Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat berbagi cerita
Dering ponsel memecah konsentrasi Rain di meja kerjanya. Nama "Ibu" berkedip di layar, membawa debaran halus yang sudah ia duga arahnya.
"Halo, Bu?" sapa Rain pelan.
"Rain, Ibu telepon mau kasih kabar. Pekerjaan di sini selesai lebih cepat, jadi Ibu pulang besok. Ini Ibu lagi di jalan sama Ibunya Naila, kami barengan pulangnya,"
suara Ibu terdengar bersemangat, namun ada nada berat yang menyusul kemudian. "Ibu baru saja bicara sama dokter penanggung jawab Nenekmu..."
Rain terdiam, jemarinya meremas pinggiran meja.
"Nenek sering sekali memanggil namamu, Rain. Beliau... beliau bilang impian terakhirnya cuma satu: ingin melihat cucu kesayangannya berdiri di pelaminan sebelum beliau benar-benar 'menutup mata'. Kondisinya tidak menentu, Nak. Kadang ingat, kadang lupa. Tapi soal keinginan melihatmu menikah, itu selalu beliau sebut."
Rain menghela napas panjang, menatap lurus ke arah jendela kaca kantornya yang menampilkan gedung-gedung tinggi. Ia tahu, di lini masa ini, usianya akan menyentuh 25 tahun hanya dalam hitungan hari. Usia yang di mata keluarganya sudah sangat matang untuk membicarakan komitmen serius.
"Rain, umurmu sudah mau dua puluh lima tahun minggu depan. Ibu cuma mau tanya satu hal saja, jujur sama Ibu... apakah tidak bisa dipercepat rencana pernikahanmu? Kalau memang sudah ada kekasih, bawa ke rumah segera. Tapi kalau memang belum punya, Ibunya Naila tadi juga sempat menyinggung soal hubungan kalian yang dulu..."
Rain memijat pelipisnya. Tekanan ini terasa begitu nyata, jauh lebih berat daripada urusan pekerjaan. Di sisi lain, ada harapan besar Nenek kandungnya yang sedang berpacu dengan waktu.
"Bu, Rain mengerti," jawab Rain dengan nada sedewasa mungkin, mencoba menenangkan kegelisahan ibunya.
"Rain tidak pernah lupa soal keinginan Nenek. Tapi soal mempercepat pernikahan... itu bukan hal yang bisa diputuskan sepihak. Beri Rain waktu sedikit lagi, ya? Begitu Ibu sampai, kita bicara tenang."
"Ibu cuma takut waktunya tidak banyak, Rain. Nenekmu itu segalanya buat kita," pungkas Ibu dengan suara parau sebelum menutup telepon.
Rain menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, matanya terpejam. Situasinya kini benar-benar terjepit.
Rain memandangi layar ponselnya yang sudah gelap, merenungkan percakapan dengan Ibunya tadi. Sebagai seseorang yang jiwanya berasal dari masa depan, ia memiliki keuntungan sekaligus kutukan: ia tahu persis sisa waktu yang dimiliki Neneknya. Dalam ingatannya di lini masa asli, Neneknya hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi sebelum benar-benar pergi.
Namun, yang paling menyayat hati bagi Rain bukanlah sekadar waktu yang menipis, melainkan sikap Ibunya. Melihat Ibunya yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri—jarang menyapa atau sekadar bertanya kabar Rain dengan tulus—membuatnya teringat kembali pada luka lama.
Di masa lalu maupun sekarang, dinamika itu tetap sama. Ibunya lebih sering bicara padanya saat ada tuntutan atau keinginan keluarga besar, seperti desakan pernikahan ini.
Rain menyandarkan punggungnya, memutar memori ke usia 25 tahun di lini masa sebelumnya.
Saat itu, ia adalah pemuda yang penuh harapan. Ia sudah siap melamar Naila, ingin membangun rumah tangga yang stabil. Namun, Naila saat itu sangat takut akan komitmen.
Naila menggunakan alasan beasiswa luar negeri sebagai jalan keluar terbaik untuk menghindari pernikahan. Ia pergi, bekerja di sana, dan akhirnya mereka berbubungan jarak jauh.
Di tahun 2019 ini, tren sosial memang sudah bergeser. Menikah di usia 25 tahun memang dianggap sudah dewasa, namun banyak orang di lingkaran profesionalnya menganggap usia menjelang 30 tahun sebagai waktu yang lebih ideal. Pandangan "masih banyak waktu" itulah yang membuat banyak orang termasuk Naila merasa segalanya bisa ditunda atau diatur sesuka hati.
Tapi Rain tahu kebenarannya: Waktu tidak sebanyak itu.
Ia kini berada di persimpangan yang krusial. Ulang tahunnya yang ke-25 hanya tinggal menghitung hari. Di satu sisi, ia ingin memenuhi impian terakhir Neneknya. Di sisi lain, ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu dengan terburu-buru mengejar komitmen dengan orang yang salah.
