NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMPLOP KESEBELAS

Amplop kesebelas dibuka Kamis malam.

Sudah menjadi rutinitas — Kamis, amplop, teh yang diseduh dengan presisi ritual. Tapi rutinitas ini sekarang punya lapisan baru, lapisan yang tidak ada labelnya tapi yang terasa seperti perbedaan antara ruangan yang hanya dikunjungi dan ruangan yang dihuni.

Wren membuka amplop dengan cara yang sama seperti selalu. Mengeluarkan surat. Meletakkan di antara mereka.

Arsa membaca.

Langit,

Hari ini kamu bilang sesuatu yang mungkin kamu tidak ingat.

Kita sedang di perpustakaan — kamu sedang nyortir foto-foto lama, aku duduk di sebelah meja dengan buku yang tidak benar-benar aku baca. Kamu mengangkat satu foto — langit sore yang kamu ambil tahun lalu — dan kamu bilang: "Ini foto yang paling aku suka tapi tidak pernah aku tunjukkan ke siapapun."

Aku tanya kenapa. Kamu bilang: "Karena hal yang paling kamu sayang biasanya yang paling susah dibagi. Takut orang tidak merasakan yang sama."

Aku tidak bilang apa-apa waktu itu. Tapi aku simpan kalimat itu.

Langit — aku rasa kamu tidak hanya bicara tentang foto.

Dan aku rasa aku juga tidak hanya bicara tentang foto waktu aku bilang sekarang:

Hal yang paling aku sayang dari hidupku, yang belum pernah aku tunjukkan ke siapapun dengan sepenuhnya, adalah ini — keberadaanmu. Cara kamu ada. Cara hari-hari terasa berbeda hanya karena kamu di dalamnya.

Aku tidak tahu apa yang aku lakukan dengan perasaan ini. Aku tidak tahu apakah ada tempat untuknya di antara kita.

Tapi aku tahu satu hal: aku tidak mau hidup sampai tua dengan perasaan ini tersimpan rapi di kotak yang tidak ada yang buka.

Jadi aku tulis. Supaya setidaknya ada di suatu tempat.

— Raka

Arsa selesai membaca.

Wren sudah membacanya lebih dulu — ekspresinya tenang tapi ada sesuatu yang bergerak di baliknya yang ia tidak sembunyikan dari Arsa.

"Satu surat lagi," kata Arsa.

"Satu lagi." Wren melipat surat itu. "Arsa — setelah surat terakhir selesai, pameran ini akan kita mulai persiapkan sungguhan. Ada beberapa hal yang saya ingin usulkan tentang formatnya."

"Katakan."

"Saya ingin ada satu ruang di pameran — ruang terakhir, kotak kosong yang Anda belum isi di outline — di mana orang bisa menulis. Bukan surat kepada almarhum. Tapi surat kepada seseorang yang masih hidup yang selama ini belum mereka beritahu sesuatu." Wren menatapnya. "Surat yang dikirim. Bukan disimpan."

Arsa memandang Wren.

"Itu," katanya, "adalah kotak yang kosong yang sudah lama saya cari."

Wren mengangguk. "Saya tahu."

"Dari kapan Anda tahu?"

"Dari Sabtu pertama kita bertemu. Waktu Anda menunjukkan outline itu dan mengatakan kotak itu kosong tapi cara Anda mengatakan kosong terdengar seperti seseorang yang tahu apa yang seharusnya ada di sana tapi belum siap menyebutkannya."

Arsa menatapnya lama. "Anda mendengar terlalu banyak dari nada suara orang."

"Itu pekerjaan saya."

"Tidak hanya pekerjaan."

Wren mengangkat satu alis sedikit — gerakan yang kecil tapi yang Arsa sudah tahu artinya: kamu benar tapi saya tidak akan mengakuinya terlalu cepat.

"Ruang menulis surat," kata Arsa. "Dengan amplop dan perangko. Sehingga orang benar-benar bisa kirim."

"Dan kotak pos kecil di dekat pintu keluar."

"Nama ruangnya apa?"

Wren berpikir sebentar. Lalu: "Akhirnya."

Arsa menatapnya.

Akhirnya. Dua kata di belakang foto Pak Wahyu muda yang pertama ia temukan di kotak. Hari pertama. Akhirnya. Kata yang menyimpan satu dunia penantian di dalamnya.

"Ya," katanya. "Akhirnya."

Draf final rekonstruksi Pak Wahyu selesai di hari Jumat — tiga bulan setelah ia pertama membuka kotak kardus dengan tulisan JANGAN DIBUKA DULU di semua sisinya.

