NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Mantan?

Ada banyak definisi cinta yang disebutkan beberapa ahli. Katanya, cinta bukan hanya sekadar perasaan, tapi juga perilaku, yang menjadi tolak ukur dalam kebutuhan dasar yang mendorong interaksi, kerja sama, dalam kelangsungan hidup manusia dalam keseharian, meskipun manifestasi setiap orang dalam mendefinisikan cinta sangatlah beragam. Mulai dari romantis, penerimaan, kepercayaan, dan kesetiaan yang dikemas dalam bentuk sebuah komitmen.

Dulu, Anin adalah penganut definisi kalau cinta maka harus memuja berlebihan dan merayu setiap hari. Tapi kini, setelah bertemu Harsa dan berumah tangga ia menemukan bentuk cinta yang paling berbeda dari biasanya yang ia impikan. Harsa memang tak pandai merayu, juga tak melulu meromantisasi keadaan seperti kebanyakan orang di luaran, tapi setiap perlakuan dan tindakan kecilnya ada cinta yang besar terselip di sana.

Harsa pengertian, ia tak banyak menuntut, ia terbiasa mengerjakan semua yang kata sebagian orang bukan tugas lelaki–sebab katanya pantang lelaki mengerjakan pekerjaan perempuan. Anin bersyukur Harsa tak demikian. Ia sering melihat kebanyakan wanita di luar sana kehilangan jati diri setelah berumah tangga. Saat suaminya merasa memiliki kedudukan yang lebih tinggi, boleh melakukan semua, masih bisa melenggang bebas. Sementara wanita, kebanyakan malah terbelenggu, di rumah mengurus anak tanpa bantuan. Dan diantara wanita yang tidak beruntung itu, Anin bersyukur ia bukan salah satunya.

Dan kali ini, suaminya yang menganut kesetaraan dalam rumah tangga kembali menunjukkan hal itu. Sungguh, kali ini Anin kembali merasa dibuat beruntung. Ia tak sedang diberi bunga atau hal mewah, tapi entah mengapa berhasil membuatnya memutuskan untuk berdamai setelah melihat kamar mereka telah Harsa rapikan. Simple bukan cara Harsa meluluhkannya?

Ya, setelah menikah. Bagi Anin, mau semanis apa mulut Harsa merayu itu jelas tak akan mempan untuk menggaet hatinya. Namun, entah mengapa hal sederhana ini selalu berhasil membuatnya luluh.

Anin berdecak dengan mata berbinar. Ia baru saja membuka pintu kamar dan langsung dibuat tertegun melihat seisi kamar mereka sudah rapi berseri.

“Hmmm, tau banget kamu cara bikin aku luluh.” Seraya menangkup kedua tangan di bawah dagu, Anin menoleh manja pada sosok yang berdiri di sampingnya sambil menggendong buah hati mereka. Sungguh ia dibuat terharu.

“Makasih, ya. “ Anin lantas bergelanyut manja mendekap Harsa dan Zura. “Kamu nyebelin tapi juga pengertian.”

Harsa hanya bisa menyeringai. Meski begitu, ia tetap menyunggingkan senyum sambil berkata, “bukan apa-apa, aku cuma bantu beresin kamar aja padahal.”

Anin balas berseloroh, mencubit gemas pipi suaminya gemas sembari sesekali menasehatinya dengan lembut agar tak melakukan kesalahan lagi. Mengingatkan agar Harsa tak berbuat hal yang bisa membuat mereka berseteru, dan barulah setelahnya mereka bersiap untuk pergi membawa Zura periksa kesehatan.

Kini, mereka telah tiba di rumah sakit. Tengah duduk di kursi. Anin baru saja kembali dari mengambil nomor antrean.

Sementara Harsa, ia duduk sambil memangku Zura yang tampak tak seperti biasa karena sedang sakit, bocah itu hanya diam sambil memegang potongan biskuit yang Anin berikan sejak mereka turun dari mobil. Kemudian Anin yang baru saja duduk di sebelahnya tengah sibuk memerhatikan sekitar. Suasana rumah sakit siang itu cukup ramai.

Sambil memegang nomor antrean, Anin lalu melingkarkan tangan di lengan Harsa, ia bergelanyut manja di sisi lelaki itu.

Namun, seketika Anin lantas menyerngitkan kening saat pandangnya tertuju pada sosok yang baru saja ke luar dari ruang farmasi yang berada tepat di antara area loket pendaftaran dan Poliklinik.

“Mas, mas!” panggil Anin, menepuk-nepuk lengan Harsa membuat laki-laki itu langsung menatapnya dengan kening mengkerut, wajahnya mengisyaratkan tanya pada istrinya yang tiba-tiba seperti orang melihat sesuatu itu, ada apa?.

