Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiuyin Tai
"Bocah itu benar,"balas Huang Xuan menimpali.
Kapal melaju dengan cepat membelah sungai Yinshe. Beberapa saat kemudian kapal berhenti membuat semua orang bingung.
"Tuan, di depan ada gerbang kota,"ucap Canghai.
"Baiklah. Kembalilah,"balas Huang Xuan.
Kapal kembali melaju dimana Canghai merubah wujudnya menjadi manusia kembali. Kulitnya pucat dengan rambut tergerai keperakan mengenakan pakaian berwarna putih begitu kontras dan menarik perhatian.
"Yah! Dia memang bukan manusia, wajar jika penampilannya begitu mencolok,"batin Luo Qingyin mengangkat pundaknya mengiyakan fakta yang ada.
Tak lama kemudian mereka sampai di gerbang kota, begitu melihat Luo Qingyin mereka lantas mempersilahkan kapal masuk. Gerbang kota Jiuyin Tai begitu megah ketika plakat nama kota bertuliskan emas begitu mencolok menandakan pusat pemerintahan dan kemakmuran. Sesampainya di pelabuhan, mereka turun dari kapal dan beberapa saat segerombolan pasukan datang dipimpin oleh seorang pemuda dengan zirah emas putih begitu mencolok. Ia segera turun dari kudanya memberikan salam hormat kepada Luo Qingyin.
"Salam Yang Mulia Putri," ucap Han Shuo. Putra dari Jendral Besar Han Weiting penerus klan Han sekaligus pemimpin pasukan dalam kota.
Luo Qingyin menganggukkan kepalanya menerima salam Han Shou. Kereta kuda muncul dari balik kerumunan setelahnya. Luo Qingyin naik terlebih dahulu masuk ke dalam begitupun Luo Qingyao. Huang Xuan menolak untuk masuk memilih duduk di samping kusir begitupun Canghai. Kereta kuda melaju dikawal oleh Han Shuo dan pasukannya melintasi jalanan ibukota. Melihat lambang sembilan naga sebagai lambang kerajaan berkibar pada panji-panji yang ada di kereta kuda membuat siapapun tahu bahwa yang ada di dalam merupakan anggota kerajaaan. Penduduk kota serempak menyingkir memberikan hormat tatkala selambu terbuka menunjukkan putri Luo Qingyin melambaikan tangan menyapa para penduduk kota.
Ketika kereta kuda memasuki istana maka gerbang kembali tertutup. Luo Qingyin dan Luo Qingyao turun dari dalam kereta menaiki tangga diikuti oleh Huang Xuan dan Canghai. Mereka memasuki aula batin tempat dimana aula terbesar dimana Raja Yinluo menyampaikan titahnya.
"Putri Luo Qingyin memasuki aula!" teriakan kasim menggema.
Raja Yinluo yang berada di singgasananya seketika tersenyum beranjak berdiri menuruni anak tangga kecil menghampiri putri satu-satunya memeluknya tanpa ragu.
"Ayah.."panggil Luo Qingyin.
"Tenanglah. Tidak ada yang akan menyakitimu dimari,"balas Raja Yinluo dengan lembut mengusap-usap kepala putrinya.
Mereka melepas rindu dengan berpelukan beberapa saat sebelum suara deheman Luo Qingyao menyadarkan mereka akan situasi yang terjadi.
"Sepertinya aku terbawa suasana," ucap Raja Yinluo tertawa ringan.
Ia melihat Huang Xuan dengan Canghai membuatnya mengerutkan dahi bingung. Luo Qingyin yang menyadari kecurigaan ayahandanya segera memberikan klarifikasi.
"Aku menyalamatkan senior itu dan dia lah yang menjagaku sebelum kedatangan Luo Qingyao serta yang mengalahkan komandan kalvaleri langit Xia Tang Shuyun,"ucapnya yang membuat Raja Yinluo tersentak mendengar nama Tang Shuyun sekaligus Huang Xuan yang mampu mengalahkannya.
"Dimana dia?" tanya Raja Yinluo keberadaan Tang Shuyun.
Han Shuo membawa Tang Shuyun dihadapan Raja Yinluo dengan kondisi terikat dan tampak lemah sekalipun berusaha memberontak.
"Kalian semua akan mati ketika Yang Mulia Kaisar menghancurkan Yinluo," ucap Tang Shuyun tertawa terbahak-bahak.
"Hmph! Kaisar Xia? Dia hanya budak para Dewa," balas Huang Xuan mendengus dingin.
Semua orang terkejut begitu mendengarnya namun tidak bagi Tang Shuyun yang langsung tersulut emosinya. Ia mengerang melontarkan kalimat kasar kepada Huang Xuan.
