Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelabuhan dan Angin Laut
Matahari belum tinggi ketika ayam kampung di halaman belakang rumah Pak Mahmud kembali memecah keheningan dengan kokoknya yang keras. Embun masih menempel di dedaunan keladi, dan aroma segar tanah basah bercampur dengan bau sarapan sederhana yang dimasak di dapur kayu. Di meja ruang tamu, secangkir kopi hitam mengepulkan uap, bersanding dengan sepiring pisang goreng hangat. Pak Mahmud duduk di kursi rotan, memutar-mutar tasbih, menatap kalender dinding yang sudah menandai tanggal dengan tinta merah. Ia mengangguk kecil ketika melihat Tento dan Perikus bangun dari kamar tamu.
“Pagi, Nak. Bagaimana tidur kalian?” tanya Pak Mahmud, dengan suara yang menenangkan. Matanya terlihat sembap namun penuh ketulusan. Rina sudah bangun lebih awal, membantu Sari memasak di dapur; suara sendok beradu dengan panci terdengar ritmis, seperti suara hati yang tak pernah benar-benar tenang.
“Kami tidur lumayan, Pak. Mimpi sedikit kacau, tapi setidaknya kami bisa istirahat,” jawab Tento sambil duduk di kursi. Ia mengambil pisang goreng, memecahkannya, dan aroma manis langsung memenuhi hidungnya. “Hari ini kami harus ke Surabaya. Ada informasi dari Pakde Selam tentang pengiriman B16 ke pelabuhan Tanjung Perak. Kami harus cek.”
Perikus meneguk kopi, merasakan pahit pekat di lidah. “Iya, Pak. Kami akan pergi pagi ini. Perjalanan dari sini bisa dua jam lebih, tergantung macet,” tambahnya. “Kami juga harus memberikan flashdisk dari Mbak Rina kepada Profesor Dimas. Ia akan menyalin dan memberi ke jurnalis.”
Pak Mahmud mengangguk. “Hati-hati, Nak. Jalan menuju Surabaya ramai. Dan pelabuhan itu besar, tidak mudah masuk. Kalian harus punya rencana. Aku punya kenalan di Surabaya, namanya Pak Bowo. Dia tukang ojek pelabuhan, sering antar barang. Mungkin dia bisa bantu. Nanti aku telepon dia dulu. Sementara itu, makan dulu. Perjalanan jauh butuh tenaga.”
Mereka memakan sarapan bersama: nasi jagung dengan sayur lodeh, sambal terasi, dan ikan asin yang digoreng kering. Aroma bawang putih dan santan memenuhi ruangan. Rina, meski masih lelah, tersenyum kecil melihat kebersamaan mereka. “Terima kasih banyak, semuanya,” katanya. “Aku masih merasa takut, tapi melihat kalian bekerja bersama membuatku tenang.”
Setelah sarapan, mereka mempersiapkan diri. Rina memberi flashdisk cadangan kepada Tento. “Tolong titip ini ke Profesor. Saya sudah membuat dua salinan. Kalau satu hilang, ada cadangan,” ujarnya. Tangannya gemetar sedikit saat menyerahkan.
“Terima kasih, Rina. Ini akan membantu banyak,” jawab Tento. Ia memasukkan flashdisk ke dalam kantong tersembunyi dalam jaket. Ia merasa berat, seperti membawa dunia di dalam kantung kecil itu.
Perjalanan mereka ke Surabaya dimulai segera. Mereka meminjam mobil pick-up tua milik Pak Mahmud, kendaraan yang biasa digunakan untuk mengangkut padi. Mobil itu berderit saat distarter, namun suaranya stabil. Pak Mahmud memberikan kunci dengan tatapan penuh doa. “Mobil ini bukan mobil balap, tapi cukup kuat. Bawa pelan, jangan ngebut,” katanya, sedikit khawatir. “Kalau ada apa-apa, hubungi saya.”
Mereka mengangguk dan menyalakan mesin. Jalanan desa perlahan berganti menjadi jalan utama, di mana deretan truk kontainer berseliweran, membawa barang dari dan ke pelabuhan. Pepohonan trembesi di tepi jalan memberi bayangan, tetapi angin panas dari laut mulai terasa. Bau garam samar tercium meski mereka belum melihat lautan. Musik dangdut dari radio sopir truk sesekali terdengar ketika mobil-mobil itu melewati mereka. Mereka menyalakan radio mobil, tetapi hanya mendapatkan siaran statis bercampur berita yang sudah mereka dengar.