--
Rain melanjutkan aktifitasnya. Pekerjaan di divisi barunya ini cukup menyita waktu, namun pikirannya sesekali masih tertinggal pada aroma parfum Ayyara yang tertinggal di jaketnya pagi tadi.
Ketukannya di meja kerja membuyarkan lamunannya. Sosok Naila berdiri di sana. Mantan kekasih Rain itu tampak lebih segar, raut kesedihan akibat putus cibta dua bulan lalu dengan rekan kantor mulai memudar, digantikan oleh aura profesionalitasnya yang biasa.
Namun, di balik senyum tipisnya, Rain tahu Naila masih menyimpan lubang besar berupa pertanyaan: kenapa 5 tahun lalu hubungan mereka harus berakhir tanpa alasan yang logis?
"Sibuk banget, Rain?" sapa Naila sembari meletakkan sebuah map di meja.
Rain mendongak, mencoba bersikap senormal mungkin. "Lumayan, Nai. Ada apa?"
Naila menyampirkan tasnya, lalu duduk di kursi depan meja Rain. "Aku baru saja telepon Ibu. Katanya, rombongan Ibu-Ibu yang ikut pekerjaan musiman bareng Ibumu akan segera kembali ke kota minggu depan."
Rain menghentikan aktivitas mengetiknya. Ia tahu persis maksud kedatangan Naila bukan sekadar urusan jadwal kepulangan orang tua mereka.
"Ibuku bilang, beliau ingin langsung menjenguk Nenekmu begitu sampai," lanjut Naila, suaranya melunak. "Ibumu juga, Ia merasa tidak enak hati mendengar kondisi Nenek yang belakangan sering tidak stabil dan sering drop.
Bagaimanapun, Ibumu dulu sangat dekat dengan beliau, bahkan sudah menganggap Nenek seperti orang tua sendiri."
Rain terdiam sejenak.
"Terima kasih informasinya, Nai. Sampaikan salam juga buat Ibumu, bilang kalau Nenek pasti senang dijenguk," jawab Rain dengan nada yang sopan namun ada jarak yang tak kasat mata.
Naila menatap Rain cukup lama, seolah mencari sisa-sisa perasaan di mata laki-laki itu. "Rain... Ibu juga sempat tanya, apa kita benar-benar sudah tidak bisa diperbaiki? Beliau merasa sayang sekali kalau hubungan keluarga kita yang sudah akrab harus merenggang karena kita putus."
Rain menarik napas panjang, menunjukkan sisi dewasanya yang tetap tenang meski berada di situasi sulit. "Nai, itu sudah bertahun - tahun lalu. keputusan ku waktu itu bukan karena Ibu atau keluarga. Ini murni tentang kita yang memang sudah punya jalan berbeda. Aku tidak ingin membohongi diri sendiri, dan aku tidak ingin kamu terus menunggu sesuatu yang sudah tidak ada."
Naila tersenyum hambar, ada sedikit kilat kekecewaan di matanya. "Kamu selalu punya alasan yang terdengar benar, Rain. Tapi ya sudah, aku cuma menyampaikan amanat Ibu. Sepertinya kamu memang sudah menemukan 'alasan' baru yang membuatmu begitu yakin dengan keputusan ini."
Rain tidak membantah. Ia hanya memberikan anggukan kecil sebagai tanda hormat. Naila pun beranjak pergi, meninggalkan Rain.
--
Aku duduk di tepi tempat tidur, memandangi kebaya yang akan ku kenakan untuk acara resepsi Bian. Pikiran in rasanya kalut. Kehadiran keluarga besarku di kota ini, ditambah campur tangan Nenek Elia yang "ajaib" tempo hari, telah menciptakan bola salju kesalahpahaman yang kian membesar.
Ibu, Cinta, bahkan Bapak seolah sudah mengetok palu bahwa Rain adalah calon menantunya. Jika ia membawa Rain ke resepsi Bian yang diadakan oleh keluarga mertua adiknya nanti, Aku yakin gosip itu akan menjadi permanen. Restu akan mengalir deras tanpa bisa ku bendung, dan itu membuatnya merasa bersalah pada Rain yang mungkin punya beban tersendiri di keluarganya.
"Kalau Rain yang datang, tamat riwayatku. Ibu pasti langsung tanya tanggal ke Nenek Elia di depan semua tamu," batin Ayyara cemas.
Ia mulai menimbang dua opsi "aman" yang masuk akal:
Zayn adalah pilihan paling praktis. Dia rekan kerja yang asyik, sudah "pasang radar" sejak hari pertama, dan yang paling penting: keluarganya tidak mengenal Zayn seserius mereka mengenal Rain. Jika Zayn yang datang, Ayyara bisa beralasan bahwa Rain sedang sibuk dan Zayn hanyalah teman kantor yang kebetulan luang. Ini bisa menjadi rem darurat untuk ekspektasi Ibu.
Atau Pria mapan yang santun itu juga pilihan menarik. Hubungan kita baru sebatas perkenalan formal. Membawanya ke acara keluarga mungkin terasa sedikit melompat jauh, namun setidaknya pria ini tidak memiliki "sejarah" rumit dengan Rain atau Nenek Elia. Dia adalah orang asing yang bisa menjadi tameng sementara dari interogasi keluarga.
