Tidak semua cinta masa kecil disebut cinta monyet buktinya cinta Kania Atilyah dan Azra Zavier bertahan dari mereka masih kecil hingga dewasa.
Tapi sayang karena perpisahan mereka yang cukup lama membuat mereka saling tak mengenali.
Puncak masalah adalah ketika sang sepupu yang benci pada Kania mengaku sebagai sang cinta masa kecil Azra dan memisahkan mereka dengan cara yang kejam.
Yuk, jadikan novel ini sebagai favorit supaya bisa selalu mengikuti up dari D'Wie!
Jangan lupa baca juga novel D'Wie lainnya ya!
* Livina,izinkan aku bahagia
*Cinta yang lain
(Masih gantung, gak usah baca.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.9 Calon mantu
"Far,apa kamu ingin melihat anakmu menikah?"
Pak Djafar menoleh ke arah Aira dan hanya mengangguk,karena ia belum bisa bicara,mulutnya masih terhubung selang oksigen.
"Kalau begitu ,aku ingin melamar anakmu,Kania!" ucap tante Aira tegas
"Apa?" Kania sontak menoleh ke arah tante Aira karena kaget akan ucapan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik tersebut.
"Iya sayang,tante ingin melamarmu menjadi istri Azra. Tante tau,kalian masih saling menyukai. " jelas tante Aira dengam senyum cerah
"Ta...tapi tan,kak Azra kan belum tau kalau aku Nia,teman masa kecilnya." Kania merasa khawatir,takut kalau Azra telah melupakannya dan tak memyukainya
"Kau jangan terlalu cemas sayang. Nanti lambat laun pasti Azra akan menyadarinya. Tante hanya perlu mengikat kalian dulu. Apakah kau tak ingin melihat ayahmu bahagia di detik-detik akhirnya?" ucap tante Aira lirih setengah berbisik di dekat Kania. Kania tertunduk bingung tak tau harus bagaimana.
Aira beralih mendekati pak Djafar lagi.
"Bagaimana Far,apa kau menerima lamaranku?" Pak Djafar nampak sedang menimbang,ia melirik Kania yang terlihat bingung tapi ia menangkap dari sorot mata Kania,termasuk saat di mobil tempo hari,ia sempat memergoki sorot mata Kania ke arah Azra yang sedang mengemudi dengan tatapan begitu bahagia.
"Nia,.." panggilnya pelan ke Kania karena Pak Djafar masih sulit bicara.
"Iya,ayah?" menggenggam erat tangan ayahnya
"Apa kau menyukai Azra nak?" tanya ayah pada Kania
Namun yang ditanya hanya tersipu malu tanpa mengeluarkan satu kata pun. Walaupun begitu,ayahnya sudah mengetahui jawabannya.
"Aku terima lamaranmu,Ra. Tapi apakah anakmu mau menerima anakku,Nia?" mencoba memastikan
"Aku akan bicara padanya. Aku yakin Azra akan menerima keputusanku." yakin tante Aira
"Tante,tapi Nia mohon,jangan memaksa kak Azra. Nia takut kak Azra malah marah dan benci Nia." mohon Kania dengan wajah memelas
"Baiklah sayang,kau tak perlu cemas. Kau cukup menjaga ayahmu dengan baik. Tante akan mengatur semuanya." mengusap rambut Kania
Hati Kania terasa berbunga-bunga membayangkan ia akan menjadi istri dari Azra,pria yang selama ini ia tunggu dan ia cintai. Namun,di hatinya mulai muncul keraguan ,apakah Azra akan menerimanya? Apalagi saat ini Azra belum mengenali siapa Kania sebenarnya. Ia juga tidak tahu,apakah Azra memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Tanpa mereka ketahui,ada seseorang yang merasa kecewa setelah mendengarkan pembicaraan mereka dari balik pintu.
"Mengapa harus dengan kak Azra? Bahkan aku sudah kalah sebelum bertanding. Coba aku yang berada di posisi kak Azra,hmmm...pasti aku akan merasa sangat bahagia. " tersenyum getir
tok tok tok
"Assalamualaikum bu,ma,om!" Azril membuka pintu dan menyapa semuanya dengan tersenyum pura-pura tak mendengar apa-apa
"Wa'alaikumsalam Zril. Masuk sini,Zril. Kamu langsung dari sekolah ya?"
"Gak bu,tadi sempat pulang trus nanya bibi di rumah mama kemana,katanya ke rumah sakit,jadi Azril langsung inisiatif ke sini sampai lupa ganti baju. Azril pikir mungkin yang sakit ayah bu Kania. Ternyata benar.heheh..." jawab Azril panjang lebar
"Makasih ya udah perhatian sama ayah bu Kania." ucap Kania tulus
"Zril,mulai sekarang jangan panggil bu Kania lagi ya,soalnya bentar bu Kania kamu bakal jadi calon menantu mama." ucap tante Aira santai
"Apa ma? Ah yang bener ni? Berarti Azril harus manggil kakak ipar nih?" goda Azril
Sedang yang digoda hanya tersenyum malu-malu kucing.