Di sepanjang jalan, mereka berusaha memikirkan rencana. “Kita tidak bisa masuk pelabuhan begitu saja,” kata Perikus sambil memegang setir erat-erat. “Pasti ada penjaga, kamera, dan petugas. Kita harus punya alibi. Mungkin kita bisa pura-pura sebagai sopir pick-up yang mengantarkan barang, atau pekerja musiman.”
Tento menatap jalan, memikirkan sesuatu. “Atau kita bisa berpura-pura sebagai pedagang makanan. Surabaya punya banyak pedagang keliling yang masuk pelabuhan. Kita bisa membawa kotak makan, seolah mau jualan nasi kucing. Tapi kita butuh pakaian yang sesuai.”
Mereka tertawa sebentar membayangkan mereka berdua menjadi pedagang nasi kucing di tengah pelabuhan. Namun, di balik tawa itu, ada keseriusan. Ini bukan permainan. Mereka bermain di wilayah orang-orang berbahaya.
Setelah hampir dua jam, mereka mulai melihat tanda-tanda Surabaya. Jalan semakin ramai, gedung-gedung tinggi bermunculan, dan kepulan asap dari pabrik terlihat di kejauhan. Mereka melewati Jalan Ahmad Yani, kemudian mengikuti petunjuk ke arah pelabuhan. Semakin dekat, truk kontainer semakin banyak, pekerja dengan helm dan rompi reflektif berjalan berkelompok, dan aroma air laut bercampur bau solar semakin kuat.
Mereka berhenti di warung kopi tepi jalan dekat pelabuhan. Warung itu ramai dengan sopir truk yang menghabiskan waktu menunggu giliran bongkar muat. Plastik-plastik sampah menumpuk di sudut, tetapi warung itu menawarkan kursi kayu yang cukup nyaman dan kopi kental. Mereka memesan kopi tubruk dan menunggu kedatangan kontak Pak Mahmud. Tidak lama kemudian, seorang pria bertubuh sedang, mengenakan jaket jeans dan topi hitam, menghampiri mereka. Wajahnya ramah dengan janggut tipis. Ia membawa helm ojek dan tas kecil.
“Kalian pasti teman Pak Mahmud,” sapa pria itu. “Nama saya Bowo. Pak Mahmud telepon saya pagi tadi. Ia bilang kalian butuh bantuan masuk pelabuhan.”
Tento mengangguk. “Kami ingin tahu apakah ada pengiriman barang dari pabrik makanan kaleng. Barang itu mungkin berbahaya. Kami perlu memastikan tidak ada pengiriman B16. Apa Pak Bowo bisa membantu?”
Pak Bowo mengerutkan kening, seolah mengingat sesuatu. “Saya sering antar barang ke pelabuhan. Memang ada beberapa kontainer dari pabrik itu yang belakangan sering dicek ketat. Mereka pakai stiker ‘Frozen Fish’ sebagai penutup, padahal kabarnya isinya bukan ikan. Saya dengar mereka mau kirim pekan ini. Saya bisa memasukkan kalian ke area bongkar muat sebagai tukang ojek barang. Tapi kalian harus menyamar.”
Mereka bertiga merencanakan sejenak. “Baik,” kata Perikus. “Bisa nggak kita pinjam rompi reflektif dari teman Pak Bowo? Dan kotak makanan? Kita bisa bawa kotak kayu kosong, pura-pura mau antar ke kapal.”
Pak Bowo tersenyum. “Bisa. Saya punya rompi cadangan. Kita pergi ke rumah saya sebentar.” Mereka mengikuti Pak Bowo ke rumahnya di gang kecil tak jauh dari pelabuhan. Rumah itu sederhana, dindingnya dari bata merah, lantai semen. Pak Bowo masuk, mengambil rompi oranye terang dan helm cadangan. Ia juga memberi mereka dua kotak kayu kosong. Mereka mengenakan rompi, memasukkan kotak ke bak pick-up, dan bersiap.
Di pintu gerbang pelabuhan, mereka melihat pagar tinggi dengan kawat berduri. Pintu masuk dijaga oleh beberapa petugas berseragam, beberapa memakai senjata. Mereka memeriksa identitas setiap orang. Suara deru kapal besar terdengar di belakang pagar, teriakan pekerja membawa barang, dan suara burung camar. Para petugas tampak sedikit bosan, namun tetap awas. Mereka mengantri di jalur kendaraan, menunjuk ke Pak Bowo yang membawa dokumen. “Ini dua orang pekerja baru, Mas,” kata Pak Bowo kepada petugas. “Mereka bantu saya angkat barang ke kapal. Ini surat izin saya.”
