*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Gerhana Darah di Jurang Kematian
Jauh di dasar alam semesta, tersembunyi sebuah dunia yang tak pernah tersentuh cahaya dua matahari.
Jurang Tulang Kematian, ibu kota Kekaisaran Iblis Kuno, membentang seperti ngarai raksasa yang membelah kehampaan. Sungai-sungainya bukan air, melainkan darah pekat makhluk-makhluk yang telah dibantai sejak awal penciptaan. Bangunan-bangunannya pun tersusun dari tulang monster purba yang telah lama punah.
Namun hari ini, ketenangan Jurang Tulang Kematian telah lenyap.
Terompet perang dari tanduk naga iblis menggema di setiap menara. Jutaan kelelawar racun beterbangan di bawah langit ungu, sementara lonceng peringatan dari Istana Tengkorak Kaisar terus berdentang.
Seseorang telah memutus ikatan spiritualnya.
Benang parasit yang selama ini menghubungkan Kaisar Iblis dengan Tuan Muda Mo Xie telah putus.
Di depan gerbang kota terdalam, puluhan ribu pasukan Iblis Kuno telah bersiap. Seratus Jenderal Iblis berdiri di barisan terdepan dalam formasi penyegel yang menutup seluruh ruang di sekitar gerbang.
Mereka hanya menunggu satu orang.
Tiba-tiba, kehampaan di cakrawala merah darah bergetar.
Sesosok berjubah hitam melangkah keluar.
Mo Xie telah kembali.
Sabit Tulang Hitam terseret di tangan kanannya. Setiap goresannya meninggalkan jejak kehancuran di tanah. Sementara itu, lengan kirinya menggendong Xue Ling'er.
Rambut Ling'er telah memutih. Wajahnya pucat dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terdengar.
Namun tangan Mo Xie yang menopang tubuhnya begitu lembut, seolah wanita itu adalah harta paling berharga di dunia.
Panglima Penjaga Gerbang segera melangkah maju.
Tubuh iblis berwajah empat itu menjulang setinggi sepuluh meter. Suaranya mengguncang langit ketika ia berteriak,
"Mo Xie!"
"Kau telah memutus ikatan spiritual dengan Yang Mulia Kaisar Iblis. Itu adalah pengkhianatan terhadap seluruh ras Iblis Kuno!"
Senjata tulangnya terangkat tinggi.
"Letakkan senjatamu dan menyerahlah. Jika tidak, kau dan wanita itu akan mati di sini!"
Mo Xie tidak berhenti.
Tatapan merah darahnya menyapu puluhan ribu pasukan di hadapan.
"Berisik."
Hanya satu kata.
Namun seketika, Tulang Surgawi Level 11 di dalam tubuhnya bergetar. Racun ungu kehitaman pun menyelimuti seluruh tubuhnya.
Jika Lin Xuan menguasai Hukum Tolak, maka Mo Xie telah menempuh jalan Hukum Tarik dan Kehancuran.
Mo Xie mengangkat Sabit Tulang Hitam, lalu menundukkan kepala kepada Xue Ling'er yang masih tertidur.
"Tenanglah, Ling'er."
Suaranya lembut, tetapi ketika ia kembali menatap pasukan di hadapannya, tatapannya telah berubah menjadi dingin.
"Aku akan membawamu pulang."
Sabit itu perlahan terangkat.
"Seni Sabit Kehancuran..." Mo Xie mengayunkannya. "Gerhana Darah."
Sssriiing!
Sebuah garis ungu gelap melesat dari bilah sabit.
Garis itu begitu tipis hingga hampir tak terlihat. Namun ke mana pun ia lewat, kehampaan terkoyak dan segala sesuatu di jalurnya lenyap.
Panglima Penjaga Gerbang bahkan tak sempat mengangkat perisainya.
Garis ungu itu menembus tubuhnya, lalu terus melaju melewati seratus Jenderal Iblis dan puluhan ribu prajurit di belakang mereka.
Bahkan gerbang kota yang menjulang tinggi ikut terbelah menjadi dua.
Satu detik berlalu.
Tak seorang pun bergerak.
Kemudian terdengar suara retakan dari puluhan ribu tubuh secara bersamaan.
Kraaak!
Panglima berwajah empat itu terbelah.
Seratus Jenderal Iblis menyusul sesaat kemudian, diikuti puluhan ribu pasukan di belakang mereka.
Tak satu pun sempat berteriak.
Gerhana Darah bukan sekadar membelah tubuh. Sabit itu menghancurkan tulang dan esensi jiwa mereka sekaligus.
Hanya dengan satu ayunan, barisan pertahanan terkuat Ibu Kota Iblis Kuno telah runtuh.
Darah mengalir deras di depan gerbang.
Mo Xie membalikkan sabitnya.
Hukum Tarik bangkit.
Darah yang memenuhi tanah tiba-tiba terangkat ke langit dan berkumpul menjadi pusaran merah raksasa. Racun Tulang Surgawi menyelimuti pusaran itu, menyaring kotoran, racun, kebencian, dan niat membunuh yang terkandung di dalam darah puluhan ribu iblis.
Semua itu perlahan lenyap.
Yang tersisa hanyalah esensi darah murni.
Pusaran tersebut menyusut menjadi aliran merah sebening kristal yang melayang di hadapan Mo Xie.
Ia menatap Xue Ling'er.
