NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

cosplay jadi superhero

Rora hanya bisa berdiri mematung di pinggir lapangan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi melihat Selena yang lari pontang-panting. "Selena, tamat riwayat lo!" bisiknya panik.

Selena yang matanya sudah berkaca-kaca karena kelelahan lari tidak melihat arah depan.

BUGH!

Selena menabrak sesuatu yang keras—sangat keras, seperti menabrak tembok semen hidup. Tubuhnya terpental ke belakang, dan dalam sekejap, kerah seragam belakangnya dicengkeram oleh Damon yang berhasil menyusulnya.

"Kena lo!" raung Damon dengan wajah sangar. "Mau lari ke mana lagi, hah?!"

Selena sudah mau nangis. "Maaf, Damon... beneran nggak sengaja, tadi bolanya licin..."

"Alasan!" Damon sudah mengangkat tangan besarnya, bukan mau memukul, tapi mau menjentik dahi Selena dengan keras sebagai balasan.

"Lepasin."

Suara dingin itu berasal dari sosok yang baru saja ditabrak Selena. Leon. Dia berdiri tegak, menatap Damon dengan tatapan datarnya yang legendaris.

"Tapi dia nyari gara-gara, Yon! Kepala gue mau pecah nih!" protes Damon.

"Jangan di sini. Guru-guru liatin," ucap Leon pelan tapi tegas. "Biar nanti kita hukum di markas. Lebih bebas."

Damon mendengus, lalu melepaskan cengkeramannya. "Oke. Awas lo ya di markas nanti!"

Selena bernapas lega, meski hatinya mencelos mendengar kata 'hukum di markas'. Dia melirik Leon, "Makasih ya, Leon... ternyata lo baik." Leon nggak jawab, dia cuma berbalik dan pergi gitu aja. Dasar tembok!

Sepulang sekolah, Selena sudah siap-siap mau kabur lewat gerbang samping bareng Rora. Tapi baru saja mau melangkah, sebuah motor sport merah berhenti tepat di depan mereka. Axel membuka kaca helmnya dan nyengir ganteng.

"Mau ke mana, Tuan Putri? Jadwal hukumannya di markas, bukan di rumah," ucap Axel.

Selena menghela napas pasrah. Dia menoleh ke Rora yang ketakutan. "Ror, sampaiin ke Mamah ya... bilang Selena bakal telat pulang. Bilang kalau gue lagi ada misi rahasia melawan musuh negara demi kedamaian dunia. Gue lagi jadi superhero!"

Rora melongo. "Hah? Superhero apaan, Sel?"

"Udah, bilang gitu aja! Dah Rora!" Selena pun naik ke motor Axel dengan perasaan campur aduk.

Sesampainya di markas, Zeus sudah duduk di kursi kebesarannya. "Hukuman lo: bersihin seluruh rak buku dan koleksi barang pecah belah di lantai atas. Semuanya. Jangan ada debu sedikit pun."

Selena naik ke atas dengan wajah dongkol. Tapi, namanya juga Selena, sifat "bar-bar" dan imajinasinya nggak bisa diam. Di lantai atas, dia menemukan jubah hitam bekas dekorasi dan beberapa perlengkapan motor yang unik.

Satu jam kemudian, suasana di bawah sedang tenang. Zeus, Leon, Damon, Nathan, dan Axel lagi asyik ngobrol soal balapan.

JRENGGGG!

Tiba-tiba Selena muncul di balkon lantai dua. Dia sudah memakai jubah hitam yang diikat di leher, kacamata hitam milik Nathan yang dia curi dari meja, dan memegang kemoceng seolah-olah itu adalah pedang sakti. Di kepalanya ada helm robot mainan yang tadi dia temukan di pojok ruangan.

"BERHENTI KALIAN SEMUA, PARA PENJAHAT DUNIA!" teriak Selena sambil berdiri di atas pagar balkon, bergaya ala pahlawan super. "Aku adalah Super-Sel, pembasmi pangeran sombong dan monster beton! Rasakan kekuatan debu kemocengku!"

Selena mulai mengayun-ayunkan kemocengnya dengan heboh sampai debu-debunya berterbangan ke bawah.

Axel tersedak kopinya. Damon yang tadinya mau marah malah melongo bodoh. Nathan menutup matanya, malu sendiri melihat kelakuan adik kelasnya itu.

Zeus? Dia sampai menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dia menatap Selena yang sedang cosplay superhero dengan wajah yang sulit diartikan—antara mau marah, malu, atau malah pengen ketawa tapi ditahan.

