NovelToon NovelToon
Mandala Yin Yang

Mandala Yin Yang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi Timur / Romansa / Penyelamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Tian Xuan

Che Tian, seorang Saint terkuat di alam dewa, kecewa ketika kekasihnya, Yuechan, direbut oleh Taiqing, penguasa alam dewa yang dipilih oleh Leluhur Dao. Merasa dihina, Che Tian menantang Taiqing dan dihukum, diturunkan ke bumi untuk mencari kekuatan yang lebih besar. Dengan senjata sakti, Mandala Yin Yang dan Kipas Yin Yang, Che Tian membangun kekuatan baru dan mengumpulkan murid-murid yang setia. Dalam perjalanannya, ia menghadapi pengkhianatan dan rahasia alam semesta, sambil memilih apakah akan membalas dendam atau membawa keseimbangan yang lebih besar bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tian Xuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pertemuan yang Tak Terduga

Di arena, suara dentuman keras menggema.

Puluhan peserta yang tadi mengancam Che Tian kini terkapar di luar arena, tubuh mereka terluka parah akibat satu kibasan kipasnya saja.

Angin yang ditimbulkan oleh gerakannya cukup untuk menyapu habis semua lawan dalam sekejap.

Suasana menjadi hening.

Para penonton menahan napas, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bahkan para juri yang mengawasi pertandingan pun terdiam, seolah sulit memproses kejadian itu.

Che Tian hanya berdiri diam, memandang mereka semua dengan ekspresi datar. Dengan suara pelan namun penuh tekanan, ia berkata,

"Terlalu lemah."

Hanya dua kata, namun cukup untuk menusuk harga diri semua yang mendengarnya.

Ia lalu menutup kipasnya dengan santai dan berdiri menunggu pertandingan lain selesai.

 

Di Kediaman Keluarga Ye

Di sisi lain, beberapa anggota Keluarga Ye yang menyaksikan adegan itu dari jauh benar-benar terpukau.

Salah satunya adalah Ye Mo.

Gadis itu merasa jantungnya berdebar cepat. Ia tak menyangka ada orang sekuat ini di turnamen keluarganya.

Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju kediaman keluarganya.

 

Setelah melewati beberapa aula, akhirnya ia sampai di ruang utama tempat ayahnya berada.

Namun, begitu memasuki aula, pemandangan yang ia lihat membuatnya terkejut.

Ayahnya, Kepala Keluarga Ye, terlihat duduk lemas di kursinya.

"Ayah!" Ye Mo segera mendekat dengan cemas.

Pria tua itu mengangkat kepalanya dan tersenyum lemah.

"Ada apa, Mo'er?" tanyanya dengan suara lelah.

Ye Mo menenangkan diri lalu mulai menceritakan apa yang baru saja ia lihat di turnamen.

"Ayah, tadi aku melihat seseorang... Dia sangat kuat! Dengan satu kibasan kipas, dia menghancurkan semua lawannya dalam sekejap!"

Mendengar itu, mata kepala keluarga Ye langsung bersinar penuh semangat.

"Apa katamu?! Satu kibasan kipas?"

Ye Mo mengangguk antusias.

"Ya! Dia juga memiliki sesuatu yang unik di punggungnya. Aku belum pernah melihat orang sehebat itu di generasi kita!"

Kepala Keluarga Ye yang tadinya lemah mendadak tampak lebih bersemangat.

Ia menatap putrinya dengan ekspresi serius, lalu bertanya,

"Kalau orang ini memang menang... Apakah kau siap dinikahkan dengannya?"

Ye Mo terdiam sesaat, namun tanpa berpikir panjang, ia mengangguk.

Melihat hal itu, kepala keluarga Ye tersenyum puas.

"Bagus... Bagus sekali! Aku ingin melihatnya sendiri!" katanya sambil berusaha bangkit.

Ye Mo segera membantu ayahnya berdiri, namun tepat saat mereka hendak keluar, beberapa anggota keluarga Ye lainnya tiba-tiba masuk ke aula.

Mereka adalah rombongan yang baru kembali dari mencari bahan obat.

Melihat mereka, kepala keluarga Ye semakin gembira.

Ia segera menghampiri mereka dan bertanya pada anak perempuannya yang ikut dalam pencarian,

"Bagaimana? Apakah kalian berhasil mendapatkan Inti Serigala Malam Hitam?"

Gadis itu, yang merupakan adik Ye Mo, mengangguk meskipun ekspresinya sedikit bingung.

"Kami hampir gagal, Ayah. Serigala itu sangat kuat, dan kami tidak yakin bisa mengalahkannya..."

"Tapi kemudian... seseorang muncul dan mengalahkannya hanya dengan satu kibasan kipas!"

Begitu mendengar kata "kibasan kipas", kepala keluarga Ye dan Ye Mo langsung teringat pada orang yang tadi Ye Mo ceritakan.

Mereka saling berpandangan sebelum berkata bersamaan,

"Mungkinkah itu dia?"

Kepala keluarga Ye dengan cepat bertanya pada anaknya,

"Di mana orang itu sekarang?"

Gadis itu berpikir sejenak sebelum menjawab,

"Terakhir kali kami melihatnya, dia berada di kota. Setelah itu, dia langsung pergi."

Kepala keluarga Ye semakin yakin bahwa ini bukan kebetulan.