"Minumlah, Ling'er." Esensi darah itu perlahan diarahkan ke dahi istrinya. "Ambillah kembali apa yang telah dirampas darimu."
Cahaya merah meresap ke dalam tubuh Ling'er.
Meridian yang sebelumnya hancur mulai menyatu kembali. Vitalitas yang sangat besar mengalir ke seluruh tubuhnya, sementara retakan pada kulitnya perlahan menghilang.
Rambut putihnya pun mulai berubah hitam dari akar. Hanya ujungnya yang masih menyisakan warna perak.
Kultivasinya yang sempat runtuh mulai pulih.
Dari dasar kultivasi, ia naik kembali ke tingkat Raja, lalu terus menanjak hingga mendekati Kaisar Hukum Suci.
Ling'er masih tertidur, tetapi napasnya kini jauh lebih teratur. Ia telah kembali dari ambang kematian.
Mo Xie menghela napas lega.
Namun hanya sesaat. Kegelapan kembali memenuhi matanya.
Pasukan di hadapannya hanyalah awal.
Sasaran sebenarnya masih menunggu di ujung jalan.
Mo Xie menggendong Xue Ling'er dan melangkah melewati gerbang yang telah terbelah.
Tak satu pun iblis berani menghalanginya.
Para iblis biasa bersembunyi di balik bangunan tulang sambil gemetar. Aura kematian yang mengelilingi sosok berjubah hitam itu membuat mereka bahkan tak berani mengangkat kepala.
Mo Xie terus maju.
Ia menaiki ribuan anak tangga yang terbuat dari tulang naga purba hingga akhirnya tiba di depan Istana Tengkorak Kaisar.
Gerbang istana itu terbuat dari tengkorak seorang dewa purba. Formasi kuno menyelimutinya, membuat gerbang tersebut bertahan selama bertahun-tahun tanpa seorang pun mampu menghancurkannya.
Namun Mo Xie bahkan tidak mengangkat sabit.
Ia hanya mengangkat kaki.
Booom!
Satu tendangan menghantam gerbang.
Gerbang tengkorak itu langsung pecah. Serpihan tulang beterbangan ke dalam aula dan menghancurkan pilar-pilar di sepanjang jalan.
Mo Xie melangkah masuk.
Suara langkahnya menggema di aula yang gelap.
Di ujung sana, di atas takhta yang tersusun dari ribuan tengkorak, duduklah sosok yang menjadi sumber penderitaan Mo Xie dan Xue Ling'er.
Kaisar Iblis Kuno.
Ia mengenakan jubah hitam yang seolah ditenun dari malam. Wajahnya tampak muda, tetapi usia keberadaannya telah melampaui zaman.
Ia tidak membawa senjata.
Namun tekanan yang memancar dari tubuhnya membuat ruang di sekitar takhta bergetar.
Kaisar Iblis memandang gerbang yang telah dihancurkan dan puluhan ribu pasukan yang telah dibantai.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kepanikan.
Sebaliknya, ia justru tersenyum.
Matanya menatap Mo Xie seperti seorang peternak yang sedang melihat ternaknya tumbuh sempurna.
"Luar biasa." Suara Kaisar Iblis menggema di seluruh aula. "Benang parasitku telah putus. Namun kau justru datang sendiri kepadaku."
Tatapannya turun ke tubuh Mo Xie.
"Tulang Surgawi Level 11." Senyumnya semakin lebar. "Sempurna. Kau tidak mengecewakanku, putraku."
Mo Xie berhenti. Genggamannya pada sabit semakin erat.
"Jangan panggil aku begitu lagi, Tua bangka."
Racun ungunya meledak.
"Aku kembali bukan untuk menyapamu." Tatapan merah darahnya dipenuhi niat membunuh.
"Aku datang untuk merobek tulang belakangmu dan menjadikan tengkorakmu tempat minum istriku."
Kaisar Iblis tertawa.
Tawanya mengguncang seluruh istana saat ia bangkit dari takhta.
Pada saat yang sama, tekanan Level 13 meledak. Lantai tulang di bawah kaki Mo Xie langsung retak.
"Kau mengira setelah mencapai Level 11, kau sudah sangat kuat?"
Kaisar Iblis merentangkan kedua tangannya.
Jutaan bayangan jiwa muncul di belakangnya dan menjerit tanpa suara.
"Kau baru saja menumbuhkan sayap, Mo Xie." Tatapannya perlahan berubah dingin. "Sedangkan aku adalah pohon tua yang akarnya telah menembus seluruh alam."
Mo Xie tidak menjawab.
Ia membawa Xue Ling'er ke sudut aula, lalu menempatkannya di dalam perlindungan Racun. Setelah memastikan istrinya aman, ia berbalik.
Mata merah darahnya kembali menyala. Sabit Tulang Hitam terangkat.
"Kalau begitu, mari kita lihat, Kaisar." Senyum liar muncul di wajah Mo Xie. "Apakah gigimu cukup kuat untuk menggigit tulangku..."
Ujung sabitnya mengarah tepat kepada Kaisar Iblis.
"...atau tulangku yang akan merobek tenggorokanmu dari dalam?"
Untuk pertama kalinya, senyum Kaisar Iblis sedikit memudar.
Dua sosok berdiri saling berhadapan di tengah Istana Tengkorak.
Satu adalah penguasa yang membesarkan Mo Xie sebagai wadah. Satu lagi adalah wadah yang telah memutus rantainya.