"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 9 - Gaung yang Tidak Pernah Pergi
Pintu ruang VIP tertutup di belakang Maura dengan bunyi pelan. Lorong itu terasa lebih sempit dari sebelumnya.
Beberapa dosen yang sejak tadi menunggu langsung menoleh hampir bersamaan. Ada yang berdiri terlalu dekat. Ada yang wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu yang tidak sepenuhnya tersamar. Ada pula yang jelas-jelas cemas.
“Bu Maura?” salah satu dosen perempuan mendekat lebih dulu, suaranya diturunkan tapi matanya tajam, “tadi saya mendengar suara keras, seperti pukulan.”
Yang lain ikut mendekat. Lingkaran kecil terbentuk untuk mengerubungi Maura.
“Iya. Kami semua mendengarnya, Bu. Itu... ada apa ya, Bu?” sahut dosen lain, laki-laki paruh baya.
Maura berdiri tegak, merapikan tas selempangnya dengan gerakan yang pelan, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir kehilangan napasnya sepuluh menit lalu.
Ia tersenyum.
“Bukan apa-apa, Bu. Pak. Tadi ada kecoa saja,” jawabnya ringan.
Beberapa alis terangkat bersamaan.
“Kecoa?” ulang seseorang, nyaris tidak percaya.
“Iya,” Maura mengangguk kecil. “Entah dari mana. Saya refleks kaget, Pak Setya juga kaget, jadi beliau tidak sengaja terdorong ke pintu waktu berusaha menangkapnya.”
Sunyi sepersekian detik. Lalu reaksi berantai yang canggung.
“Oh... ya ampun,” gumam seorang dosen.
“Kecoa memang selalu bikin kaget,” timpal yang lain, berusaha terdengar santai.
“Untung tidak apa-apa.”
Maura tetap tersenyum akan kebohongannya, seolah itu memang kejadian yang sebenarnya terjadi. Namun bisik-bisik mulai muncul, seperti dengung lebah yang tak terlihat.
“Haduh, kok bisa ada kecoa sih di ruangan VIP?”
“Ini acara penting, loh.”
“Itu Pak Setya Pradana loh.”
“Kalau beliau tersinggung dan tidak mau melanjutkan kerja sama bagaimana?”
Maura mendengarnya. Semua. Tapi ia memilih menatap lurus ke depan.
“Tenang saja, Pak Setya baik-baik saja dan beliau tidak akan menghentikan kerja sama di waktu yang semepet ini. Semuanya akan berjalan lancar, Pak, Bu,” katanya akhirnya, tegas tapi tetap halus.
Nada suaranya tidak memberi ruang untuk debat. Para dosen saling berpandangan, lalu satu per satu mengangguk, meski kekhawatiran itu belum sepenuhnya hilang dari wajah mereka.
Maura melangkah pergi dari lingkaran itu. Baru ketika jaraknya cukup jauh, senyumnya memudar. Bahunya turun sedikit, hanya sepersekian detik cukup untuk mengakui pada dirinya sendiri bahwa tubuhnya masih gemetar.
Aula utama telah berubah.
Lampu-lampu menyala hangat, memantul di meja-meja bundar yang tertata rapi. Per meja terdapat empat kursi, masing-masing dengan kartu nama kecil berwarna krem di depannya. Musik instrumental mengalun pelan, menutupi sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya hilang.
Para tamu penting mulai mengambil tempat dan Maura menemukan kartu namanya di salah satu meja depan. Ia menarik napas pendek.
Di meja yang sama, terpampang satu nama yang sudah ia duga dan sekaligus harapkan tidak bertemu lagi setelah semua rangkaian acara amal ini.
Setya Pradana
Ia duduk dengan punggung tegak, ekspresinya netral. Jas hitamnya sudah kembali rapi, seolah insiden tadi tidak pernah terjadi. Seolah semua amarah pria itu tidak pernah ada, seolah pukulan di pintu yang mungkin saja bisa mengenai kepala Maura tidak pernah terjadi.
“Selamat siang, Pak Setya, Pak Arief,” sapa Maura.
Maura duduk di kursi yang tersisa, berseberangan dengannya dan juga staf dengan jarak meja sebagai satu-satunya penyangga aman.
“Silakan duduk, Bu,” ucap Pak Arief.
