NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Bima Ketemu Lagi—Tapi Beda

...GAMON...

...Bab 10: Bima Ketemu Lagi—Tapi Beda...

...POV Bima & Keana...

---

Lima Bulan Sejak Putus

Satu Bulan Bima Mulai Dekat dengan Rina

Dua Minggu Keana Kembali ke Kost Lama

Jakarta tetap macet. Matahari tetap terbit dari timur. Dunia terus berputar, nggak peduli siapa yang hancur atau siapa yang bangkit.

Tapi hari ini, dua garis yang pernah menyatu—kemudian terpisah jauh—akan bersinggungan lagi.

Tanpa sengaja. Tanpa direncanakan.

Seperti takdir yang lagi bercanda.

---

Pukul 08.30 – Kantor Bima

Bima duduk di meja kerja. Laptop terbuka. Segelas kopi di samping—dibawain Rina tadi pagi.

Rina (08.15): "Kopinya diminum ya. Biar semangat rapat. Nanti siang gue ada acara, nggak bisa nemenin makan. 💔"

Bima senyum baca pesan itu. Sederhana. Tapi hangat.

Dua minggu terakhir, Rina makin sering ada. Bukan dalam arti "pacaran"—mereka belum bahas itu. Tapi dalam arti hadir. Nanyain kabar. Bawain makanan. Chat malam sebelum tidur.

Hal-hal kecil yang dulu Bima lakuin buat Keana. Sekarang orang lain lakuin buat dia.

Doni lewat, lihat Bima senyum-senyum sendiri.

"Wih, senyum-senyum. Siapa tuh?"

"Ngaco lo."

"Coba liat." Doni rebut ponsel. Baca chat Rina. "Wah, udah fase 'minum kopinya ya' nih. Bentar lagi fase 'aku lagi mikirin lo'."

Bima rebut ponselnya. "Diem lo."

Doni ketawa. Tapi kemudian wajahnya agak serius.

"Bim, lo serius sama Rina?"

Bima berhenti. Mikir.

"Gue... nggak tahu, Don. Tapi gue nyaman."

"Itu udah lebih dari cukup." Doni tepuk pundaknya. "Dulu lo sama Keana, lo terus ngejar. Sekarang sama Rina, lo dijalanin. Rasanya beda, kan?"

Bima diem. Tapi dalam hati, dia tahu Doni bener.

Beda. Banget.

---

Pukul 10.00 – Sebuah Mal di Jakarta Pusat

Bima lagi di mal. Urusan kantor—beli perlengkapan buat presentasi. Baru keluar dari toko elektronik, jalan santai ke arah parkiran.

Ponsel bunyi. Rina.

"Sayang, lo di mana?"

Panggilan "sayang" itu masih baru. Masih terasa aneh. Tapi aneh yang enak.

"Di mal. Urusan kantor. Kenapa?"

"Aduh, gue kira lo di kantor. Mau kasih kejutan bawa makan siang."

Bima senyum. "Nanti aja. Gue bentar lagi balik."

"Iya. Hati-hati. Love you."

Love you.

Dua kata yang dulu terasa berat. Sekarang? Ringan. Tulus.

Bima tutup telepon. Senyum masih nempel.

Dia lanjut jalan.

---

Di Tempat yang Sama—Berbeda Lorong

Keana juga lagi di mal.

Dua minggu pindah dari apartemen Andra, dia masih proses breakdown. Mental. Fisik. Finansial. Semuanya berantakan.

Tapi Maya maksa dia keluar. "Lo nggak boleh di kamar melulu. Nanti tambah depresi."

Jadilah dia ke mal. Nggak ada tujuan. Cuma jalan. Lihat orang. Biar nggak sendirian terus.

Tapi matanya kosong. Langkahnya lambat. Pikirannya ke mana-mana.

Dia lewat di depan toko elektronik. Kaca besar. Refleksi dirinya sendiri.

Dia berhenti. Liat bayangan sendiri. Rambut kusut. Mata sembab. Badan kurusan.

Ini aku?

Ini hasil dari "yang lebih"?

Ini yang aku perjuangin?

Dia tersenyum pahit. Lanjut jalan.

Belok kiri. Lorong menuju parkiran.

Dan di ujung lorong itu, ada sesosok yang dia kenal.

Bima.

---

Dunia berhenti.

Keana berhenti jalan. Jantungnya berhenti—atau rasanya kayak gitu. Napasnya hilang.

Bima. Di depan matanya. Hidup. Nyata.

Dia lagi jalan santai, pegang tas belanjaan. Bajunya rapi. Kemeja biru muda, lengan digulung. Rambut tertata. Badan lebih berisi—bukan gendut, tapi padat. Sehat.

Dia beda. Banget beda.

Keana ingin lari. Ingin sembunyi. Tapi kakinya kaku.

Dan pada detik yang sama, Bima mendongak.

Mata mereka bertemu.

---

Bima berhenti.

Untuk beberapa detik, dia cuma diem. Otaknya proses: itu Keana?

Iya. Itu Keana. Tapi beda. Kurus. Pucat. Mata sembab. Nggak ada kilau yang dulu dia lihat.

Dulu, Keana selalu kinclong. Rapi. Penuh percaya diri.

Sekarang? Dia kayak... orang yang baru lewat badai. Dan kalah.

Bima nggak tahu harus ngapaian. Jalan mendekat? Pura-pura nggak lihat? Balik badan?

Tapi Keana bergerak duluan.

Dengan langkah ragu, dia jalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Berhenti dua meter dari Bima.

"Bim."

