Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Ambar melangkah dengan punggung tegak, jemarinya yang lentik mencengkeram erat tuas kursi roda Baskara.
Suara gesekan roda di atas lantai marmer masjid yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang mengiringi langkah mereka menuju meja akad.
Di sana, seorang penghulu sudah menunggu dengan raut wajah tenang namun penuh rasa hormat.
Ambar kemudian mengambil posisi duduk di samping Baskara.
Kehadirannya tanpa keluarga, tanpa ayah kandung yang seharusnya menjadi wali, menciptakan suasana yang getir namun penuh ketegasan.
Penghulu tersebut sudah menerima informasi sebelumnya bahwa ayah Ambar telah berlepas tangan dan menolak hadir, sehingga sesuai prosedur hukum dan agama, posisi wali akan digantikan oleh wali hakim.
Baskara menoleh sejenak ke arah Ambar, memberikan tatapan yang seolah mengatakan,
"Jangan takut, aku di sini."
Saat prosesi dimulai, suasana menjadi hening mencekam.
Saksi-saksi dari pihak Mahendra—pria-pria berpakaian jas gelap yang tampak sangat profesional—duduk dengan sigap di sekeliling mereka.
Penghulu memulai khotbah nikah dengan singkat dan padat.
Hingga tiba saat yang paling krusial, Baskara mengulurkan tangannya yang kokoh.
Ia menggenggam tangan wali hakim dengan mantap. Tidak ada keraguan, tidak ada getaran.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ambar Widyaningrum binti Hendra Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Baskara Mahendra dengan suara bariton yang lantang dan tegas, menggema ke seluruh sudut masjid.
Mas kawin yang disebutkan bukan sekadar angka biasa.
Sebuah nominal fantastis yang setara dengan harga sebuah gedung mewah, ditambah dengan aset saham atas nama Ambar yang nilainya sanggup mengguncang pasar modal.
Sebuah mahar yang bukan hanya sebagai simbol cinta, tapi sebagai bukti kekuatan dan perlindungan mutlak bagi Ambar.
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"SAH!" jawab mereka serentak.
Air mata Ambar luruh seketika, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata pelepasan.
Di saat Jayden dan Gea mungkin sedang bersorak di pesta pernikahan mereka yang penuh kepalsuan, Ambar baru saja diangkat derajatnya oleh pria yang dunia pun segan kepadanya.
Baskara menoleh ke arah Ambar, sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya.
Ia meraih tangan Ambar, seolah secara simbolis menyatakan bahwa mulai detik ini, Ambar adalah bagian dari kejayaan Mahendra.
"Sekarang," bisik Baskara tepat di telinga Ambar setelah doa selesai dibacakan, "saatnya kita memberikan hadiah pernikahan untuk adik tiri mu dan mantan calon suamimu itu."
Di gedung serbaguna yang megah, tawa riuh rendah dan denting gelas kristal memenuhi udara.
Karangan bunga berjajar rapi, merayakan persatuan Jayden dan Gea yang baru saja mengucap janji suci.
Keluarga besar Wijaya tampak berseri-seri, seolah-olah noda pengkhianatan semalam telah terhapus sepenuhnya oleh kemilau pesta.
"Selamat ya, Gea. Kamu memang menantu yang jauh lebih pantas untuk Jayden daripada kakakmu yang kaku itu," ucap Shinta sambil memeluk putri kesayangannya.
Hendra, papa Ambar, terkekeh bangga. "Pilihan yang tepat. Setidaknya hari ini kita tidak perlu melihat wajah Ambar yang suram."
Ceklek!
Pintu aula utama yang besar terbuka perlahan. Suara gesekan roda di atas lantai keramik yang dingin tiba-tiba memecah kebisingan. Semua mata tertuju ke arah pintu.
Ambar melangkah masuk. Ia tampak luar biasa cantik, gaun pengantinnya memancarkan kemewahan yang bahkan membuat gaun Gea terlihat seperti kain murahan.
Di depannya, ia mendorong kursi roda seorang pria yang duduk tegak dengan aura yang sangat mengintimidasi.
Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya tawa terbahak-bahak pecah dari mulut Hendra dan Jayden.
"Hahaha! Ambar? Apa ini?" teriak Hendra sambil menunjuk-nunjuk.
"Kamu datang membawa pengemis lumpuh untuk mengacaukan pesta adikmu? Ini lelucon paling lucu yang pernah aku lihat!"
"Mbak Ambar," Gea menutup mulutnya sambil menahan tawa, "kalau Mbak mau cari simpati, jangan bawa orang cacat ke sini. Malu-maluin keluarga saja!"
Jayden menyeringai rendah. "Jadi ini penggantiku, Ambar? Pria yang bahkan tidak bisa berdiri untuk memelukmu? Kasihan sekali."
Ambar tidak membalas ejekan mereka dengan amarah.
Wajahnya tenang, sedingin es. Ia berhenti tepat di depan ayahnya.