"Selena... turun," perintah Zeus, suaranya agak bergetar.

"Tidak akan! Sebelum kalian menyerah dan memberiku camilan enak!" balas Selena sambil melakukan pose pahlawan bertopeng.

Leon yang biasanya nggak peduli, kali ini sampai berhenti mengelap mesin motornya. Dia menatap Selena lama, lalu bergumam pelan, "Dia... beneran stres ya?"

Seluruh inti Thunder benar-benar kehabisan kata-kata. Ternyata pangeran Mafia Alexander dan gengnya baru saja dikalahkan bukan oleh senjata, tapi oleh tingkah aneh seorang gadis bar-bar penggila robot.

Suasana markas Thunder yang biasanya mencekam karena aura mafia, mendadak berubah jadi panggung komedi. Selena masih berdiri di atas balkon dengan jubah hitamnya yang berkibar tertiup angin dari kipas angin besar di bawah.

"Kenapa kalian diam?! Apa kalian gemetar melihat kekuatan Super-Sel?!" seru Selena sambil menunjuk Zeus dengan kemocengnya. "Berikan seserahan berupa jajanan atau markas ini akan penuh dengan kekuatan debu suci!"

Damon memijat pangkal hidungnya. "Zeus, ini beneran babu lo? Gue tadi mau emosi, sekarang malah berasa pengen bawa dia ke RSJ."

Zeus menghela napas panjang. Dia menatap Selena yang mukanya ketutupan helm robot kegedean, tapi semangatnya luar biasa. Sejujurnya, Zeus merasa ini jauh lebih menghibur daripada melihat anak-anak Thunder yang biasanya cuma tau cara berantem.

"Axel," panggil Zeus tanpa mengalihkan pandangan dari Selena.

"Ya, z?"

"Beliin apa pun yang dia mau. Seblak, cilok, cimin, apa pun itu. Bawa ke sini sekarang."

Axel melongo. "Serius, Bos? Kita pangeran mafia masa disuruh antre cilok pinggir jalan?"

Zeus memberikan tatapan tajam yang langsung membuat Axel berdiri tegak. "Mau lo yang jadi target kemoceng dia selanjutnya?"

"Oke, oke! Meluncur!" Axel langsung menyambar kunci motornya dan pergi secepat kilat.

Sepuluh menit kemudian, markas Thunder dipenuhi aroma bumbu kacang dan kuah pedas. Selena sudah turun dari balkon—meskipun jubahnya tetap nggak mau dilepas. Dia duduk bersila di sofa mewah milik Zeus, di depannya sudah ada tumpukan plastik jajanan.

"Nah, gini dong! Ini baru namanya menghargai pahlawan," ucap Selena sambil menusuk cilok dengan penuh kemenangan.

Damon, Nathan, dan Leon hanya bisa menonton dari meja biliar. Mereka nggak habis pikir, markas yang biasanya jadi tempat diskusi strategi bisnis dan wilayah, sekarang malah jadi tempat mukbang jajanan SD.

Zeus duduk di sebelah Selena, memerhatikan gadis itu makan dengan lahap sampai ada bumbu seblak di sudut bibirnya.

"Puas lo?" tanya Zeus datar.

Selena menoleh, matanya berbinar. "Puas banget! Ternyata jadi pahlawan itu melelahkan, butuh asupan micin yang banyak." Dia lalu menyodorkan satu tusuk cimin ke arah Zeus. "Nih, buat lo. Anggap aja ini tanda perdamaian karena lo udah baik mau beliin jajanan."

Zeus menatap tusuk cimin itu dengan ragu. Dia nggak pernah makan makanan pinggir jalan semacam ini seumur hidupnya.

"Makan aja, nggak bakal mati kok! Gue jamin!" paksa Selena.

Dengan ragu, sang pewaris Alexander itu membuka mulutnya dan mencoba satu suapan. Teman-temannya di pojok ruangan hampir saja menjatuhkan stik biliar melihat ketua mereka disuapi jajanan pasar oleh seorang gadis bar-bar.

"Gimana?" tanya Selena penuh harap.

"Kebanyakan micin," jawab Zeus pendek, tapi dia tidak menolak saat Selena menyodorkan suapan kedua. "Besok-besok kalau mau makan ini, bilang. Nggak usah pake acara manjat balkon segala. Kalau lo jatuh, gue yang repot."

Selena nyengir lebar. "Siap, Bos Kulkas!"

Leon yang sedari tadi diam tiba-tiba mendekat. Tanpa suara, dia mengambil satu bungkus jajanan yang tersisa di meja. "Gue ambil ini," ucapnya singkat, lalu kembali ke pojok motornya.

