NovelToon NovelToon
BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

BENANG PUTUS KARENA CINTA PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Pelakor / Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Dhita selalu percaya bahwa pernikahan yang ia bangun dengan Reza adalah rumah yang kokoh—tempat ia menaruh seluruh harapan, kasih sayang, dan kesetiaannya. Namun semua runtuh ketika cinta pertama Reza kembali muncul, menghadirkan bayang-bayang masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.

Dalam hitungan hari, Dhita yang selama ini berjuang mempertahankan rumah tangga justru dipaksa menerima kenyataan pahit: Reza menceraikannya demi perempuan yang pernah ia cintai bertahun-tahun lalu. Luka itu dalam, merembes sampai ke bagian hati yang Dhita pikir sudah kebal.

Di tengah serpihan hidup yang berantakan, Dhita harus belajar berdiri lagi—menata hidup tanpa sosok yang selama ini ia sayangi, menghadapi pandangan orang, dan menerima bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan berakhir. Namun Tuhan tak pernah meninggalkan hati yang hancur. Dalam perjalanan menyembuhkan diri, Dhita menemukan kekuatan yang tak pernah ia sadari, serta harapan baru yang perlahan mengetuk pintu hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Rencana Dhita

Setelah sempat mampir di jalan untuk melakukan Shalat Ashar, Dhita melanjutkan perjalanannya. Jalanan cukup padat karena memang jam pulang kantor. Dhita sampai di rumah menjelang adzan maghrib berkumandang.

"Lho, kok ada mobil Om-mu Dhit? Katanya mau langsung ke resto?”

"Gak tahu juga tuh Ma, berubah pikiran kali.” Dhita berkata sambil memarkirkan mobilnya di belakang mobil Irwan.

"Hai Dhit, pa kabar?” tetiba Henny istrinya Irwan keluar rumah.

"Kabar Dhita dikatakan baik, nggak juga, dikatakan nggak baik, tapi baik-baik aja sih.” Dhita tertawa sambil membalas rangkulan tantenya.

"Ah kamu bisa aja, tapi tante yakin, kamu akan selalu baik-baik aja, bahkan lebih baik dari sebelumnya.”

"Āmīn YRA!” Dhita dan mamanya kompak menjawab amin.

"Mbak, kabarmu juga baik kan?” Henny beralih menatap Lisa.

"Alhamdulillah baik Hen. Ngomong-ngomong, katanya kita mau langsung ketemu di resto?” Lisa melangkah sambil bergandengan tangan dengan Henny.

"Tuh Mas Irwan mau bicara sama Dhita katanya.”

"Bicara? Bukannya dari kemarin-kemarin Om selalu bicara ke Dhita?” Dhita menatap Om Irwan yang masih tersenyum-senyum menatapnya.

"Gini Dhit, setelah Om pikir-pikir, rumahmu itu mending Om aja yang beli lah. Sayang tuh rumah kalau jatuh ke orang lain. Masih baru, design-nya juga kekinian, berada di komplek yang keamanannya terjamin. Kamu gak apa-apa kan kalau kami yang beli?” Om Irwan menatap Dhita penuh harap.

"Iya Dhit, boleh ya kalau tante dan om yang beli? Tante terlanjur jatuh hati sama rumah ini.”

"Ini bukan prank kan Om?”

"Bukan lah, ini seriusan Dhit. Kamu gak keberatan kan?”

"Kenapa mesti keberatan? Dhita sih seneng-seneng aja Om, Tante.”

"Nggak, khawatirnya kan kalau kami yang beli, ntar kamu jadi jarang main ke sini, dengan alasan ni rumah banyak menyimpan kenangan buruk.”

"Nggak lah Tan, kalo sekali-kali gak pa pa, asal gak tinggal di sini aja.”

"Ya udah, kalo gitu deal ya Dhit?”

"Sip.”

"Alhamdulillah, akhirnya laku juga ni rumah.” Bu Lisa mengucapkan hamdalah tanda syukur.

"Untuk harga, sesuai dengan yang sudah disepakati aja ya, Dit. Tante dan Om akan membayarnya sama seperti kau menjualnya kepada yang lain. Nanti kita ke bank, soalnya cicilannya mau sekalian dilunasi aja.” Henny menatap keponakannya.

"Wah, makasih sekali Tante.”

"Eh, tapi kalau mau ngasih discount kita terima lho.” Irwan menggoda Dhita.

"Masa sih ngasih discount ke pengacara kondang gini? Uang segitu kan recehan buat Om dan Tante.”

"Waduuuhhh recehan. Tapi aminin deh, moga jadi doa.” Henny tertawa lepas.

***

Dhita sudah 2 hari kembali lagi ke Bandung, berkumpul bersama keluarga. Selama 2 hari itu, dia masih terlihat sedih dan murung. Dia hanya menghabiskan waktu untuk mengurung diri di kamar.

"Dhit, sudahlah, kamu jalan-jalan sana, sekalian cari tempat untuk buka usaha catering, yang sudah berlalu jangan lagi disesali.”

