NovelToon NovelToon
BUKAN CINTA SESAAT

BUKAN CINTA SESAAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Konflik etika / Romansa
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Anyue

Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .

"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .

Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?

ikuti kisahnya hanya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9. BCS

Di ruang tamu Fabio bersama asistennya membicarakan mengenai pernikahan anaknya. Ia mencari tahu siapa pria yang bersama anaknya malam itu.

“Ini semua data yang Bapak minta," kata Asisten bernama Gani.

Fabio melihat sebuah foto seorang pemuda berparas tampan, dan melihat data diri. “Albi Reksa Prasetya," gumamnya.

"Terimakasih, kamu persiapkan segala keperluan pernikahan, jangan sampai ada yang kekurangan. Aku ingin pernikahan sederhana tanpa orang lain tahu,“ perintah Fabio.

“Baik, Pak. Segera saya laksanakan, maaf sebelumnya pernikahan mau dimana?" kata Gani.

“Aku ingin acaranya dirumah saja," jawab Fabio.

“Apa masih ada yang diperlukan?“ tanya Asisten Gani.

"Tidak, aku rasa ini saja dulu," jawab Fabio.

"Kalau begitu saya permisi," Asisten Gani pamit meninggalkan kediaman Fabio.

Di kamar Prasasti merasa ingin lari dan pergi dari rumah, ketika pikirannya tertuju pada perkataan papanya, niat itu diurungkan.

“Kenapa terjadi seperti sih, aku belum mau menikah sekarang," Prasasti bicara pada dirinya sendiri sambil menyesali perbuatannya.

Prasasti mengambil ponsel dan menelpon seseorang. "Halo,"

Tidak terdengar suara diseberang, Prasasti mematikan panggilan karena tidak ada jawaban.

Pintu kamar diketuk, Prasasti membuka dengan malas. Fabio melihat anaknya kesal merasakan hal yang sama.

“Jangan mencoba melawan Papa dan jangan lari dari tanggung jawab, Papa sudah tahu siapa pria yang bersamamu malam itu,“ kata Fabio kemudian meninggalkan Prasasti.

Prasasti mengabaikan perkataan papanya dan menutup pintu kembali.

_________

Semua penghuni sedang berkumpul di ruang keluarga. Mereka dengan wajah serius membicarakan masalah pernikahan Albi.

“Tak kusangka kembaranku akan menikah secepat ini, padahal aku belum beli kado pernikahan," celetuk Alba.

Alba berdecak kesal namun ada rasa bahagia menyergap hatinya. Pikirannya kembali pada kejadian malam itu, ia tidak habis pikir dengan rencana teman-temannya menjebaknya.

"Tidak usah beri kado, dia sudah punya segalanya," sahut Alya istri Alba.

“Yang ikhlas saja, yang tidak ikhlas lebih baik tidak usah," sewot Albi.

Sontak semua melongo mendengar ucapan Albi. "Jadi mau melamar kapan?" tanya Alba.

"Terserah kalian," kata Albi sambil meneguk air mineral.

"Bagaimana kalau besok saja atau lusa, soalnya aku free," kata Alya.

“Besok malam saja. Oh iya, kamu punya nomor perempuan itu tidak?" tanya Elma.

Albi menggelengkan kepala karena tidak sempat meminta nomor ponselnya. Elma geleng-geleng kepala melihat jawaban Albi.

“Kalau teman kamu ada yang punya tidak?" sahut Abiyasa suami Elma.

“Coba aku hubungi salah satu dari mereka," jawab Albi mencari nomor salah satu temannya.

Pencarian Albi tertuju pada Bisma karena setahu dia, Bisma lah yang tahu soal Prasasti. Albi menelpon Bisma dan langsung diangkat.

"Halo Bisma, kamu punya nomor perempuan itu tidak?" tanya Albi.

BIsma bukannya langsung membalas mengirim nomor justru mengajak bercanda.

“Perempuan yang mana?" tanya Bisma sambil menahan tawa.

"Itu perempuan yang kemaren," jawab Albi merasa dikerjain oleh Bisma.

"Yang mana jelasin, kemaren kan banyak perempuan, maksudmu bagaimana sih tidak jelas banget," sewot Bisma.

Albi sebenarnya tidak mau menjelaskan karena menurutnya dengan berkata jujur maka semua orang yang ada di ruangan itu akan mendengar dan tahu permasalahannya. Dengan berat hati terpaksa Albi menjawab.

"Yang kamu kerjain sama yang lain," jawabnya dengan suara lirih.