Arsa mencetak draf itu dan membacanya dari awal ke akhir sekali — kebiasaannya sebelum menyerahkan apapun. Bukan untuk mengedit secara teknis, tapi untuk merasakan apakah kisah yang ia tulis itu terasa seperti orang yang sesungguhnya.

Pak Wahyu Santoso tujuh puluh satu tahun. Tumbuh besar di Semarang, anak dari keluarga yang tidak kaya tapi tidak kekurangan dalam artian yang paling penting. Pindah ke Jakarta usia dua puluh tiga dengan tekad yang tertulis di balik foto paling pertama yang Arsa temukan. Membangun hidupnya dari nol dengan cara yang bukan dramatis tapi konsisten — pekerjaan yang bukan passion tapi dihormati, rumah tangga yang bukan sempurna tapi tulus, anak-anak yang ia cintai dengan cara yang tidak selalu tersampaikan dengan jelas.

Dan Dito — si bungsu, satu-satunya anak laki-laki — yang tumbuh dengan passion yang tidak ia warisi dari siapapun di keluarga itu: memotret langit. Yang sakit di usia yang terlalu muda. Yang pergi sebelum sempat menunjukkan kepada ayahnya semua foto-foto yang tersimpan di laptop lamanya.

Yang dicintai oleh seseorang yang duduk di koridor setiap hari dan tidak pernah masuk.

Pak Wahyu yang mengetahui itu. Yang duduk di bangku koridor dengan dua kopi dari kantin. Yang tidak tahu nama lengkap Raka tapi tahu cukup — tahu bahwa anaknya dicintai, dan itu sudah cukup untuk bisa bernapas.

Arsa sampai di paragraf terakhir. Kalimat yang ia tulis ulang tujuh kali sampai terasa tepat:

Wahyu Santoso tidak pernah menjadi ayah yang sempurna. Tapi ia adalah ayah yang, di penghujung hidupnya, belajar bahwa hadir — sungguh-sungguh hadir — lebih berharga dari sempurna. Pelajaran yang ia pelajari dari seorang pemuda yang duduk di koridor rumah sakit karena cinta yang tidak punya nama, dan dari anaknya yang memotret langit karena tidak ingin ada momen indah yang terlewat tanpa saksi. Ia membawa pelajaran itu diam-diam selama delapan tahun terakhir hidupnya, dalam pot-pot kaktus kecil di meja kerjanya yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapapun, dalam kebiasaan bangun pagi sebelum subuh dan duduk di meja dapur sendiri — bukan karena tidak bisa tidur, tapi karena ia menemukan bahwa diam di pagi hari adalah cara terbaik ia tahu untuk hadir dengan dirinya sendiri. Dan di halaman belakang rumahnya di Bandung, di antara tanaman-tanaman yang ia rawat dengan sabar, Wahyu Santoso meninggal dunia pada suatu sore di bulan Maret — tenang, tidak dramatis, seperti cara ia menjalani banyak hal terpenting dalam hidupnya.

Ia meninggalkan tiga anak yang tidak seluruhnya mengenalnya. Tapi kini mereka sedang belajar.

Dan itu, untuk seorang ayah yang tidak pandai berkata-kata, adalah warisan yang cukup.

Arsa menutup draf itu.

Duduk dalam diam selama beberapa menit.

Lalu mengirim pesan ke Ibu Sari:

"Selesai. Bisa kita jadwalkan pertemuan untuk review?"

Dan satu pesan lagi, ke nomor yang berbeda:

"Pak Wahyu selesai. Saya butuh udara. Anda mau jalan-jalan?"

Balas datang dalam tiga puluh detik:

"Ke mana?"

"Mana saja. Keluar dulu dari laptop dan dinding ini."

"Beri saya dua puluh menit. Saya di tengah rekaman."

Arsa meletakkan ponselnya dan menatap tumpukan dokumen di mejanya — tiga bulan kerja yang terlipat menjadi tujuh puluh halaman, ditambah lampiran foto dan surat dan kutipan. Kisah seseorang yang tidak ia kenal empat bulan lalu tapi yang sekarang terasa seperti seseorang yang sudah ia kenal sejak lama.

Ini yang selalu terjadi. Ini yang membuat ia tidak bisa berhenti melakukan pekerjaan ini meski tidak ada di buku panduan karir manapun: di akhir setiap rekonstruksi, ia membawa sedikit dari orang itu ke dalam dirinya. Tidak sebagai beban — sebagai hadiah. Cara seseorang melihat sesuatu, cara seseorang memilih untuk hadir atau tidak hadir, cara seseorang belajar dari kehilangan.

Dari Pak Wahyu ia membawa ini: hadir bukan hanya tentang ada. Tapi tentang memilih untuk benar-benar di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!