Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perhatian
Mandala terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Namanya… nggak punya pilihan.”
Kalimat itu membuat Keyla terdiam.
Petugas UKS selesai membersihkan luka, lalu membalutnya rapi. “Ini jangan kena air dulu. Kalau pusing atau mual, langsung istirahat. Jangan banyak aktivitas berat.”
“Iya, Bu. Terima kasih,” ucap Mandala.
Mereka keluar dari UKS. Sore mulai turun, cahaya matahari condong ke barat. Angin berembus ringan, membuat suasana kampus terasa lebih tenang.
Keyla berjalan di samping Mandala, kali ini lebih dekat.
“Kamu pulang naik motor?” tanyanya.
Mandala mengangguk. “Masih bisa.”
Keyla berhenti melangkah. “Aku anter.”
Mandala menoleh cepat. “Nggak usah.”
“Aku nggak tanya. Aku bilang,” jawab Keyla tegas.
Mandala menatapnya beberapa detik. Ia ingin menolak, tapi lelah lebih dulu mengalahkan gengsinya.
“Mobil aku di parkiran,” lanjut Keyla.
Akhirnya Mandala mengangguk kecil. “Makasih.”
Di parkiran, mobil Keyla terparkir rapi di sudut. Mandala duduk di kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak sunyi.
Keyla menyalakan mesin. “Alamat rumah kamu?”
Mandala menyebutkan alamat kampung seberang kota. Keyla tak bereaksi berlebihan, hanya mengangguk dan mulai melaju.
Perjalanan mereka diisi keheningan yang nyaman. Tak canggung, tak juga penuh kata. Hanya suara mesin mobil dan sesekali klakson dari jalan.
“Kamu… nggak perlu sejauh ini,” ucap Mandala akhirnya.
"biasa aja." jawabnya sembari fokus menyetir. "oh iya, nanti motor kamu biar montir ayah aku yang ambil... Dia sudah kenal dekat sama aku kok."
Mandala menoleh. “Kenapa, kamu repot begini sih, Key?”
Keyla tetap menatap jalan, kedua tangannya mantap di setir. “Aku sudah biasa, Man. Menolong itu… ya kemanusiaan.” Ia tersenyum tipis, lalu menghela napas. “Lagian sebenarnya aku pengin curhat sama kamu.”
Mandala diam, memberi ruang.
“Kamu lihat kan hari ini Erga nggak ada,” lanjut Keyla. “Dia nggak ngasih kabar apa-apa ke aku. Biasanya juga gitu. Datang dan pergi sesukanya.” Nada suaranya terdengar datar, tapi ada lelah yang tak bisa disembunyikan.
“Terus sopir aku juga sudah nggak kerja. Ayah lagi nyari yang baru. Jadi sementara ini aku nyetir sendiri.”
Mandala mengangguk pelan. Ia menangkap kegamangan di balik kalimat Keyla—bukan soal menyetir, tapi soal ditinggal tanpa penjelasan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lampu merah membuat mobil berhenti.
Mandala menarik napas. “Key…”
Keyla melirik singkat. “Kenapa?”
“Ayah kamu lagi cari sopir?”
“Iya,” jawab Keyla. “Kenapa?”
Mandala ragu sesaat. Bayangan bengkel yang tutup, motor yang lecet, dan kebutuhan hidup yang mendesak berputar cepat di kepalanya. Kesempatan itu terasa tiba-tiba, tapi nyata.
“Kalau…” Mandala menelan ludah. “Kalau kamu nggak keberatan, aku bisa bantu. Maksudku… magang dulu. Jadi sopir sementara.”
Keyla menginjak rem pelan, mobil berhenti di lampu merah berikutnya. Ia menoleh penuh, menatap Mandala seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Kamu serius?”
“Iya,” jawab Mandala mantap. “Aku punya SIM. Sudah pernah nyetir dulu sebelum Kuliah, ada lah hampir tiga tahun. Dan… aku lagi butuh kerja.” Ia tersenyum kecil, jujur tanpa berusaha terlihat kuat. “Anggap aja saling bantu.”
Keyla tak langsung menjawab. Tatapannya kembali ke jalan saat lampu berubah hijau. Mobil melaju pelan.
“Man,” katanya akhirnya, lebih lembut. “Kamu habis kecelakaan. Dan kamu juga kuliah.”
“Aku tahu,” sahut Mandala. “Aku bisa atur waktu. Kalau nggak cocok, aku mundur. Nggak ribet.”
Keyla terdiam cukup lama. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata, “Nanti aku ngomong ke ayah. Bukan janji, ya.”
Mandala mengangguk. “Nggak apa-apa. Aku cuma nawarin.”
Sore makin merendah ketika mobil berhenti di depan rumah Mandala. Keyla mematikan mesin.
“Man,” ucapnya sebelum Mandala turun. “Makasih… bukan cuma karena tadi. Tapi karena kamu mau dengerin.”
Mandala tersenyum tipis. “Sama-sama.”
Ia turun dari mobil, menutup pintu pelan. Keyla menunggu beberapa detik, memastikan Mandala masuk rumah dengan aman, sebelum akhirnya pergi.
Mandala berdiri di teras. Kepalanya masih berat, lututnya masih nyeri, hidupnya masih penuh tanda tanya.