"Apa yang bagaimana maksudnya, aku tidak dengar agak keras dikit," Bisma pura-pura tidak dengar menyuruh Albi mengulang kata-katanya.

"Perempuan yang bersamaku yang kalian kerjain itu, Prasasti," Albi menekan kalimatnya dirinya merasa gemas dengan Bisma.

Bisma tertawa riang mendengar suara Albi marah padanya. Membuat semua orang melihat Albi dengan tatapan tajam. Wajah mereka nampak serius meminta penjelasan apa yang diucapkannya.

"Cepat kasih nomor ponselnya, jangan lama-lama penting nih," Albi dengan kesal rasanya ingin membanting ponselnya.

Beberapa saat kemudian muncul notifikasi balasan chat dari Bisma. Sebuah nomor ponsel atas nama Prasasti. Albi langsung menyimpannya lalu memutuskan panggilan.

"Bagaimana?" tanya Khasanah melihat Albi menghembuskan napas kasar.

"Aku akan menelpon perempuan itu," jawab Albi menatap mamanya sendu.

Khasanah tahu perasaan Albi, Ia tidak mau anaknya menjadi anak yang tidak bertanggung jawab meskipun belum ada perasaan setidaknya Albi mempunyai empati terhadap perempuan.

Albi menelpon Prasasti, namun tidak diangkat. Mencoba beberapa kali tidak diangkat juga membuatnya kesal, ia mencoba sekali lagi menelpon. Ada yang mengangkat.

“Halo, siapa ini dari tadi memanggil orang tidak kenal awas saja kamu menipuku aku laporkan kamu ke polisi," ancam Prasasti diseberang dengan nada marah.

Albi merasa gemas dengan suaranya bibirnya tersenyum tipis tanpa ada yang menyadari.

"Sudah ngomelnya, sekarang aku yang bicara... Besok keluargaku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu," kata Albi dengan nada santai.

Prasasti melihat ponselnya saat melihat foto profil ternyata laki-laki yang tidur dengannya malam itu. Jantungnya berdegup sangat cepat.

“Darimana kamu dapat nomorku?" tanya Prasasti merasa tidak memberi nomor kepada siapapun.

"Tidak perlu tahu darimana yang penting aku memberitahu kalau keluargaku akan datang ke rumahmu," sewot Albi.

“Apa?" Prasasti sedikit menjerit karena terkejut.

Prasasti merasa tidak percaya ada lelaki mau melamarnya dan dia lelaki yang tidur dengannya bukan lelaki lain. Wajahnya ber cemberut.

"Apa perlu aku ulangi perkataan ku tadi?" Albi dengan suara tegas.

"Tidak perlu aku sudah dengar, eh paham maksudnya," jawab Prasasti kemudian mematikan panggilan telepon.

Semua orang sedari tadi memperhatikan Albi sedang menelpon dengan seseorang, tersenyum senang.

“Nah, gitu dong. Gentle jadi seorang pria, bukan pengecut," kata Alba dengan nada bercanda.

"Kau ini sudah tua gayanya seperti anak muda saja," kata Abdi melihat Alba sedang bercanda dengan anaknya.

"Memang aku masih muda beda tiga tahun lebih muda aku daripada kamu," sewot Alba.

____________

"Pa, Papa," Prasasti memanggil Fabio sambil mencari diseluruh ruangan.

"Ada apa?" tanya Fabio duduk di kursi dekat kolam.

“Pria itu menelponku, katanya besok akan datang ke rumah untuk melamarku," kata Prasasti duduk disamping papanya.

Fabio menatap putri semata wayangnya terkejut. Dalam hatinya sesuai dugaannya , Fabio tersenyum dalam hati.

Tak disangka pria yang akan melamarnya sudah lebih dulu memberitahunya, padahal dirinya berencana yang akan datang ke rumahnya meminta pertanggungjawaban.

"Baguslah kalau dia akan datang, itu namanya pria gentle, persiapkan dirimu jangan membuat malu Papa, ingat kamu perempuan jangan mau ditindas oleh pria," kata Fabio.

Prasasti merasa terlindungi oleh perkataan papanya. Ia tidak akan pernah takut dengan yang namanya diperlukan semena-mena oleh orang lain terutama seorang pria.

"Terimakasih, Pa. Apa Papa setuju aku menikah dengan pria itu?" tanya Prasasti.

"Bukan soal setuju atau tidak, papa ingin melihat seperti apa pria itu," katanya.

1
sakura
.....
Anyue: kenapa titik-titik
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!