NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:809
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pelangi Setelah Hujan

Jakarta, bulan November. Musim hujan telah tiba dengan setia. Sore itu, langit mendung menggantung rendah, sesekali kilat menyambar disusul gemuruh guntur. Di rumah Menteng, suasana hangat seperti biasa—sampai tiba-tiba tangis Melati memecah keheningan.

"Tante! Tante! Adek panas!"

Rara berlari dari kamar Melati, wajahnya pucat. Nadia yang sedang membaca buku di ruang keluarga langsung bangkit, berlari menuju kamar putri bungsunya.

Melati terbaring di tempat tidur, wajahnya merah, keringat membasahi rambut ikalnya. Napasnya cepat dan tidak teratur. Nadia meraba dahinya—panas sekali.

"Ars! Ars, cepat!" teriak Nadia.

Arsya yang sedang di ruang kerja langsung turun. Begitu melihat kondisi Melati, hatinya berdegup kencang. Ia menggendong putrinya, merasakan tubuh kecil itu begitu panas.

"Kita bawa ke rumah sakit. Sekarang."

Kalara dan Raka yang baru pulang kerja langsung panik. Hujan deras di luar, tapi tidak ada waktu menunggu. Raka mengambil kunci mobil, Arsya menggendong Melati dengan jaket tebal, Nadia memegang tas darurat, Kalara menggandeng Rara yang menangis.

"Rara ikut?" tanyanya.

"Ikut. Lo jangan ditinggal sendiri."

Mereka berlima masuk ke mobil. Raka menyetir dengan hati-hati di tengah hujan lebat, lampu mobil menyorot jalanan yang mulai tergenang. Melati di pangkuan Arsya, matanya terpejam, napasnya sesekali merintih.

"Sebentar lagi, Sayang," bisik Arsya, mencium kening putrinya. "Sebentar lagi sampai."

Nadia menangis diam-diam. Kalara memegang tangannya.

"Pasti baik-baik saja," hibur Kalara, meskipun hatinya juga takut.

Rara duduk di samping Kalara, memeluk boneka kelinci adiknya erat-erat. "Adek, jangan sakit," bisiknya. "Rara sayang Adek."

Di ruang gawat darurat, suasana ramai. Banyak pasien anak dengan gejala demam—musim hujan memang langganan penyakit. Tapi Melati langsung mendapat prioritas karena suhunya sangat tinggi: 39,8 derajat.

Dokter jaga, seorang wanita muda dengan rambut sebahu dan senyum ramah, memeriksa Melati dengan teliti.

"Demam baru dua jam?" tanyanya.

"Iya, Dok. Tiba-tiba saja panas tinggi," jawab Arsya cemas.

"Ada gejala lain? Batuk? Pilek? Muntah?"

"Tidak, Dok. Cuma panas."

Dokter itu mengangguk. "Kami akan lakukan cek darah dulu. Sementara ini, kami beri obat penurun panas dan infus."

Melati dibawa ke ruang perawatan anak. Arsya dan Nadia menunggu di samping tempat tidurnya, sementara Kalara dan Raka menjaga Rara di ruang tunggu.

Malam itu, hujan masih deras. Melati tertidur setelah diinfus, wajahnya masih merah tapi napasnya mulai teratur. Arsya tidak beranjak dari sampingnya, memegang tangan kecil itu erat.

"Ars, kamu istirahat dulu," bisik Nadia. "Aku yang jaga."

"Aku tidak bisa." Suara Arsya serak. "Aku takut, Nad."

Nadia meraih tangannya. "Aku juga takut. Tapi kita harus kuat buat Melati."

Arsya menatapnya. Matanya berkaca-kaca. "Dulu... dulu ibuku juga sakit. Waktu itu aku masih kecil. Tidak ada yang jaga. Tidak ada yang peduli. Aku tidak mau Melati merasakan hal yang sama."

Nadia memeluknya. "Dia tidak sendiri. Dia punya kita. Punya kamu, punya aku, punya Kara, Raka, Rara. Semua ada di sini."

Arsya mengangguk, mengusap air mata yang jatuh.

Dua jam kemudian, hasil laboratorium keluar. Dokter datang dengan senyum tipis.