Dengan penuh semangat, ia berkata,

"Kita harus segera pergi ke arena! Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"

Ye Mo, adiknya, dan beberapa anggota keluarga lainnya segera membantu kepala keluarga menuju tempat turnamen berlangsung.

 

Di Arena Turnamen

Begitu mereka tiba di area pertandingan, pemandangan yang mereka lihat langsung membuat mereka terdiam.

Di sana, berdiri seorang pria dengan pakaian hitam, mengenakan topeng polos tanpa motif.

Namun yang paling mencolok adalah sesuatu yang unik yang berputar di belakangnya.

Aura yang terpancar darinya begitu kuat, membuat siapa pun yang mendekat merasa tertekan.

Ye Mo dan adiknya menatap pria itu dengan mata membesar.

Sementara kepala keluarga Ye menggenggam tangannya erat, hatinya penuh harapan.

Namun, di saat itu—

Che Tian menoleh dan menatap mereka.

Mata Che Tian tiba-tiba tertuju pada salah satu gadis di antara mereka.

Ekspresi terkejut muncul di wajahnya.

Gadis itu terlihat sangat akrab.

Ia mengingat wajah itu dengan jelas.

Dalam sekejap, Che Tian tersenyum dan berkata,

"Oh... Ternyata kita bertemu lagi."

Dimulainya Babak Kedua

Seorang pria tua berjubah putih, salah satu juri utama turnamen, melangkah ke tengah arena dan mengumumkan,

"Babak kedua akan segera dimulai!"

Penonton yang sempat terpana langsung bersorak, kembali bersemangat.

"Pada babak ini, kalian tidak akan melawan sesama peserta," lanjut sang juri.

"Sebagai gantinya, kalian harus menghadapi Binatang Buas Keluarga Ye. Hanya yang mampu bertahan hingga akhir yang berhak melanjutkan ke babak final!"

Mendengar itu, ekspresi beberapa peserta langsung berubah.

"Binatang Buas Keluarga Ye?!"

"Itu bukan sembarang binatang buas... Mereka memiliki kekuatan yang bahkan bisa mengancam para ahli tingkat tinggi!"

Beberapa peserta terlihat ragu.

Namun, Che Tian tetap tenang, hanya melirik sekilas ke arah juri.

Di sisi lain, Ye Mo tersenyum sambil berbisik pada ayahnya,

"Ayah, bagaimana kalau kita mengeluarkan Raja Serigala Api kali ini?"

Kepala keluarga Ye terkejut mendengar usulan itu, namun setelah memikirkan kembali kekuatan Che Tian, ia akhirnya mengangguk.

"Baik. Ini akan menjadi ujian yang sesungguhnya."

Dengan keputusan itu, salah satu tetua keluarga Ye segera bergerak.

Tak lama kemudian, gerbang raksasa di salah satu sisi arena terbuka.

Suara langkah kaki berat bergema, diiringi oleh hawa panas yang menyengat.

Sebuah sosok besar muncul dari balik bayangan gerbang.

Seekor serigala raksasa dengan bulu berwarna merah menyala, matanya memancarkan api yang berkobar, dan aura buas yang menekan semua orang di arena.

"Awoooooo—!!"

Raungan menggema di seluruh kota, membuat beberapa peserta mundur selangkah karena ketakutan.

"Itu... Raja Serigala Api!"

"Sial, kenapa mereka mengeluarkan binatang sekuat itu di babak kedua?!"

Beberapa peserta bahkan langsung mempertimbangkan untuk mundur.

Namun, di tengah kegaduhan itu, hanya satu orang yang tetap berdiri dengan ekspresi tenang.

Che Tian.

Ia mengamati serigala raksasa itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi, seolah binatang buas itu hanyalah makhluk kecil yang tak berarti.

Melihat itu, kepala keluarga Ye makin tertarik.

"Apakah dia benar-benar sehebat yang kita kira?" gumamnya.

Ye Mo hanya tersenyum tipis.

"Kalau dia bisa mengalahkan Raja Serigala Api dengan satu kibasan kipas... maka aku tidak akan ragu lagi."

Di saat itu, juri kembali berbicara,

"Dimulai dalam hitungan tiga... dua... satu... Bertarunglah!"

Serigala Api langsung bergerak.

Dengan satu loncatan, ia melesat ke arah Che Tian, cakarnya yang berapi-api siap mencabik tubuhnya.

Penonton menahan napas.

Namun—

"Wush!"

Che Tian hanya mengangkat kipasnya sedikit.

Dalam sekejap, hembusan angin tajam melesat dari kipasnya.

Udara di sekitar arena bergetar hebat.

"BOOM!"

Dalam satu serangan singkat, tubuh serigala raksasa itu terhempas keras ke belakang, menghantam dinding arena dan langsung tak sadarkan diri.

Hening.

Seluruh arena terdiam.

Mulut para penonton menganga tak percaya.

Keluarga Ye yang awalnya ingin menguji Che Tian pun terdiam membeku.

Sementara itu, Ye Mo yang menyaksikan pemandangan itu tersenyum puas.

Ia menatap sosok pria bertopeng itu dengan mata berbinar dan berbisik pelan,

"Sepertinya aku sudah tahu siapa yang akan menjadi suamiku nanti."

---Tamat bab 9---

Kipas Yin Yang ☯️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!