NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Kecemburuan Raden dan Rahasia Ayah Alana

Kata-kata "calon tunanganku" yang ditulis Raden masih terus terngiang-ngiang. Lututku terasa lemas seperti agar-agar tumpah.

Aku langsung menoleh ke belakang, tapi bayangan tubuh tegap Raden sudah menghilang. Dia benar-benar sudah gila!

Sebenarnya dia itu dokter atau pasien RSJ, sih? Kemarin menyembunyikan identitas CEO, sekarang seenaknya mengklaimku sebagai tunangan.

Memangnya aku ini barang apa?

Aku meremas kertas itu sampai kusut dan memasukkannya ke dalam saku. Jantungku masih berdetak cepat saat melangkah menuju Bangsal Anggrek.

Namun, baru saja sampai di depan pintu bangsal, sepertinya drama lain sudah menantiku.

Di sana sudah berdiri si Direktur resek. Pria paling menyebalkan yang kemarin pamer kunci mobil mewah.

Di tangannya terdapat buket mawar merah raksasa dan sebuah kotak beludru.Isinya kalung berlian yang berkilau tajam, mirip seperti gigi emas nenek-nenek di bawah sorot lampu rumah sakit.

"Suster Alana!" panggilnya penuh percaya diri agar semua orang menoleh.

"Berlian dan bunga ini hanya secuil dari kekayaan yang bisa saya berikan kalau kamu mau jadi pendamping saya di pesta besok Sabtu. Gimana?"

Ia menaik-turunkan alisnya. "Daripada kamu cuma dapat tumpukan berkas dari dokter yang nggak punya masa depan itu."

Aku hanya bisa terdiam malu. Di meja administrasi, Suster Dewi, Ria, dan Rina mulai memasang wajah sinis dan berbisik julid.

"Gila ya, aku kira Alana itu polos. Pantesan umpannya dapat ikan kakap!" sindir Dewi menjengkelkan.

"Dia pakai pelet apa ya? Murahan banget caranya buat dapat barang mewah!" sahut Ria dengan tawa mengejek.

"Iya, bener banget. Dia kayak perawat rasa simpanan," timpal Rina memanaskan suasana.

Tiba-tiba, suasana mendadak hening. Suara langkah kaki yang tegas mendekat. Dokter Raden kembali dan menyaksikan adegan itu secara langsung.

Tatapannya menghunus ke arah kalung berlian itu. Rahangnya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Ada gunung es yang siap meledak.

"Suster Alana." Suara Dokter Raden terdengar rendah, membungkam seluruh koridor.

"Selesaikan urusan tidak penting itu... sekarang! Saya tunggu kamu di ruangan saya. Detik. Ini. Juga!"

Raden berbalik dengan aura mencekam. Aku segera berpamitan pada Direktur yang melongo, lalu melangkah cepat menyusul Raden.

Setibanya di depan ruangan, langkahku dihadang Suster Mia. Ia sengaja merapikan seragamnya yang ketat dan memoles bibir agar terlihat menggoda.

"Eh, ada Suster Alana yang lagi jadi primadona," sindir Mia menghalangi pintu persis satpam.

"Alana, mendingan kamu sadar diri. Dokter Raden memanggilmu pasti buat dimarahi habis-habisan. Dasar suster genit!"

Mia mengetuk pintu dengan suara manja yang dibuat-buat. "Dokter Raden? Ini Mia. Saya mau menawarkan bantuan... siapa tahu Dokter perlu teman untuk menenangkan diri?"

CEKLEK!

Pintu terbuka. Dokter Raden berdiri di sana dengan aura gelap. Ia justru menatap Mia dengan pandangan menghina.

"Suster Mia, apakah Anda tidak punya kaca di rumah?"

"Saya memanggil Alana, bukan kamu. Jika mulutmu itu hanya digunakan untuk menyebarkan fitnah dan bertingkah genit seperti wanita malam, lebih baik cari RS lain. Pergi!"

Suster Mia lari terbirit-birit. Begitu ia menghilang, Raden menarik lenganku masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintunya rapat-rapat.

"Sepertinya kamu sangat menikmati jadi bahan tontonan, hah? Apa kamu bangga jadi pusat gosip karena menerima perhiasan dari pria gatal itu?" bentak Raden menghimpit tubuhku ke meja kerja.

Napasnya memburu panas di wajahku. Ada amarah dan kecemburuan yang meluap di matanya.

"Ta... tadi saya belum sempat menolak, Dok..." jawabku terbata-bata.