Dari balik saku gaunnya, ia mengeluarkan sebuah map cokelat yang tersegel rapi
"Aku ke sini bukan untuk meminta belas kasihan, apalagi menjadi lelucon," ucap Ambar dengan suara yang lantang dan jelas, membuat tawa di ruangan itu perlahan meredup.
Ambar menyodorkan map itu ke dada Hendra. "Ini surat pemutusan hubungan antara aku dan keluarga Wijaya. Mulai detik ini, namaku tidak lagi ada di kartu keluargamu. Aku bukan lagi anakmu, dan kalian bukan lagi keluargaku."
Hendra tertegun, tangannya gemetar menerima
map tersebut.
"Apa-apaan ini?! Kamu berani menentangku?!"
"Bukan menentang, Papa," sahut Ambar dengan senyum tipis yang mematikan.
"Aku hanya sedang membersihkan sampah dari hidupku. Dan Tuan di kursi roda ini, dia adalah suamiku yang sah. Pria yang maharnya saja bisa membeli seluruh aset perusahaanmu yang hampir bangkrut itu."
Baskara, yang sejak tadi diam, kini mendongak. Matanya yang tajam menatap Hendra dengan tatapan yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
"Senang bertemu denganmu, Tuan Hendra," ucap Baskara dengan nada rendah yang penuh ancaman.
"Nikmati pestamu hari ini, karena besok, aku pastikan tidak akan ada lagi yang tersisa dari nama Wijaya di kota ini."
Hendra tertawa meremehkan, wajahnya memerah karena amarah yang bercampur rasa malu.
Tanpa ragu, ia menyambar map cokelat itu dari tangan Ambar dan merobeknya menjadi serpihan kecil di depan wajah putri kandungnya sendiri.
"Kertas sampah!" bentak Hendra, menghamburkan sobekan itu ke lantai marmer.
"Kamu pikir dengan membawa pria cacat ini, kamu bisa menakutiku? Pergi dari sini sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret kalian keluar!"
Baskara yang duduk tenang di kursi rodanya hanya menyunggingkan senyum kecil—sebuah senyum yang menyimpan badai di baliknya.
Ia menatap sobekan kertas di lantai itu seolah melihat tumpukan sampah yang tak berharga.
"Sangat disayangkan, Tuan Hendra. Anda baru saja merobek satu-satunya kesempatan untuk meminta maaf secara baik-baik," ucap Baskara dengan nada yang sangat tenang, namun auranya membuat orang-orang di sekitar mereka mulai merasa merinding.
Baskara menoleh ke arah Ambar, tatapannya melembut sesaat.
"Ayo, Istriku. Udara di sini terlalu menyesakkan karena bau kemunafikan. Mari kita pulang ke rumah kita."
Ambar mengangguk mantap. Ia memutar kursi roda Baskara, siap meninggalkan pesta yang sudah tidak berarti lagi baginya. Namun, saat mereka baru saja berbalik, sebuah tangan kasar menyambar pergelangan tangan Ambar dengan kuat.
Jayden menatap Ambar dengan tatapan menuntut, seolah ia masih memiliki hak penuh atas wanita itu.
"Ambar! Tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah membuat keributan di pernikahan kami!"
Jayden melirik Gea yang sedang merapikan gaun pengantinnya dengan wajah kesal.
"Karena kamu sudah mengacaukan suasana, setidaknya bantu Gea merapikan ekor gaunnya dan urus tamu-tamu di belakang. Anggap saja itu penebus salahmu karena sudah membawa orang asing ke sini."
Ambar berhenti melangkah. Ia menatap tangan Jayden yang mencengkeram pergelangan tangannya, lalu perlahan beralih menatap mata pria yang dulu sangat ia cintai itu. Dengan sentakan kasar, Ambar melepaskan tangan Jayden.
"Lepaskan tangan kotormu dariku," desis Ambar, suaranya dingin menghujam jantung.
Ambar berdiri tegak, menatap Jayden dan Gea bergantian dengan tatapan paling menghina yang pernah ia tunjukkan.
"Dengarkan baik-baik, Jayden. Aku bukan lagi pengantinmu yang bisa kau suruh-suruh, apalagi pelayan bagi adik tiriku yang tak tahu malu itu. Aku adalah istri sah dari Baskara Mahendra."
Ambar tersenyum sinis melihat wajah Jayden yang membeku saat mendengar nama belakang suaminya disebut dengan jelas.
"Urus saja istrimu yang 'pintar' itu. Karena mulai besok, kalian mungkin harus belajar bagaimana caranya hidup tanpa uang sepeser pun," lanjut Ambar.
Baskara memberikan isyarat pada supir dan pengawalnya yang berdiri di pintu masuk.
Dalam sekejap, pintu aula terbuka lebar, menampilkan deretan mobil mewah yang sudah menunggu di luar.
Ambar mendorong kursi roda Baskara melewati Jayden yang mematung, meninggalkan gedung itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang.