NovelToon NovelToon
The Instant Obsession

The Instant Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.

Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.

Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.

Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Tarikan Magnetik dalam Kegelapan

Amarah Selene yang tadinya meledak-ledak seolah membentur dinding kaca yang tebal. Ia ingin berteriak lagi, ingin memaki kebohongan pria ini, namun di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh sedikit sisa cahaya di balik pintu, pertahanannya perlahan runtuh. Ada sesuatu pada diri Damian—aura yang begitu dominan namun juga memikat secara primitif—yang membuat lidahnya kelu.

Keheningan di ruangan arsip itu terasa sangat intim, hampir menyesakkan. Suara detak jantung mereka seolah berlomba, mengisi kekosongan di antara tumpukan berkas tua.

Damian tidak bergerak. Ia membiarkan Selene mencerna setiap kata-katanya. Ia bisa merasakan napas gadis itu yang hangat dan sedikit tidak teratur di kulit lehernya. Dalam kegelapan ini, status mereka sebagai CEO dan Pewaris menghilang; yang tersisa hanyalah dua manusia yang sedang terjerat dalam permainan obsesi.

"Kenapa diam, Selene?" bisik Damian, suaranya kini terdengar lebih lembut namun tetap memiliki nada kepemilikan yang kuat. "Di mana semua kata-kata tajammu yang biasanya kau lemparkan padaku?"

Selene memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menghindari tatapan Damian yang seolah bisa menembus kegelapan. "Aku hanya sedang berpikir... betapa berbahayanya kau."

"Berbahaya bagi dunia, mungkin. Tapi bagimu?" Damian meraih tangan Selene yang tadi menamparnya, lalu membawa telapak tangan halus itu ke bibirnya. Ia mengecupnya pelan tepat di bekas kemerahan akibat tamparan tadi. "Aku adalah perlindungan yang paling mutlak yang pernah kau miliki."

Selene gemetar, bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia benci betapa mudahnya pria ini membolak-balikkan emosinya. Satu detik ia ingin membencinya karena berbohong, detik berikutnya ia merasa ditarik ke dalam pusaran yang tidak ingin ia tinggalkan.

"Jangan berpikir kau bisa membeliku dengan perlindungan itu, Damian," gumam Selene, suaranya melemah.

"Aku tidak membelimu, Selene. Aku sedang mengklaim apa yang seharusnya menjadi milikku sejak pertama kali kita bertemu di halaman panti itu," Damian menunduk, menghirup aroma rambut Selene yang menenangkan. "Ayahmu ingin kau menjadi penerus. Bagus. Aku akan membantumu menghancurkan siapa pun yang meremehkanmu. Tapi sebagai imbalannya..."

Damian menjeda kalimatnya, tangannya beralih memeluk pinggang Selene, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

"...kau harus berjanji untuk tidak pernah menghilang lagi dari pandanganku. Jika kau ingin pergi ke panti, aku yang akan mengantarmu. Jika kau ingin bekerja, aku yang akan menunggumu. Jangan pernah berpikir untuk keluar dari jangkauanku lagi."

Selene menatap bayangan wajah Damian. Di satu sisi, ini adalah penjara. Di sisi lain, ini adalah pengabdian yang paling ekstrem dari seorang pria yang sanggup mengguncang ekonomi negara. Ia merasa seperti sedang menari di atas api; sangat berbahaya, namun ia tak mampu berhenti.

"Kau gila," bisik Selene lirih.

"Aku memang gila karenamu," balas Damian.

Damian menunduk, dan mencari bibir gadis itu di kegelapan.

Sentuhan itu datang seperti badai—tiba-tiba, kasar, namun penuh dengan kerinduan yang telah lama ia pendam. Damian tidak memberikan ruang bagi Selene untuk menghindar. Ia meraup bibir gadis itu dengan rakus, seolah ingin menghisap seluruh nyawa dan keberadaan Selene ke dalam dirinya sendiri.

Selene tersentak, matanya membelalak dalam kegelapan. Ia mencoba mendorong bahu kokoh Damian, namun pria itu justru memperdalam ciumannya. Lidah Damian menyeruak masuk, menjelajahi setiap sudut rongga mulut Selene dengan dominasi yang mutlak, mengajak lidah gadis itu dalam sebuah tarian yang liar dan menuntut.

