Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Hao Qi menatap Ye Chen yang masih menginjak dada Bos Zhao.
"Sekarang, bisakah kau mengangkat kaki kotormu dari atas anak buahku? Sepatumu merusak kemeja sutranya."
Wajah Ye Chen memerah karena amarah. Harga dirinya sebagai jenius dari Keluarga Ye Ibukota terasa diinjak-injak oleh seorang pemuda yang terlihat seumuran dengannya, terlebih lagi pemuda ini tidak memancarkan aura kekuatan sedikit pun.
"Jangan sombong hanya karena kau bisa menyembunyikan auramu, Bajingan! Akan kubuat kau memuntahkan semua uang yang kau curi dari kami!"
"Wush!"
Ye Chen melesat menerjang Hao Qi. Ia menggunakan teknik Langkah Bayangan Keluarga Ye. Di mata manusia biasa, tubuh Ye Chen terlihat seperti membelah menjadi tiga bayangan yang menyerang dari arah depan, kiri, dan kanan secara bersamaan. Tangannya mengeras, memancarkan cahaya Qi biru muda yang mematikan.
"Mati!"
"Brak! Brak! Brak!"
Tiga pukulan keras menghantam sofa tempat Hao Qi duduk, menghancurkan busa dan rangka kayu sofa itu menjadi serpihan.
Namun, Hao Qi tidak ada di sana.
"Hah?" Ye Chen tertegun. Pukulannya hanya mengenai ruang kosong.
"Gerakanmu terlalu berisik, Ye Chen. Dan membelah diri menjadi tiga bayangan hanya membagi tenagamu menjadi sepertiga. Tidak efisien sama sekali."
Suara Hao Qi terdengar sangat dekat, tepat di telinga kiri Ye Chen.
Otomatis, Ye Chen memutar tubuhnya dan melontarkan siku kanannya ke arah suara tersebut.
"Wush!"
Siku Ye Chen kembali menebas udara kosong.
"Langkah Angin."
"Swosh!"
Hao Qi bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dinalar oleh mata Ye Chen. Dengan Pil Pencerahan Akal Budi, Hao Qi menganalisis setiap kontraksi otot bahu Ye Chen sepersekian detik sebelum pria itu bergerak. Ia tahu ke mana serangan itu akan mengarah bahkan sebelum Ye Chen menyadarinya sendiri.
"Di bawahmu."
Hao Qi sudah berjongkok tepat di depan Ye Chen.
"Tinju Guntur."
"Brak!"
Hao Qi melontarkan pukulan uppercut lurus ke arah rahang bawah Ye Chen. Ia menahan tenaga Gunturnya agar tidak meledakkan kepala pria itu, namun efek kejutnya tetap tersalurkan penuh.
"Krak!"
"Ugh!!"
Mata Ye Chen langsung berputar ke atas. Rahangnya bergeser parah. Arus listrik dari energi Guntur merambat ke sistem sarafnya, membuat seluruh ototnya kaku seketika. Tubuhnya terlempar ke udara sejauh dua meter sebelum jatuh menghantam meja kaca dengan sangat keras.
"Prang!!!"
Meja kaca itu hancur berantakan. Ye Chen terkapar tak berdaya di antara pecahan kaca, mulutnya mengeluarkan busa bercampur darah. Ia pingsan dalam satu serangan!
"Tuan Muda Ye!"
Lin Xue menjerit panik. Wajah dinginnya kini memucat pasi. Ia menatap Hao Qi dengan teror absolut.
Seorang jenius tingkat tinggi dari Keluarga Ye ditumbangkan dengan satu pukulan santai oleh mahasiswa yang tidak memiliki fluktuasi Qi?! Ini sama sekali tidak masuk akal! Ini adalah monster yang menyamar menjadi domba!
"Sekarang giliranmu, Kakak Senior Lin Xue,"
Hao Qi berdiri tegak, merapikan kerah kausnya. Senyum ramahnya tidak berubah sama sekali, namun di mata Lin Xue, senyum itu adalah wajah kematian itu sendiri.
"J-jangan mendekat! Kalau kau membunuh kami, Keluarga Ye tidak akan melepaskanmu! Pusat akan mengirimkan Grandmaster untuk meratakan seluruh kota Jiangjing!" ancam Lin Xue dengan suara bergetar, memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak dinding.
Hao Qi tertawa renyah.
"Hahaha! Membunuh kalian? Tentu saja tidak. Aku ini kan mahasiswa baik-baik. Aku membenci kekerasan."
