Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
"Kalian kayaknya butuh quality time berdua deh!" ucap Sintia tiba-tiba membuat Ara dan juga Arga menolehkan kepala.
Saat ini mereka tengah berada di kampus—Arga menjemput mereka berdua. Sintia menoel tangan Arga membuat pria itu menoleh penuh tanda tanya. Sintia langsung mengkode dengan melirik ke arah Ara. "Aku gapapa pulang sendiri," ujarnya, Ara menggeleng.
"Kita pulang bareng dong!"
"Nggak usah kamu sama Papa kamu butuh waktu berdua. Maybe, Arga pengen lebih kenal anaknya atau sebaliknya. Dan aku gak mau ganggu."
"Iya bener kata Sintia kita perlu bicara banyak, Ara."
"Oke. Tapi lo pulang naik apa nanti?"
"Gampang. Taksi kan banyak."
Sintia mendorong Ara dan juga Arga untuk masuk ke mobil. Setelah dipastikan mobil sudah berjalan barulah Sintia membuka aplikasi untuk memesan taksi online. Baru Ingin memencet tiba-tiba ada suara yang ia kenal menyapanya.
"Hai, Sin."
"Kak Jefry," ucapnya.
"Mau pulang?" Sintia mengangguk.
"Bareng mau nggak?"
Sintia menggeleng. Jefry turun dari motor dan menghampiri gadis itu.
"Ayo, gapapa. Kebetulan aku mau ada urusan searah sama rumah kamu," ucapnya meyakinkan.
"Duh, gimana ya takut ngerepotin kakak aku. Emang gapapa?" Jefry mengangguk antusias.
"Oke, deh. Makasih ya kak."
"Santai. Ayo!"
Jefry memberhentikan motor begitu sampai di rumah Sintia. Sintia turun dan melepas helm. Ketika akan melangkah gadis itu reflek oleng membuat tubuhnya akan jatuh namun dengan cepat Jefry menangkap. Membuat mereka berdua saling tatap.
Jefry perlahan mendekatkan bibir mereka berdua. Sintia yang mendapat perlakuan itu entah kenapa diam saja, tubuhnya mendadak sulit digerakkan. Jefry memegangi pinggang Sintia agar gadis itu tidak jatuh. Ia melumat pelan bibir Sintia, Sintia tidak membalas. Lidah Jefry berusaha masuk ke dalam mulut gadis itu, tapi Sintia tidak kunjung membuka. Membuat ia harus menggigit kecil bibir gadis itu. Mereka berdua larut dalam ciuman itu. Tanpa sadar ada yang memfoto mereka berdua.
"Sintia!"
Mama membuka pintu dan melihat adegan itu langsung teriak memanggil anaknya, tubuh Sintia baru bisa digerakkan dengan cepat ia lari masuk ke dalam rumah sambil menutupi bibirnya. Sedang Jefry tersenyum misterius.
"Kamu selingkuh?" tanya Mama mengikuti anak gadisnya masuk ke kamar.
"Eng—engga, Ma," jawabnya terbata-bata.
"Terus yang Mama lihat tadi apa?"
"Ak—aku juga nggak tau kenapa itu bisa terjadi. Aku berusaha nolak tapi nggak tau kenapa tubuh aku nggak bisa digerakin, Ma," jelasnya.
"Nggak ada alasan Sintia. Kamu jangan dekat-dekat sama cowok itu lagi. Kalo sampai Arga tau gimana?"
"Ma, plis. Jangan kasih tau Arga, ya. Aku janji kejadian tadi gak akan keulang lagi."
Mama hanya mengangguk samar kemudian pergi. Sintia mencerna apa yang barusan ia lakukan? Ia memegangi bibirnya yang masih basah karena ciuman tadi. Ia menggelengkan kepala keras-keras berusaha menepis semua ingatan tentang kejadian beberapa detik lalu.
Ponselnya bergetar. Chat dari Arga.
Arga:
Aku habis ke bioskop sama Ara nonton film.
Kamu udah pulang?
Jangan lupa makan.
Sintia pun membalas....
Sintia:
Wah... Bagus dong!
Iya aku barusan nyampe rumah
Kamu juga jangan lupa makann..
Sintia meletakkan ponselnya di nakas, gadis itu membuka cemilan yang beberapa waktu lalu sempat ia makan, tersisa sedikit. Ia membuka laptop memutuskan untuk menonton drama favoritnya. Tiba-tiba ada adegan di drama itu si pemeran cowok dan cewek sedang berciuman. Hal itu membuat ia flashback kejadian tadi lagi. Ia menutup muka salting. Bibirnya ia sentuh lagi, agak sedikit bengkak karena Jefry sempat menggigitnya.
"Astaghfirullah, nggak nggak kenapa aku jadi inget lagi sih!"
Ia lebih memilih mengakhiri tontonan dan membuka aplikasi tiktok guna menghibur diri dan mengenyahkan pikiran tentang 'ciuman' itu. Ia memposting fotonya dengan Arga dan diberi musik yang sedang trend diaplikasi itu.
Ponselnya bergetar lagi. Tapi kali ini bukan dari Arga.
Jefry:
Hai, sin. Maaf ya soal tadi.
Detik itu juga Sintia melempar ponselnya ke lantai.
****
"Bibir kamu kenapa?"
Pertanyaan itu yang terlontar pertama kali ketika Arga bertemu.
"Ng—ngga, abis kejedot pintu,"alasannya.
Arga hanya mengangguk, ia meminum kopi pesenannya sampai tinggal sedikit. Sintia hari ini terlihat berbeda gadis itu selalu menghindar ketika Arga mencoba menggenggam tangannya.
"Ngapain sih ngeliatin aku?"
Sintia risih diperhatikan. Saat ini mereka tengah berada di cafe yang letaknya tak jauh dari kampus.
"Kamu beda aja nggak kayak biasa."
"Emang aku biasanya ngapain? Terbang?"
Arga tertawa kecil, jawaban Sintia selalu begitu diluar prediksi.
"Ada yang kamu sembunyiin?"
Deg.
Sintia terdiam. Wajah gadis itu mendadak pucat. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Sin?"
"Sintia?" Arga menyenggol tangan gadis itu, Sintia mengerjakan mata. "Eh, iya. Kenapa?"
"Kamu kenapa?"
Sintia menggeleng, ia mengalihkan pembicaraan. "Pulang, yuk. Aku capek banget."
Arga mengangguk, ia dan Sintia hendak pergi namun tiba-tiba Jefry ada dan menyapa keduanya.
"Eh om Arga, Sintia," sapanya.
Sintia menarik tangan Arga, dan mengajaknya untuk segera ke mobil. Arga yang ditarik hanya diam dan menurut.
"Tunggu tanggal mainnya, Sin. Aku pastiin kamu sama dia nggak akan bisa bareng lagi," ucap Jefry sembari melihat dua orang kekasih itu perlahan hilang dari pandangan.
****