Damian melumat bibir Selene dengan intensitas yang hampir menyakitkan, seolah ingin memberikan tanda permanen bahwa bibir itu adalah miliknya. Oksigen di antara mereka seolah tersedot habis. Selene merasa dunianya berputar; tangannya yang tadi terkepal di dada Damian perlahan melemah, jari-jarinya tanpa sadar meremas kemeja mahal pria itu demi mencari tumpuan.

"Nngh..." sebuah lenguhan tertahan lolos dari tenggorokan Selene.

Ciuman itu begitu dalam, begitu menuntut, hingga Selene merasa paru-parunya mulai terbakar karena kekurangan udara. Napasnya terputus-putus, tersedat di antara pagutan bibir Damian yang tidak kunjung memberikan jeda. Setiap kali Selene mencoba menghirup udara, Damian justru semakin menekannya ke dinding, memastikan tidak ada sedikit pun celah di antara tubuh mereka.

Obsesi Damian benar-benar tumpah dalam ciuman itu. Ia tidak lagi peduli dengan kontrak triliunan, tidak peduli dengan identitas Selene sebagai pewaris, ia hanya tahu bahwa ia sedang mencicipi surga yang selama ini ia incar.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Damian perlahan melepaskan tautan bibir mereka, namun ia tidak menjauhkan wajahnya. Dahinya bersandar pada dahi Selene, napas mereka berdua menderu berat dan panas di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Kau... gila..." bisik Selene dengan suara serak, dadanya naik turun dengan cepat mencoba meraup oksigen yang sempat hilang. Bibirnya tampak merah merona dan sedikit bengkak akibat ulah Damian.

Damian menyeringai dalam gelap, jemarinya mengusap sisa saliva di sudut bibir Selene dengan ibu jarinya. Tatapannya gelap, penuh dengan kabut gairah dan kepemilikan yang tidak sehat.

Selene memukul dada bidang Damian dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pukulan itu tidak keras, lebih mirip rontaan frustrasi seorang gadis yang dunianya baru saja dijungkirbalikkan dalam satu malam.

"Kau... kau brengsek, Damian!" bisik Selene dengan suara parau, berusaha menstabilkan napasnya yang masih berantakan. "Itu yang pertama bagiku! Dan kau mengambilnya seolah-olah itu hak milikmu!"

Di luar dugaan, Damian tidak melepaskan kunciannya. Ia justru terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat jantan dan puas di tengah kegelapan ruangan itu. Seringainya melebar, menatap Selene yang wajahnya kini pasti sudah merah padam hingga ke telinga.

"Ciuman pertama?" Damian mengulang kalimat itu dengan nada yang sangat terhibur. Ia meraih kedua tangan Selene yang masih memukulinya, lalu menguncinya di atas kepala gadis itu, menempelkannya ke dinding. "Jadi, aku yang pertama? Menarik sekali, Selene Aldrich."

"Jangan menggodaku! Aku membencimu!" seru Selene, meski matanya tidak bisa berbohong bahwa ia terpesona.

"Benarkah kau membenciku?" Damian memajukan wajahnya lagi, hanya menyisakan jarak beberapa milimeter dari hidung Selene. "Lalu kenapa kau tidak menggigit lidahku tadi? Kenapa tanganmu justru meremas kemejaku seolah-olah kau takut aku berhenti?"

"Itu... itu refleks karena aku kehabisan napas!" bela Selene dengan nada tinggi yang menggemaskan bagi Damian. "Kau melakukannya secara tiba-tiba! Kau penipu, Damian. Kau berbohong soal pekerjaanmu, kau menipu panti asuhan, dan sekarang kau mencurinya dariku."

Damian tersenyum tipis, tangannya yang satu lagi turun untuk mengelus pipi Selene yang terasa panas. "Aku tidak mencurinya, Sayang. Aku hanya mengambil apa yang sudah ditakdirkan untukku. Lagipula, jika aku tidak melakukannya sekarang, kapan lagi?

1
Leny Enick
ditunggu selajutnya 💪semngat thor
YuWie
ada2 aja tingkah org kaya tuh ya..nyamar segala..adakah di dunia nyata..hmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!