harap bijak memilih bacaan.
Di jadikan babu oleh sang bibik, di bully oleh warga desa sebab bau badannya.
Ia begitu patuh, namun berkahir di jual oleh Bibiknya pada Tuan Mafia kejam yang menjadikannya budak nafsu menggunakan status istri yang di sembunyikan dari dunia.
ikuti ceritanya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon liyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.Suara laknat
Hazard membawa Anggiba ke kamar dan berapa terkejutnya Ia mendapati kamar yang berantakan."Kamu main bersama siapa, sampai kamar ini begitu berantakan?"tanya Hazard datar.
"Awwssh,"ringis Anggiba saat tangan Hazaed mencengkram kuat pahanya.
"Aku cuman sama Hana kok, tanya aja sama dia," kata Anggiba pelan.
Hazard menghela napas pelan."suruh pelayan untuk membersihkan kamar saya,"titah Hazard dan berlalih keruangan lain.
Ia membawa Anggiba menuju Ruang kerja yang begitu luas dengan rak-rak buku yang menjulang tinggi.
"bagaimana caranya mengambil buku yang setinggi itu?" tanya Anggiba mendongak di punggung Hazard.
Menatap takjub banyaknya buku-buku cantik yang tebal.
"Ada tangga, kamu bisa membaca?"
"iya aku bisa."
Hazard menurunkan Anggiba, dan langsung mengambilkan buku-buku yang tidak terlalu tebal.
Anggiba mengamati Hazard yang memilihkan buku untuknya.
"Apa jika aku terus membaca pria itu tidak akan menyentuh ku,kalau iya, aku akan membaca selama yang aku bisa," batin Anggiba, Hazard menoleh seolah membaca isi pikiran Anggiba, Anggiba hanya tersenyum tipis.
Hazard berjalan ke arahnya."ini,baca."
Anggiba mengambil Buku yang paling atas, Ia melirik Hazard yang juga mulai membuka buku besar dan tebal.
"Tuan,kenapa kembali, kan, belum satu minggu?" tanya Anggiba.
Hazard menoleh ke arah Anggiba yang mulai menentang di tatap datar begitu oleh Hazard.
Anggiba meremas gaun merah yang ia pakai, tangannya bergetar kecil.
"Kenapa? kamu mau merencanakan sesuatu yang membuat mama dan papa mengusirmu?atau mungkin kamu merencanakan sesuatu yang lain, agar bisa pergi dari sini?"
Anggiba langsung cegukan dan melihat ke arah lain, menghindari tatapan Hazard yang terus mengejar.
"emm, e–enggak! enggak kok! Iba, nggak bakalan kabur, kan, udah jadi istri 150 juta Tuan."
Hazard memicingkan matanya."Jangan panggil namamu Iba lagi, hilangkan saja Iba itu, sekarang, Nama kamu adalah, Anggi Darkizan, mengerti."
Tatapan Hazard seakan mempertegas ucapannya, Hazard tidak suka ada nama Iba di nama Istri 150 Juta nya itu.
"Ke–kenapa di hilangkan Tuan?"tanya Anggiba hati-hati.
"Saya tidak suka ada nama iba di namamu–" Hazard menatap dalam mata Anggiba yang terlihat sayu.
Satu tangan menarik tubuh kecil milik Anggiba kedalam pelukannya, di elusnya punggung Anggiba pelan."Karena itu terkesan nama yang harus di kasihani, Iba, sangat tidak cocok,"Hazard melepaskan pelukan dan menangkup pipi Anggiba yang mulai berisi dari sebelumnya.
Kulit putih Anggiba begitu mulus dan lembut, mata mereka beradu begitu dalam.wajah Hazard mendekat, tangan satunya menarik tengkuk Anggiba."wajah secantik dan selembut kamu tidak membutuhkan rasa iba dari orang lain selain saya,"bisik Hazard mencium lembut bibir yang menjadi candu baginya.
Yang awalnya Hazard ambil secara paksa dan brutal, kini Ia perlakuan baik berlian yang bisa saja jatuh ke lumpur bila ia lepas.
Anggiba menutup mata menikmati setiap permainan lidah Hazard di dalam mulutnya, dan tanpa sadar tangannya meremas pelan rambut Hazard.
"engghh."
Ciuman itu hanya sebentar, Hazard langsung menjauh pelan.
Anggiba terlihat terengah-engah setelah ciuman itu.
Satu tangan Hazard membelai lembut pipi merah Anggiba."sekarang nama kamu hanya, Anggi Darkizan, istri Hazard Darkizan,"Hazard menyatukan kening mereka, membuat rasa hangat yang tak pernah Anggiba rasakan sebelumnya.
