Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berduka
Hanung, Haris, Lea, Frida terlihat tengah duduk di ruang tunggu. Namun mereka tampak lemas dan terlihat menangis juga.
“Bagaimana, Mas? Keadaan Ibu gimana?” tanya Budi pada Hanung. Dengan begitu khawatir.
Hanung menoleh, ia beranjak dari duduknya. Lalu berjalan mendekat pada Budi. “I-Ibu …” ucap Hanung terbata dan Hanung terlihat cukup berat untuk berbicara.
“Katakan, Mas. Keadaan Ibu bagaimana?” tanya Budi lagi.
“I-Ibu … Ibu u-udah gak ada Bud,” ucapnya dengan lirih.
“Astagfirullah, ya Allah …” tubuh Budi melemas. Lia langsung mengajak suaminya itu untuk duduk.
“Astagfirullah, ya Allah …” ucap Budi lagi, air matanya luruh. Dadanya terasa sesak, mendengar kabar yang tidak mengenakkan ini.
“Sabar, Yah.” Lia turut menguatkan, dengan cara mengusap bahu sang suami.
Kemarin lusa sang Ibu sehat, bahkan sempat membicarakan Zara.
Meski terlihat ketus, julid dan judes, terutama pada Reynan. Tetapi dibalik itu, Sofa cukup berterima kasih padanya, karena telah menikahi Zara. Telah menyelamatkan keluarganya dari rasa malu.
“Kenapa bisa, Mas? Kemarin, Ibu masih sehat, ceria, kenapa tiba-tiba begini?” tanya Budi.
Frida langsung menoleh pada Budi dengan tidak suka. “Kamu kira, kami membunuhnya?” celetuknya.
Sontak Hanung, Haris, Budi, dan Lia menoleh pada Frida. Mereka tidak menyangka, jika Frida akan mengatakan itu.
“Saya tidak berpikiran seperti itu. Tapi saya ingin tahu, penyebab Ibu tidak ada itu karena apa,” ucap Budi.
Frida memalingkan wajahnya, disertai decakan.
“Sudahlah, Bud. Tidak baik juga bicara dan bertanya seperti itu, dalam keadaan seperti ini,” kata Haris.
Budi menghela napas, seraya mengusap sudut matanya dengan ibu jari.
“Dimana Ibu? Saya mau melihatnya,” ujar Budi.
“Di ruangan Jenazah,” kata Hanung.
Lekas Budi dan Lia pun pergi ke ruangan itu.
Helaan napas keluar dari mulut Haris. “Sebenarnya saya juga penasaran, Mas. Kenapa Ibu—”
“Katanya tadi tidak perlu membahasnya, tapi sekarang kamu malah ikut-ikutan bertanya. Apa kamu juga berpikir jika kami membunuh Ibu?” tanya Frida.
“Astagfirullah, Mbak …” Haris bicara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Memang agak lain, ipar satunya ini. Terlalu berlebihan.
Di ruang jenazah.
Budi berjalan dengan pelan, tubuhnya begitu terasa lemas.
Lekas Budi membuka kain penutup itu, dan tampaklah wajah Sofa yang pucat dan terlihat tenang.
Air mata Budi kembali luruh. Ia menangis terisak, Ibu-nya telah tiada. Surganya, dunianya telah pergi.
“Ibu … maafkan Budi, Bu. Budi banyak salah sama Ibu. Tapi kenapa Ibu pergi dengan mendadak seperti ini? Ibu tidak memberikan kami pesan, Ibu tidak memberikan kami aba-aba dulu. Bu …” ucapan Budi terhenti, tangisnya sungguh pecah.
Lia pun tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mengusap bahu sang suami dengan mata yang basah juga.
Setelah puas menatap sang Ibu, Budi pun keluar dari ruangan itu dan kembali pada keluarganya.
“Ibu dimandikan dan dishalatkan di sini saja, supaya sampai rumah langsung dimakamkan,” ucap Hanung.
“Saya gak setuju, Mas.” Budi menentangnya.
“Kenapa? Bukannya itu lebih praktis?” tanya Hanung lagi.
Budi tersenyum getir. “Praktis kata kamu, Mas? Ibu melahirkan, membesarkan kita, menyekolahkan kita sampai mendapat gelar sarjana. Lalu kamu mau memberikan bakti terakhir dengan praktis?” tanya Budi.
“Saya juga gak setuju, Mas. Dengan usulan kamu,” kata Haris.
“Lalu mau kalian, apa? Kalian tau di rumah itu sedang sibuk untuk acara Lea besok. Apa jadinya jika—”
“Oke, baik. Jika itu alasan kamu, Mbak, Mas. Jenazah Ibu akan diurus di rumah saya.” Budi memotong ucapan Frida. Wajahnya tampak tegas, dan dingin.
Frida terdiam begitu juga dengan Hanung.
