NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Interogasi Panas

Hening merayap diantara kedua manusia disana. Wanita itu diam karena masih sibuk dengan pikiran liarnya, sedangan sosok lelaki dihadapannya tampak dengan santai memegang handle pintu serta satu tangannya berada dalam saku sambil menelisik penampilan si wanita.

"Kamu belum dapat baju seragam pelayan?"

Nada bariton terdengar dari entitas yang sejak tadi tak henti Sarah pandangi. Sontak, Sarah mengerjapkan mata karena merasa cukup terkejut. Bahkan ia baru sadar bahwa sedari tadi dirinya memperhatikan lekat Bagas Aryanaka dengan pandangan mesumnya. "Aissh, bisa-bisanya aku malah jadi bergairah begini. Semoga dia gak sadar deh," rutuk Sarah dalam hati.

Telah kembali dari lamunan kotornya, Sarah pun menanggapi apa yang sebelumnya sang tuan tanyakan. "O-ohh i-ya tuan, ka-kat-ta bik Umi seragamnya baru ada besok."

Bagas mengerutkan kening sebentar lalu mengubah mimik wajahnya menjadi datar kembali. Kemudian terlihat dengan samar sebelah alisnya terangkat, pertanda terdapat hal membingungkan di dalam kepalanya saat mendengar jawaban dari si pembantu baru kediaman Aryanaka itu.

Bukan perkara pakaian pelayan yang katanya baru datang besok. Tetapi ia menyoroti sikap gugup wanita bernama Thalia tersebut. Ia merasa hanya bertanya sekedar baju pelayan, namun mengapa Thalia menjawab dengan agak panik dan terbata-bata? Apakah ada hal lain yang sedang dipikirkan? Atau ia yang terlalu menakutkan?

"Ck, sudahlah tidak penting." gumam Bagas pelan. Namun ternyata masih mampu didengar oleh Sarah disana.

"Ah bagaimana tuan? Tuan berbicara kepada saya?

Bagas mengerjapkan mata. Tak sadar gumaman nya terdengar ditelinga si pembantu baru itu. Merasa tak ada gunanya untuk menanggapi pertanyaan yang terlontar dari Thalia, Bagas pun dengan santainya masuk ke ruangan kembali dengan tetap membiarkan pintu terbuka dan mempersilakan Thalia masuk untuk meletakan minuman yang ia pesan.

"Letakan di meja dekat jendela itu. Setelahnya duduk di sofa ini. Ada yang ingin saya bicarakan," titah Bagas sambil mendaratkan bokongnya pada sofa empuk berwarna abu disana.

"Baik tuan," balas Sarah patuh dan bergegas melaksanakan perintah.

Setelah meletakkan perasan lemon kesukaan Bagas Aryanaka di atas meja dekat jendela, Sarah pun membalikkan badan untuk segera menuju ke tempat dimana Bagas menunggunya. Namun, baru saja berbalik, ia terkesiap dan seketika saja langsung menahan napas, karena disana---hanya terbentang jarak beberapa langkah saja, Bagas Aryanaka kembali memamerkan keindahan tubuhnya. Pria itu duduk santai sambil menyandarkan punggungnya pada sofa dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Tampak sangat jelas urat-urat kuat dan pahatan otot perut berjumlah delapan yang semakin menunjukkan sisi maskulin dari lelaki tersebut.

Selain daripada itu, yang paling membuat Sarah menjadi salah fokus adalah bagian menonjol dibagian bawah yang tertutup celana hitam disana. Sungguh tampak besar dan menggoda. Padahal ia yakin benda itu belum terbangun, tapi kenapa sudah kelihatan sebesar itu? Sampai saat ini ia tak percaya bahwa benda itulah yang menerobos ke dalam dirinya hingga menghasilkan buah hati mereka.

"Aduh aku berpikir apa sih. Tidak-tidak. Aku kesini karena punya rencana, bukan untuk jatuh ke dalam lubang yang sama," ucap Sarah dalam benaknya sambil menggelengkan kepala yang akhirnya membuat Bagas keheranan."Ck, agak gila rupanya," pikir Bagas sekenanya saat melihat tingkah aneh Thalia.

Masih dengan posisi dan gaya santainya, Bagas menunggu si pembantu baru itu mendekat kearahnya. Sambil menggigit bibir bawah dengan tangan saling menggenggam---Sarah perlahan berjalan, kemudian duduk dihadapan sang tuan.

"Ja-jadi apa yang ingin tuan bicarakan dengan saya?"

Lagi-lagi gugup dan gagap. Apakah memang seperti ini karakteristik Thalia? Bahkan agak sedikit gila pula. Aissh, jika saja bukan karena keinginan sang bunda untuk membalas budi, Bagas tidak akan langsung setuju mempekerjakan Thalia disini.

Memang seharusnya untuk menjadi pembantu di kediaman Aryanaka, seseorang harus melewati beberapa tahap seleksi yang tidak sembarangan. Sejak dua tahun lalu semua pelayan lama telah diberhentikan, dan Nyonya Aryanaka sendiri lah yang akan memilih diantara para pelamar, baru kemudian mendapatkan persetujuan Bagas.