Petugas memeriksa surat izin, kemudian melihat mereka dengan mata tajam. Rompi dan helm membantu menutupi identitas mereka. “Baik, lewat. Tapi jangan keluyuran. Kalau ada apa-apa, hubungi petugas,” ujar salah satu petugas dengan nada tegas. Mereka mengangguk, menarik napas lega. Pintu dibuka, dan mereka masuk.
Pelabuhan Tanjung Perak seperti kota kecil sendiri. Crane besar mengangkat kontainer dari kapal, suara mesin mencuat tanpa henti, aroma garam dan minyak solar bercampur. Deretan kapal besar berlabuh, beberapa dari luar negeri dengan bendera berbeda. Truk-truk kontainer bergerak seperti semut yang membawa makanan. Pekerja berteriak memberikan instruksi, forklift berlalu-lalang. Mereka berjalan menunduk, membawa kotak kayu, seolah-olah mereka bagian dari hiruk-pikuk itu.
Pak Bowo mengarahkan mereka ke area gudang nomor 5. “Pabrik itu biasanya menaruh kontainernya di sini,” bisiknya sambil melirik ke sekitar. Mereka mengintip dari balik dinding kontainer. Benar saja, mereka melihat beberapa kontainer besar dengan stiker “Frozen Fish”. Ada petugas berpakaian resmi berdiri di samping, mencatat nomor kontainer. Seorang pria berjas formal dengan logo perusahaan pabrik di kantong bajunya berbicara dengan petugas pelabuhan. Wajahnya tegang. Mereka mencoba menangkap percakapan.
“Kita harus segera berangkat,” kata pria berjas itu. “Ada perubahan jadwal. Barang harus sampai ke Kalimantan dalam tiga hari. Jangan tunda. Kalau ada pemeriksaan, bilang saja itu ikan untuk rumah makan.”
Petugas pelabuhan mengangguk. “Baik, Pak. Tapi tolong beri uang rokok lebih. Biar cepat lancar,” bisiknya. Pria berjas menyelipkan sesuatu ke kantong petugas. Mereka tertawa kecil, kemudian berjalan pergi.
Perikus menggigit bibir, menahan amarah. “Mereka menyuap petugas. Ini parah,” desisnya. “Aku ingin menggebrak mereka sekarang juga.”
Tento menahan lengan sahabatnya. “Jangan. Jika kita heboh sekarang, kita akan ketahuan. Kita harus mencari cara merekam ini. Apakah kamera jam bisa merekam dari sini?” Ia mengeluarkan jam, mengarahkan lensa kecil ke arah kontainer. Ia menekan tombol. Lampu kecil menyala, menandakan perekaman dimulai. Mereka harus tetap terlihat sibuk. Mereka berpura-pura mengangkat kotak, berjalan mengelilingi kontainer, sambil memastikan lensa mengarah ke percakapan berikutnya.
Beberapa menit kemudian, mereka melihat seseorang yang tak asing. Seorang pria tambun, agak botak, memakai kaus ketat, berjalan mendekat. Wajahnya membuat Perikus tertawa tertahan. “Hei! Bukankah itu Budi?” bisik Perikus. “Kawan kita di kampus dulu!” Mereka bersorak dalam hati. Budi adalah sahabat lama mereka, seorang seniman nyentrik yang dulu selalu terlambat masuk kuliah karena sibuk mengurus galeri lukis. Budi memiliki rencana-rencana gila dengan tingkat kegagalan 99%, namun kadang menjadi jenius 1%. Ia menghilang selama beberapa tahun, katanya pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai stand-up comedian, namun gagal. Dan sekarang ia muncul di pelabuhan?
Budi berjalan sambil membawa kamera besar tergantung di lehernya. Ia seolah-olah memotret kapal-kapal, tetapi terlihat gugup. Tiba-tiba, matanya menangkap sosok Tento dan Perikus. Ia mendekat, tersenyum lebar. “Astaga! Kalian! Apa yang kalian lakukan di sini? Aku lagi motret kapal untuk proyek seni,” katanya dengan antusias, suaranya agak keras. “Seharusnya aku pameran di taman kota, tapi aku malah dapat kerja sampingan jadi fotografer pelabuhan.”
Tento meletakkan jari di bibir, memberi isyarat agar Budi menurunkan suara. “Budi, kami sedang menyamar. Jangan terlalu keras. Kami mencari bukti pengiriman ilegal dari pabrik tempat kami investigasi. Kamu kenapa di sini?” bisiknya.
