NovelToon NovelToon
KUTUKAN MAUT PADMINI

KUTUKAN MAUT PADMINI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Tumbal / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:316.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Padmini, mahasiswi kedokteran – dipaksa menikah oleh sang Bibi, di hadapan raga tak bernyawa kedua orang tuanya, dengan dalih amanah terakhir sebelum ayah dan ibunya meninggal dunia.

Banyak kejanggalan yang hinggap dihati Padmini, tapi demi menghargai orang tuanya, ia setuju menikah dengan pria berprofesi sebagai Mantri di puskesmas. Dia pun terpaksa melepaskan cintanya pergi begitu saja.

Apa yang sebenarnya terjadi?
Benarkah orang tua Padmini memberikan amanah demikian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09 : Rukmi

AKHHH!!

Padmini berteriak, kala membuka mata langsung disuguhi pemandangan tengkorak kepala manusia bergelantungan diikat tali ijuk aren.

Gadis berumur 21 tahun itu dilanda kebingungan, ketakutan luar biasa. Matanya menatap sekitar yang segala sesuatunya sangat asing baginya. “Bukankah tadi aku duduk di batu, terus kuku-kuku panjang itu menusuk betisku?”

Ingatan terakhir sebelum dirinya tak sadarkan diri sewaktu dihantam rasa sakit tak tertahankan, kini memenuhi kepalanya.

Padmini menahan punggung menggunakan siku, lalu duduk dan langsung memeriksa area betis. “Tak ada luka serius, hanya bekas goresan dan lebam saja.”

Kaki yang dulu mulus terawat, sekarang dipenuhi lukisan goresan ilalang, memar.

'Apa yang sebenarnya terjadi?’ batinnya bertanya-tanya, matanya mengamati sekitar. Bulu kuduknya meremang – dia menyadari kalau sedang berada di sebuah gubuk beratap Ijuk, berdinding papan masih berserabut.

Suara napas dan detak jantungnya sangat berisik. Seperti gerakan diperlambat – ditatapnya lekat meja kayu yang diatasnya bertumpuk kepala dan kerangka manusia, ada juga nampan berisi bunga segar.

“Bau kemenyan.” Padmini menoleh ke bagian kiri, ternyata ada tungku mengepulkan asap dan berbau menyengat.

Gadis dengan penampilan jauh dari kata cantik, dikarenakan wajahnya bertambah bengkak sampai matanya hampir tidak terlihat. Efek tamparan, pukulan yang didapatkannya dari amukan massa – mulai menurunkan kakinya.

Ketika menjejak lantai papan mengkilap, ia memperhatikan dipan yang ditidurinya.

Akhh! Bugh!

Padmini terjatuh terduduk, mata sipitnya melotot dan terasa perih. Rasa dingin sampai menggigil menjalar dari ujung kaki hingga sekujur tubuh.

Ternyata amben itu disanggah oleh tulang kaki manusia, tempurung kelapa, dan sebagian lagi bulatan kayu.

‘Aku harus pergi dari sini!’ dia tidak peduli pada kain jarik yang tersingkap memperlihatkan pahanya.

Gadis yatim piatu itu sangat ketakutan, berusaha bangkit dan hendak melarikan diri. Saat sudah mencapai pintu, dibukanya lebar. Napasnya langsung tertahan, beruntung dirinya bisa menjaga keseimbangan tubuh, bila tidak dirinya terjun bebas dan pasti mati.

Tangan Padmini berpegangan pada ujung pintu, matanya menatap ke bawah sana – aliran sungai terlihat sangat kecil. ‘Setinggi apa gubuk ini didirikan?’

“Melompat lah bila kau ingin mati dan padam pula keinginanmu hendak balas dendam, Padmini!”

Suara serak-serak basah itu menghantarkan gelenyar takut pada hati si gadis, perlahan dirinya berbalik. Memandang dari ujung kepala hingga rok hitam menyapu lantai. “Siapa engkau?”

“Aku adalah sosok yang ada didalam ilusi mu – menjilati darahmu.” Pupil mata sepenuhnya putih itu menatap tegas, bibirnya menyunggingkan senyum miring.

“Wanita berambut akar pohon?”

“Iya.”

