NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Ruang tamu yang tadi berubah menjadi ruang akad kini dipenuhi ucapan selamat. Kamera berkilat. Tawa pecah di sana-sini. Wajah Oma bersinar puas.

Olivia duduk kaku di pelaminan, kebaya putihnya terasa seperti baju zirah. Di sampingnya, Juna tampak tenang—terlalu tenang untuk ukuran pria yang baru saja menikah dengan gadis yang lima kali mencoba menyabotase akadnya sendiri.

“Sekarang prosesi sungkem dan doa,” ujar MC riang.

Olivia berdiri. Ia mencium tangan papinya, lalu maminya. Air mata jatuh—karena tekanan batin, lalu tibalah momen yang membuat jantungnya melonjak lagi.

“Silakan pengantin pria memberi doa dan mencium kening istrinya.”

Beberapa sepupu langsung bersorak kecil. Olivia menelan ludah. Juna berdiri di depannya. Tinggi badannya membuat Olivia harus sedikit mendongak. Ia mendekat. Olivia cepat-cepat berbisik, nyaris tanpa menggerakkan bibir.

“Jangan ambil kesempatan. Nggak usah lama-lama. Taruh bibirnya di jidat doang. Jangan gaya-gayaan.”

Juna mengangkat alis tipis.

“Lu ngatur-ngatur banget.”

“Serius. Jangan macam-macam.”

Juna menunduk sedikit, seolah hendak benar-benar mencium keningnya. Lalu ia membalas dengan suara rendah yang hanya bisa didengar Olivia.

“Lu istri gue sekarang.”

Olivia menegang.

“Gue bebas mau ngapain.”

Kalimat itu membuat bulu kuduk Olivia meremang. Bukan karena nadanya kasar—justru karena diucapkan dengan santai. Terlalu santai.

“Coba aja,” balas Olivia pelan, tapi suaranya sedikit bergetar.

Beberapa kamera sudah mengarah. Juna tersenyum tipis, lalu menempelkan bibirnya ke kening Olivia.

Tidak lama. Tidak berlebihan. Hanya tiga detik. Tapi tiga detik itu cukup membuat Olivia sadar bahwa semuanya benar-benar sudah berubah. Tepuk tangan pecah.

Salah satu sepupu berteriak, “Aduh, gemes banget!”

Olivia langsung mundur setengah langkah, pipinya memanas. Juna berbisik lagi, kali ini nadanya lebih ringan.

“Tenang. Gue masih tau batas.”

Olivia mendengus. “Bagus. Pertahankan.”

Mereka duduk kembali berdampingan. Namun sebelum Olivia sempat menarik napas panjang, Juna kembali berbisik.

“Liv.”

“Apa lagi.”

“Tadi gue cuma bercanda.”

“Bercanda apaan?”

“Soal bebas mau ngapain.”

Olivia menoleh tajam. Juna menatap lurus ke depan, senyumnya tipis.

“Gue nggak akan ambil apa pun yang nggak lu kasih.”

Kalimat itu membuat Olivia terdiam. Serius. Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada nada mengejek. Tidak ada sindiran. Hanya pernyataan sederhana. Olivia tidak sempat membalas karena MC kembali bersuara.

“Baik, sekarang kita lanjut ke sesi foto keluarga!”

Mereka berdiri lagi. Lampu flash menyala-nyala. Saat fotografer mengatur posisi, tiba-tiba salah satu tante mendekat sambil membawa sesuatu.

“Dari Oma,” katanya penuh arti.

Olivia langsung curiga. Juna membuka amplop itu perlahan. Di dalamnya bukan dua tiket. Melainkan sebuah kartu hitam elegan dengan emboss emas. Juna membaca pelan.

“Private jet. Besok pagi. Tujuan Zurich.”

Ruangan langsung heboh.

“Wahhh luar negeri!”

“Gila Oma!”

“Langsung honeymoon Eropa!”

Olivia membeku. Zurich. Swiss. Bukan Bali. Bukan Singapura. Tapi Swiss. Ia menoleh pelan ke arah Oma.