Budi menurunkan volume. “Maaf, aku tidak sengaja. Aku bekerja paruh waktu di sini, memotret event pelabuhan. Tapi tadi aku dengar ada pengiriman aneh. Jadi aku berusaha memotret diam-diam. Aku juga ingin bikin project ‘Hidden Truths’ tentang pelabuhan. Mungkin kita bisa bekerja sama,” katanya. Matanya berbinar. “Oh, kalian butuh bantuan? Aku punya drone mini di tas. Bisa terbang rendah dan merekam. Tapi baterai tinggal sedikit. Mungkin 20 menit.”
Mata mereka berbinar. “Drone? Budi, kamu jenius 1% lagi,” kata Perikus, menepuk punggung Budi. Mereka menyusun rencana cepat. Budi akan menerbangkan drone kecil dari balik kontainer, merekam nomor kontainer dan orang-orang yang berkumpul, sementara Mereka berpura-pura bekerja. Mereka menunggu saat para petugas lengah. Budi mengeluarkan drone sebesar telapak tangan dari tas, menghidupkannya. Bunyi dengungan halus terdengar. Ia mengarahkan drone lewat sela-sela kontainer, menempatkannya di atas mereka. Layar kecil di remote menampilkan gambar kontainer besar, nomor seri, dan pria berjas yang kembali berbicara dengan seseorang di telepon.
“Ya, Pak. Pengiriman ke Kalimantan sudah siap. Kita punya 5 kontainer. B16 siap. Jangan khawatir, saya sudah bereskan dengan petugas,” terdengar suara pria berjas. “Ya. Nusa Kambangan, pak. Mereka menunggu.”
Nusa Kambangan. Pulau penjara. Mereka saling pandang, dahi berkerut. Kenapa pengiriman B16 ke pulau penjara? Apakah ada proyek rahasia di sana? Mereka menghela napas. Mereka merekam nomor kontainer. Drone melayang sedikit, menangkap wajah pria berjas, lalu baterai berkedip, menandakan habis. Budi cepat-cepat membawa drone kembali ke tangan, mematikannya.
Tiba-tiba, seorang petugas lain melintas dan melihat mereka. “Hei! Apa kalian lakukan di situ?!” suaranya tinggi. Mata petugas menatap langsung ke arah Budi yang memegang remote. “Itu apa?! Drone? Kalian tidak boleh terbangkan drone di sini!”
Budi tersenyum kaku. “Maaf, Pak. Saya hanya memotret untuk proyek seni. Ini drone kecil, tidak berbahaya,” katanya. Petugas marah. “Tutup! Berikan drone itu! Kalian harus ikut saya ke kantor keamanan!”
Tento merasakan jantungnya ingin melompat. Ia melihat Perikus, mencari ide. Budi juga terlihat panik. Sekali lagi, situasi gawat memerlukan ide gila. Perikus membuka kotak kayu kosong, mengeluarkan bawang merah yang sebenarnya disimpan oleh Pak Mahmud untuk masak. Ia mengupas bawang dengan cepat, memotongnya, lalu menggosokkan bawang ke matanya. Mata Perikus merah dalam sekejap, dan ia mulai menangis terisak-isak.
“Pak! Maaf, Pak! Saya hanya ingin rekam kapal ini untuk kirim ke ibu saya di desa,” ucap Perikus dengan air mata bercucuran. “Ibu saya rindu laut. Dia sakit keras. Tolong jangan ambil drone teman saya. Ini cuma hobi. Kami tidak tahu aturannya. Kami kuli miskin, Pak. Kalau drone diambil, kami harus ganti. Kami tak punya uang.” Air mata dan suara tangisnya membuat orang-orang sekitar menoleh. Petugas menjadi canggung. Ia tidak tega melihat seorang pria dewasa menangis sambil memegang bawang.
Petugas itu menghela napas. “Baik, baik. Jangan menangis. Tapi jangan ulangi lagi. Drone ini disita. Kalian pergi dari sini,” katanya, mengambil drone. Budi mengangkat tangannya seolah pasrah, memberi remote kepada petugas. Petugas pergi membawa drone, namun mereka sudah menyimpan kartu memori dari drone di saku Budi. “Menangis karena bawang, ide brilian,” bisik Tento, menahan tawa. “Kamu memang aktor terbaik.”
Mereka memutuskan untuk meninggalkan pelabuhan sebelum situasi memburuk. Mereka berjalan perlahan menuju gerbang keluar, mengikuti prosedur. Di luar, mereka menghela napas dalam-dalam. Udara segar terasa seperti hadiah. Mereka memandang Budi. “Kamu benar-benar muncul di saat yang tepat,” kata Tento. “Dari mana kamu dapat drone itu?”