"Iya Ma, rencana Dhita juga gitu kok. Dhita mau ngajak Ghio aja untuk keliling-keliling komplek, kebetulan dia gak ada kuliah.”

"Nah gitu dong, itu namanya anak mama, tegar. Hidup itu ke depan, gak usah melihat lagi ke belakang. Biarlah itu jadi pelajaran, moga gak terulang kembali.”

"Aamiin. Iya siap, Ma.”

"Nah sekarang sarapan dulu aja, ajak Papa, Ghio, dan Andra untuk sarapan bareng!”

"Biar bibi yang panggil aja, Non.”

"Ok, makasih ya, Bi.”

"Gak usah dipanggil Bi, kita sudah siap untuk gabung sarapan.” Pak Hakim muncul, diikuti oleh Ghio dan Andra.

"Waahhh Kak Dhita sepertinya dah siap ni tuk jalan sekarang.” Ghio bertanya sambil menarik kursi di samping kakaknya.

"Iya siaplah, kamu jadi antar kakak kan?”

"Jadi lah.”

"Di depan komplek kita ini, ada ruko yang disewakan Kak. Cobain ke sana, tempatnya cukup luas, dan strategis. Dekat dengan sekolah swasta elite juga, jadi nanti siapa tahu banyak yang pesen nasi bento." Ghio menjelaskan.

"Aamiin YRA!"

"Bener itu, Dhit. Insya Allah prospeknya bagus lho kalau jualan di sana. Soalnya kebanyakan yang nyekolahin di sana, ayah ibunya sibuk, mereka kebanyakan beli makan siangnya. Di sana kan bebas, gak mesti ikut catering sekolah juga." Bu Lisa memperkuat penjelasan Ghio.

"Oke lah kalau gitu. Semoga semuanya lancar."

"Aamiin YRA!"

Mereka terus berbincang tentang usaha yang akan digeluti Dhita ke depan. Rencana-rencana Dhita dan pandangan kedua orang tua dan adiknya tentang menu menjadi topik utama pagi itu.

***

Ditha berdiri di depan sebuah ruko dua lantai yang berjajar rapi di dalam sebuah komplek bisnis eksklusif. Jalanannya bersih, ditanami pohon palem di sisi kanan kiri, dengan gerbang besar dan pos satpam di pintu masuk. Kaca etalase ruko itu masih bening, dindingnya dicat warna abu muda yang modern. Terlihat layak, bahkan sangat menjanjikan—tepat seperti hidup yang ingin dia bangun kembali.

Dulu, Ditha bukan perempuan biasa. Dia wanita karier sukses, terbiasa memimpin rapat, menandatangani kontrak besar, dan duduk di kursi jabatan yang banyak diidamkan orang. Namanya disegani, keputusannya diperhitungkan. Jadwalnya padat, ponselnya hampir tak pernah lepas dari genggaman. Dia bangga pada pencapaiannya—sampai pernikahannya runtuh perlahan, tanpa dia sadari.

Dia melangkah masuk ke dalam ruko didampingi adiknya_Ghio. Ruangannya luas, pencahayaan alami masuk dari jendela besar di depan dan belakang. Lantainya bersih, langit-langitnya tinggi. Di benaknya, Ditha sudah menata segalanya: dapur produksi di lantai bawah, ruang kemas dan kantor kecil di lantai atas. Tempat ini tidak hanya bagus—tempat ini pantas untuknya.

Namun, ada satu perasaan yang menyelip, getir dan sunyi.

Dia teringat kalimat yang pernah sering dia dengar dari suaminya, sebelum pria itu kembali pada cinta pertamanya.

"Kamu terlalu sibuk, Dit.”

Kalimat itu terus menghantuinya, bahkan setelah perceraian resmi diucapkan. Ditha sering menyalahkan dirinya sendiri—mungkin benar, mungkin dia terlalu larut dalam dunia kerja, terlalu yakin bahwa kesetiaan bisa bertahan hanya dengan rasa percaya. Dia tak pernah menyangka, kesibukannya dijadikan celah bagi masa lalu untuk masuk kembali dan menghancurkan segalanya.

Padahal, dia bekerja bukan untuk menjauh. Dia bekerja untuk membangun.

Ditha menghela napas, lalu tersenyum tipis. Dia memilih berhenti dari jabatan tinggi itu bukan karena kalah, melainkan karena ingin hidup dengan ritme yang lebih jujur pada dirinya sendiri. Dia teringat masa-masa mengikuti kursus memasak, saat dapur menjadi ruang paling tenang dalam hidupnya—tak ada target, tak ada tekanan, hanya rasa dan ketelitian.

"Di sini aku ingin mulai usaha catering.” ucapnya mantap kepada agen ruko.

Dan saat kalimat itu keluar dari bibirnya, Ditha merasa lebih utuh dari sebelumnya.

Dia mungkin pernah menjadi istri yang ditinggalkan.

Tapi hari ini, di ruko yang bagus dan lingkungan yang tertata, Ditha berdiri sebagai perempuan yang memilih jalannya sendiri—bukan untuk menebus masa lalu, melainkan untuk menciptakan masa depan yang tidak lagi bergantung pada siapa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!