Oma tersenyum lembut, anggun, seolah tidak baru saja mengatur hidup cucunya sampai lintas benua.

“B-besok pagi?” bisik Olivia ke Juna.

“Jam sepuluh,” jawab Juna santai.

Olivia mengerjap. “Besok pagi berarti kita masih di rumah malam ini kan?”

Juna mengangguk. “Resepsi selesai, istirahat. Besok terbang.”

Olivia menghela napas lega. “Syukurlah. Gue kira langsung malam ini.”

Juna menoleh pelan. “Liv.”

“Hm?”

“Lu sadar kan… ‘istirahat’ itu di mana?”

Olivia berhenti. “…di kamar masing-masing?”

Juna tersenyum tipis. “Kita sudah menikah.”

Jantung Olivia jatuh satu tingkat. Di seberang ruangan, Oma menyeruput teh dengan ekspresi yang terlalu damai.

Malam semakin larut. Resepsi selesai. Tamu pulang satu per satu. Olivia berdiri di depan kamar barunya. Kamar yang sekarang… bukan lagi sekadar kamar tamu.

Koper sudah masuk. Pintu terbuka. Di dalam, kamar luas dengan dekorasi bunga putih dan lampu temaram. Olivia berdiri kaku di ambang pintu. Juna berdiri di belakangnya.

“Masuk,” katanya ringan.

Olivia menoleh cepat. “Ingat ya. Tadi lo bilang nggak ambil apa pun yang nggak gue kasih.”

Juna mengangguk santai. “Iya.”

“Janji?”

“Janji.”

Olivia masuk pelan. Ia berjalan ke sisi ranjang, duduk di ujungnya. Hening. Sunyi. Sedikit canggung. Juna melepas jasnya dan menggantungnya rapi. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru. Justru itu yang membuat Olivia makin tegang.

“Lu santai banget,” gumam Olivia.

“Karena gue nggak mau lu kabur lewat jendela.”

Olivia mendengus.

“Gue cuma mau tidur,” lanjut Juna.

Olivia mengangkat alis. “Serius?”

“Iya.”

Ia mengambil bantal tambahan, lalu berjalan ke sofa panjang di sudut kamar.

Olivia mengerjap. “Lu tidur di situ?”

“Iya. Lu kan belum kasih izin apa-apa.”

Olivia terdiam. Juna menyalakan lampu kecil dan merebahkan diri di sofa.

“Selamat malam, Bu Istri.”

Olivia masih duduk di ranjang, kebingungan. Baru saja ia merasa terancam. Sekarang malah ditinggal tidur jauh. Ia mendengus kecil.

“Pura-pura gentleman,” gumamnya.

Lampu kamar hampir dimatikan ketika ponsel Olivia bergetar lagi. Jesica.

Liv…

Lo masih sadar kan?

Olivia membalas cepat.

Masih. Kenapa?

Balasan masuk beberapa detik kemudian.

Gue baru dapet info dari sepupu lu yang kerja di kantor Oma.

Zurich itu bukan buat honeymoon doang.

Olivia menegang.

Maksudnya?

Pesan berikutnya muncul perlahan.

Itu perjalanan bisnis keluarga.

Dan nama lu sekarang resmi tercatat sebagai direktur baru cabang Eropa.

Olivia membeku. Perlahan ia menoleh ke arah Juna yang sudah memejamkan mata di sofa. Direktur? Cabang Eropa? Ia baru lulus SMA.

Perlahan, Olivia berbisik ke kegelapan kamar, “Kak…”

Juna membuka satu mata. “Hm?”

“Kenapa gue baru tau gue punya jabatan?”

Juna menutup matanya lagi. “Oh itu.”

“Itu apaan?!”

Dengan suara setengah mengantuk ia menjawab, “Selamat datang di bisnis keluarga.”

Lampu benar-benar padam. Dan untuk pertama kalinya sejak akad— Olivia sadar. Ini bukan tentang pernikahan paksa. Ini tentang permainan yang levelnya jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan.

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!