NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal berbahan beludru hitam di kamar utama penthouse mewah Kaelan. Anya mengerang pelan, menarik selimut sutra yang terasa asing di kulitnya. Semalam, setelah insiden "ledakan" di rumah utama, Kaelan langsung membawanya ke apartemen pribadi sang mafia yang terletak di lantai teratas gedung tertinggi di kota.

Anya membuka mata, mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang luasnya nyaris sama dengan satu lantai kos-kosannya dulu. Semuanya didominasi warna monokrom, maskulin, dan rapi secara obsesif. Tidak ada poster band rock usang atau tumpukan komik berdebu.

Ia beringsut duduk, merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Semalam Kaelan menyuruhnya tidur di ranjang king size ini, sementara pria itu entah tidur di mana. Mungkin di sofa, atau mungkin mafia tidak pernah tidur sama sekali.

Anya menyingkap selimut dan...

KLIK!

Sebuah benda logam dingin dan berat meluncur dari bawah bantalnya, jatuh berdebum ke lantai berkarpet tebal. Anya menunduk. Matanya melebar melihat sebuah pistol Glock 19 hitam pekat tergeletak manis di dekat kakinya.

"Astaga naga!" pekik Anya tertahan, menjauhkan kakinya. "Orang normal taruh permen di bawah bantal, dia taruh pistol?!"

Dengan hati-hati, Anya memungut pistol itu menggunakan dua jari seolah itu adalah ular berbisa, lalu meletakkannya kembali ke atas nakas. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang belum dicuci. Hidupnya benar-benar telah berubah menjadi film action kelas B.

Mengenakan kaus oversized milik Kaelan yang kedodoran hingga sebatas paha dan celana pendeknya sendiri, Anya berjalan keluar kamar. Aroma kopi yang kuat dan wangi roti panggang menyapa indra penciumannya. Perutnya yang semalam hanya sempat mencerna sedikit daging panggang dan segelas anggur merah, langsung berbunyi nyaring.

Anya mengikuti aroma itu menuju dapur open space yang sangat modern. Di sana, berdirilah Kaelan.

Sang mafia yang biasanya terbalut setelan jas formal, kini hanya mengenakan celana training abu-abu dan kaus putih tipis yang menonkal otot punggung dan bahunya yang lebar. Rambutnya sedikit berantakan, tidak diklimis ke belakang seperti biasa. Ia sedang fokus mengaduk sesuatu di atas wajan.

Anya terpaku di ambang pintu. Pemandangan ini terlalu... domestik. Terlalu normal untuk seorang pembunuh berdarah dingin. Kaelan terlihat seperti suami biasa yang sedang membuatkan sarapan untuk istrinya pada hari Minggu pagi.

"Tutup mulutmu, Nyonya Obsidian, lalat bisa masuk," tegur Kaelan tanpa menoleh, seolah ia punya mata di belakang kepalanya.

Anya mendengus, menutup mulutnya yang sedikit menganga, lalu berjalan mendekati island table dapur. Ia menarik kursi bar dan duduk santai, menopang dagu sambil menatap Kaelan yang memindahkan omelette sempurna ke atas piring.

"Kau bisa masak?" tanya Anya, nada suaranya campur antara takjub dan curiga. "Kukira mafia kerjanya cuma minum darah musuh untuk sarapan."

Kaelan meletakkan piring berisi omelette, roti panggang, dan secangkir kopi hitam pekat di depan Anya. Ia sendiri hanya mengambil secangkir kopi esktra pahit.

"Aku tinggal sendiri sejak umur lima belas tahun," jawab Kaelan datar, duduk di seberang Anya. "Aku belajar banyak hal untuk bertahan hidup. Memasak adalah salah satu kemampuan dasar."

Anya menatap omelette yang terlihat menggiurkan itu, perutnya kembali berbunyi. Ia mengambil garpu, memotong sedikit, dan mencicipinya. Mata gadis tomboy itu membulat sempurna. "Astaga... ini enak banget! Sumpah, kau bisa buka warung kopi kalau bosan jadi bos mafia."

Sebuah dengusan geli—yang sangat pelan—lolos dari bibir Kaelan. Ia menyesap kopinya, mengamati Anya yang makan dengan lahap, persis seperti anak kecil kelaparan. Tidak ada keanggunan ala Isabella, tidak ada jaim. Hanya Anya yang apa adanya.

"Pistol di bawah bantal," Anya menelan suapannya, menodongkan garpunya ke arah Kaelan. "Itu punya siapa? Kau sengaja menaruhnya untuk mengetesku?"

Kaelan meletakkan cangkirnya, menatap Anya lekat-lekat. Sorot matanya kembali serius dan tajam. "Itu milikku. Dan aku menaruhnya di sana untuk berjaga-jaga. Semalam, kau telah mempermalukan Arthur di depan seluruh keluarga."

Anya menghentikan kunyahannya. Wajahnya berubah masam. "Iya, aku ingat. Dan kau belum membayarku ekstra untuk akting memukauku itu."

"Anya, dengarkan aku," nada Kaelan memberat, penuh peringatan. "Arthur bukan orang sembarangan. Dia pendendam dan licik. Kau tidak hanya merusak rencananya, tapi kau juga menghancurkan harga dirinya. Mulai hari ini, keselamatanmu adalah prioritas utama. Kau tidak boleh keluar dari penthouse ini tanpa pengawalanku atau anak buah kepercayaanku."

Anya meletakkan garpunya. Nafsu makannya sedikit menguap. Ia benci diatur. Ia benci dikurung. "Aku ini preman pasar, Kaelan. Aku bisa jaga diri. Lagi pula, aku harus kerja. Kalau aku tidak masuk shift di Oasis, Miko pasti memecatku."

"Kau sudah kupecat dari tempat sampah itu semalam," potong Kaelan mutlak. "Dan semua utang ayahmu sudah lunas. Sesuai kontrak."

Anya terdiam. Matanya menatap meja marmer, mencerna kenyataan bahwa ia kini sepenuhnya terikat pada pria berbahaya di depannya ini. Satu miliar itu bukan sekadar uang, itu adalah harga kebebasannya.

"Jadi... aku harus ngapain seharian di sangkar burung emas ini?" gumam Anya pelan, mengaduk-aduk sisa omelette-nya dengan lesu.

Kaelan melihat perubahan raut wajah Anya. Gadis liar ini tidak bisa dikurung. Jika dipaksa, ia akan memberontak dan merusak segalanya. Kaelan harus mencari cara untuk menyibukkannya, cara yang sesuai dengan karakter Anya.

Kaelan menghela napas pelan, berdiri dari kursinya. "Habiskan sarapanmu. Ganti baju yang nyaman untuk bergerak."

Anya mendongak, keningnya berkerut bingung. "Mau ke mana? Beli sayur?"

Kaelan menyeringai tipis, seringai yang selalu sukses membuat jantung Anya berdebar tidak karuan.

"Kita ke ruang bawah tanah," ucap Kaelan, matanya berkilat menantang. "Kau bilang kau bisa jaga diri, kan? Aku ingin lihat seberapa tangguh preman pasar ini di ring tinju."

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!