Hmmm.

“Itu bukannya mantan kamu, ya?” tanya Anin saat Harsa hanya menjawabnya dengan deheman. Tatapan Anin masih mengikuti ke mana sosok wanita yang ia yakini adalah mantan terindah suaminya itu melangkah sambil merangkul sosok wanita paruh baya yang tampak kurang sehat.

“Ck, apaan sih!” Harsa berdecak tak terima seraya mendorong Anin dengan lengannya agar menjauh dari lengannya, ia kesal. “Harus banget bahas mantan,” omel Harsa seraya sedikit bergeser dari dekat Anin.

“Kamu salah lihat, kali,” lanjutannya dengan ekspresi kesal, tapi Anin malah menggeleng.

“Tapi itu beneran dia, loh.” Ia berujar yakin. “Aku masih ingat bentukannya, hapal mati sama mukanya.”

Dan Harsa hanya bisa memutar mata jengah mendengar ocehan Istrinya. Yang benar saja! Anin dan ucapannya terlalu berlebihan. Ia tak ingin meladeni karena tahu akhirnya pasti takkan baik. Meski bukan ia yang memulai, Anin kerap kali menjadikannya pelaku meski awalnya ia hanyalah korban pancingan Anin dan Harsa tak mau lagi terjebak trik dan tipu muslihat istrinya.

“Beneran lho, mas. Aku yakin gak salah lihat.” Dan anehnya istrinya ini malah tertarik sekali membahas hal yang ujung-ujungnya akan membuatnya uring-uringan sendiri.

“Ya, lagian kalau dia emang kenapa sih? Nggak ada hubungannya juga sama kita.”

Anin hanya manggut-manggut, perkataan Harsa ada benarnya juga. Tapi anehnya dia memang terlalu tertarik karena berniat ingin cari gara-gara dan menjahili suaminya. Untungnya, niat terselubungnya gagal total karena bersamaan dengan itu, nomor antreanya sudah dipanggil oleh petugas administrasi pendaftaran.

“Nomor antrian 23?” panggil seorang petugas wanita yang tampak celingak-celinguk mencari keberadaan orang dengan nomor antrian 23.

“Tuh, udah dipanggil.” Harsa menunjuk nomor yang Anin pegang, mengingatkan kalau-kalau istrinya itu lupa dengan nomor antriannya.

“Zura bentar lagi ketemu dokter, yey.” Harsa berkata riang seraya mengangkat tubuh anaknya, menciumi perutnya dengan gemas saat Anin sudah melangkah ke loket pendaftaran.

Anin mulai melakukan pendaftaran dan proses rekam medis untuk sang anak. Menjawab setiap pertanyaan dari staf, tak lupa memberikan informasi data Zura yang diminta dan memberi tahu keluhan serta tujuannya.

“Baik, silakan langsung menuju Poli Anak, ya, Bu. Lewat sebelah sana. Lurus, setelahnya langsung belok kanan saat ketemu pertigaan di tengah ruang. Setelah itu ibu bisa langsung masuk saja ke ruangan tepat setelah Poli THT.”

Begitu selesai, Anin pun kembali. Ketiganya lalu melangkah menyusuri lorong panjang menuju ke ruangan yang dimaksud dengan mengikuti arahan yang disebut staf pelayanan tadi.

“Katanya abis lurus belok kanan,” ucap Anin sembari memerhatikan lorong panjang yang terdiri dari berbagai pintu ruangan dengan keterangan di sisi pintunya. Anin melangkah dengan memegang rekam medis sang anak yang sudah diisi oleh staff wanita tadi.

“Belok sini?” tanya Harsa memastikan saat mereka menemukan belokan pertama. Anin tak menjawab membuat Harsa langsung berbelok sesuai arahan yang istrinya beri tahu.

Dan tepat setelahnya akhirnya mereka tiba di Poli Anak dan langsung mengambil nomor antrean untuk sekali lagi.

Setelah melalui beberapa tahap, mulai dari pemanggilan sesuai antrean lalu melalui tahap skrining oleh Perawat yang bertugas akhirnya Anin dan Harsa kini sudah berada di ruangan dokter. Mendampingi Zura yang tengah menangis ketika dibaringkan dan akan diperiksa oleh Dokter Spesialis Anak.

“Oh, takut ya sama Pak Dokter?” Dokter laki-laki yang tampak muda itu menampakkan ekspresi jenaka dengan menampakkan gelagat kecewa saat melihat pasien kecilnya malah ketakutan.

