"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
"Kau, kau. Mengapa kau mengatakan ini padaku? Apa kau mau merusak kebahagiaan kami?" Histeris sudah Nyonya Desi.
"Nggak benar." Kata Nadira.
Nadira pun langsung mengambil payungnya dan mengibaskan ke arah Nyonya Desi, sehingga payung tersebut mengeluarkan sinar emasnya dan juga di tubuh Nyonya Desi juga keluar asap merah.
Saat itulah Nadira bangun, dan payungnya terbuka sendiri, diam di tempat untuk mengetahui dari mana asap merah berasal, hingga pada akhirnya asap itu mencari dan akhirnya mengenai seseorang yang ada di suatu ruangan yaitu, Tuan Heri.
Tuan Heri langsung berteriak kesakitan, karena asap itu melilit tubuhnya hingga wajahnya penuh luka.
"Angkat kepalamu." Perintah Nadira.
Tuah Heri mengangkat kepalanya, dan menghadap Nadira dengan wajah penuh luka dan kesakitan.
"Ampun. Ampun." Rintih Tuan Heri.
"Kau berani sekali mencelakai putraku. Aku bunuh kau." Kata Nyonya Rania, sambil mengambil vas bunga tapi dikendalikan oleh Tuan Heri.
Sedangkan Nadira hanya melirik saja ke arah Nyonya Rania, tanpa beranjak satupun dari tempatnya.
"Hentikan." Pinta Tuan Heri sambil mengendalikan Nyonya Rania, sehingga tubuh Nyonya Rania pun keluar asap merah.
Sedangkan Nyonya Desi, tetap disana tapi menjadi seperti patung. Karena dia juga dikendalikan oleh Tuan Heri.
"Berlutut!" Nyonya Rania langsung berlutut sambil tetap memegang vas bunga tersebut.
Nyonya Desi pun, juga ikut berlutut karena pengaruh dari Tuan Heri, hingga akhirnya Nadira pun kembali duduk di kursi yang awal.
"Iblis lukisan." Kata Nadira sambil melihat ke arah Tuan Heri yang masih berlutut karena kesakitan, dan tubuhnya pun sulit di gerakkan karena dililitkan oleh asap emas Nadira.
"Ampun, Nona." Rintih Tuan Heri.
"Bebaskan kendali." Ujar Nadira.
Tuan Heri, pun langsung melihat ke arah Nyonya Desi dan juga Nyonya rania yang mana mereka masih dikendalikan oleh Tuan Heri.
Tuan Heri menjentikkan jarinya, hingga pada akhirnya mereka pun sadar kembali.
"Tadi, aku kenapa?" Tanya Nyonya Desi linglung. Begitupun dengan Nyonya Rania, mereka saling melihat ke arah satu sama lain.
"Nona. Ampun." Ujar Tuan Heri.
Nyonya Desi dan Nyonya Rania, langsung melihat ke arah Tuan Heri yang masih diikat dan merintih kesakitan.
"Kau sudah melakukan banyak kejahatan. Aku akan membunuhmu." Kata Nadira.
Nadira pun mengangkat tangan kanannya, hingga muncul sinar keemasan dari telapak tangannya. Hingga membuat Tuan Heri semakin kesakitan.
"Nona. Aku mohon. Berikan aku satu kesempatan lagi. Aku nggak akan pernah untuk mencelakai orang lagi." Rintih Tuan Heri kesakitan.
Nyonya Desi dan Nyonya Rania, berdiri dari duduknya, Nyonya Desi amat ketakutan melihat apa yang terjadi di depan matanya.
"Kau. Kau bukan suamiku. Siapa kau?" Tanya Nyonya Desi sambil menunjuk ke arah Tuan Heri yang masih kesakitan.
Tuan Heri terus merintih kesakitan hingga ia berteriak. Nyonya Desi berteriak kaget dan ketakutan, sedangkan Nyonya Rania matanya melotot dengan apa yang mereka lihat.
"Aku nggak bersalah. Kau nggak bisa membunuhku. Yang aku bunuh adalah anakku sendiri. Menurut logika, kau nggak ada alasan untuk membunuhku." Kata Tuan Heri yang masih kesakitan tapi dia masih begitu sombong.
"Sombong." Kata Nadira.
Diapun terus menerus mempereratkan tali emasnya kepada tuan Heri, sehingga Tuan Heri semakin merintih kesakitan dan terus berteriak.
"Kau nggak bisa membunuhku. Hukum langit nggak akan mengampuni mu." Katanya sambil menahan sakit.
"Hukum langit. Apa itu?" Tanya Nadira.
Diapun menurunkan tangannya. Dan berkata. "Katakan sendiri."
"Baik. Aku adalah iblis lukisan. Awalnya aku sedang bertapa di gunung, sesekali bertemu dengan seseorang yang sekarat. Dia bersedia memberikan wajahnya padaku, agar aku turun gunung untuk membantunya merawat istrinya yang baru dinikahi." Kata Tuan Heri, sedangkan Nyonya Desi dan Nyonya Rania terkejut bagitu mengetahui fakta tersebut.
