"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
..
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela setinggi langit-langit di kamar Kalea terasa seperti ejekan. Cahaya itu terlalu terang untuk suasana hatinya yang masih kelabu. Kalea terbangun dengan sisa-sisa amarah semalam yang masih mengendap di dadanya. Ucapan Clarissa tentang "aroma kemiskinan" masih terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang enggan berhenti.
Kalea bangkit dari tempat tidur, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun hitam semalam sudah tergeletak di lantai, sebuah pengingat bahwa ia baru saja selamat dari satu pertempuran di sarang serigala. Ia mengusap pipinya sendiri. Ia masih bisa merasakan panas di telapak tangannya saat menampar Liam semalam. Seharusnya ia merasa takut, tapi yang ia rasakan justru kepuasan kecil yang aneh.
"Tok, tok."
Ketukan pintu itu tidak sabar. "Nona Kalea, Tuan Liam menunggu Anda di ruang makan. Sekarang," suara pelayan terdengar dari balik pintu, penuh tekanan.
Kalea mendengus. "Biarkan dia menunggu," gumamnya pelan. Ia sengaja mandi perlahan, membiarkan air hangat membasuh tubuhnya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi pria itu lagi. Ia memilih pakaian yang paling sederhana yang tersedia di lemari—sebuah sweater oversized dan celana kain—sebagai bentuk pemberontakan kecil bahwa ia tetaplah Kalea yang lama, bukan boneka pajangan Liam.
Saat ia memasuki ruang makan, suasana terasa mencekam. Liam duduk di ujung meja panjang, mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Di hadapannya terdapat berbagai menu sarapan mewah, namun pria itu hanya menatap layar ponselnya dengan kening berkerut.
Kalea menarik kursi di ujung yang paling jauh dari Liam, menciptakan jarak yang nyata.
"Kau terlambat dua puluh menit," ucap Liam tanpa mendongak. Suaranya rendah, namun membawa otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Dunia tidak akan kiamat karena aku terlambat makan roti panggangmu, Liam," balas Kalea santai, mulai mengambil sepotong buah.
Liam meletakkan ponselnya dengan pelan—gerakan yang lebih mengancam daripada bantingan. Ia menatap Kalea dengan mata elangnya yang dingin. "Kau menamparku semalam di depan pilar itu. Tidak ada wanita yang pernah melakukan itu padaku, Kalea. Dan kau pikir kau bisa datang ke meja makan ini seolah tidak terjadi apa-apa?"
Kalea meletakkan garpunya, menatap balik Liam dengan keberanian yang sama besarnya. "Dan tidak ada pria yang pernah memperlakukanku seperti properti dagangan di depan ular seperti Clarissa. Jadi, anggap saja tamparan itu adalah uang muka untuk rasa sakit hatiku semalam."
Liam menyeringai tipis—sebuah senyum predator. "Kau punya nyali. Itu yang membuatmu tetap hidup di sini. Tapi ingat, Clarissa tidak akan melepaskanmu begitu saja. Dia sudah mulai bergerak."
Liam melemparkan sebuah tablet ke arah Kalea. Di sana, terdapat berita gosip online dengan foto samar Kalea saat berada di pemakaman kemarin. Judulnya provokatif: "Cinderella atau Penipu? Siapa Gadis Misterius yang Menghancurkan Perjodohan Emas Jionel?"
Kalea merasakan darahnya mendingin. "Dia... dia yang menyebarkan ini?"
"Dia tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Dia punya ribuan koneksi di dunia media. Dia ingin membedah masa lalumu, Kalea. Dia ingin menemukan setiap noda hitam dalam hidupmu untuk membuktikan pada orang tuaku bahwa kau tidak layak," Liam menyesap kopinya dengan tenang.
"Itu sebabnya aku butuh akses yang kubilang semalam, Liam," Kalea memajukan tubuhnya, suaranya kini lebih serius. "Jika kau ingin aku menjadi tamengmu, jangan biarkan aku telanjang di depan mereka. Aku butuh identitas baru. Aku butuh perlindungan hukum. Dan aku butuh kau berhenti memperlakukanku seperti orang asing di rumah ini."
Liam terdiam cukup lama, memperhatikan setiap inci ekspresi di wajah Kalea. Ada ketangguhan di sana yang tidak bisa ia abaikan. "Baiklah. Mulai hari ini, kau punya akses ke asisten pribadiku, Aris. Dia akan mengatur segala kebutuhanmu—mulai dari legalitas, pendidikan singkat tentang etiket, hingga kartu kredit tanpa limit. Tapi ada satu syarat."
"Apa?" tanya Kalea waspada.
"Kau tidak boleh pergi ke mana pun tanpa pengawalan. Dan mulai malam ini, kau akan menempati kamar di sebelah kamarku. Tidak ada lagi jarak di lantai yang berbeda. Aku harus bisa mengawasimu setiap detik."
Kalea terbelalak. "Itu bukan bagian dari kesepakatan!"