“Pak dokter gak galak, kok. Tuh, lihat, di sini ada banyak mainan. Abis ini adek-- Emm, siapa nih namanya?” Dokter yang diketahui dari id cardnya bernama Wira itu bertanya seraya berusaha meraih rekaman medis sang pasien di meja, tapi urung saat Anin lekas menjawab dengan tak kalah cerianya, berusaha menghibur agar Zura tak merasa takut dan bisa lebih santai.

“Namanya Azura nih, Pak Dokter.”

“Wah, Azura, ya–namanya bagus sekali.” Dokter memuji tulus dengan senyuman mengembang.

“Azura, coba lihat–di sini, saya punya banyak mainan dan gambar-gambar yang bagus, lho.” Dokter itu bertanya lagi seraya mengedarkan pandangan pada ruang luas nan bersih yang didominasi warna putih, tapi dibeberapa sudut ada kombinasi warna dan gambar animasi agar pasiennya yang kebanyakan memang anak-anak bisa lebih santai, serta untuk semakin menawarkan ketenangan dan kenyamanan bahkan di dalam ruangan itu ada banyak sekali mainan.

“Kalau Azura mau main sama Pak Dokter, nanti pak Dokter kasih hadiah boneka, mau, ya?” tanya sang dokter yang masih berupaya membujuk. Dan ternyata usaha dokter Wira tidaklah sia-sia, Zura jadi mau diajak kerja sama.

“Sebelumnya Azura ada keluhan tertentu gak, Pak–Buk?” tanyanya seraya mulai mengecek suhu tubuh Zura menggunakan termometer. Bayi 17 bulan yang memang sudah sangat mengerti itu akhirnya berhasil dibujuk setelah menunjuk sebuah boneka yang diinginkan.

“Duh, pinternya!” dokter Wira memuji tulus.

Kini Azura tampak anteng sambil memerhatikan boneka berbentuk lebah itu dengan seksama.

“Sebelumnya gak ada, Dok. Cuma kemarin siang pas mau tidur dia agak rewel dan susah ditenangkan.”

“Terus pas malam, sekitar jam satu pas mau saya asihi ida tiba-tiba demam.” Anin menjelaskan dengan seksama. Sementara Harsa yang berdiri di belakangnya, berada tepat dekat nakas agak condong ke Zura itu hanya mendengarkan sambil sesekali memerhatikan dokter dan istrinya yang menjelaskan secara bergantian.

Penjelasan Anin membuat dokter menyerngit bingung, pandangannya tertuju pada Zura dan mulai mengamati pasien kecilnya itu dari ujung kepala hingga kaki. Lalu mulai memeriksa telinga, mata, mulut, hidung hingga pemeriksaan secara menyeluruh menggunakan stetoskop pun dilakukan.

“Nangisnya kira-kira karena apa?”

Anin menggeleng tak tahu, ia sudah memeriksa tapi tak menemukan apa pun yang membuat anaknya menangis.

“Ini sepertinya ada yang sakit di tubuhnya makanya sampai demam begini, tapi semua sudah saya periksa, gak ada yang menunjukkan peradangan, semuanya normal.”

Mendengar itu Anin menoleh pada Harsa dengan wajah cemas. Seketika ibu satu anak itu dihinggapi rasa bersalah, merasa lalai dan gagal karena melewati kemungkinan apa yang membuat anak mereka sampai demam begini.

Tangan Harsa tergerak mengusap bahu Anin dari belakang, berusaha menenangkan. Laki-laki itu jelas tahu bahwa istrinya pasti dilanda cemas, jangan sampai ia merasa bersalah.

“Bisa bantu buka pakaiannya, saya akan cek bagian tubuh yang lain.”

Dan setelah semua dilakukan pun, dokter Wira masih tak menemukan luka atau pun hal yang kemungkinan jadi pemicu demam.

“Gak ada juga.” Dokter Wira yang tampak kebingungan terus memerhatikan, sesekali menyipitkan mata mencari hal yang bisa diperiksa.

“Gimana ini, mas?” lirih Anin yang matanya mulai berkaca-kaca, ia menoleh menatap Harsa dengan perasaan berkecamuk.

Harsa yang masih tampak tenang meski aslinya ia juga sangat khawatir itu hanya menggeleng, berusaha menenangkan Anin dengan harapan semua akan baik-baik saja dan tak separah seperti segala pikiran buruk yang mulai bercokol di kepala. Ia juga sama kuatirnya, tapi ia tetap berusaha tenang. Tangan Harsa kembali mengusap punggung istrinya dengan penuh sayang. Benar-benar berusaha menenangkan.

“Sepertinya, ini ....”

.......... ......

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!