"Kau.... Maksudmu, bukan......" Kata Nyonya gemetar dan terbata-bata, karena dari saking terkejutnya dia tidak tahu harus berbicara apa.
"Benar. Dia adalah Santo Hutama." Potong Tuan Heri, sambil melihat ke arah Nyonya Rania, hingga membuat Nyonya Rania ingin pingsan karena dia begitu syok mengetahui fakta yang sebenarnya, tapi beruntungnya Nyonya Desi cepat-cepat menangkap tubuh Nyonya Rania sehingga tidak terjatuh.
"Santo Hutama? Ayahnya Heri?" Tanya Nyonya Desi, sambil merangkul bahu Nyonya Rania agar tidak jatuh lagi.
"Aku selalu menepati janji yang ku buat dengan Santo. Tapi setelah puluhan Tahun, aku mulai merindukan dunia fana ini. Jadi, aku mencoba segala cara memperpanjang umurnya." Kata Tuan Heri.
"Kau nggak ada kemampuan ini." Tanya Nadira.
"Ya. Aku cuma iblis lukisan rendahan. Tentu saja nggak ada kemampuan itu. Untungnya, aku bertemu dengan Pendeta Bima, dan dia memberiku resep rahasia untuk merebut umur keturunan." Kata Tuan Heri sambil tertawa meskipun sekujur tubuhnya sakit semua dan wajahnya yang rusak.
"Jadi, kau mengendalikan ibumu, untuk membunuh kelima putrinya?" Tanya Nyonya Desi marah sambil melihat ke arah Nyonya Rania dan langsung melihat lagi ke arah Tuan Heri.
"Benar. Resep rahasia merebut umur keturunan sangat menyakitkan. itu sebabnya dia suka anak laki-laki daripada perempuan. karena setiap kali dia melahirkan anak perempuan, dia mengalami siksaan yang berat." Jawab Tuan Heri sambil melihat ke arah mereka berdua.
Mereka berdua saling memeluk satu sama lain, mereka berdua begitu hancur saat mengetahui apa yang telah diperbuat oleh orang lain dalam kehidupannya, sehingga mereka harus kehilangan anak-anak mereka sendiri.
"Teruskan." Ujar Nadira.
"Begitulah, aku berhasil tetapi tinggal di dunia manusia. Tapi, tubuhku nggak akan bertahan lama. Jadi, aku mencari pendeta Bernama Bima itu lagi. Dia diam-diam mengajariku resep rahasia untuk merasuki keturunanku." Kata Tuan Heri.
"Kau takut padanya nggak takut padaku." Kata Nadira tenang.
"Dia mengajariku cara merasuki keturunan, jadi aku meninggalkan tubuhku yang sebelumnya. Aku merasuki Heri. Sejak saat itu. Aku hidup di dunia ini dengan identitasnya." Katanya sambil terkekeh sinis sambil melihat ke kedua Nyonya itu yang mana mereka masih berpelukan saling menguatkan satu sama lain.
"Jadi, orang yang bertemu denganku di universitas dan hidup bersamaku sampai sekarang adalah kau." Cicit Nyonya Desi sambil menahan tangisnya, karena dia begitu syok saat mengetahui bahwa orang yang hidup bersamanya adalah iblis.
"Kita seharusnya bisa hidup bahagia, sampai Yuna lahir." Kata Tuan Heri kepada istrinya
Nyonya Desi langsung menerjang ke arah Tuan Heri berada.
"Kau masih berani ungkit Yuna. Kenapa kau bunuh Yuna? Bukankah kau sudah jadi manusia?" Tangis Nyonya Desi langsung pecah saat itu, dia terus memukuli Tuan Heri meskipun tidak ada sakit juga.
"Belum. Aku bertemu Pendeta Bima lagi. Dia memberitahuku, aku sudah terlalu lama di dunia manusia. Kalau nggak diperbaiki, aku akan berubah kembali menjadi iblis lukisan." Kata Tuan Heri sambil melihat ke arah Nyonya Desi berada, sedangkan Nadira menutup matanya seakan-akan dia menerawang apa yang telah di sampaikan oleh iblis tersebut apa benar atau tidak.
" Aku nggak mau jadi iblis lukisan, aku mau jadi manusia." Teriak Tuan Heri histeris.
"Jadi, kau membunuh Yuna, untuk menebus dirimu sendiri." Tanya Nyonya Desi.
" Kalau semuanya lancar, kau akan mengira dia yang akan melakukannya." Jawab Tuan Heri sambil melihat ke arah Nyonya Desi kemudian dia pun langsung melihat ke arah Nyonya Rania.
Nyonya Desi pun mengikuti kemana arah mata Tuan Heri berlalu, Yaitu melihat sang ibu mertua.