“Apa itu cuma mimpi?” Alisnya hampir menyatu.

“Bukan mimpi, tapi ilusi dari pemikiranmu sendiri. Kau ketakutan, otak mu memanipulasi pengelihatan dan pendengaran. Apa yang dirimu lihat sebenarnya tak benar-benar terjadi.”

Jubah lengan lebar si wanita dikibaskan, seketika tengkorak manusia pada bagian kelopak mata menyala seperti kobaran api.

Padmini mundur secara perlahan, punggungnya menabrak dinding papan.

“Apa yang kau lihat?”

‘Aku tak bersalah! Panas! Akh!’

‘Beri saya kesempatan membuktikannya, Buk! Anak yang ku kandung ini benih suamiku, bukan pria lain!’

Kepala Padmini seperti ditusuk-tusuk jarum. Yang dilihatnya adalah tayangan penyiksaan sadis – wanita memohon ampun tapi tetap disiram air panas hingga kulitnya melepuh.

Kemudian wanita muda yang bersimpuh, tiba-tiba lehernya di gorok golok – darah memercik wajah angkuh wanita paruh baya yang menyiksanya.

“Ya, tengkorak ini milik mereka yang sudah bersekutu kepada Iblis penghuni hutan. Bukan tanpa sebab, tapi dikarenakan ambisi hasil dari perlakuan tak adil manusia jahannam. Mereka belumlah meninggal, tapi sekarat dan diambang kematian. Raganya dibuang ke lembah ini – dari sanalah perjanjian itu bermula.”

“Aku sendiri salah satu dari mereka! Kebetulan sewaktu diriku hidup – memiliki keistimewaan, sehingga arwahku dapat menyerupai wujud manusia dan diangkat menjadi perantara jiwa-jiwa terperangkap oleh dendam dan menuntut pembalasan setimpal!”

“Apa berarti aku juga sama seperti mereka, saat terjatuh ke dalam lembah ini diriku diambang kematian, lalu melakukan perjanjian itu?” ia mulai mengerti skenario takdir menyakitkan bagi kaum lemah dan polos.

“Kau pengecualian.”

Padmini berdiri tegak tak lagi bersandar. “Maksudnya?”

“Ibu dan ayahmu lah yang telah bersekutu kepada tuan Iblis, sebelum kematian itu merenggut nyawa mereka!”

“Sebenarnya apa yang terjadi pada orang tuaku? Apa kau mengetahui sesuatu? Mengapa tiba-tiba Bapak dan ibuku menjodohkan diri ini kepada pria bejat itu? Padahal mereka merestui hubunganku dengan kang Adi!” ia mencecar dengan nada emosional.

“Ada harga yang harus dibayar bila kau ingin mengetahui kejadian sesungguhnya.”

“Katakan apa syaratnya!” tuntutnya.

“Persembahkan satu tumbal kepada Tuan kami, maka tabir penuh intrik dan kepalsuan itu akan tersingkap!”

“Tum_bal?” Bibir Padmini bergetar. “Bagaimana aku bisa mencari mangsa kalau diriku sendiri tidak tahu menahu soal wilayah ini.”

Wanita yang Padmini perkiraan diumur pertengahan dua puluhan – menyeringai licik. Wajahnya pucat, bibirnya berwarna kehitaman, dan dia menaikan roknya.

Padmini terkesiap melihat kaki digerogoti Belatung, kuku-kukunya membusuk, dan satunya lagi buntung. “Apa yang terjadi? Siapa namamu?”

“Kau bisa memanggilku Rukmi. Aku korban pemerkosaan dan mutilasi,” ucapnya tenang dengan suara tanpa getar.

“Astaga.” Padmini membekap mulutnya. Dia tidak jijik melihat Belatung keluar masuk dari sela-sela kuku jari kaki, dan berkumpul di punggung kaki. Sebagai calon dokter, dirinya terbiasa berkutat dengan luka dan darah.

Sekarang dirinya mulai paham – hutan yang dinamai tempat pembuangan Jin ini, adalah surga bagi manusia putus asa, mencari keadilan dunia. Meskipun taruhannya roh mereka dalam cengkeraman sang Iblis, tapi apa yang bisa dilakukan bila kesembuhan sangat mustahil didapatkan.