Mandala berdiri di teras cukup lama setelah mobil Keyla menghilang di ujung gang. Suara mesin yang menjauh perlahan tenggelam oleh bunyi sore anak-anak berlari, ibu-ibu memanggil dari dapur, dan aroma masakan yang menguar dari rumah-rumah sederhana.
Ia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk.
“Man?” suara Heni terdengar dari dalam. “Kok sore banget pulangnya?”
Mandala melepas sepatu, menaruh tas di kursi kayu. “Ada sedikit kejadian di kampus, Mah.”
Heni langsung mendekat. Matanya menangkap perban di tangan Mandala. “Itu kenapa?!”
“Jatuh motor pagi tadi,” jawab Mandala cepat, berusaha menenangkan. “Sudah ke UKS. Nggak parah.”
Ringgo muncul dari kamar, wajahnya langsung menegang. “Jatuh?”
“Sudah aman, Yah,” Mandala menambahkan sebelum kekhawatiran itu berubah jadi omelan. “Cuma lecet.”
"terus, motor di mana sekarang?" tanya Ringgo kembali.
"di bengkel, Yah." singkat Mandala.
Heni menghela napas lega bercampur cemas. “Kamu ini bikin kaget aja.”
Mandala tersenyum kecil. "maaf mah, namanya juga. Gak tahu mau apes."
Ia masuk duduk di kursi ruang tengah, tubuhnya akhirnya benar-benar menyerah pada lelah. Pikirannya kembali pada percakapan di mobil tentang sopir, tentang ayah Keyla, tentang kemungkinan kecil yang tiba-tiba muncul.
Malam itu, setelah makan seadanya, Mandala merebahkan diri di kasur. Ponselnya bergetar.
Keyla.
“Aku sudah sampai rumah. Kamu gimana?”
Mandala membalas pelan. “Sudah di rumah. Makasih lagi.”
Beberapa detik kemudian, pesan masuk lagi.
“Aku sudah bilang ke ayah soal kamu. Katanya… besok kamu diminta datang ke rumah. Cuma ngobrol.”
Mandala terdiam. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Oke,” balasnya akhirnya. “Terima kasih, Key.”
Ia meletakkan ponsel di samping bantal, menatap langit-langit kamar yang mulai gelap. Ada rasa asing di dadanya antara harap dan waspada.
Bayu Pratama.
Nama itu kembali bergaung, kali ini bukan hanya sebagai luka lama, tapi sebagai pintu yang mungkin akan membawanya lebih dekat pada kebenaran yang selama ini ia hindari.
Mandala menutup mata perlahan.
Besok, hidupnya mungkin akan berubah arah.
Dan untuk pertama kalinya, ia tak sepenuhnya siap namun juga tak ingin mundur.
penasaran... di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
duhh Mandala mau magang di hotel milik Arifal? pst Mandala bisa lbh sukses dari Erga 🐱
duhhh Keyla curhat dg Mandala...
Mandala blm sadar klo dia mencintai Keyla 🐱🐱
duhhh Keyla mau nya Mandala kerja di hotel Arifal 🐱🐱
penasaran lanjut nya
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪
duhhh Bayu jadi marah sama Keyla karena Keyla lebih pilih Mandala. tapi bnr kata Keyla bahwa Erga bukan org baik...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuuu🤗🥰💪🐱
lahhh Erga tiba-tiba minta maaf tapi Keyla gk percaya. jgn di percaya si Erga 😡😡😡 Erga sama kyak Alira... 😡😡
ciieee Keyla suruh Bi Minah antar Sop buat Mandala🐱🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🤗🥰 penasaran dg cerita nya🤗🤗
duhhh Keyla blg ke Ayahnya gmn Erga tapi Ayahnya gk percaya🥲🥲
duhh anak pertama Arifal dan Citra hilang di bawa Babysitter 🥲🥲
penasaran dg lanjut nya di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
jgn² Erga anaknya Alira, Mandala anaknya Arifal.
greget bacanya Sayyy pengen tak palu 😄😄😄😡😡😡
jd sbnrnya mandala ini ank siapa ya 🤔 kok membagongkan. yg gila itu brrti bkn ibu mandala. asli puyeng
duhh Erga gangguin Keyla dan Mandala mulu dasar stress Erga 😡😡
duhhh jantung nya berdebar² gk tuh yaa kan dan Mandala pun gombal ma Keyla 😁😁
dahhh lah Author nya pun senyum² sambil nulis 😁😁😁
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰💪🐱🤗
kenapa tuhhh Erga paksa Keyla bersama nya dahh mulai stress Erga. jgn² Erga anak si Alira soalnya stress nya sama 😡😡
Duhh Mandala dekati Keyla buat balas dendam, kira² Mandala bakal dgr nasehat Bu Heni yaaa???
tapi apa iya Erga anaknya Arifal dan Citra? terus klo bukan Erga anak siapa??
duhhh Mandala bawa Keyla ke rumah nya... 😔😔
emng stres si Erga, dia yg selingkuh, tapi merasa tersakiti seolah-olah jadi korban.
ciieee Keyla merangkul tangan Mandala, panas tuhh Erga marah² gk jelas padahal dia yg selingkuh😡😡
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🤗🥰💪🐱
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quu🥰🤗💪