Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara?
"Selamat pagi Bu." sapa pekerja Alina, dia hanya membalas dengan senyuman tipis sambil terus melanjutkan langkahnya memasuki ruangannya.
Ruangan bewarna krem ini menjadi tempat dia bertaut dengan pensil dan kertas, membentuk sketsa sesuai yang diinginkan oleh pelanggan. Tidak ada lagi foto yang istimewa bertengger di mejanya. Hanya vas kecil, dengan penyimpanan alat tulis dan kalender kecil yang cocok disana.
Alina menatap langit-langit ruangan nya. Sebelum melanjutkan gerakan pensil di atas kertas, Alina berada dalam hening. 'Terimakasih nona. Keadaan Rosa sudah membaik.' Ucapan bibi terlintas di pikiran nya.
"Huh! Terimakasih? Aku hanya tidak ingin bayi itu menganggu ku! Dia begitu berisik! Sangat berisik! Aku tidak bisa tidur, hanya itu! Dia adalah gangguan dan itu harus dibasmi!" jelas Alina pada dirinya sendiri.
"Sudahlah Alina, tidak ada waktu memikirkan itu! Lebih baik akan melanjutkan pekerjaan ku!"
Alina menjalankan kesehariannya, tidak ada yang istimewa. Dia terlihat kuat dan datar seolah tidak terjadi apapun, tapi jika dilihat lebih dalam lagi maka akan terlihat sebuah luka yang berusaha mengering disana.
"Bu, ini request Nona Lila untuk pertunangan nya. Dia meminta gaun berwarna Lilac." Alina menerima selembar kertas dimana permintaan pelanggan nya.
"Baiklah, terimakasih. Kau bisa lanjutkan pekerjaan mu."
"Baik Bu." Alina melihat dress permintaan pelanggan nya sejenak.
"Astaga, hiasan mutiara nya tidak cukup. Sebaiknya aku belanja dulu."Alina yang menyadari kekurangan bahan pembuatan dress-nya langsung pergi ke tempat textile dimana apa yang dicarinya tentu tersedia.
Dia gegas memasuki toko tekstil itu. Toko tampak ramai, Alina langsung memesan barang dan disambut ramah oleh pramuniaga.
"Terimakasih nona, silahkan kembali lagi."
"Terimakasih kembali." Alina menerima paper bag berisi manik-manik dan beberapa bahan lainnya.
"Sudah waktunya makan siang. Sebaiknya aku makan dulu." Sambil melihat jam di tangannya, Alina berniat menyebrang untuk sampai di restoran.
Baru saja Alina selesai berjalan di atas zebra cross itu ..... Bruk! Tubuhnya bertabrakan dengan seseorang yang membuat dirinya terpaku sejenak. "Hei, ha-ti......"
"Tolong aku...." Ujar sosok itu dengan wajah cemas, saat matanya bertatapan dengan manik Alina. Alina melihat sekeliling sejenak dan akhirnya membawa sosok itu bersamanya.
Keduanya berada di sebuah restoran, terlihat beberapa makanan yang tersaji perlahan lenyap tak berbekas. Tangan yang tampak kumal itu bergerak cepat mengambil dan memasukkan kedalam mulutnya.
Mulut yang tengah mengunyah itu menggambarkan pemilik tubuh yang tidak makan beberapa waktu. "Terimakasih..." Ujarnya setelah meneguk air membasahi kerongkongannya.
"Kau melupakan sesuatu." Ujar Alina yang membuat wanita itu terhenti.
"Aku tidak punya uang." Ujarnya.
"Aku tidak mengatakannya." Balas Alina.
"Lalu, apa maksudnya?" Tanyanya dengan bingung.
"Apa maksudnya? Kau harus membawa kembali apa yang menjadi milikmu." Kening wanita itu semakin berkerut mendengar penuturan Alina.
"Aku tidak mengerti." Ujarnya.
"Oh ya? Apa setelah kehilangan putramu kau jadi bermasalah? Putramu memberikan beban untukku setelah pengkhianat nya, apa kau tau itu...." Tenggorokan Alina tercekat untuk memanggil wanita itu seperti dulu.
"Aku tidak memiliki putra."
"Sandiwara apa ini? Katakan dengan jelas!" Alina mulai kesal sekarang.
"Nona.... Aku ingin mengatakan yang sejujurnya. Edward bukan putraku, aku bukan ibunya. Kami tidak memiliki ikatan apapun selain uang. Dia membutuhkan ku untuk menjadi ibunya dan aku membutuhkan uang. Dan beberapa waktu ini, aku tidak tau keberadaan nya lagi." Tubuh dan kepala Alina terasa dihantam benda tumpul. kepalanya tidak bisa berpikir. Tubuhnya terasa kaku dan semuanya tampak berhenti seiring dengan udara yang dihirup nya terasa sesak.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🙏🙏