"Belum sempat atau kamu memang menikmatinya, hmmm?" Raden menarik pinggangku kuat, memangkas habis jarak kami.

Detik berikutnya, ia membungkam bibirku dengan ciuman yang menuntut. Menyalurkan seluruh kecemburuan yang meledak-ledak.

Aku hanya bisa merintih tertahan. Ciumannya turun ke ceruk leherku, membuat tubuhku lemas bergetar.

Raden memberikan gigitan kecil di sana, meninggalkan bekas kemerahan sebagai tanda kepemilikan.

"Sakit, Dok..." keluhku serak.

"Ini supaya semua orang tahu kamu milik siapa," bisiknya dalam tepat di telingaku.

"Besok jangan berani-berani pakai kalung itu, atau saya sendiri yang akan melepaskannya dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya."

Sore harinya, aku melangkah keluar RS dengan perasaan berantakan. Sepanjang jalan pulang, kepalaku pusing bercampur malu.

Namun sesampainya di rumah, Ayah sudah menyambut di depan pintu dengan penampilan ajaib; ia memakai kacamata hitam yang lensanya copot sebelah!

"Alana sayang, cepat ganti baju! Kita ke mal cari gaun! Ayah sudah menyiapkan kumis palsu dari bulu kemoceng!" serunya penuh semangat.

Aku mengangguk tak mau mengecewakan Ayah. Sebelum pergi, aku lari ke kamar mandi. Di bawah shower, aku menggosok leherku berkali-kali. Berusaha menghilangkan jejak Raden.

Aku menatap cermin dengan napas tertahan. Tanda merah itu terlihat sangat jelas.

Dengan tangan gemetar, aku memulas foundation tebal berlapis-lapis agar Ayah tidak curiga. Aku tidak ingin Ayah tahu apa yang terjadi di ruangan Raden tadi.

"Ayah buruan! Keburu malnya tutup!" teriakku menutupi kegugupan.

Perjalanan ke mal terasa seperti sirkus keliling. Ayah mengendarai motor tuanya sambil membenarkan kumis palsunya yang terbang-terbang ditiup angin.

Orang-orang tertawa terang-terangan, tapi Ayah tetap percaya diri. Sesekali ia membunyikan klakson dengan bunyi lucu buatannya sendiri.

Sesampainya di mal termegah, Ayah menghilang tiba-tiba. Ternyata dia ada di toko daster tepat di sebelah toko gaun pilihanku.

"Ya ampun, Ayah ngapain di toko daster lagi?"

"Ini namanya taktik penyamaran! Ayah perlu memantau kamu di pesta besok tanpa ketahuan. Ayah tinggal pakai daster sama kerudung, jadi deh ibu-ibu sosialita!"

Melihat tingkahnya, pertahananku runtuh. Aku tertawa sampai perutku sakit di tengah mal itu.

Malam harinya, suasana rumah kembali sunyi. Begitu masuk kamar, aku memandangi gaun baru yang cantik di lemari.

Aku merasa sangat beruntung memiliki Ayah yang selalu menghibur. Akhirnya, aku pun tertidur lelap.

Namun di sisi lain, tepatnya di kamar sebelah, suasananya sangat berbeda.

Ayah Alana duduk sendirian di lantai yang dingin, bersandar pada pinggiran ranjang tua.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan sebuah foto kusam yang disembunyikan di balik tumpukan baju lama. Foto yang selama ini ia tutup rapat dari Alana.

Di foto itu, tampak Ibu Alana sedang tertawa manja. Namun, ia berada di pelukan pria asing berjas mahal di depan sebuah mobil mewah.

Ayah Alana meremas kuat foto itu sampai lecek, seolah ingin menghapus memori menyakitkan itu. Air matanya jatuh tanpa suara.

"Lebih baik kamu menganggap ibumu sudah di surga, Lan... daripada kamu tahu kalau malaikatmu itu sebenarnya hanya seorang iblis yang tega meninggalkan suaminya yang miskin demi laki-laki lain," bisik Ayah parau.

"Biarkan Ayah saja yang menanggung benci ini sendirian. Biar kamu hanya punya kenangan indah tentang ibumu."

****

Catatan Penulis:

Gimana, lebih serem cemburunya Dokter Raden atau lebih nyesek rahasia masa lalu Ayah Alana? 🥺🔥

Yuk, Like dan Komen teori kalian! Lanjut Bab 10? ❤️✨

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!