"Kamu juga Nia,mulai sekarang kamu haris biasain panggil tante mama,ingat ya mama kan bentar lagi tante akan jadi mama kamu." tegas tante Aira
"Baik ma." jawab Kania malu-malu
"Iiihhh gemes banget deh. Sudah lama pingin punya anak perempuan,akhirnya kesampaian juga." ucap mama Azril dengan mata berbinar lalu memeluk erat Kania.
"Cie cie yang mau jadi caman!" ledek Azril
"Caman,apaan tu? " tanya mama Azril penasaran
"Caman..calon mantu.hahaha..."Azril tergelak sendiri
"Hhmmmm...kamu tu Zril,doyan bener bercanda." gumam Kania
"Ya donk calon kakak ipar,orang yang gak doyan bercanda itu hidupnya menyedihkan tau gak,membosankan,jarang ketawa,jadinya cepet tua,trus mati.hahahah..." masih saja tergelak sendiri
"Hush...kamu tu Zril,kita ini di rumah sakit. Jangan berisik!" mama Azril melotot
"Ooops...maaf ma,kelepasan." cengirnya
"Kania sayang,mama pulang dulu ya! Banyak yang mesti mama persiapkan. Kalau ada apa-apa hubungi aja mama atau Azril ya!"pamit mama Azril
"Baik ma. Hati-hati di jalan ya ma!" mencium punggung tangan mama
tok tok tok
"Permisi pak,ada yang mencari bapak. Seorang wanita." ucap Nanda,sekretaris Azra
"Siapa?"
"Katanya namanya Nia ,pak! Dia sedang menunggu di lobby."
"Antar dia kemari."
"Baik pak."
"Nona Nia,mari ikuti saya ke ruangan Pak Azra."
*Rania pun mengikuti sekretaris Azra itu ke ruangan Azra.
"Wah,kantornya keren banget! Pasti Azra kaya banget nih,bisa gue manfaatin nih. Kapan lagi bisa dapet gebetan udah super tampan,kaya lagi." gumam Rania dalam hati*
"Silahkan masuk nona!" Rania pun masuk ke ruangan Azra tanpa malu-malu.
"Kak Azra..." Rania langsung lari berhambur ke pelukan Azra
"Kok kamu datang ke sini?" tanya Azra
"Emang gak boleh ya!" cebik Rania
"Emang siapa yang bilang gak boleh,kan kakak cuma nanya kok kamu datang kesini,pasti ada suatu alasan kan?"
"Emang kalo mau nemui kakak harus punya alasan dulu ya? Kalau Nia bilang Nia kangen kakak,boleh Nia main kesini?"
"Kangen?? Kan baru kemarin ketemu." jawab Azra santai
"Ya namanya juga kangen,baru gak ketemu 5 menit aja bisa kangen apalagi udah sehari semalam."
"hahaha....Kamu udah makan?" tanya Azra
"Belum." dengan nada pura-pura kesal
"Ngambek ya? "
"Gak kok,siapa juga yang ngambek."
"Ya udah kalau gak,kenapa belum makan? Ini udah lewat jam makan siang lho."sambil melirik arloji yang terpasang di lengannya
"Tadi uang Nia habis untuk foto copy tugas-tugas kuliah yang numpuk. Jadi gak bisa beli makan siang." memasang wajah sedih
"Hhmmmm....Ya udah nanti kakak transfer buat kebutuhan kamu.Mana nomor rekeningnya?"
"Gak usah kak,Nia gak mau repotin kakak. Udah cukup kakak kasi tempat tinggal biat Nia dan ibu,Nia gak mau repotin kakak lagi."
"Siapa bilang ngerepotin? Kakak ikhlas kok. Kakak cuma gak mau kamu sampai terlantar kayak gitu. . Cepat berapa nomor rekeningnya udah itu kakak temenin kamu makan."
"Makasih ya kak! Kakak emang baik banget. Dari dulu kakak emang yang terbaik. Nomornya xxx xxx xxx."
Tring
pesan masuk
Transaksi sukses
"Udah,kamu cek nanti. Uangnya bisa kamu manfaatin buat kebutuhan sehari-hari kamu dan ibu kamu sama bayar kuliah.oke"
"Mudah banget ngerjain nih cowok."Rania
"Makasih banget ya kak." ucap Rania yang hanya diangguki oleh Azra
Mereka pun pergi menuju salah satu resto yang letaknya tak jauh dari kantor Azra.