Suaranya serak. Habis. Kayak orang baru abis nangis berhari-hari.

Bima diem. Matanya nggak lepas dari wajah itu.

"Kean."

Satu kata. Tapi berat. Ada ribuan kenangan di situ. Ada luka. Ada marah. Ada—mungkin—sedikit iba.

---

Keana nunduk. Nggak kuat lihat matanya.

"Lo... lo baik?" tanyanya. Suara hampir berbisik.

Pertanyaan konyol. Dia yang hancur, dia yang nanya.

Bima tatap dia. Lama.

"Gue baik."

Pendek. Tegas. Tapi nggak dingin.

"Lo?"

Keana angkat muka. Matanya basah.

"Gue... nggak."

Jujur. Untuk pertama kalinya, dia jujur. Tanpa topeng. Tanpa gengsi.

Bima diem. Tangannya di saku celana. Nggak gerak.

"Gue denger lo... sama Andra udah selesai."

Keana kaget. "Lo tahu?"

"Jakarta sempit. Gosip cepet nyebar." Bima tarik napas. "Gue turut berduka."

Bukan nyindir. Tapi sungguhan? Keana nggak tahu.

"Lo... nggak seneng?"

Bima tatap dia.

"Seneng? Karena lo hancur?" Dia geleng pelan. "Nggak, Kean. Gue bukan tipe orang yang seneng lihat orang lain jatuh. Meskipun orang itu... pernah nyakitin gue."

Keana nangis. Di depan mal. Di depan Bima. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

"Maaf, Bim."

"Udah."

"Maafin aku."

Bima diem. Lama.

Lalu dia ngomong—pelan, tapi jelas.

"Gue udah maafin lo, Kean. Dari dulu."

Keana terkesiap.

"Tapi?"

Bima senyum tipis. Senyum yang aneh—ada luka, ada ikhlas, ada lega.

"Nggak ada tapi. Gue maafin lo. Beneran." Dia tatap Keana. "Tapi maaf aja nggak cukup buat balikin apa yang udah hancur."

Keana diem. Kata-kata itu nusuk.

"Gue... gue nggak minta balikan, Bim. Gue cuma..."

"Cuma?"

"Gue cuma mau lo tahu... lo benar. Dulu, lo bilang 'cinta aku tulus'. Dan aku... aku buang itu." Keana napas dalam. "Sekarang aku tahu. Tapi udah telat."

Bima diem. Nggak ada kata-kata yang bisa dia ucap.

"Lo baik-baik aja?" tanya Keana lagi. Kali ini lebih tulus.

Bima angguk.

"Gue baik. Ada seseorang yang... jagain gue."

Keana tahu. Rina. Dia lihat di Instagram.

Dan yang aneh: dia nggak sakit hati denger itu. Dia cuma... lega. Lega kalau Bima nggak sendiri.

"Syukurlah."

---

Ponsel Bima bergetar. Rina.

Rina: "Sayang, udah balik? Makan siangnya udah sampe nih di meja lo."

Bima liat pesan itu. Senyum tipis.

Keana lihat senyum itu. Senyum yang dulu buat dia. Sekarang buat orang lain.

"Lo harus pergi?" tanyanya.

"Iya." Bima masukin ponsel. "Jaga diri, Kean."

Dia berbalik. Jalan.

Keana lihat punggung itu menjauh. Punggung yang dulu dia kenal. Sekarang terasa asing.

"Bim!"

Bima berhenti. Nggak balik.

"Makasih."

Bima diem sebentar. Lalu lanjut jalan. Hilang di ujung lorong.

Keana sendirian. Di tengah mal. Dikelilingi orang-orang yang lalu lalang. Tapi dia ngerasa lebih sendiri dari sebelumnya.

Bukan karena Bima pergi.

Tapi karena dia tahu: Bima udah nggak lagi di tempat yang sama. Dan dia—dia harus mulai dari nol, tanpa dia.

---

Sore Hari – Kost Bima

Bima duduk di meja belajar. Buku catatan lama terbuka. Dia baca ulang halaman-halaman yang udah penuh.

Lalu dia ambil pulpen. Tulis di halaman baru:

---

Hari ini aku ketemu Keana.

Anehnya, aku nggak marah. Nggak sakit. Nggak pengen balas dendam.

Aku cuma... lihat dia. Orang yang dulu sangat berarti. Yang pernah hancurin aku. Yang bikin aku berubah.

Dan aku ngerasa... lega.

Karena aku udah nggak di sana lagi. Aku udah di sini. Di tempat yang baru. Dengan orang yang baru. Dengan hati yang baru.

Maaf, Kean. Bukan aku yang dulu lagi.

Tapi makasih. Karena lo, aku jadi yang sekarang.

---

Ponsel bergetar. Rina.

Rina: "Sayang, malem ini ke tempat gue yuk. Gue masakin. Udah kangen."

Bima senyum.

Bima: "Iya. Jam 7 gue ke sana. Love you."*

Dia kirim. Lalu tutup buku. Matikan lampu.

Di luar, langit mulai gelap. Tapi hatinya terang.

---

Bersambung ke Bab 11: Keana Mengejar Bayangan

---

...📝 Preview Bab 11:...

Pertemuan itu ninggalin bekas. Di hati Keana, ada yang hidup lagi—bukan harapan, tapi penyesalan yang makin dalam.

Dia mulai mencari. Bukan buat merebut. Tapi buat tahu: apa dia masih berarti?

Tapi jawaban yang dia dapet, mungkin lebih sakit dari yang dia kira.

Bab 11: Keana Mengejar Bayangan—segera!!!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!