Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara
Berlian mengeluarkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mencari kontak Revo. Ia memilih mengirim pesan suara daripada menelepon putranya itu. Selain karena sudah larut malam, belum tentu Revo akan mengangkat panggilannya.
Pesan suara jauh lebih efektif. Revo tak punya pilihan selain mendengarnya begitu bangun pagi.
Tut.
[Revo sayang. Hari ini pulang ya, Nak. Kita sudah masuk masa pingitan. Kalau ngga mau pulang, ngga apa-apa. Biar mami yang pergi dari kehidupanmu.]
Tut.
Bella yang mendengarnya saja langsung merinding. Nada Berlian begitu lembut—terlalu lembut—seakan setiap kata dibungkus senyum. Namun di baliknya, amarah dan ancaman berlapis rapi, menunggu untuk meledak jika diabaikan.
“Beres,” ujar Berlian singkat, bibirnya melengkung puas.
Bella ikut tersenyum, lalu mengacungkan dua jempol. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa agar Revo cukup pintar membaca situasi.
Dan benar saja.
Keesokan paginya, begitu pesan suara itu selesai diputar, Revo tak menunda waktu. Rapat pagi baru saja berakhir ketika ia langsung bergegas pulang.
"Eh, anak bujang mami sudah pulang!" seru Berlian begitu melihatnya, langsung mencium pipi Revo tanpa memberi kesempatan menolak.
Revo memutar bola mata dan segera melepaskan diri dari cengkeraman itu. Jika tidak, pipinya bisa berubah jadi squishy sebelum siang tiba.
"Eh, Revo!" panggil Berlian lagi. "Kedua adik, ipar, dan keponakanmu sudah datang sejak kemarin. Kau tidak mau menyapa mereka dulu?"
Langkah Revo terhenti. Ia menoleh.
"Di mana mereka, Mam?"
Berlian tersenyum tipis. Anak sulungnya itu memang dingin dan irit bicara, tetapi urusan keluarga selalu menjadi satu-satunya pengecualian.
"Di ruang keluarga."
Revo segera berbalik arah. Berlian, Bella, dan Danny mengikutinya dari belakang, menjaga jarak seolah tak ingin mengganggu momen yang akan terjadi.
Begitu tiba, Axel langsung berlari dan memeluk kaki Revo.
Wajah Revo yang biasanya datar seketika melunak. Disusul si kembar, Elio dan Eira, yang tak mau kalah menempel. Tawa kecil memenuhi ruangan, kontras dengan ketegangan yang sempat menggantung sebelumnya.
Rumi dan Riora hanya bisa menunggu giliran, berdiri sedikit ke samping sambil memperhatikan kakak mereka dengan senyum tipis.
"Semoga semuanya lancar sampai hari H," ucap Berlian pelan, seperti doa—atau mungkin pengingat.
"Amin," sahut Bella dan Danny hampir bersamaan.
Waktu yang tersisa kurang lebih satu minggu. Terlalu cepat bagi Revo, tetapi terasa berjalan lamban bagi Berlian, Bella, dan Danny.
Mereka semua memikirkan hal yang sama—bagaimana jika Sherry tiba-tiba menghubungi Revo?
Untungnya, Revo menuruti tradisi turun-temurun keluarga Berlian: betangas. Sebuah ritual Melayu bagi calon pengantin, sauna tradisional yang sarat makna sekaligus melelahkan.
Berbagai rempah direbus menjadi satu. Uap panasnya mengepul dari panci yang diletakkan tepat di bawah kursi pendek berlubang. Revo duduk di atasnya, tubuhnya dibungkus tikar pandan, lalu ditutup lagi dengan kain tebal agar uap tak lolos.
Berlian membuatnya menjalani proses itu hingga tiga kali. Padahal, sekali saja sudah lebih dari cukup.
Ia sengaja.
Selama Revo sibuk berkeringat dan nyaris kehabisan tenaga, ponselnya dibiarkan jauh dari jangkauan.
Urusan perusahaan pun telah diamankan. Danny dan orang-orang kepercayaan mengambil alih sepenuhnya.
Untuk sementara, semuanya berada dalam kendali Berlian.
Tanpa terasa, waktu berjalan sebagaimana mestinya. Segalanya tampak aman dan terkendali—kecuali Candy.
Gadis itu masih duduk terpaku di depan cermin. Pandangannya kosong, seolah menatap seseorang yang asing. Rasanya seperti mimpi. Sebentar lagi, ia akan menjadi istri seseorang.
Kebaya putih modern yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan sempurna. Warnanya selaras dengan kulitnya yang cerah. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang kurang.
Namun, hatinya terasa hampa.
Ia bisa saja kabur. Pergi jauh sebelum seluruh persiapan pernikahan rampung. Kesempatan itu ada. Selalu ada.
Namun akal sehatnya menahan langkah itu. Bayangan wajah papanya muncul di benaknya. Meski dipaksa menikah oleh ayah kandung sendiri, Candy tetap menyayanginya. Terlalu sayang untuk melukai pria yang membesarkannya seorang diri.
"Non."