Aku menghela napas panjang sembari memandangi layar ponsel dan mengirim pesan pada rain untuk bertemu.
--
Di sudut kafe yang sepi, aku akhirnya menumpahkan segalanya. Aku menatap Rain lekat-lekat, bukan sebagai rekan kerja atau "target" perjodohan keluarga, melainkan sebagai satu-satunya orang yang memegang kunci rahasia masa depan ku.
"Rain, aku bimbang," ucapku lirih. Suaraku bergetar, menahan beban yang selama ini ku pikul sendirian di balik topeng kemandirian.
Aku menarik napas panjang, mencoba merangkai kata untuk menjelaskan ketakutan terbesarnya.
"Aku... aku tidak ingin terlibat dalam risiko pernikahan. Bagiku, jauh lebih mudah memiliki sahabat seperti Martin atau kamu, orang yang mengerti hatiku tanpa tuntutan, daripada harus berjuang mengerti isi hati seorang laki-laki dalam ikatan sakral yang mengekang."
Rain terdiam, menyimak dengan tatapan teduh yang tidak menghakimi.
"Kamu lihat sendiri kan bagaimana aku?" lanjut ku dengan tawa hambar yang getir. "Aku bukan tipe wanita yang bisa menjilat calon mertua agar disukai.
Aku punya kepribadian yang keras, aku tidak suka melihat ketidakadilan, dan aku tidak akan tinggal diam jika harga diriku diinjak hanya demi label 'menantu penurut'.
Wanita semacam aku... bagaimana mungkin bisa masuk ke dunia pernikahan yang diharapkan orang tuaku?"
Rain tidak langsung menjawab. Ia memberikan ruang bagi keheningan untuk menyerap kejujuran ku.
"Ra," panggil Rain lembut. "Kamu tahu kenapa Nenek Elia sangat menyukaimu? Bukan karena kamu penurut. Tapi karena kamu mengingatkannya pada dirinya sendiri, wanita yang tidak bisa dibelenggu."
Rain memajukan posisi duduknya, menatap Ayyara tepat di mata.
"Pernikahan yang ditakutkan orang-orang adalah pernikahan yang isinya tuntutan. Tapi di lini masa ini, kita yang memegang kendali atas narasi kita sendiri, kan? Kamu tidak perlu menjadi wanita lain untuk masuk ke dunia itu. Jika suatu saat kamu memutuskan untuk menikah, itu harus dengan seseorang yang mencintai kekerasan kepalamu, bukan seseorang yang ingin mematahkannya."
Rain tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa ketenangan di tengah badai pikiran ku.
"Soal resepsi Bian... jangan paksa dirimu membawa orang lain hanya untuk menjadi tameng. Kalau kamu merasa membawa Zayn atau pria lain itu lebih aman, silakan. Tapi jangan lakukan itu karena kamu takut 'kita' akan menjadi nyata. Lakukan itu kalau memang itu yang membuatmu merasa berdaulat atas dirimu sendiri."
Aku tertegun. Jawaban Rain tidak hanya dewasa, tapi juga memberikan validasi atas ketakutannya tanpa memberikan tekanan baru.
Aku memanggil pelayan, memesan segelas jus jeruk segar untuk menetralkan pahitnya kopi dan suasana yang mulai memberat. Aku menggeser gelas itu ke arah Rain, lalu menopang dagu dengan kedua tangan ku, aku menatap Rain lekat-lekat dengan binar mata yang kini lebih teduh.
"Rain," panggilnya lembut. "Aku sudah menumpahkan seluruh isi kepalaku—tentang ketakutanku, tentang Martin, bahkan tentang kekonyolan 'perisai' kondangan itu. Sekarang giliranmu."
Aku mengetukkan jari telunjuk ke meja, seolah sedang menekan sebuah tombol imajiner.
"Anggap saja aku ini AI—mesin pendengar yang tidak akan menghakimi.
Pencet tombolnya, ceritakan apa yang sebenarnya mengganjal di hatimu. Aku tahu kamu sedang dalam masalah, meskipun wajahmu itu setenang air di sumur tua. Ceritakan saja, lalu minta aku untuk memberi tanggapan apa: mau tanggapan logis, tanggapan emosional, atau sekadar validasi tanpa solusi?"
Rain terdiam sebentar, memandangi bulir air yang menetes di pinggiran gelas jus milikku. Ia menarik napas panjang, membiarkan pertahanannya runtuh sedikit demi sedikit.
"Oke, tombolnya sudah kupencet," ujar Rain dengan senyum getir.
"Masalahnya bukan cuma soal Nenek Elia yang 'menyekapku' kemarin, Ra. Tapi soal Ibuku. Beliau baru saja menelepon, mengabarkan kalau beliau pulang lebih cepat bersama Ibunya Naila.
Dan seperti yang bisa kamu tebak... tekanan itu datang lagi. Rain menyandarkan punggungnya, sorot matanya menerawang.