NovelToon NovelToon
Seutas Bayang

Seutas Bayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Konflik etika / Angst
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Flowyynn_

Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.

Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.

Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.

Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Pisah Ranjang

Pintu mobil tertutup pelan di belakang mereka. Renjana melangkah setengah ragu, membiarkan Favian berjalan lebih dulu. Pria itu tidak menoleh, tidak pula mempercepat langkahnya—seakan sengaja menyesuaikan jarak. Tidak terlalu dekat, tidak juga meninggalkan. Ia hanya menghormati apa itu ruang nyaman bagi perempuan yang telah menjadi istrinya ini.

Begitu keduanya masuk, udara dingin dari dalam supermarket menyentuh kulit Renjana, membuatnya refleks merapatkan lengan. Sesekali matanya melirik ke arah Favian yang sudah lebih dulu mencuri start, jemarinya begitu tenang menggapai gagang troli.

“Di apartemen saya tidak terlalu banyak barang, jadi kemungkinan kamu akan kesulitan,” ujar pria itu, sebelum akhirnya menoleh. “Kira-kira apa yang kamu butuhkan?”

Napas Renjana mendadak tercekat. Air liur yang baru ia telan seperti batu besar yang dipaksa masuk ke dalam tenggorokan. Penuh dan sesak.

Ingatan mengenai sang mantan kekasih berkelebat tanpa aba-aba, kening perempuan itu lantas berkerut. Kenapa bayangan Raevano harus kembali hadir di situasi seperti ini?

Lama mengamati sang istri, kepala Favian tampak condong ke satu sisi—berusaha mencerna apa yang tengah istrinya ini pikirkan.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?” celetuk Favian dengan suara seraknya, membuat si perempuan langsung mengerjap cepat.

Tatapan mereka terkunci. Bening netra Renjana terpagut dalam keteduhan milik suaminya, menciptakan dunia milik berdua di tengah riuh-rendahnya supermarket. Terkesiap, Renjana segera memutus kontak mata dan melangkah serampangan menuju rak sabun, menyambar botol apa pun masuk ke dalam troli.

“Mas Raevano biasanya membeli ini,” ceplosnya tanpa pikir panjang.

Seketika, udara di sekitar mereka membeku. Favian terpaku di tempatnya, sementara Renjana langsung memejamkan mata rapat-rapat, merutuki bibirnya yang baru saja memanggil nama yang salah di depan suaminya.

Dia bukan Raevano, Jana. Lupakan pria itu, gerutunya sendiri dalam hati.

Napasnya memburu, memompa dadanya naik turun dalam irama yang kacau. Sensasi panas dingin pun menyergap tubuhnya—seolah kalimat bodoh yang baru saja ia ucapkan adalah bumerang.

Perlu waktu cukup lama bagi Renjana untuk menjinakkan debar malu yang menggila, hingga akhirnya ia memberanikan diri menoleh, meski kedua matanya masih tertutup rapat.

“Maaf, Mas … aku nggak bermaksud untuk—”

Perkataan Renjana terpotong oleh aroma kopi pahit dan kayu kering yang menyentak indra penciumannya. Refleks, perempuan itu membuka mata. Wanginya tidak ramah, namun menenangkan. Tidak manis, tidak pula hangat, tapi entah bagaimana Renjana seperti ikut hanyut, perlahan, dan tanpa sadar tak lagi ada ruang untuk dirinya bisa berpaling.

Favian kian mencondongkan tubuh, hingga hidung mancungnya bersentuhan dengan hidung sang istri. Detak jantungnya terdengar ritmis, banding terbalik dengan milik Renjana yang berdentum tak beraturan.

“Selera mantan kekasihmu cukup baik,” bisiknya parau. “Tapi ini bukan lagi tentang kamu dan dia, Jana.”

Tanpa izin, Favian mengembalikan beberapa botol sabun itu ke tempat asal. Begitu troli kembali kosong, ia menegakkan tubuh ke posisi awal sembari memasukkan botol sabun yang lain—pilihannya sendiri.

Renjana hanya mampu membisu. Jemarinya saling meremas, sementara kepalanya tertunduk, membiarkan pikirannya riuh oleh spekulasi tentang kemarahan Favian.

“Saya tidak begitu terusik mengenai masa lalumu,” suara Favian kembali mengalun, mengoyak lamunan Renjana. “Tapi, tidak dengan hal pribadi yang sudah mulai menjadi urusan saya. Saya akan sangat terganggu untuk itu.”

