Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Penghancur Keluarga
Mobil lamborghini hitam milik Rendra berhenti di area Perusahaan Athena. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi perusahaan milik ibunya tersebut. Sejenak ia mengamati bangunan megah menjulang tinggi, yang selama ini menjadi incaran ayahnya.
Sungguh miris, kebahagiaan sebuah keluarga harus hancur karena ambisi, dan obsesi yang sudah membutakan mata ayahnya. Rendra baru menyadari jika ayahnya menikahi ibunya, hanya karena ingin merebut Perusahaan Athena.
Perusahaan yang sukses di bidang properti, dan produk konsumen cepat saji, yang berhasil mengekspor ke berbagai negara hingga mendapatkan sertifikasi dari berbagai media luar negeri.
Sementara Perusahaan Wilson dulunya adalah cabang dari Perusahaan Athena. Kakeknya memberikan perusahaan tersebut kepada ayahnya, sebagai tanda ia menerimanya sebagai menantu.
Sebelum menikah, Danu hanya seorang staf karyawan biasa, yang bekerja di perusahaan Faiz. Ia jatuh cinta kepada Bianca, yang waktu itu sedang magang di perusahaan ayahnya sendiri.
Semula hubungan mereka di tolak mentah-mentah oleh Faiz. Faiz berpikir jika Danu sama sekali tidak pantas untuk menjadi menantunya. Namun karena melihat putrinya memelas, dan berlutut di hadapannya. Membuat Faiz tidak punya pilihan lain, selain merestui hubungan mereka berdua.
Dan benar saja apa yang dikhawatirkan Faiz semua terbukti nyata. Danu yang sudah lupa daratan mulai tergila-gila dengan kekuasaan. Bahkan setelah Faiz meninggal karena dibunuh, Danu semakin jelas menunjukan jika ia ingin menguasai Perusahaan Athena seorang diri.
Nasi sudah menjadi bubur, kayu yang terbakar kini menjadi abu. Pernikahan yang semula berawal indah, kini menjadi hancur lebur. Meninggalkan rasa luka, dan trauma dalam diri Rendra. Membuatnya semakin membenci Danu, dan ingin membunuhnya setelah ia berhasil menemukan dimana ibunya berada.
Rendra menghela napas sebentar, sebelum akhirnya ia melangkahkan kaki turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam perusahaan.
Para staf karyawan silih berganti menyapa sambil membungkuk hormat, sama seperti saat ia memasuki Perusahaan Wilson. Dengan satu tangan dimasukan kedalam saku celana, ia berjalan lurus menatap ke arah depan, tanpa membalas sapaan dari para staf karyawan.
Rendra masuk ke dalam lift, dan jari jarinya menekan beberapa angka menuju lantai paling atas.
Ting
Lift terbuka lebar, ia pun keluar berjalan menuju ruang kerja CEO. Saat pintu yang terbuat dari kayu jati itu terbuka, perlahan Rendra masuk kedalam.
Terlihat ruangan itu nampak sepi, dan kosong. Bahkan meja yang biasanya terdapat tumpukan berkas-berkas dokumen penting, kini hanya ada plang nama meja bertuliskan ...
Alexandra Bianca Delphinia
Ya, meski sekarang yang menjadi pemegang hak milik Perusahaan Narendra adalah dirinya. Namun Rendra sama sekali tidak ingin merubah apapun. Dia hanya seorang CEO interim, yang bertugas selama ibunya belum kembali ke dalam perusahaan.
Sorot mata Rendra terlihat sedang memperhatikan kursi CEO, yang sudah nampak berdebu, karena sudah lama tidak di duduki. Namun bukan debu yang Rendra liat, tapi bayangan ibunya yang terlihat sibuk menatap layar laptop, dan seorang anak kecil memakai setelan jas berwarna abu-abu, sedang berusaha mencari perhatian ibunya.
"Mama-mama, ayo ajarin Rendra mengurus perusahaan," pinta Rendra kecil sambil menarik lengan ibunya.
Bianca yang tengah sibuk mengetik beberapa huruf di layar laptop, sedikit di buat tersenyum melihat tingkah anaknya. "Rendra sayang, kamu masih kecil, Nak. Nanti kalau kamu sudah besar Mama pasti akan mengajarimu."
Rendra menggelengkan kepala, "Rendra gak mau menunggu sampai besar. Rendra mau sekarang, Mama."
Bianca tersenyum menghentikan pekerjaannya. Ia menarik tubuh Rendra lalu memangkunya. "Coba sekarang kasih tau sama Mama. Kenapa anak Mama ini pengen banget belajar mengurus perusahaan?"
"Rendra gak mau liat Mama capek kerja. Seharian Mama terus saja sibuk menatap layar laptop. Dan kalau pas waktunya weekend, Mama malah sibuk meeting, dan lupain Rendra yang lagi pengen main sama Mama," balas Rendra.
"Kalau Rendra di ajarin mengurus perusahaan kan pasti nanti kerjaan Mama tinggal sedikit, dan Mama jadi bisa nemenin Rendra main di rumah. Rendra bosen main sama Tante Alya," lanjutnya menatap ibunya.
"Rendra sayang, sini dengerin Mama. Nanti Mama janji, minggu depan kita main ke pantai sama Ayah kamu juga, mau?"
Mendengar itu Rendra tersenyum bahagia, "Beneran, Mah?"