Daripada mati sia-sia, bukankah lebih baik membalaskan dendam mereka supaya impas.

“Padmini.”

“Ya?” ia menanggapi setelah beberapa saat terdiam.

“Bila kau telah memutuskan untuk maju dan membalas para manusia durjana itu, kau tak bisa begitu saja memutus rantai dengan lembah ini dan kembali dikehidupan normal mu. Semua ada aturannya, ada syarat wajib dipenuhi!” Dia menoleh ke gadis yang dua hari lalu ditolongnya.

“Katakan, apa saja syarat itu? Nyawa pun akan kuberikan, untuk apa hidup tapi kehilangan semua orang terkasih. Yang terpenting, mereka mati ditangan ku!” tekadnya sudah bulat.

Jari pucat berkuku hitam dijentikan, seketika jendela papan terbuka dan memperlihatkan daun-daun segar dan dahan.

“Setiap bulan purnama, antara hari ke 13 hingga 15 – kau wajib mempersembahkan tumbal manusia kepada penguasa lembah ini, hingga puncaknya pada malam satu suro yang akan datang.”

“Berapa lama aku sudah berada disini?”

“Baru dua hari.”

Jemari Padmini berhitung. “Bulan purnama ada setiap bulan, berarti dua belas tumbal dikarenakan seminggu yang lalu baru saja satu suro?”

Rukmi mengangguk, membenarkan penghitungan Padmini. Kemudian dia menoleh pada wajah membengkak. “Apa kau sanggup?”

.

.

Bersambung.

1
≛⃝⃕|ℙ$°Siti Hindun§𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Teruskan kegilaan ini Padmini, aku suka. Jangan biarkan Bambang mati dengan mudah/Applaud/
Secret Admire
ampuuunnnn kak😄 bacanya aja aku gemeteran 😄
Lisstia
ngeri sih tapi bikin kepo bacanya
𝓙𝓾𝓵𝓮𝓱𝓪 🌼
mangsa terakhir si sumi sm wandi ya,mereka berdua dalang dibalik kematian ortu padmini,hukumannya hrs lbh ganas dan lamaa /Smile/
Reni
astaga pagi2 mana banjir dari kemarin cuma surut sak empritttt dingin2 eeee baca lha kok lha kok lha kok duarrrrrr mbak Padmini main dokter dokteran sadis sama mas bojo tercinta 😬
SENJA
aaaiih aku kok ngilu 🥶
neni nuraeni
anjaay psikopet... bantai terus padmi... lnjut thor
SENJA
yang gila itu elu bambang buseh , padmini cuma balikin doang 😁
Salim ah
huuuuwaaa
Watiningsih
padmini jadi psikopat mati hati nurani karena rasa sakit hati yg luar biasa, semua akibat ketamakan kamu Bambang
Muhammad Arifin
AQ seng puyeng 😨😨
mudahlia
terserah kau lah padmi sukahati kau
*^Ciput Cantik^*
Sicalon dokter terbaik padmini ,digergaji trs dijahit lagi terlalu cepat menjahit ditmbh lg potonganya,habis jari nanti lidahny yg dipotong trs dijahit lagi begitu trs ,padmini memang luar biasa calon dokter yg handal
nara
uh sadis pembalasannya padmini,,satu persatu warga kampung hulu bakal mati semua
Shee
nah abis deh tuh jari, besok apa nya ya??? ko q seneng saat Bambang di siksa, maaf ya kang🤣🤣🤣
Eli Rahma
sadis bgt pembalasan padmini..
Eva Wahyuni
kayak nonton film Suzanna Thor 😱😱😱..
ngeri ngeri sedap 😁😁😁
lyani
kali ini pak mantri jadi bahan koas
🍒⃞⃟🦅☠Calon mertua🪱ᵘᵄᵟᵘᵎᵓᵄᵓ
kang Adi apakabar nya yaa
thorr
sdh sembuh
apa masih sakit
di bawa ke dokter Korea aja thor.biar ganteng kembali sperti dlu
Y.S Meliana
ga kebayang kan kang bambang klo pembalasan padmini se kejam itu 😳😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!