Suara Mbok Sarah memecah lamunannya.
Wajah wanita paruh baya itu tampak sembab. Ia telah merawat Candy sejak bayi—bahkan sebelum Candy lahir. Bagi Mbok Sarah, Candy bukan sekadar majikan kecil. Gadis itu adalah anaknya sendiri.
Melihat Candy akan menikah membuat dadanya sesak.
"Iya, Mbok," jawab Candy pelan.
"Sudah siap?"
Candy mengangguk lesu.
Di sisi lain, ballroom hotel mulai dipenuhi tamu. Satu per satu keluarga dari pihak Luneth dan Adrian berdatangan. Acara akad nikah ini memang disepakati hanya dihadiri keluarga besar.
Pernikahan Revo dan Candy digelar di salah satu hotel ternama di ibu kota—keputusan yang diambil demi kepraktisan dan efisiensi. Semuanya terkonsep rapi. Terlalu rapi.
Ranti tak mau ketinggalan satu momen pun. Ia sibuk mengabadikan suasana ballroom—live streaming, selfie, hingga video call dengan keluarga yang tak bisa hadir.
Meski bukan pernikahan putri kandungnya, ia tetap berbangga. Terutama karena—menurutnya—Candy akan menikah dengan pria tua. Nasib buruk yang pantas.
Baru saja menutup panggilan video, notifikasi pesan dari Rania masuk.
Ranti membacanya.
[Ma, jangan lupa kirim foto suaminya Candy. Aku kepo.]
Tanpa ragu, Ranti membalas.
[Ok.]
Tak lama setelah itu, rombongan pengantin pria mulai memasuki ballroom. Tanda akad nikah akan segera dimulai.
Ranti langsung mengangkat ponselnya dan merekam.
Seorang pria tua berjalan paling depan, diapit dua pria tampan—yang satu berusia paruh baya, sementara yang lain masih muda. Ketiganya melangkah mantap menuju pelaminan.
Ranti tersenyum puas. Dalam hatinya, ia menertawakan nasib anak sambungnya. Menikah dengan pria yang menurutnya sudah bau tanah. Bahkan mendiang suaminya terasa jauh lebih baik.
Usai merekam, ia segera mengirim video itu ke Rania.
Di London, Rania membuka pesan dari ibunya. Awalnya ia tersenyum santai.
"Tua banget," gumamnya sambil terkekeh.
Namun senyum itu perlahan menghilang.
Ia memutar ulang video tersebut. Memperhatikannya lebih saksama.
Satu hal terasa janggal.
Pria yang mengapit di sebelah kiri—satu-satunya yang mengenakan beskap putih.
Jantung Rania berdegup keras.
Pria tua itu mengenakan warna abu-abu muda. Begitu juga yang lainnya. Hanya satu yang berbeda.
"Tidak… tidak mungkin," gumamnya gelisah.
"Bara?"
Tangannya bergetar saat mengganti layar ponsel. Ia mencari kontak Bara—Revo Bara Luneth. Ia menekan tombol panggil. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.
Tak ada jawaban.
Rania mengalihkan panggilan ke Danny.
Panggilan pertama tak diangkat. Yang kedua baru tersambung.
"Halo," jawab Danny singkat.
"Dan," suara Rania bergetar, "bilang sama gue kalau yang nikah itu bukan Bara."
Danny terdiam sesaat. Ia menurunkan ponsel, menatap nama di layar.
Rania.
Senyum kecut terbit di wajahnya.
"Iya," jawab Danny lugas. "Yang nikah itu Bara."
"What?!" Rania berteriak. "Kenapa nggak bilang ke gue? Elu tau gue cinta mati sama Bara!"
"Salah elu sendiri," balas Danny dingin. "Elu yang nolak dijodohin sama dia."
"Mana gue tau kalau Bara itu Revo! Selama ini gue nggak tau nama lengkap dia siapa!"
"Ya, elu ngga pernah nanya. Lain kali, selidiki dulu."
"Pokoknya gue nggak mau tau!" Rania semakin histeris. "Elu harus batalin pernikahan Bara!"
"Eh, siapa elu?" Danny tersulut emosi. "Adik sambung elu jauh lebih baik dari elu. Jangan aneh-aneh!"
Panggilan diputus sepihak.
"Siapa?" tanya Bella saat melihat wajah Danny menegang.
"Orang gila yang salah sambung," jawab Danny singkat.
"Oh," sahut Bella, tak curiga.
Di London, Rania menatap ponselnya dengan napas memburu. Amarah dan kepanikan bercampur jadi satu.
Ia segera menghubungi ibunya.
"Ma!" serunya. "Aku nggak mau tau gimana caranya. Mama harus batalin pernikahan Candy."
[Lho? Kenapa?] tanya Ranti bingung.
"Ma, calon suaminya itu pria yang aku cintai."
[Hah?! Gila kamu! Pria tua begitu—]
Tut.
Panggilan terputus.
Rania berjalan mondar-mandir dengan wajah frustasi. Tangannya mengepal.
Ia tidak akan diam saja.
Pernikahan Bara dan Candy—harus digagalkan.