"Itu adalah bagian dari keamanan, Kalea. Clarissa bisa melakukan apa saja. Dia bisa menyewa orang untuk menculikmu dan membuangmu ke jalanan lagi hanya untuk menyingkirkan 'gangguan' darinya," Liam berdiri, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di belakang kursi Kalea. Ia membungkuk, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk Kalea meremang. "Aku tidak ingin investasiku hilang sebelum aku bosan memakainya."
Kalea menyentak kursinya berdiri, berhadapan langsung dengan Liam. "Kau benar-benar monster. Kau menggunakan ketakutanku untuk mengurungku lebih dalam!"
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pria untuk menjaga miliknya," balas Liam dingin. Ia mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna beludru hitam. "Pakai ini."
Kalea membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat besar, berkilau dengan cahaya yang menyilaukan. "Ini... terlalu berlebihan."
"Itu adalah rantai pengikatmu di depan publik. Mulai besok, kita akan menghadiri acara charity yang diadakan oleh keluarga Clarissa. Dia akan menyerangmu di sana. Jika kau tidak memakai cincin itu, kau hanya akan menjadi santapan empuk baginya," Liam mengambil cincin itu dan meraih tangan kanan Kalea.
Kalea mencoba menarik tangannya, namun Liam mencengkeramnya dengan kuat. Ia memasangkan cincin itu ke jari manis Kalea. Sentuhan jemari Liam yang dingin terasa kontras dengan panas yang menjalar di tangan Kalea.
"Jangan pernah melepaskannya, kecuali aku yang memintanya," perintah Liam.
Kalea menatap cincin itu dengan rasa muak yang bercampur dengan rasa tak berdaya. Ia merasa cincin itu seperti borgol emas yang sangat berat. Namun, saat ia menatap mata Liam, ia melihat sesuatu yang lain—sebuah tantangan.
"Kau ingin aku menjadi duri yang tajam, kan?" bisik Kalea, suaranya bergetar karena emosi. "Maka bersiaplah, Liam. Karena saat aku mulai menusuk Clarissa di acara itu, aku mungkin juga akan membuatmu berdarah."
Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menarik pinggang Kalea, merapatkan tubuh mereka hingga Kalea bisa merasakan detak jantung Liam yang stabil namun kuat. "Aku menantikannya, Kalea. Tunjukkan padaku bahwa satu miliar yang kukeluarkan bukan untuk gadis lemah yang hanya bisa menangis di pojok kamar."
Liam melepaskan Kalea dan berjalan pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Kalea yang berdiri gemetar di ruang makan yang mewah. Kalea menatap cincin di jarinya. Ini bukan lagi sekadar sandiwara; ini adalah pertaruhan nyawa dan harga diri.
Siang harinya, Aris, asisten Liam, datang membawa tumpukan dokumen dan seorang pelatih etiket. Kalea harus belajar bagaimana cara berjalan, berbicara, dan makan layaknya seorang bangsawan dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Setiap kali ia melakukan kesalahan, bayangan senyum sinis Clarissa muncul di benaknya, memberinya cambukan semangat untuk tidak menyerah.
"Nona Kalea, Anda harus lebih tegak. Jangan biarkan bahu Anda turun," ucap sang pelatih etiket dengan nada kaku.
"Aku sudah berusaha," gerutu Kalea, mencoba menyeimbangkan buku di atas kepalanya.
Di sudut ruangan, dari balik pintu yang sedikit terbuka, Liam memperhatikan proses itu. Ia melihat bagaimana Kalea berkali-kali jatuh namun selalu bangkit dengan wajah yang semakin keras kepala. Ada sesuatu di dada Liam yang berdesir—rasa bangga yang asing. Ia tahu, Kalea bukan hanya duri bagi Clarissa, tapi juga duri yang mulai merasuki pikirannya sendiri.
Malam semakin larut, dan Kalea masih berlatih di bawah bimbingan Aris tentang profil setiap tamu yang akan hadir besok. Ia menghafal nama, wajah, dan kelemahan mereka satu per satu. Ia tidak akan datang sebagai korban; ia akan datang sebagai pemenang yang siap menghancurkan panggung Clarissa.
Kalea menutup dokumen terakhir dengan keras. Ia menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan malam yang luas. "Besok," bisiknya pada diri sendiri. "Besok, dunia akan tahu bahwa Kalea bukanlah peliharaan siapa pun."
Di kamar sebelah, Liam masih terjaga, menyesap whisky-nya sambil menatap foto Clarissa di tabletnya. Ia tahu Clarissa sudah menyiapkan jebakan besar untuk Kalea besok. Namun, melihat semangat api dalam diri Kalea hari ini, Liam mulai merasa bahwa mungkin saja, kali ini Clarissa-lah yang akan masuk ke dalam jebakannya sendiri.
Perang dingin di mansion Jionel baru saja mencapai titik didihnya. Di bawah atap yang sama, dua orang yang saling membenci itu kini terikat oleh satu tujuan: menghancurkan musuh yang sama, tanpa menyadari bahwa mereka mungkin akan saling menghancurkan dalam prosesnya.