(🌶️🌶️🌶️🌶️🌶️)
"Aku tidak mau menceraikan Alexa Ma!" pekik Stevan, suaranya menggelegar memenuhi ruang tamu.
"Mama tidak meminta kamu untuk menceraikan Alexa! Tapi kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan, Stevan! Karena saat ini, Emily tengah mengandung anak kamu!"
Duar!
Perkataan Nyonya Eta Raven, ibu kandung Stevan sekaligus ibu mertua Alexa bagaikan petir yang menyambar Alexa di pagi hari. Alexa mematung di tempat menatap pertengkaran mereka tanpa mengeluarkan suara. Jantungnya terus berdetak kencang tanpa henti, membuat Alexa tiba-tiba merasakan sesak nafas. Pandangannya pun perlahan kabur dan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon medusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~09.
...🔥🔥🔥🔥...
...Mobil-mobil itu pun berhenti tepat di hadapan mereka. Beberapa pengawal segera berlari serempak berdiri mengelilingi mobil sport hitam tersebut, dan salah satunya membuka pintu mobil sport....
Ceklek.
"Silahkan Tuan."
...Sosok pria dari dalam mobil sport itu pun turun. Pria itu memperbaiki jas mahalnya dengan gerakan kasar, lalu berbalik melangkah menghampiri Alexa yang duduk terdiam menatapnya dengan tatapan bingung....
"Kemarilah, sayang," ucapnya mengulurkan tangan ke arah Alexa.
"Anda siapa?" tanya Alexa enggan meraih uluran tangan itu.
"Sayang, aku adalah calon suami barumu. Pria yang bersamamu menghabiskan tiga hari, tiga malam itu. Masa kamu lupa?" ungkap pria itu.
"Ternyata kau, bajingan!"
Swos.
Bug.
...Stevan yang marah segera maju dan melayangkan tinju ke arah pria itu, akan tetapi pria itu segera menangkisnya, kemudian menoleh ke arahnya sambil tersenyum sinis....
"Kurang cepat."
Krek!
"Aaaggrrrr!"
...Stevan berteriak histeris sambil memegang tangannya yang diputar ke arah belakang oleh pria itu. Hingga mengeluarkan suara renyah yang menandakan tulang Stevan saat ini sudah berpindah tempat. Sedangkan pria itu hanya memasang wajah dingin, ia mengabaikan semuanya kemudian memaksa meraih tubuh mungil Alexa bangkit dari duduknya....
"Heh! Siapa kamu?! Beraninya kamu melakukan kekerasan terhadap putraku! Akan aku laporkan kamu ke polisi," ancam Nyonya Eta segera mengetik nomor polisi dan menghubunginya.
"Silahkan hubungi polisi. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti yang mereka tangkap adalah putramu," kata pria itu santai, sambil membersihkan sudut bibir Alexa yang terluka dengan lembut memakai sapu tangan.
"Apa maksudmu?" tanya Nyonya Eta mengabaikan panggilan yang sudah terhubung.
"Maksudku." Pria itu menghentikan aktifitasnya kemudian menatap ke arah Stevan dengan tajam."Kalau putramu tersayang itu, sudah mencoba menjual istri sendiri,"Katanya tegas membuat semua orang terkejut."Bagaimana Nyonya Eta? Apa masih mau melapor?" tantangnya.
Cepat-cepat Nyonya Eta mematikan panggilan."Bagaimana kamu bisa tau namaku?" tanya Nyonya Eta penasaran.
"Hahahaha." Pria itu tertawa kecil merangkul pinggang Alexa dengan posesif."Iya, aku hampir lupa untuk memperkenalkan diri. Kenalkan, aku Tristan Wade Raven. Putra pertama keluarga Raven. Apa kalian ingat? Putra pertama yang dulunya bodoh dan patuh, lalu dengan sengaja kalian tinggalkan di negara asin," ungkap Tristan.
"Apa?!"
...Semua orang terkejut. Nyonya Eta rasanya mau pingsan saat itu juga. Bagaimana bisa? Bocah 15 tahun yang dulu ia sengaja tinggalkan saat mereka travelling, sekarang malah kembali dengan sehat. Bahkan lebih dari itu....
"Kau bohong! Tristan sudah lama meninggal. Aku dan suamiku sendiri melihat jasadnya," bantah Nyonya Eta tak terima.
"Apa kau yakin?" tanya Tristan tersenyum dingin penuh bahaya menatap Nyonya Eta."Mau buktinya?"
"Tentu saja. Siapa pun pasti membutuhkan bukti, sebelum membiarkan orang asin menginjakkan kakinya di rumah orang," tegas Stevan sambil menahan nyeri.
"Baik, aku akan menelfon Papa." Tristan segera mengeluarkan ponselnya, menelfon Tuan Josep Raven.
"Halo, ini siapa?" kata Tian Josep dari seberang ponsel.
"Aku Tristan, sekarang aku di rumah. Cepat datang, ada hal penting yang harus kita selesaikan," ucapnya, lalu mengakhiri panggilan begitu saja.
...Tristan tanpa ragu merangkul Alexa berjalan masuk ke dalam rumah. Pergi meninggalkan mereka bertiga yang menatap kepergian keduanya dengan tatapan donggo, antara membiarkan mereka masuk, atau menghentikan mereka....
"Sayang, gimana ini?" rengek Emily, mulai merasa posisinya sebagai istri pewaris tunggal terancam.
"Kita tunggu sampai Papa datang. Kalau pria sialan itu bukan Tristan, akan kubuat dia menyesal karena sudah melangkah masuk ke dalam keluarga Raven," ucap Stevan penuh dendam.
*
*
...Di dalam rumah, Alexa segera mendorong Tristan menjauh dan menatapnya dengan tajam....
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alexa.
Tristan hanya tersenyum nakal, melangkah mendekat ke arah Alexa."Seperti dulu. Menginginkan mu sayang," jawab Tristan, memfokuskan tatapannya ke arah leher Alexa yang penuh dengan maha karyanya selama tiga hari, tiga malam.
"Dengar. Aku tidak waktu untuk mencampuri urusan keluarga kalian, jadi lepaskan aku," pinta Alexa berbalik.
"Kalau aku melepaskanmu, apakah kau sudah siap menjadi santapan para pria hidung belang di luar sana? Demi mengumpulkan uang 10M selama sisa hidupmu?" ucap Tristan menghentikan Alexa yang hendak melangkah pergi."Kalau kamu mau menjadi budakku, setidaknya yang kau layani hanya aku Alexa."
...Tristan mendekat, memeluk Alexa dari belakang, kemudian menggeser rambut Alexa ke arah samping, lalu mengecup leher Alexa dengan lembut....
"Oh Tuhan... apa salahku? Aku hanya ingin bebas. Tapi kenapa kamu malah mempertemukan aku dengan pria tidak waras ini."
...Alexa memejamkan mata, mencoba menelan kembali air matanya yang akan terjatuh. Sejak dulu, sebelum Alexa mengenal Stevan. Tristan lebih dulu mengejarnya, bukan saja mengejar, lebih tepatnya menguntit. Karena ia sangat terobsesi dengan Alexa. Hal itu membuat Alexa menjadi ketakutan. Bahkan untuk sekedar duduk diluar saja ia tak berani. Beruntung beberapa tahun kemudian ia dipertemukan dengan Stevan, dan Tristan pun dinyatakan hilang saat berlibur....
...(Bersambung)...
Pembaca setia\= Like, komen, permintaan Up.
Pembaca introvert\= like, permintaan Up.
Pembaca tak punya otak, mau enaknya saja\= Pemintaan Up.