NovelToon NovelToon
Duke, Tolong Minggir

Duke, Tolong Minggir

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Menjadi NPC / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Leel K

Masuk ke dalam dunia novel seharusnya menjadi impian setiap pembaca. Kecuali jika novel itu adalah "Tears of the Caged Bird"—sebuah kisah dark romance di mana pemeran utamanya adalah Duke sosiopat yang hobi meneror gadis yatim piatu.

Sialnya, itulah nasib Vivienne.

Terbangun sebagai sepupu miskin dari tunangan sang Duke, Vivienne seharusnya hanya menjadi figuran yang diam dan mati muda. Tapi, melihat Freya Lark (si female lead) terus-terusan menangis dan Damian von Hart (si male lead) terus-terusan bertingkah seperti penguntit elit, kesabaran Vivienne habis.

Persetan dengan alur asli!

Jika penulis aslinya ingin drama, Vivienne akan memberinya komedi.
Jika Duke ingin bermain dark romance, Vivienne akan menyiramnya dengan air pel.

"Maaf, Duke. Anda menghalangi jalan saya menuju kebebasan finansial. Tolong minggir, atau saya tagih biaya parkir."

Selamat datang di Hartfield, di mana romansa sudah mati, dan digantikan oleh chaos yang sangat menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh Sore yang Penuh Kepalsuan

Ada satu hal yang tidak pernah diceritakan di novel-novel romansa sejarah: betapa membosankannya acara minum teh bangsawan.

Serius.

Di novel, adegan minum teh biasanya digambarkan sebagai momen krusial di mana intrik politik terjadi, rahasia terbongkar, atau setidaknya ada seseorang yang menyiramkan air panas ke wajah musuhnya. Tapi realitanya?

"Cuaca hari ini sangat cerah, bukan?" tanya Bianca sambil menuangkan teh Earl Grey ke cangkir porselen yang harganya mungkin setara dengan ginjal kiriku.

"Sangat cerah," jawabku datar. "Mataharinya rajin bekerja."

"Benar. Dan bunga mawar di taman timur mulai mekar dengan indahnya."

"Luar biasa. Mawar memang tanaman yang punya dedikasi tinggi."

Hening.

Hanya suara denting sendok perak yang diaduk pelan. Ting. Ting. Ting. Suara yang didesain untuk merusak mental secara perlahan.

Kami sedang duduk di sunroom (ruang kaca) kediaman Rouge. Ibunya Bianca sedang pergi ke pertemuan sosialita, meninggalkan kami berdua untuk "mempererat ikatan persaudaraan". Masalahnya, ikatan persaudaraan kami lebih tipis dari tisu toilet satu lapis.

Aku menatap susunan kue di atas tiered stand (rak kue bertingkat) di tengah meja.

Kue-kue itu adalah karya seni. Ada macaron berwarna pastel, petit fours dengan hiasan bunga gula yang rumit, dan scone yang terlihat begitu rapuh. Visualnya 10/10. Instagramable banget.

Tapi rasanya?

Aku mengambil satu macaron pink dan menggigitnya.

Krak.

Manis. Cuma manis. Rasanya seperti menelan satu sendok makan gula pasir yang dipadatkan. Tidak ada rasa almond, tidak ada rasa raspberry. Kosong. Hampa. Sehampa hidupku di dunia novel ini tanpa internet.

"Bagaimana kuenya, Vivienne?" tanya Bianca, menatapku dengan senyum sopan yang tidak mencapai matanya. Senyum itu adalah senyum 'aku-sedang-menilai-etiket-makanmu'.

"Enak," bohongku. "Rasanya sangat... aristokrat. Penuh dengan kemewahan dan minim rasa bersalah."

Bianca mengangguk, puas dengan jawabanku atau mungkin sebenarnya dia tidak peduli. Dia meletakkan cangkirnya dengan anggun. Jari kelingkingnya terangkat sedikit. Sempurna.

"Ngomong-ngomong," kata Bianca, nadanya berubah sedikit lebih tajam, meski wajahnya tetap tersenyum. "Aku dengar kau sering berjalan-jalan ke taman belakang belakangan ini."

Ah, ini dia. Topik utamanya. Basa-basi cuaca sudah selesai.

"Olahraga, Bia," jawabku santai sambil meraih scone. "Dokter bilang saya butuh vitamin D dan kardio. Korset ini membuat aliran darah saya tidak lancar."

Bianca tidak tertawa. Dia malah menatapku dengan tatapan menyelidik. "Pelayan bilang kau terlihat sering berbicara dengan... gadis itu."

Dia tidak menyebut nama. Di kamus Bianca, nama 'Freya Lark' adalah kata kotor yang haram diucapkan oleh bibir bangsawan. Dia menyebutnya 'gadis itu', 'anak yatim piatu itu', atau kadang cuma 'hama'.

"Maksudmu Freya?" tanyaku, sengaja menyebut namanya.

Sudut bibir Bianca berkedut sedikit. Tanda iritasi ringan.

"Ya. Anak tukang kebun itu," katanya dingin. "Vivienne, aku tahu kau baru di sini dan mungkin kau merasa kasihan padanya karena latar belakangmu yang... sederhana. Tapi kau harus ingat posisimu. Tidak pantas bagi kerabat calon Duchess untuk bergaul dengan pelayan rendahan."

Aku mengunyah scone yang rasanya seperti tepung mentah. "Dia bukan pelayan, Bia. Dia tamu Paman Barney. Dan dia lumayan asik kok. Dia jago matematika."

"Matematika tidak akan mengubah darahnya," cibir Bianca. Dia mengambil kipas lipatnya dan membukanya dengan gerakan sret yang dramatis. "Dia itu... mengganggu. Dia seperti ilalang di tengah taman mawar. Tidak peduli seberapa sering kau mencabutnya, dia selalu muncul lagi, merusak pemandangan."

