin meredakan ketegangan yang masih tersisa.
“Kalau bukan karena aku mengkhawatirkanmu, mana mungkin aku memacu kendaraan pulang sepanjang malam?” katanya lagi. “Waktu melihatmu menangis tersedu-sedu kemarin... kamu tidak tahu betapa hancur hatiku saat itu.”
Nada suaranya terdengar penuh perhatian.
Namun entah kenapa, di balik semua itu, masih ada sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya bisa kupercayai.
Mendengar ucapannya, aku hanya bisa memaki dalam hati.
Sialan... benar-benar licik.
Pandai sekali dia merangkai kata-kata manis, seolah penuh ketulusan. Padahal di balik semua itu, aku tahu persis seperti apa dirinya yang sebenarnya. dingin, manipulatif, dan sama sekali tak punya belas kasihan.
Aku mencoba mendorong tubuhnya menjauh, berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Namun tenagaku terlalu lemah. Dorongan yang seharusnya menjadi perlawanan justru tampak seperti gerakan setengah hati, lebih mirip permainan tarik ulur yang tak berarti.
Bagaimana mungkin aku bisa melawan seseorang seperti dia dalam kondisi seperti ini?
“Apa yang kamu lakukan... jangan...” suaraku melemah, hampir tak terdengar. “Aku benar-benar tidak punya tenaga...”
Tubuhku terkulai di pelukannya, tak lagi mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Dean Junxian justru semakin mendekat. Ia membenamkan wajahnya ke dadaku, tangannya mulai bergerak tanpa ragu. Sentuhan itu bukan hanya membuatku tidak nyaman—melainkan memicu rasa mual yang tiba-tiba menyeruak dari dalam perutku.
Perutku seperti teraduk-aduk.
Refleks, aku mengeluarkan suara tertahan, nyaris muntah.
Gerakannya langsung terhenti.
Ia mengangkat kepala, menatapku dengan sorot mata yang berubah, seolah baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” tanyanya, nada suaranya sedikit menurun. “Kamu benar-benar tidak enak badan?”
Aku terengah-engah, satu tangan menekan dadaku yang terasa sesak. Napasku tidak teratur, jantungku berdetak terlalu cepat.
“Kamu pikir...” aku berusaha bicara di sela napas yang tersengal, “aku hanya berpura-pura?”
Aku menatapnya dengan kesal, namun juga kelelahan.
“Sedikit saja kamu bergerak kasar, aku langsung mual... jantungku berdebar tidak karuan,” lanjutku dengan suara lemah. “Kamu benar-benar mengira aku sedang akting?”
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri yang kacau.
“Kalau kamu masih punya sedikit waktu luang... temani aku ke rumah sakit,” kataku lirih. “Aku juga tidak mengerti... kenapa obat yang aku minum tidak ada efeknya sama sekali...”
Untuk sesaat, sudut bibirnya berkedut tipis—nyaris tak terlihat, begitu cepat hingga hampir membuatku ragu apakah aku benar-benar melihatnya.
Namun detik berikutnya, ekspresinya berubah total.
Wajahnya kembali lembut, penuh perhatian.
Ia mengusap lenganku perlahan, nada suaranya kini terdengar menenangkan. “Kalau begitu, tidak perlu diminum lagi obatnya,” ujarnya pelan. “Sebenarnya aku juga sudah berpikir untuk membawamu kembali ke Tabib Qi. Biar dia memeriksa denyut nadimu lebih teliti.”
Aku tidak menjawab.
Sebaliknya, aku menyandarkan tubuhku padanya, lebih karena aku butuh sesuatu untuk menopang diri daripada karena percaya padanya. Tubuhku masih gemetar hebat, seperti daun kering yang siap jatuh kapan saja tertiup angin.
Aku meliriknya dari sudut mata, tatapanku tajam, penuh sindiran.
“Kamu benar-benar menganggapku orang baik, ya?” ucapku dingin. “Pulang tengah malam seperti ini, lalu diam-diam bersembunyi di kamar mandi untuk menelepon... kamu hampir membuatku mati ketakutan.”
Aku menatapnya lurus.
“Kalau memang tujuanmu ingin aku cepat mati, cara seperti ini sudah lebih dari cukup.”
Ia justru tertawa pelan, seolah ucapanku hanyalah keluhan sepele yang tidak perlu dianggap serius.
Alih-alih menjauh, ia kembali mendekat dan memelukku semakin erat. Pelukannya kali ini terasa lebih menekan, hampir seperti mengunci.
Tangannya mulai bergerak lagi, perlahan namun jelas penuh maksud.
“Istriku...” bisiknya rendah di dekat telingaku, suaranya sarat kerinduan yang terdengar dibuat-buat. “Aku sangat merindukanmu...”