"Eh! Si Tembok Semen ternyata doyan juga!" teriak Selena sambil tertawa.

Malam itu, di markas Thunder yang "mengerikan" bagi orang luar, tawa Selena pecah begitu saja. Dia sejenak lupa kalau orang-orang di depannya adalah para mafia konglomerat yang ditakuti dunia. Baginya, saat ini, mereka hanyalah sekumpulan cowok keren yang kalah telak oleh pesona seplastik cilok dan kostum superhero gadungan.

Selena berhenti mengunyah ciloknya sejenak. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh markas yang luas itu. Matanya menyipit, menatap satu per satu wajah inti Thunder: Zeus yang berwibawa, Leon yang misterius, Damon yang kekar, Nathan yang cerdas, dan Axel si raja gombal.

"Eh, gue kepo deh," celetuk Selena sambil menunjuk mereka dengan tusuk cilok. "Kalian berlima ini kok bisa akrab banget? Maksud gue, sifat kalian kan beda-beda jauh. Yang satu kulkas, yang satu tembok, yang satu monster, yang satu tukang nyinyir, nah yang satu lagi... agak kurang obat," katanya sambil melirik Axel.

Axel yang lagi asyik minum es teh langsung tersedak. "Heh! Maksud lo gue?!"

Axel kemudian berdehem, memperbaiki duduknya. "Gini ya, Neng Super-Sel. Kita berlima itu udah temenan dari orok. Orang tua kita rekan bisnis, jadi kita tumbuh bareng di lingkungan yang sama. Bisa dibilang kita ini udah bukan temen lagi, tapi saudara beda bapak-emak."

"Ooh, pantesan kompak banget jailin gue," gumam Selena. "Tapi masa geng se-keren dan se-mewah ini anggotanya cuma berlima? Sepi amat. Di sekolah lain biasanya geng motor itu anggotanya puluhan, sampe menuhin parkiran."

Damon yang sedari tadi cuma dengerin sambil nyemil kerupuk tiba-tiba tertawa remeh. Suara tawanya yang berat menggema di markas.

"Cuma berlima, kata lo?" Damon menggeleng-gelengkan kepalanya. "Belum tau aja ni anak. Kita ini geng besar, Selena. Markas ini cuma tempat kumpul eksklusif buat kita inti Thunder."

Nathan menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, "Anggota Thunder itu tersebar di mana-mana, Sel. Ada ratusan. Mereka punya divisi sendiri-sendiri. Ada yang urusan IT, urusan lapangan, sampe urusan intelijen. Lo pikir siapa yang jaga keamanan sekolah setiap kali ada tawuran di luar? Itu semua orang-orang kita."

Selena melongo sampai mulutnya sedikit terbuka. "Ratusan?! Jadi kalau gue teriak minta tolong sekarang, bakal ada ratusan orang dateng?"

"Bisa jadi," jawab Zeus datar sambil meliriknya. "Tapi tergantung siapa yang lo panggil. Kalau lo panggil nama gue, mungkin dampaknya bakal lebih besar dari yang lo bayangin."

Selena langsung bergidik ngeri teringat kata-kata Rora soal Mafia Alexandra. Kalau anggotanya ratusan, itu sih bukan geng sekolah lagi, itu namanya pasukan pribadi!

"Beuh... gaya bener ya pangeran mafia satu ini," sindir Selena berusaha tetap santai meski hatinya menciut. "Terus kenapa cuma kalian yang kelihatan menonjol di sekolah?"

"Karena kami adalah wajah dari Thunder," timpal Leon tiba-tiba, membuat Selena tersentak. "Yang lain bergerak di balik bayangan. Tugas kami cuma memastikan nggak ada yang berani nyentuh otoritas keluarga kami."

Selena menelan ludah. "Oke, oke. Gue paham. Kalian itu versi elitnya. Gue beruntung banget ya, jadi babu pangeran mafia langsung, bukan babu divisinya."

"Beruntung atau sial, itu beda tipis buat lo, Sel," sahut Zeus sambil berdiri, mengambil jaket kulitnya. "Dah, jajanan lo udah abis kan? Ayo pulang, udah mau malem. Nanti nyokap lo nyariin superhero-nya yang ilang."

Selena buru-buru membereskan plastik jajanannya. Sambil jalan keluar markas, dia masih mikir: Gila, gue beneran masuk ke kandang macan yang punya ratusan anak buah. Rora kalau denger ini pasti pingsan di tempat!

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!