Tanpa menunggu respon lebih lanjut, pria itu mendorong troli, meninggalkan Renjana yang hanya sanggup menatap nanar punggung tegapnya. Namun, tepat sebelum jarak itu makin lebar, langkah Favian tertahan. Ia lantas menoleh, menatap istrinya dengan binar yang mendadak melunak—demikian teduh.

“Jana, kemarilah. Saya tidak akan meledak hanya karena satu nama. Saya tidak akan melakukannya padamu,” imbuhnya. Tangan pria itu terulur, sebuah ajakan bisu yang menghadirkan rasa aman. Renjana berkedip gugup, lalu tanpa pikir panjang menyambut jemari itu meski ada sisa ragu.

“Maaf.”

“Sudah saya katakan saya tidak marah.”

Tautan tangannya Favian eratkan, sejenak ia melempar lirikan penuh pada sosok Renjana yang berada tepat di sampingnya.

“Jana,” panggilnya, suaranya lebih lembut kali ini.

Perempuan itu menoleh dengan sorot polos. “Apa?”

Keduanya kembali bersitatap. Netra legam Favian menyusuri rupa Renjana dengan saksama. Mulai dari rambut yang dikepang satu, riasan tak terlalu mencolok namun begitu fresh—juga long dress floral tanpa lengan yang entah bagaimana membuat alis pria itu bertaut.

Cantik? Tentu saja.

Namun, kini bukan sekadar serangkaian cantik saja yang berkelindan di kepala Favian guna memuja sang istri, ada tanya yang mulai tumbuh di antara pengamatannya. Lebih rumit. Lebih dalam. Dan hal itu hanya akan tetap ia simpan seorang diri, terkunci di titik terdalam samudranya.

Merasa ditatap begitu lekat tanpa kata, kening Renjana mengernyit heran. “Apa? Kenapa kamu menatap aku kayak gitu?”

“Kamu seperti anak kecil,” cetusnya.

“Apa?”

Favian mengulum senyum tipis, sebelum kembali melanjutkan melangkah. “Hanya manis, seperti anak kecil.”

Tapi, berbeda dengan dirinya, gumam batin Favian. Entah ditujukan untuk siapa.

...****************...

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika mereka tiba di apartemen. Favian berjalan lebih dulu dengan penuh tentengan tas belanja, sementara Renjana tertinggal beberapa langkah di belakang, menyeret koper kecilnya dengan tubuh yang nyaris menyerah.

Lututnya terasa goyah, matanya meredup akan kelelahan yang menghantam tanpa ampun hari ini.

Pandangan Renjana mengedar singkat. Apartemen itu tak bisa dikatakan luas, juga tak sempit—cukup. Pas. Persis yang dikatakan Favian sebelumnya: ia tak memiliki banyak barang, tapi cukup elegan untuk sebuah hunian yang disinggahi satu orang.

Matanya menyipit kala menemukan etalase khusus di sudut ruangan, dipenuhi berbagai kamera mahal. Meski dirinya lebih sering bergelut dengan adonan dan resep kue, Renjana tak sepenuhnya asing mengenai dunia kamera; itu pernah menjadi kesenangan kecilnya.

Menggeser pandangannya ke sisi selatan, sebuah rak buku berdiri rapi. Cantik, hampir berlebihan, hingga tak mencerminkan tatanan khas seorang pria.

“Bersihkan dirimu dan segera istirahat. Kamu terlihat begitu lelah, Jana,” kata Favian, membuyarkan perhatian perempuan itu.

Rupanya bukan anggukan yang Renjana berikan, melainkan langkah yang membawanya mendekati sang suami.

“Aku bantu beres-beres dulu. Kamu lebih capek, Mas, karena nyetir seharian,” ujarnya pelan.

Tatapan Favian melunak. Ia menjatuhkan tentengan belanja begitu saja, lalu tangannya terangkat, mengusap kepala Renjana singkat—tanpa ragu, tanpa bertanya. Hal itu membuat manik beningnya membesar.

“Saya akan mengurusnya,” tutur Favian lembut. “Kamu mandi dan istirahat saja. Saya tidak apa-apa.”

Renjana menelan saliva susah payah. Sial. Sentuhan itu nyaris tak berarti—ringan, singkat—namun efeknya justru merayap bagai cokelat yang perlahan meleleh di dalam dada. Hangat. Nyaman. Matanya sontak terpejam, membiarkan dirinya larut dalam usapan itu.