"Lalu, bagaimana dengan Shara wiratama? bukannya dia yang seharusnya disini?" tanya Anggi.
Wajah Hazard seketika menjadi datar."kembali membaca, urusan Shara bukan urusanmu, yang menjadi urusanmu, hanyalah saya,"tegas Hazard kembali membaca.
******
Di taman sepasang suami istri asik memandang pemandangan yang membosankan bagi mereka, untuk orang lain mungkin indah, karena di depan ada taman bunga yang begitu cantik dan kupu-kupu yang berterbangan di siang ini.
Suara cangkir di taruh di meja memecahkan keheningan."Kapan Shara kembali?"tanya Tuan Azam.
"Yang aku dengar dari calon besan kita, Shara akan kembali satu minggu lagi."
"Dan semoga saja, wanita rendahan itu tidak hamil keturunan kita," gumam Tuan Azam menatap lurus ke depan.
"Amit-amit pa! Mama nggak mau punya keturunan dari wanita yang kastanya di bawah kita!" seru Nyonya Helena bergidik ngeri.
"Papa juga tidak ingin ma, tapi putra kita yang gila itu! dia sangat, ah, sudahlah,"kata Tuan Azam tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Gragas, kan, Pa, Mama tahu kok, Jujur mama bangga putra kita bisa seperkasa itu! bahkan wanita itu berteriak sampai ke kamar kita!" seru Mama Helena tersenyum.
Tuan Azam menggeleng pelan mendengar berapa mudahnya snag istri berkata begitu di depan pelayan dan penjaga.
Pelayan dan penjaga merapatkan bibir, menahan agar tak tersenyum.
"Dimana Hazard?"tanya Tuan Azam pada sekretaris nya Haki.
"Tuan muda sedang bersama istrinya di ruang kerja Tuan muda," Jawab Haki datar tapi sopan seraya menunduk.
Sudara yang mendengar suara Haki saja meleleh, karena basah-basah serak gitu.
"Ck, pasti mereka lagi–"
"Ma!" tegur Tuan Hazard.
"Apa sih pa! sok pemalu banget! lagian mereka semua udah tahu rasanya! ya, kan! kalian udah tahu kan?"
Para pelayan dan penjaga kompak mengangguk kecuali Sudara dan Haki.
"Kalian berdua kenapa tidak mengangguk?"
"Saya, kan belum pernah Nyonya," cicit Sudara menggoyangkan tubuhnya seraya melirik Haki malu-malu.
"Saya juga Nyonya besar."
"Kalau begitu kenapa kalian tidak menikah?"
Sudara membulatkan mata, pipinya memerah, Ia seperti remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta. padahal umur Sudara sudah memasuki 43 tahun.
"Maaf, Nyonya besar, saya tidak akan menikah, sesuai sumpah yang telah di–"
"Ck, pria tua itu akan segera meninggal, langgar saja, lagian aneh, masa umur udah kepala 4 belum coba! rugi Haki, rugi!"
"Haki, sebaiknya kamu kembali kerjakan tentang laporan terkini perusahaan,"titah Tuan Azam menyelamatkan Haki dari kecerewetan Istrinya.
Helena mendengus kesal."Papa marah? gara-gara Mama bilang Ayah mertua pria tua?"
"Sejak kapan Papa marah Ma, Mama bahkan sering cekcok sama Ayah, pernah Mama lihat Papa meninggikan suara sama Mama?"
Helena diam sambil senyum, suaminya ada benarnya juga, selama menikah suaminya memang tak pernah meninggikan suara, bahkan suaminya itu kalau marah pasti akan memeluk Helena teramat lembut.
"Terus kenapa Haki si suruh pergi?"tanya Helena melihat punggung Haki yang menjauh dari mata.
"Kan tadi udah bilang, kalau Haki harus urus perusahaan, selama kita disini harus di pantau terus."
Tuan Azam kembali meminum teh yang di cangkir, menyesal pelan teh itu.
Hingga suara laknat dari atas terdengar mengerikan dan membuat jantung berdebar kencang, bahkan wajah mereka semua memerah.
Tuan Azam tersedak dan terbatuk-batuk.
AAAHHHHH!TUAN, PELANH AAAHH, PELAN-PELAN UGGGHH!
Awww malunya🤫 gimana sama bab ini?
Komen dong, atau jangan-jangan alurnya terlalu menonton yah?
Komen yah biar aku bisa perbaiki karya baruku ini lebih baik, kasih saran dan kritik nya juga.
Jangan lupa like dong, Jangan pelit-pelit yah kasih likenya😊