"Berisik!"ucap Huang Xuan menjentikkan jarinya membuat mulut Tang Shuyun tertutup rapat.
"Tenang. Dia akan menjadi bisu dalam satu jam saja"
Raja Yinluo menginstruksikan Han Shuo membawa Tang Shuyun pergi sementara ia berjalan mendekat ke arah Huang Xuan dan mengucapkan terima kasih secara tulus.
"Raja Yinluo cukup baik sebagai penguasa,"batin Huang Xuan kagum akan etika yang dimiliki oleh Raja Yinluo.
"Qingyin akan mengantarkanmu ke kediaman untuk beristirahat,"ucap Raja Yinluo.
Huang Xuan menganggukkan kepalanya. Luo Qingyin memimpin jalan kepada Huang Xuan dan Canghai membawanya pergi ke kediaman untuk beristirahat.
"Kau ingin kembali atau menetap dimari? Ayahmu mengirim surat kau telah lama tak pulang ke Beiyue,"ucap Raja Yinluo kepada Luo Qingyao.
"Karena Qingyin telah kembali maka aku akan pulang. Paman jika membutuhkan sesuatu bisa mengirimkan surat dan aku akan segera datang,"balas Luo Qingyao.
"Baiklah..."ucap Raja Yinluo.
Luo Qingyao menganggukkan kepalanya berpamitan kemudian pergi meninggalkan aula batin.
"Liancheng!"panggil Raja Yinluo.
Seseorang ke luar dari balik bayangan memberikan hormat kepada Raja Yinluo. Dia adalah Kepala Kasim Agung Wei Liancheng.
"Selidiki identitasnya. Aku merasakan bahwa dia bukan orang biasa melihatnya mengalahkan Tang Shuyun dan berani menghina Kaisar Xia secara langsung,"perintah Raja Yinluo tegas.
"Mengerti Yang Mulia," balas Wei Liancheng.
Raja Yinluo menoleh mengerutkan keningnya ketika melihat tangan Wei Liancheng bergetar seakan-akan dia baru saja menghadapi bahaya.
"Kau.. Ketakutan?"
Wei Liancheng mengangukkan kepalanya.
"Orang itu mengetahui keberadaan hamba ketika kakinya melangkah ke dalam aula. Aura yang dipancarkannya seketika membuat hamba tegang seakan kematian ada di depan mata. Bayangan hamba terkunci oleh aura nya,"
Raja Yinluo diam begitu mendengar jawaban dari Wei Liancheng.
"Siapa orang yang ada disampingnya?"
"Dia bukan manusia. Hamba merasakan tidak ada jejak aura manusia sama sekali melainkan aura aneh seperti perasaan lembab, basah dan berair seperti makhluk air,"jawab Wei Liancheng.
"Selidiki semuanya. Aku ingin mendengar identitas mereka secepatnya," balas Raja Yinluo.
Wei Liancheng menganggukkan kepalanya patuh kemudian menghilang menyatu dengan bayangan. Sementara itu, Huang Xuan yang tengah berjalan di belakang Luo Qingyin mengerutkan keningnya.
"Siapa yang ada di samping Raja Yinluo? Dia memiliki kemampuan menyatu dengan bayangan secara sempurna menandakan bahwa penguasaan teknik Yin miliknya tingkat tinggi" tanya Huang Xuan membuat Luo Qingyin seketika menghentikan langkahnya berbalik menghadap Huang Xuan.
"Senior melihatnya?"
Huang Xuan menganggukkan kepalanya.
"Jika dari deskripsi senior maka dapat dipastikan dia adalah Kepala Kasim Agung Wei Liancheng karena satu-satunya orang di istana yang meguasai teknik Yin tingkat tinggi dan mampu menyatu dengan bayangan secara sempurna,"ucap Luo Qingyin.
"Ohhh"
Luo Qingyin mengangukkan kepalanya melanjutkan langkah kakinya hingga sampai disebuah kediaman megah.
"Ini adalah kediaman tempat tinggal senior selama di istana,"
"Baiklah... Tidak perlu ada pelayanan karena ada Canghai disisiku,"balas Huang Xuan.
Luo Qingyin menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Huang Xuan bersama dengan Canghai masuk ke dalam kediaman.
"Seseorang akan datang kemari, berjaga-jaga lah," ucap Huang Xuan.
"Mengerti Tuan," balas Canghai menganggukkan kepalanya.
Huang Xuan masuk ke dalam kamar sementara Canghai berjalan ke arah kolam menceburkan dirinya ke dalam air yang seketika berubah wujudnya menjadi ular berdiam diri di dasar kolam memejamkan matanya untuk tidur.