Dulu … Raevano juga kerap melakukan hal serupa. Bedanya, pria itu selalu berakhir memeluknya erat, seolah takut kehilangan. Sedangkan Favian tidak. Cukup berupa satu nada suara yang lembut, satu sentuhan kecil yang tak bisa ia bantah, Renjana sudah terjerembap ke dalam poros yang pria itu ciptakan.

“Apa di sini ada kamar lain?” tanyanya nyaris berbisik.

Alis tebal Favian seketika bertaut. Tangannya ia tarik kembali hanya untuk kemudian menunduk, mensejajarkan tinggi mereka.

“Ada. Tapi sudah saya gunakan sebagai ruang pribadi untuk bekerja,” jawabnya jujur. Tatapannya lurus, nyaris menghunus—seperti tak memberi ruang untuk berpaling.

“Kenapa kamu menanyakannya?” Favian berhenti sejenak. “Mau tidur terpisah?”

Renjana yang lebih mudah goyah itu lantas terdiam. Tak ada bantahan yang bisa ia lontarkan, sebab tebakan Favian tepat sasaran.

Apakah ini keputusan yang benar—pisah ranjang? Untuk apa, sebenarnya?

“Kenapa diam, Jana?” Favian kembali bertanya. Napasnya yang hangat membuat Renjana gelagapan. “Apa ini akan jadi kebiasaan barumu dalam rumah tangga yang baru kita bangun?”

“Aku cuma tanya, Mas. Bukan maksud untuk—”

“Untuk mencari ruang aman terlebih dahulu, begitu?” potong Favian tenang.

Ia perlahan menegakkan tubuh, kakinya mundur setapak seraya menatap Renjana dari ujung rambut hingga kaki—seakan sedang menilai. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Saya menghargai ruang nyaman apa pun yang kamu punya,” katanya datar. “Tapi tidak untuk yang satu ini.”

Favian kemudian bergerak cepat, memindahkan barang-barang tanpa jeda, seperti sengaja untuk tidak berlarut-larut dalam percakapan itu.

“Kalau kamu lupa,” desisnya tanpa menoleh, “saya akan ingatkan alasan saya setuju menikah denganmu. Bukan semata karena menghargai permintaan Ibu Ratna dan ibu saya.”

“Saya menikah denganmu karena ingin merasakan bagaimana cinta bisa tumbuh, dan betapa rumitnya perasaan itu hidup dalam pernikahan.”

“Dan juga …,” suaranya menurun, lebih serak, “belajar bersama memahami cinta itu sendiri.”

“Jadi jika kamu berniat pisah ranjang, jarak di antara kita tidak lebih dari seutas bayang yang suatu hari akan menghilang.”

1
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk
Fitra Sari
lanjut Thor ..update setiap hari ngpa KK dan 😍
Flowyynn_: Aku usahakan daily up ya, terima kasih lho masih setia ngikutin Renjana dan Favian ini 🥰
total 1 replies
gralsyah
bagussss. tapi up nya lama bettt gengsss
gralsyah
banyakin scene manis gini plss authorrrr. trs up nya jan kelamaan atuhhhh
Fitra Sari
doubel up donk Thor 🙏
Fitra Sari
doubel up donk thorr ....🙏🙏🙏
gralsyah
favian tuh sulit ditebak ya huftt. mirip sama sapa tuh si jana, favian???
gralsyah
kak author kenapa jaranh update ya wehhh. nungguin padahal lohh 😌
Flowyynn_: Maaf, ya Kak. Akhir-akhir ini memang ada kendala di rl, jadi waktu buat nulis terbagi terus, huhu. Tapi aku usahakan akan mulai up setiap hari. Makasih banyak masih setia mengikuti kisah Renjana dan Favian, ya 🥰
total 1 replies
gralsyah
pengen liat tuh manusia tenang bucin sama istrinya gimana yaa
gralsyah
ayo up lagi thorrr. kamu nih suka amat ye ngilang
gralsyah
kok gemes ya 😄 mereka sebenarnya dah jatuh cinta belum sih 🤣
Fitra Sari
doubel up donk thorr🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donk ...doubel up donk 🙏🙏🙏
Fitra Sari
lanjut donkk thorr doubel up ...nungguin dari kemarin2 😘😘😘
gralsyah
kok belum up lagi thor?
Flowyynn_: Nanti aku up lagi ya, Kak. Ditunggu 🤗
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK
Flowyynn_: Halo, Kak. Terima kasih ya sudah mampir, sehat selalu ❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!