Entah mengapa sejak kecelakaan yang menimpanya, sang Bunda terkesan semakin hati-hati dan sedikit mengubah sistem peraturan rumah tangga di kediaman Aryanaka. Bagas pun tidak perduli, semua ia serahkan kepada ibunya yang memang senang mengurusi hal itu. Akan tetapi untuk si pembantu baru bernama Thalia ini, sepertinya Bagas harus sedikit mengenyahkan ketidakperduliannya karena ia sedikit merasa curiga.

"Nama panjang kamu siapa?" tanya Bagas tiba-tiba.

Dengan berusaha tenang, Sarah yang menyamar sebagai Thalia itu pun merespon dengan sopan. "Hanya Thalia tuan."

Mengangguk pelan, Bagas kembali menginterogasi wanita dihadapannya itu. "Bagaimana kamu bertemu dengan Bunda saya?"

Sudah Sarah duga, Bagas Aryanaka tidak akan mudah percaya begitu saja. Untungnya Rania sudah menyiapkan skenario dengan matang, sehingga Sarah pun tidak akan kebingungan menghadapi kecurigaan Bagas kepadanya.

"Saya saat itu baru saja pulang dari mencari kerja. Saat saya melewati sungai yang cukup besar di daerah dekat tempat kost, saya melihat ada dua orang dengan penutup wajah sedang membuang karung besar tuan. Saya kira itu sampah, tapi ketika karung itu langsung tenggelam, saya agak curiga, akhirnya saya mendekat dan ternyata terlihat disana bentuk tubuh manusia. Tanpa pikir panjang saya berenang untuk menolongnya, tuan," jelas Sarah panjang.

"Lalu, kemana dua orang yang kamu lihat itu?

Sarah menggeleng pelan, "Saya tidak tahu tuan, setelah melakukan aksinya, mereka langsung berlari."

Begitukah? Bagas ingin percaya, namun mengapa ada dari sebagian hatinya yang berteriak bahwa ada kejanggalan disana?

Walaupun sudah dijelaskan, Sarah dapat melihat tatapan Bagas yang masih skeptis kepadanya. Ia pun hanya bisa menunduk, berusaha menyembunyikan getar di matanya. Udara di ruangan itu terasa semakin pekat, seolah hanya ada mereka berdua yang bernapas. Sementara Bagas, dengan sorot mata yang sulit ditebak, masih menatapnya dalam diam.

“Jadi… itu alasan kamu bisa bertemu Bunda,” ucap Bagas akhirnya, suaranya rendah tetapi mengandung adanya tekanan. “Kamu tidak takut waktu itu?”

Sarah mengangkat wajahnya pelan. “Saya tidak sempat memikirkan takut, Tuan. Saya hanya berpikir... seseorang sedang butuh pertolongan.”

Tatapan mereka menjadi bertaut lama. Ada sesuatu di balik pandangan Bagas yang membuat dada Sarah berdebar lebih cepat dari biasanya. Tatapan yang sama seperti dulu, sebelum segalanya berubah. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Hemm ya sudah. Kalau begitu kamu boleh pergi," ujar Bagas walaupun belum puas dengan informasi yang ia dapatkan.

Sarah diam-diam bernapas lega dan segera pamit dari sana, namun saat hendak menuju pintu, tanpa sengaja ujung rok panjang yang dikenakannya malah tersangkut kaki meja kecil di dekat sofa.

“Ah---!” serunya pelan. Badannya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke pangkuan tuannya. Sebuah tangan kuat menahan tubuhnya dan melingkar pada pinggang kecilnya.

Refleks, Sarah menatap ke arah Bagas. Jarak di antara mereka hanya sehelai napas. Aroma parfum maskulin yang selama ini ia kenal menyusup begitu saja ke inderanya. Hangat, kuat, dan terlalu familiar.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Bagas berbisik lembut.

Sarah menelan ludah. “I-ya, maaf, saya tidak sengaja…”

Tangan Bagas masih memeluk pinggang Sarah erat. Jemarinya besar, tapi sentuhannya terasa lembut. Sejenak, waktu seperti berhenti di antara mereka. Tak ada kata-kata, hanya bunyi napas yang saling beradu di udara.

Dalam jarak sedekat itu, Sarah bisa melihat jelas garis rahang tajam Bagas, tatapan tajam yang kini justru terasa menenangkan, dan kilatan emosi yang entah antara rindu atau amarah.

Sementara Bagas tanpa sadar mendapati dirinya terpaku. Ada sesuatu di mata Thalia… sesuatu yang anehnya terasa begitu dikenal. Seolah ia pernah tenggelam dalam tatapan itu, entah di mana dan kapan.

“Terima kasih, tuan,” ucap Sarah akhirnya, pelan dan nyaris bergetar. Ia mencoba menarik dirinya, namun Bagas belum juga melepaskannya.

“Berhati-hatilah lain kali,” katanya datar, namun suara itu seperti mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan. Dan ketika Sarah perlahan berpaling dan hendak berdiri, Wajah Bagas kian mendekat, semakin mengeratkan genggaman pada tubuhnya, dan menatap tajam seolah tak rela.

Dalam jarak sedemikian dekat, Sarah menahan napas. Ia tahu seharusnya tidak boleh lagi membiarkan dirinya terbawa perasaan, tetapi tanpa sadar matanya terasa panas dan hati kecilnya berbisik,“Kenapa tatapan itu masih sama seperti dulu?”

1
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!