"Iya Mama janji, nanti Mama kasih tau Ayahmu untuk segera pulang dari Jepang. Biar nanti kita bisa pergi sama-sama," balas Bianca mengusap lembut rambut Rendra.
Rendra menyodorkan jari kelingkingnya, "Janji ya, Mah?"
"Iya Mama janji," Bianca tersenyum menautkan jari kelingking Rendra.
Namun sayang, janji itu sama sekali belum ditepati sampai sekarang. Bahkan Rendra yang masih kecil waktu itu, menganggap ibunya sebagai pembohong besar karena meninggalkannya sendirian.
Tanpa tau fakta jika sebenarnya kedua orang tuanya bertengkar hebat, dan saling berebut hak Perusahaan Athena. Ayahnya merasa kesal melihat ibunya bertindak terlalu cepat, memindahkan semua saham dan kekuasaan perusahaan kepada dirinya.
Hingga akhirnya Danu memutuskan untuk menculik Bianca, membawanya jauh dari hidup Rendra. Dan saat Rendra menanyakan dimana keberadaan ibunya, hanya jawaban palsu yang ia dapatkan dari ayahnya.
"Ck!" Rendra meremas kedua tangannya, saat ia tidak tau harus berbuat apa agar bisa menemukan dimana ibunya.
Berulang kali Rendra membayar detektif, melacak ponsel dan mobil ayahnya, namun tidak ada satupun yang bisa berhasil. Ayahnya terlalu pintar dan licik. Membuat Rendra hampir setengah gila mencari keberadaan ibunya.
Tok
Tok
Tok
"Tuan Muda!" suara sekretaris perusahaan datang menghadap, dan membuat pikiran Rendra teralihkan.
"Hmm."
"Semua sedang menunggu Tuan Muda di ruang rapat."
Rendra mengangguk paham, dan bergegas menuju ke ruang rapat. Ini adalah momen pertama kali Rendra menghadiri rapat pertemuan dengan Dewan Komisaris, serta beberapa pemilik saham perusahaan.
Langkah kakinya terasa sedikit berat bukan karena gugup, melainkan rasa khawatir ia tidak bisa menjaga Perusahaan Athena, seperti pesan ibunya. Rendra memasuki ruang rapat dan menuju kursi paling ujung. Terlihat samping kanan kirinya para Dewan Komisaris, dan pemilik saham yang sudah menunggunya sejak dari tadi.
"Saya meminta maaf karena sudah membuat anda semua menunggu terlalu," ucap Rendra membungkuk hormat, lalu duduk di kursinya.
"Tidak masalah, Tuan Muda. Tapi sebaiknya kita percepat rapat hari ini," ucap Arya, Komisaris Utama Perusahaan.
Semua mengangguk setuju, dan mulai membahas inti rapat hari ini. Dengan serius Rendra mendengarkan apa, yang sedang diinginkan para Dewan Komisaris.
"Seperti yang Tuan Muda sudah ketahui, kami selaku anggota komisaris ingin meminta Tuan Muda mundur dari posisi CEO. Dengan alasan sudah membuat saham perusahaan turun, dan dibayangi ancaman inflasi," ujar Arya.
"Dan kami selaku pemilik saham, ingin mencabut saham kami dari perusahaan, karena kami tidak ingin ikut bangkrut bersama perusahaan anda," sahut salah satu perwakilan dari pihak pemegang saham.
Mendengar itu Rendra sedikit gelisah, namun ia masih bisa menyelamatkan Perusahan milik ibunya tersebut. "Sebelumnya saya meminta maaf atas kekacauan ini, tapi saya yakin masih bisa memikirkan cara agar saham Perusahaan Athena kembali naik."
"Sepertinya itu hal mustahil, Tuan Muda," sahut Bram, Wakil komisaris.
"Dulu saat perusahaan ini dipegang Tuan Faiz, perusahaan sama sekali tidak mengalami krisis inflasi, begitu pula saat di pegang Nyonya Bianca,"
"Sepertinya anda kurang layak untuk menjadi CEO kami. Kenapa tidak Tuan Danu saja yang menjadi pengganti Nyonya Bianca? Dan sebenarnya Nyonya Bianca sedang ada dimana?" tanyanya menatap Rendra.Rendra tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut,
"Sekali lagi saya meminta maaf atas kekacauan ini, saya berjanji akan mencari jalan keluar agar Perusahaan Athena terhindar dari inflasi," ucapnya yang kemudian bangkit dari kursi, membungkuk hormat, lalu meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Rendra meremas kasar kedua tangannya, karena kesal melihat situasi perusahaan mulai memanas. Sebenarnya isu perusahaan terancam inflasi hanya sekedar kabar burung, yang sengaja disebarluaskan oleh para anggota Dewan Komisaris.
Dan dalang dari itu semua adalah Bram. Meski ini adalah dugaan sementara, namun Rendra yakin penyebab isu ancaman inflasi bermula dari dia. Terlebih Bram berteman baik dengan ayahnya. Sehingga bisa dipastikan mereka berdua sedang bekerja sama, ingin menggulingkan posisi Rendra sebagai pemilik Perusahaan Athena.
"Gue gak akan biarin sapa pun mencoba perusahaan ini," gumam Rendra mulai meninggalkan perusahaan, sambil berpikir langkah apa yang harus ia lakukan setelah ini.