Aku menatap Bianca. Di balik lapisan bedak mahal dan gaun sutra itu, aku bisa melihat rasa insecure yang menggerogotinya.

Bianca bukan jahat tanpa alasan. Dia adalah produk dari sistem. Dia dididik sejak lahir untuk menjadi Duchess Hart. Itu satu-satunya tujuan hidupnya. Dan sekarang, ada gadis antah berantah yang menarik perhatian Damian—aset masa depannya. Wajar kalau dia merasa terancam.

Tapi cara dia menanganinya? Kuno banget.

"Bia," kataku, meletakkan cangkir tehku. "Boleh jujur nggak?"

"Tentang apa?"

"Tentang Damian."

Wajah Bianca langsung mengeras. "Duke Hart adalah tunanganku. Pria yang sempurna. Apa yang mau kau katakan?"

"Sempurna?" Aku tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat julid di ruangan sunyi itu. "Bia, sayang. Damian itu bukan pria sempurna. Dia itu red flag berjalan yang dibungkus kertas kado mahal."

Bianca melotot. "Vivienne! Jaga mulutmu!"

"Dengerin dulu," lanjutku, mencondongkan tubuh ke depan. "Kamu itu cantik, kaya, pinter, dan punya koneksi. Kamu itu CEO dari hidup kamu sendiri. Tapi kamu malah ngejar-ngejar cowok yang hobinya nembakin burung dan ngintipin anak orang jemur baju?"

"Itu... itu hobi pria bangsawan!"

"Itu hobi sosiopat, Bia. Bedanya tipis," potongku. "Dan soal Freya... kamu cemburu sama dia? Serius? Kamu cemburu sama gadis yang bajunya cuma punya dua warna?"

"Aku tidak cemburu!" bantah Bianca cepat, wajahnya memerah. "Aku hanya... tersinggung. Damian seharusnya tahu martabatnya. Bermain-main dengan gadis rendahan itu... itu penghinaan bagiku."

"Nah, itu poinnya," kataku sambil menjentikkan jari. "Penghinaan. Damian yang salah, tapi kamu marahnya sama Freya. Freya itu korban, Bia. Damian yang ngejar-ngejar dia kayak kucing garong musim kawin."

Bianca terdiam. Dia menggigit bibir bawahnya, terlihat ragu antara ingin menyiramku dengan teh atau mendengarkan lebih lanjut.

"Kamu capek kan?" tanyaku lembut tapi manipulatif. "Capek harus pura-pura sempurna? Capek harus pura-pura gak liat kalau tunangan kamu matanya jelalatan? Capek harus bersaing sama 'ilalang' padahal kamu bunga mawar?"

Bahu Bianca sedikit turun. Topeng bangsawannya retak sedikit.

"Lalu aku harus apa?" bisiknya, suaranya terdengar lelah. "Aku butuh gelar Duchess itu, Vivienne. Itu impian ibuku. Itu harga diriku."

Aku tersenyum lebar. Senyum kapitalis yang mencium bau peluang bisnis.

"Gelar Duchess itu cuma gelar, Bia. Gelar nggak bisa dipeluk pas malem dingin. Gelar nggak bisa diajak curhat. Tapi tau apa yang lebih enak dari gelar?"

Bianca menatapku bingung. "Cinta?"

"Bukan," jawabku cepat. "Uang. Dan kekuasaan murni."

Aku mengambil macaron lagi, memutarnya di jari.

"Gimana kalau aku bilang, kita bisa manfaatin situasi ini? Daripada kamu stres mikirin Damian yang selingkuh batin, mending kita monetisasi kegilaan dia. Kita jadiin drama ini sebagai tambang emas."

Mata Bianca berkedip. "Monetisasi? Tambang emas?"

"Iya," bisikku konspiratif. "Lupakan soal jadi istri yang patuh. Jadilah wanita karir yang kaya raya. Biarin Damian sama obsesinya. Kita? Kita bakal sibuk ngitung duit di atas penderitaan dia."

Bianca menatapku lama. Perlahan, sangat perlahan, sudut bibirnya terangkat. Bukan senyum sopan palsu seperti tadi. Tapi senyum miring yang penuh ketertarikan.

"Lanjutkan," katanya sambil menyesap tehnya lagi.

Dan saat itulah aku tahu: Ikan sudah memakan umpan.

1
dunia isekai
lucuuu
dunia isekai
halo kak! ceritanya lucu banget! Mau saling mampir like dan komen di cerita masing masing? Mampir di ceritaku The Legend Of Roseanne ya!
takeru lukcy
lanjut thorrrrrr kl gak lanjut aku samper nihh kerumah🤭🤭bagusss 👍
takeru lukcy
baguss cokk bacaa ajaa dehh dijamin gak bakal nyesel
takeru lukcy
thorrr lanjutin gak bagus lohhh😍😍gak bosen aku bacanyaaa
Leel K: aaaa makasih bangetttt 😆😍
total 1 replies
takeru lukcy
lanjut thor
takeru lukcy
anjayy otw bacaa sampe habis nihh😍
takeru lukcy
thorrr bagusss lanjutinn ahh 😍😍😍
Puch🍒❄
astaga akhirnya aku mendapatkan novel yg kusukaaaaaaaaaaaaa yg konyol2 gini nih yg kusuka tp sisi romantisnya jg harus ada pokoknya seru deh bikin gk bosen😌
takeru lukcy: pliss ini novel ke4 yang gue suka suka bangett😍😍
total 1 replies
Puch🍒❄
anjg lucu lg bangke😂🤣😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!