Budi mengangkat bahu. “Aku beli dari hasil menjual lukisan. Aku pikir aku akan gunakan untuk proyek seni. Ternyata untuk ini. Mungkin ini tujuan sebenarnya,” katanya sambil tertawa kecil. “Kalian mau apa sekarang?”
“Kami harus membawa bukti ini ke profesor dan jurnalis. Lalu kita harus pikirkan rencana untuk Nusa Kambangan,” jawab Perikus. “Mungkin kita harus pergi ke sana.” Budi menatap mereka dengan mata lebar. “Nusa Kambangan? Pulau penjara? Kalian gila.”
“Tidak sekarang, mungkin nanti,” kata Tento dengan senyum lesu. “Tapi kita butuh semua informasi. Ini lebih besar dari dugaan kita. Kamu mau ikut?”
Budi mengedipkan mata, mempertimbangkan. “Entahlah. Aku 99% pasti akan membuat kacau, 1% mungkin membantu. Tapi kalau kalian butuh badut, aku bisa,” katanya sambil tertawa. Mereka tertawa bersama, merayakan momen kecil humor di tengah kegelapan.
Mereka berpisah dengan Budi setelah menukar nomor kontak dan kode. Budi kembali ke tugasnya sebagai fotografer; meskipun drone-nya disita, dia punya kartu memori. Mereka naik pick-up dan melaju kembali ke Malang dengan hati yang campur aduk. Mereka memutar musik lawas dari radio mobil, lagu-lagu campursari yang menenangkan pikiran. Angin laut mengelus wajah mereka melalui jendela, membawa aroma garam. Mereka menatap laut di kejauhan, memikirkan pulau penjara dan menara pengeras suara di sana.
Di perjalanan pulang, mereka tidak banyak bicara. Mereka sibuk mengolah data dalam kepala: nomor kontainer, nama-nama, obrolan pria berjas, rencana pengiriman ke Kalimantan dan Nusa Kambangan. Mereka merasakan beban yang lebih berat, namun juga punya harapan karena bukti semakin banyak. Mereka tiba di rumah profesor menjelang maghrib. Lampu-lampu rumah tetangga sudah menyala, anak-anak bermain petasan di jalan, suara adzan menggema.
Profesor membuka pintu dengan cepat. “Bagaimana?” tanyanya. Mereka menaruh flashdisk Rina, kartu memori dari drone, dan catatan Pakde di meja. “Ini,” kata Tento. “Kita dapat banyak. Tapi mereka hampir menangkap kita. Kita juga bertemu Budi, teman lama. Ia membantu dengan drone.”
Profesor menyalakan laptop, memasukkan kartu memori. Video dari drone muncul di layar: gambar kontainer, wajah pria berjas, percakapan. Profesor mencatat nama dan nomor kontainer. “Ini luar biasa. Kita sekarang punya bukti pengiriman. Dan mereka menyebut Nusa Kambangan. Ini mengerikan, tapi juga kunci. Aku akan kirim ini ke Mas Jati malam ini. Kita butuh publikasi internasional segera. Dan kita harus mempertimbangkan, apakah kita harus ke Nusa Kambangan atau Kalimantan untuk mencari sumber. Tapi itu sangat berbahaya,” ujarnya, menatap mereka.
Perikus mengusap wajahnya. “Sepertinya hidup kita terus dipenuhi pilihan berbahaya,” katanya, setengah bercanda. “Tapi kita bukan lagi anak-anak. Kita harus melangkah.”
Malam itu, mereka duduk di ruang kerja profesor, mempelajari peta pelabuhan dan pulau. Lampu neon memancarkan cahaya putih, membuat bayang-bayang panjang di dinding. Di luar, hujan mulai turun, membasahi genting. Mereka menyusun rencana, namun juga membiarkan tawa dan cerita kecil mengisi ruangan. Mereka mengingat kejadian Perikus meneteskan air mata karena bawang, tertawa hingga perut sakit. Mereka tahu, humor adalah vitamin jiwa.
Malam itu meninggalkan mereka dengan keputusan berat dan semangat baru. Mereka telah mendapat bukti signifikan, menyelamatkan saksi, dan menemukan arah baru. Mereka bersiap menyelami kedalaman misteri yang lebih besar, mungkin ke pulau penjara, mungkin ke kota lain. Tapi mereka tidak sendirian lagi. Kini ada Rina, Agus, Pakde, Pak Bowo, Budi, profesor, jurnalis, dan orang-orang yang diam-diam mendukung. Seperti sungai kecil yang bertemu di laut, mereka akan menjadi arus besar melawan arus kekuasaan. Mereka memejamkan mata malam itu, membiarkan suara hujan menidurkan mereka, sambil memeluk keyakinan bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.