"Hasilnya menunjukkan demam berdarah. Tapi masih tahap awal, hari pertama. Kita bisa tangani dengan baik."

Nadia menarik napas lega. "Alhamdulillah."

"Kami akan rawat beberapa hari. Yang penting asupan cairan cukup dan istirahat total. Biasanya dalam 3-4 hari demam akan turun."

Arsya menjabat tangan dokter. "Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak."

Dokter itu tersenyum. "Saya tahu perasaan orang tua. Saya juga punya anak. Tenang, kami akan jaga."

Setelah dokter pergi, Nadia menunduk bersyukur. Arsya mencium tangan Melati yang masih tertidur.

"Makasih, Tuhan," bisiknya. "Makasih masih memberi kesempatan."

Di ruang tunggu, Rara sudah tertidur di pangkuan Kalara. Bocah itu kelelahan menangis dan cemas. Kalara mengusap rambutnya lembut.

"Kabar baik?" tanya Raka yang baru datang dari membeli makanan.

"Demam berdarah, kata Dokter. Tapi masih awal, bisa ditangani."

Raka menghela napas lega. "Syukurlah."

Mereka diam. Di luar, hujan mulai reda. Sesekali lampu mobil melintas di jalanan basah.

"Ra," panggil Kalara pelan.

"Hm?"

"Gue inget waktu kecil. Waktu gue sakit, Mama angkat gue selalu jaga. Tapi... gue nggak pernah tahu perasaan jadi orang tua yang jagain anak sakit. Sekarang gue ngerti."

Raka meraih tangannya. "Kamu hebat, Sayang. Kamu ibu yang baik."

"Gue takut, Ra. Takut kehilangan."

"Aku juga. Tapi kita hadapi bersama. Seperti semua yang kita hadapi selama ini."

Kalara tersenyum. "Makasih selalu ada."

Raka mencium keningnya. "Untukmu dan anak-anakku, apa pun."

Pagi datang dengan cerah. Hujan semalam telah reda, meninggalkan genangan di sana-sini. Mentari mulai bersinar, menerangi ruang perawatan anak.

Melati membuka matanya. Ia melihat Om Arsya duduk di sampingnya, tertidur dengan kepala tertunduk. Di sisi lain, Tante Nad juga tertidur di kursi. Tangannya masih diinfus, tapi rasanya lebih baik.

"Om..." panggilnya lirih.

Arsya langsung terjaga. "Melati? Kamu sadar?"

"Om, Melati haus."

Arsya tersenyum, mengusap mata. "Sebentar, Om ambil air."

Ia menuang air putih ke gelas, membantu Melati minum. Nadia juga terbangun, wajahnya cemas berubah lega melihat Melati sudah sadar.

"Sayang, kamu bagaimana rasanya?" tanya Nadia.

"Pusing, Tante. Tapi Melati lapar."

Nadia tertawa kecil. "Lapar? Mau makan apa?"

"Bubur ayam. Yang hangat."

"Siap. Tante belikan."

Arsya menahan Nadia. "Kamu jaga dia. Aku yang beli."

Sebelum Arsya pergi, Melati menarik tangannya. "Om, jangan lama-lama."

Arsya mencium keningnya. "Iya, Sayang. Om cepat."

Saat Arsya keluar, Kalara dan Raka masuk dengan Rara. Begitu melihat Melati sudah sadar, Rara langsung berlari memeluk adiknya hati-hati.

"Adek! Adek udah bangun! Rara kangen!"

Melati tersenyum lebar meskipun masih lemas. "Kakak... Melati mimpi dikejar buaya."

Semua tertawa. Suasana ruangan yang tadi tegang, kini hangat kembali.

"Terus gimana?" tanya Rara serius.

"Terus Om Arsya dateng, ngusir buayanya."

"Wah, Om hebat."

Arsya yang baru kembali dengan bubur ikut tertawa. "Memang, Om jagoan."

Mereka menghabiskan pagi itu bersama. Melati makan bubur dengan lahap, meskipun hanya beberapa suap. Dokter datang memeriksa, mengatakan kondisinya stabil.

"Demam mulai turun. Tapi masih perlu dirawat 2-3 hari ke depan."

"Kami akan jaga, Dok," janji Arsya.

