Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Mulia
Dihalaman rumah yang megah, bergaya Amerika Clasik, suasana begitu hening. Berbeda dengan suasana rumah Ziara. Suasana yang selalu rame aktifitas penduduk. Saling bertegur sapa saat bertemu. Namun suasana sekarang begitu asing seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Ziara memandangi rumah itu hingga menongak keatas melihat megahnya rumah dihadapannya.
"Apa ini rumahmu?"
Raka menatap kedepan lurus, tangan dimasukan kantong celana. Cowok itu menyeringai namun tak menoleh. Ia tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Raka masuk ke rumah, tanpa memperdulikan Ziara masih mematung sana.
Handoko mempersilahkan, supaya nona barunya untuk masuk. Menyusul Raka ke dalam. "Silahkan, nona...." membungkuk mempersilahkan.
Ziara segera berjalan cepat mengikuti langkah Raka di belakang. Tiba-tiba cowok itu berhenti tiba-tiba. Membuat gadis yang bejalan cepat itu menabrak punggungnya yang kokoh.
"Kamu cari kesempatan, ya? Raka berbalik kearah Ziara. "Jangan mimpi, kamu bisa jadi istriku seutuhnya, simpan mimpimu itu. Dan jangan mencuri-curi mencium punggungku lagi!" Raka lalu berbalik melanjutkan berjalan menuju kamar.
Dasar cowok gila!
Ziara mengangkat tangan ingin mencakar, untuk meluapkan kekesalannya. Melihat Raka berjalan. Berwajah dingin dan angkuh bak seorang pangeran yang sombong.
"Heh! Dimana kamarku?!" Pekiknya, Raka terus saja menaiki tangga tidak menoleh.
"Ikuti saja aku!" ucapnya menghilang dari hadapan Ziara.
Ziara berjalan menaiki tangga menelusuri tangga melengkung itu untuk mencari dimana kamarnya. Hingga matanya tertuju ke pintu kayu coklat. Ia membuka pelan-pelan tapi pasti. Saat ia memasuki ruang kamar. Matanya membulat takjub, melihat ruang yang rapi dengan nuansa putih abu-abu.
Raka memeriksa file-file yang masuk, nampak serius di depan laptopnya. Saat melihat Ziara masuk, ia melirik dari balik layar laptobnya. "Kenapa? Wajahmu seperti orang bodoh!" Ucapnya menelan tawa, lalu kembali menatap layar.
"Bodoh?" Ziara mengerutkan alis, tangannya mengepal wajahnya memerah seperti kepiting rebus mengeluarkan asap. "Siapa yang bodoh, hah?!" pekiknya kesal. Namun tidak mendapat jawaban dari Raka.
Perasaan Ziara sedang kacau hari ini, ia dalam kondisi galau tingkat dewa. Bagaiman tidak dalam sekejab ia sudah menjadi istri orang pilihan sang Ayah. Dan harus mengubur rasa cintanya kepada Rio.
"Yang mulia, rumahmu sangat besar, tapi hanya ada pelayan di sini, dimana anggota keluargamu, yang lain?" Tanya Ziara berdiri dihadapan Raka.
Raka mengangkat kedua alisnya. Seperti ia mendengar nama panggilan yang aneh. Ia mengerjapkan mata. Ingin mendengar ulang panggilan tadi. "Kamu bilang apa, tadi?" Mencondongkan telinga kedepan. "Siapa yang mulia?" tanyanya.
"Memang siapa lagi?" Gumam Zaira tertawa menutup mulut dengan tangan. Tapi tiba-tiba ia mengingat sesuatu, tentang kuwajibannya tentang tugas seorang istri. Dimana harus memenuhi permintaan suami, untuk apa lagi, kalau bukan malam pertama seperti umumnya.
"Kenapa melihatku, begitu?" Tanya Raka, yang melihat Ziara tiba-tiba diam menatapnya nampak gugup dan takut setelah tertawa tadi.
"Enggak, aku hanya ... ingin cepat mandi dan ganti pakaian, lalu tidur,"
"Kamar mandi disebelah sana, kamu bisa melihat, kan?" Ucap Raka lalu ia beranjak membawa laptopnya pergi keluar. Ia tau Ziara canggung, saat akan melepas kebaya yang ia kenakan. Cowok itu keluar menuju ruang kerjannya.
"Dasar wanita aneh!" gumamnya saat tiba di ruang kerja, menyelsaikan pekerjaan yang belum usai. "Menikah dengannya seperti kutukan untuku." Cowok itu mulai konsentrasi menatap layar.
Ia mencari sesuatu, ada yang tertinggal ternyata. Flash disk lupa ia bawa saat pergi tadi. Raka segera pergi menuju kamar untuk mengambilnya.
Saat membuka pintu dengan cepat menuju meja tempat tertinggalnya tadi. Tanpa melihat sekekelilingnya. Saat cowok itu sudah menemukannya. Ia berbalik akan kembali, namun apa yang terjadi?
Ziara teriak kencang, membuat Raka seketika membalik badan. Ia melihat pemandangan elok nan indah dipandang mata.
"Lain kali jangan lupa kunci pintu!" Ucap Raka masih membalik tubuh. Ziara segera mengenakan pakaiannya kembali.
"A—ku, enggak tau kalau kamu disini," ucapnya menunduk malu, sambil merapikan baju.
"Kamu sengaja ya? Supaya aku tertarik untuk menidurimu!" Bibir Raka menyeringai. "Jangan mimpi!" Bisiknya di dekat telinga Ziara, lalu ia kembali keluar.
"Dasar orang aneh!" kata Ziara tak terima, disamakan dengan wanita penghibur, yang Raka sering temui di club.
Dia pikir aku wanita apa? Menggoda-goda supaya mau tidur dengannya. Menikah dengannya saja suatu kutukan bagiku. Dia berbeda dengan Rioku.
"Sayang kamu dimana? Aku kangen." Ziara mengusap air mata yang mengalir. Ia mengingat lagi kekasihnya. Meraih ponsel mencoba menghubunginya, dia tau ini salah. Tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya. Tidak mudah membuang perasaannya begitu saja.
Namun sampai saat ini Rio belum juga bisa di hubungi, kekhawatiran gadis itu bertambah. Takut kejadian buruk menimpa kekasihnya. Karna beberapa hari ini ia menghilang tanpa kabar.
❣️Jangan lupa Like, Love, Vote, kalau kalian sukak. Nantikan cerita selanjutnya ❣️