Budi langsung pergi ke administrasi untuk mengurus biaya dan surat kepulangan jenazah Sofa.
Haris langsung menghubungi Sarah supaya pergi ke rumah Budi, untuk mempersiapkan semuanya.
Sedangkan dengan Budi, ia langsung menghubungi Reynan untuk menjemput Zara. Budi pun memberi tahu Reynan jika Sofa sudah tidak ada dan jenazah akan dibawa ke rumahnya.
Badan yang lemas, separuh hatinya seperti telah hilang. Namun Budi dituntut untuk kuat. Ini demi sang Ibu.
Tidak bisa jika mengandalkan Hanung. Hanung selalu tunduk dan patuh pada apa yang dikata Frida.
Tidak mungkin juga, jika jenazah sang Ibu dibawa ke rumah Haris. Rumah Haris cukup jauh, diluar kota Tangerang.
Mobil ambulans sudah siap, jenazah pun sudah dimasukkan kedalamnya. Kini jenazah pun sudah siap dibawa ke rumah duka.
“Ayah di mobil ini. Ibu bawa mobil ya, hati-hati,” ucap Budi pada Lia. Ia akan menemani Sofa di mobil ambulans.
“Iya, Yah.”
“Mas, saya titip Lia.” Budi bicara pada Haris. Mengingat jika Lia tidak terlalu mahir mengendarai mobil.
Haris menganggukan kepalanya.
Akhirnya Mobil ambulans pun mulai melaju, diikuti mobil Hanung yang didalamnya ada Frida dan Lea. Lalu Lia, di belakangnya lagi ada Haris.
***
“Ada suami lo dibawah, Za.” Dian bicara pada Zara setelah Zara keluar dari kamar mandi.
“Hah?” Zara ngebleng.
“Iya … tadi satpam telepon, lo-nya lagi di kamar mandi. Katanya ada suami lo, ada penting katanya. Sana buruan temuin,” ucapnya.
Dengan bingung dan penasaran, Zara pun melangkahkan kakinya.
“Acie … cie … mungkin laki lo udah kangen, Za. Ckk … baru ditinggal berapa jam juga,” goda Dian.
Zara menoleh dengan tatapan tajamnya.
Dian terkikik geli. Untung saja, sedang tidak ada nasabah disana.
Karena tempat Zara, Dian dan Cia berada di lantai dua.
Zara menemui Reynan di parkiran. Di sana terlihat Reynan tengah berdiri di badan mobil dengan kaki yang menyilang, tangannya bersedekap dada. Kepalanya sedikit menunduk.
“Ada apa?” tanya Zara.
“Ayo pulang,” ajaknya.
“Yang benar aja. Saya lagi kerja,” ucap Zara. Ia rasa, ajakan Reynan itu sangat mengada-ngada dan gak masuk akal. Masa lagi kerja, disuruh pulang.
Helaan napas keluar dari mulut Reynan. “Saya gak tau harus bicara dari mana. Tapi intinya, ayo pulang dan ini urgen.”
“Ada apa?” Zara kembali bertanya. Tapi kali ini wajahnya terlihat begitu khawatir.
“Nenek meninggal,” ucap Reynan lirih.
Seketika tubuh Zara limbung dan Reynan langsung menangkapnya. “Hey … Za … Za …”
“Astagfirullah … pingsan,” ucapnya lagi.
Lekas satpam yang melihat itu pun, menghampiri.
“Ada apa, Mas? Mbak Zara kenapa?” tanyanya.
“Tolong bukain pintunya, Pak.”
Satpam pun dengan cepat membuka pintu mobil itu dan Reynan segera memasukkan Zara ke dalamnya.
“Pak, saya izin langsung bawa Zara pulang ya. Selain kondisi Zara seperti ini, di rumah juga sedang dalam keadaan duka. Nenek Zara meninggal,” ucap Reynan.
“Tolong ini, mah ya. Sampaikan ucapan maaf saya pada atasan Zara, karena membawa Zara pergi tanpa pamit dulu padanya,” lanjutnya.
“Oh iya … iya … Mas. Akan saya sampaikan. Insya Allah, atasan kami akan mengerti.”
Reynan menganggukan kepalanya.
“Turut berduka cita, Mas.” Satpam kembali bicara.
“Iya, Pak. Terima kasih. Saya pamit ya, Pak.”
“Iya, Mas. Hati-hati.”
Reynan langsung pergi dari sana. Ia juga cukup khawatir dengan keadaan Zara.
“Za … bangun, Za …”
“Qistina Zara … ayo bangun.” Seraya menyetir, Reynan mencoba membangunkan Zara.
Dengan satu tangannya, ia mengoleskan minyak angin pada bagian tangan, leher dan hidung Zara.
Tidak lama, Zara pun mengerjapkan matanya.
“Alhamdulillah … kamu bangun, Za.”
Zara masih dengan keadaan bingungnya.