Tiga hari berlalu. Melati dirawat di rumah sakit, dan keluarga bergantian menjaganya. Arsya dan Nadia paling sering di kamar, sementara Kalara dan Raka mengurus Rara dan kebutuhan rumah.

Rara setiap pulang sekolah langsung ke rumah sakit. Ia membawa buku cerita, membacakan untuk adiknya. Kadang mereka menggambar bersama di tempat tidur, meskipun Melati lebih banyak melihat.

"Adek, lihat, Rara gambar pelangi," tunjuk Rara.

"Cantik. Pelangi setelah hujan."

"Iya. Kayak Adek, udah sembuh setelah sakit."

Melati tersenyum. "Rara sayang Kakak."

"Adek juga sayang Kakak."

Mereka berpelukan. Arsya yang melihat dari pintu tersenyum haru.

Hari keempat, demam Melati turun total. Dokter mengizinkan pulang.

"Jaga asupan cairan, istirahat cukup. Seminggu lagi baru boleh sekolah."

"Terima kasih, Dokter," ucap Nadia bersyukur.

Di rumah Menteng, semua sudah siap. Kamar Melati dibersihkan, sprei baru, banyak boneka menemani. Rara membuatkan kartu ucapan selamat pulang dengan gambar bunga-bunga.

"Selamat datang di rumah, Adek!"

Melati memeluk kakaknya. "Makasih, Kakak."

Malam itu, mereka makan malam bersama di ruang keluarga—bukan di meja makan, karena Melati ingin dekat semua orang. Mereka lesehan di karpet, dengan makanan sederhana: sup ayam hangat dan nasi.

"Gila," kata Kalara di tengah makan. "Seminggu ini kayak mimpi buruk."

"Iya," sahut Nadia. "Tapi akhirnya baik-baik saja."

Arsya menggendong Melati yang mulai mengantuk. "Ini yang penting. Keluarga kita utuh."

Rara menghabiskan supnya, lalu bertanya, "Om, kenapa orang bisa sakit?"

Pertanyaan itu menghentikan obrolan. Arsya berpikir sejenak.

"Orang sakit karena banyak hal. Virus, kuman, atau karena tubuhnya lemah. Tapi yang penting, kalau sakit, kita harus dirawat. Dan Tuhan pasti memberi kesembuhan."

"Rara nggak mau sakit. Rara takut."

Kalara memeluknya. "Nggak apa-apa takut. Tapi ingat, kalau sakit, kita semua ada di sini. Nggak sendirian."

Rara mengangguk. "Iya, Ma."

Malam semakin larut. Anak-anak tidur lebih awal. Melati di kamarnya, ditemani Rara yang bersikeras tidur satu kamar "jaga adek". Kalara dan Raka masuk ke kamar. Arsya dan Nadia duduk di beranda belakang, seperti biasa.

"Nad," panggil Arsya.

"Hm?"

"Maafin aku."

Nadia bingung. "Maaf? Buat apa?"

"Tiga hari ini aku panik. Mungkin berlebihan. Tapi aku nggak bisa nahan takut."

Nadia meraih tangannya. "Nggak usah minta maaf. Itu wajar. Kamu ayah yang baik."

"Ayah yang baik atau ayah yang terlalu posesif?"

"Keduanya." Nadia tersenyum. "Kamu sayang Melati. Sayang kita semua. Itu yang penting."

Arsya menghela napas. "Aku ingat ibuku, Nad. Waktu kecil, aku pernah sakit. Ibu jaga aku semalaman. Lalu besoknya, Ibu pergi. Tidak pernah kembali."

Nadia tertegun. "Ars..."

"Aku takut hal yang sama terjadi. Takut orang yang aku sayang pergi begitu saja. Waktu Melati sakit, semua rasa takut itu muncul."

Nadia memeluknya. "Kami tidak akan pergi, Ars. Kami di sini. Aku, Melati, Rara, Kara, semua. Kami keluargamu."

Arsya menangis dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya rapuh di depan Nadia.

"Aku cinta kalian," bisiknya. "Aku nggak bisa hidup tanpa kalian."

"Kami juga cinta kamu. Dan kami nggak akan ke mana-mana."

Malam itu, mereka berpelukan lama di beranda. Bintang-bintang bertaburan, angin malam berhembus lembut. Semua ketakutan perlahan reda, digantikan rasa syukur.