Semua orang duduk tenang di kursinya masing-masing, begitu pun Setya dan Maura tanpa pernah membuka mulut akan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
Acara dimulai.
“Selamat datang para tamu yang terhormat. Saya Rangga selaku dosen Ekonomi akan membuka acara amal hari ini.”
MC membuka dengan suara ceria. Sambutan-sambutan awal berjalan lancar. Tepuk tangan terdengar di sana-sini. Makanan mulai disajikan.
Maura menyimak dengan fokus, mencatat beberapa poin penting, sesekali menanggapi dosen di meja mereka dengan senyum sopan. Ia tidak menoleh ke Setya kecuali benar-benar perlu.
Namun ia sadar bahwa kehadiran pria itu terasa tajam meski hanya diam. Dan seolah semesta senang menguji batas, nama Setya akhirnya dipanggil.
“Kami persilakan Bapak Setya Pradana untuk memberikan sambutan singkat.”
Tepuk tangan bergema. Setya berdiri. Gerakannya tenang, penuh kendali. Ia melangkah ke podium dengan langkah yang mantap, seperti seseorang yang tahu ruangan ini akan tunduk padanya.
Maura menatap lurus ke depan. Ia tidak ingin menatapnya terlalu lama.
“Selamat siang, saya Setya Pradana. Saya merasa sangat terhormat telah menjadi bagian dari acara amal ini...”
Pidato Setya singkat terdengar dan Maura mendengar bisik-bisik kagum akan bagaimana pria angkuh itu berbicara. Kalau mereka semua tahu apa yang sudah terjadi di dalam sana tadi. Mungkin semua kekaguman itu akan lenyap begitu saja.
Ia berbicara tentang kolaborasi, tentang visi jangka panjang, tentang pentingnya integritas akademik dan profesionalisme. Tidak ada satu kata pun yang emosional, pun tidak ada nada tinggi.
Pria itu nyaris sempurna.
“Memang tampan, tapi tempramen,” ucap Maura dalam hatinya.
Tepuk tangan kembali menggema saat ia selesai. Maura ikut bertepuk tangan turut serta meramaikan acara dan kegaguman akan kelihaian pria itu dalam berbohong.
Ketika Setya kembali ke meja, pandangan mereka sempat bertemu hanya sesaat. Tidak ada ekspresi. Tidak ada pesan tersirat yang mudah dibaca.
“Pak Setya memang luar biasa. Bapak lihat kan banyak orang kagum akan bagaimana cara Bapak berbicara dan berpidato,” puji Pak Arief.
“Terima kasih, Arief. Kamu memang luar biasa dalam menyanjung orang lain,” respon Setya.
Pak Arief tersenyum puas dan Maura merasa seolah respon Setya seperti menyindir dirinya. Acara berlanjut hingga akhirnya ditutup dengan formalitas penutup dan ucapan terima kasih.
Satu per satu tamu mulai berdiri. Suasana mencair. Percakapan kembali riuh.
Maura berdiri, merapikan blazernya. Ia menoleh ke arah Setya, kali ini dengan sengaja.
“Pak,” katanya pelan, cukup hanya mereka berdua yang mendengar. “Tugas saya sudah selesai.”
Setya menoleh, ekspresinya tetap datar.
“Saya sudah mendampingi sesuai mandat universitas,” lanjut Maura, suaranya stabil meski dadanya masih menyimpan sisa ketegangan. “Dan saya harap setelah ini Bapak bisa meredakan amarah Bapak pada hal-hal yang sepele.”
Setya menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
“Kamu selalu memilih kata yang berani,” katanya akhirnya.
Maura mengangguk kecil. “Karena saya percaya kejujuran lebih berguna daripada ketakutan.”
Tidak ada balasan langsung. Maura tersenyum tipis, lalu melangkah pergi dari meja itu, meninggalkan Setya Pradana duduk diam di tengah keramaian.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, pria itu tidak mengikuti ritme acara di sekitarnya. Pikirannya tertinggal pada satu hal sederhana namun mengganggu bahwa ada perempuan yang tidak pernah mencoba menenangkannya.
Dosen muda yang justru menentang dirinya dengan segala benturan prinsip yang ia pegang.
“Maura Preswari. Akan saya ingat nama itu,” gumam Setya.