Hao Qi melangkah maju perlahan.
"Wush!"
Lin Xue yang putus asa melemparkan belati pendeknya yang telah dilapisi Qi langsung ke arah jantung Hao Qi. Kecepatan lemparannya seperti peluru.
"Trang!"
Hao Qi hanya mengangkat dua jarinya, telunjuk dan jari tengahnya, lalu menjepit bilah belati mematikan itu di udara dengan sangat santai, seolah ia hanya menangkap lalat yang terbang dengan lambat.
Mata Lin Xue hampir keluar dari rongganya melihat pemandangan absurd itu.
"Kau... tidak mungkin..."
"Lemparan yang bagus. Tapi sudutnya melenceng dua derajat ke kiri karena kau terlalu panik," analisis Hao Qi dengan nada menggurui.
"Trak!"
Hao Qi mematahkan bilah belati itu menjadi dua hanya dengan jepitan jarinya, lalu membuang potongannya ke lantai.
"Swosh!"
Hao Qi menggunakan Langkah Angin dan tiba di depan Lin Xue seketika. Tangannya melesat cepat, bukan untuk memukul, melainkan menekan tiga titik meridian utama di bahu dan dada wanita itu.
"Tuk! Tuk! Tuk!"
"Ugh!"
Lin Xue melotot ngeri. Ia merasa seluruh aliran Qi di dalam tubuhnya tiba-tiba membeku. Kakinya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai, tidak mampu menggerakkan satu jari pun.
"Apa yang kau lakukan padaku?!" desis Lin Xue dengan napas terengah-engah.
"Aku hanya mengunci meridianmu sementara. Dalam waktu dua belas jam, kau akan bisa bergerak lagi,"
Hao Qi berjongkok di depan Lin Xue. Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap wanita pembunuh itu dengan senyum tulus.
"Dengar baik-baik, Kakak Senior Lin Xue. Bawa tuan mudamu yang manja itu kembali ke Ibukota hari ini juga. Sampaikan pesanku pada Kepala Keluarga Ye, Jiangjing sekarang adalah wilayahku. Jika kalian berani mengirim anjing pelacak lagi ke kotaku, aku akan datang sendiri ke kediaman Keluarga Ye dan memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang bisa melihat matahari terbit lagi."
Hao Qi menepuk pucuk kepala Lin Xue dengan pelan, seolah sedang menasihati anak kecil.
"Bisa dipahami?"
Lin Xue menelan ludah dengan susah payah. Auranya benar-benar hancur. Dihadapkan pada eksistensi yang sangat kuat, tak terlihat auranya, dan memiliki perhitungan tempur layaknya dewa, ia tahu Keluarga Ye telah membangunkan raksasa yang sedang tertidur.
"A-aku mengerti... Kami akan pergi..." jawab Lin Xue dengan suara bergetar.
"Anak pintar."
Hao Qi berdiri. Ia berjalan menghampiri Bos Zhao yang masih meringkuk di lantai, menatap seluruh kejadian barusan dengan mulut menganga lebar. Bos Zhao mengira ia sudah tamat hari ini, namun Tuan Hao-nya turun dari langit layaknya dewa penolong yang tak terkalahkan.
"Ayo bangun, Bos Zhao. Jangan terus-terusan tiduran di lantai,"
Hao Qi menarik kerah baju Bos Zhao dan membantunya berdiri dengan santai.
"T-Tuan Hao... Anda... Anda menyelamatkan nyawa saya..." Bos Zhao menangis terharu, tak memedulikan wajahnya yang babak belur.
"Anggap saja ini bonus karena kau mengurus dokumen vilaku dengan cepat. Sekarang, obati lukamu. Mulai besok, kau harus membantuku mengurus sebuah perusahaan investasi yang akan kubangun. Kita punya banyak uang yang harus diubah menjadi kerajaan bisnis."
Hao Qi tersenyum sambil menepuk punggung Bos Zhao yang gemuk.
Ia membalikkan badan, menatap Lin Xue yang masih terduduk kaku di lantai, lalu melambaikan tangannya.
"Hahaha! Hati-hati di jalan pulang, Kakak Senior! Jangan lupa bawa sampah kacanya!"
"Wush!"
Hao Qi melesat ke arah balkon dan menghilang ke dalam pelukan angin pagi kota Jiangjing, meninggalkan legenda menakutkan tentang sang Raja Bayangan tanpa nama yang akan segera menghantui mimpi-mimpi para elit Ibukota.