Sepekan kemudian, Melati sudah sehat dan ceria kembali. Ia berlarian di halaman, tertawa riang, seolah tidak pernah sakit. Rara menemani, sesekali mengingatkan agar tidak kelelahan.

"Hati-hati, Adek! Jangan lari-lari!"

"Iya, Kakak!"

Kalara melihat dari teras, tersenyum. "Mereka lengket banget."

"Iya," sahut Nadia di sampingnya. "Rara itu kakak yang baik."

"Dia belajar dari kakaknya."

Nadia menatap Kalara. "Maksud kamu?"

Kalara tersenyum. "Arsya. Dia kakak yang baik buat gue. Rara lihat itu, dia tiru."

Nadia tersentuh. "Arsya memang luar biasa."

"Lo juga, Nad. Lo jadi pendamping yang tepat buat dia."

Mereka berpelukan. Hubungan kakak ipar yang awalnya canggung, kini menjadi hangat.

Hari Minggu, mereka memutuskan untuk mengadakan acara syukuran kecil. Bukan syukuran karena Melati sembuh, tapi syukuran karena keluarga masih utuh.

Mama Kalara dan Ayah Arsya datang. Pak Willem juga diundang. Lastri kebetulan sedang di Jakarta, ikut hadir. Halaman belakang rumah Menteng penuh dengan tawa dan cerita.

Rara dan Melati menjadi pusat perhatian. Mereka menunjukkan tarian ciptaan mereka sendiri—gerakan kocak yang membuat semua tertawa.

"Besok kita latihan lagi, ya, Adek?" ajak Rara.

"Iya, Kakak. Kita latihan biar jadi artis."

"Artis kocak."

"Artis kocak yang cantik."

Semua tertawa. Polosnya anak-anak selalu menghangatkan hati.

Di sela-sela acara, Lastri mendekati Kalara dan Arsya.

"Aku mau ngomong sesuatu."

"Apa, Tante?"

"Aku putuskan pindah ke Jakarta."

Mereka terkejut. "Pindah? Serius?"

"Iya. Anak-anakku sudah besar, mereka kuliah di sini. Suamiku setuju. Aku ingin lebih dekat dengan kalian."

Kalara memeluknya. "Tante... itu kabar bahagia."

Lastri tersenyum haru. "Aku ingin jadi bibi yang hadir. Bukan yang jauh di foto."

Arsya menjabat tangannya. "Selamat datang di keluarga, Tante. Rumah ini selalu terbuka."

Lastri menangis. "Makasih, Nak. Makasih banyak."

Malam harinya, setelah acara usai dan tamu pulang, keluarga kecil itu berkumpul di ruang keluarga. Rara dan Melati sudah tidur kelelahan.

"Keluarga kita makin besar," kata Kalara.

"Iya," sahut Raka. "Makin rame, makin seru."

"Lo nggak keberatan?" tanya Kalara.

"Keberatan? Justru senang. Keluarga yang besar artinya banyak yang support."

Nadia mengangguk. "Setuju. Dulu aku sendiri di Belanda. Sekarang punya keluarga rame begini... rasanya hangat."

Arsya meraih tangannya. "Kita beruntung."

"Iya. Beruntung."

Mereka diam, menikmati keheningan yang damai. Di luar, angin malam berhembus lembut, membawa wangi tanah basah setelah hujan sore tadi.

"Kak," panggil Kalara.

"Hm?"

"Lo ingat dulu? Waktu kita pertama tahu kalau kita saudara?"

Arsya tersenyum. "Ingat. Lo marah-marah. Nggak percaya."

"Gue kaget. Dan sedih. Dan marah."

"Sekarang?"

"Sekarang... gue bersyukur. Banget."

Arsya memeluknya. "Aku juga."

Nadia dan Raka tersenyum melihat mereka.

Malam itu, di rumah Menteng yang penuh sejarah, cinta terus bersemi. Setelah hujan, selalu ada pelangi. Setelah sakit, selalu ada kesembuhan. Setelah luka, selalu ada cinta yang menyembuhkan.

Rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara napas tenang.

Bernyanyi dengan suara detak jantung.

Bernyanyi dengan suara cinta yang tak pernah padam.

Selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!