Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Sevim melihat Ahimsa yang sedang menikmati makan malam. Pria itu nampak biasa saja, seperti tidak ada beban dalam hidupnya. Kepala Sevim saja rasanya sudah mau pecah, saat tadi kakek Adiguna memberi peringatan kepada mereka berdua. Haruskah pernikahan yang awalnya disetujui dengan kesepakatan harus dijalani dengan pernikahan yang sesungguhnya? Bisakah?
" Him..",
" Hmmmm",
" Kita harus gimana? "
" Maksudnya? "
" Kamu kok bisa tenang gitu..",
" Mau gimana lagi, kita sudah terlanjur bilang kalo kita setuju sama perjodohan ini kan?"
" Terus..?"
" Ya udah, terima saja",
" Tapi kakek Adi pengen kita punya anak, terus gimana?"
" Ya udah, kita kasih kakek cicit. Apa susahnya? "
" Dih...kebiasaan ", Sevim memukul Ahimsa dengan tasnya.
" Aduh..Se...ampun, sakit tau nggak..",
" Abisnya..diajak serius malah kamu bercanda",
" Aku serius Se.., kita nikah terus punya anak, enough"
" Enak ya kamu ngomong gitu..terus imbalan buat aku gimana? Kamu jangan mikir enaknya aja dong.."
" Aku tetep akan bantu kamu, tapi kasih aku anak.."
" Setelah punya anak?"
" Kasih anak itu ke aku. Kamu masih bisa kan ke London lanjutin kuliah.."
" Mana bisa..dia kan anakku juga. Nggak bisa..",
" Kamu maunya gimana? ya udah, kamu bawa anak kita ke London, boleh. Aku tetep bisa ngawasin dia..",
" Him..nggak ada ya jalan keluarnya?"
" Buntu, aku udah nggak bisa mikir Se.."
" Terus gimana?"
" Kita nikah, terus aku bikin kamu hamil secepatnya. Setelah anak itu lahir, jabatan Presdir udah aku genggam. Dan, aku akan bantu kamu. Mengenai anak kita, nanti bisa dipikir lagi..kita bisa rawat dia sama-sama ",
" Enak ya jadi laki-laki. Kamu tau nggak aku sempet mikir. Setelah kita pisah, seenggaknya aku tuh jadi janda ting-ting, yang belum kesentuh. Kalau kayak gini, udah jadi janda, punya anak pula. Siapa coba yang mau sama aku?
" Se..kamu bisa buat surat perjanjiannya. Aku pasti akan menyetujui isinya, yang penting kita nikah dan punya anak. Setelah itu kita pisah, kecuali..."
" Apa?"
" Kalau tiba-tiba kita saling jatuh cinta, berarti perjanjian itu batal"
" Pernikahan itu bukan permainan Him.."
" Aku tau, apa kamu nggak mau buka hati kamu buat aku Se? Kita coba sama-sama..",
" Kamu ngomong kayak gitu karena frustasi?",
" Kita nggak bisa menghindar Se, kita hadapi sama-sama. Please, terima ya perjodohan ini. Kamu tolong aku dan aku akan tolong kamu",
Sevim berpikir, memang ini satu-satu jalan untuknya untuk mewujudkan impiannya. Hanya Ahimsa yang bisa membantunya, apalagi jika dia sudah resmi menyandang seorang Presdir. Ahimsa juga mempunyai kuasa penuh, tentu akan lebih mempermudah langkahnya untuk membantu Sevim.
" Oke.., aku terima. Tapi, setelah aku hamil dan melahirkan kita pisah.."
" Oke..deal.."
" Kamu nggak ada hak buat ikut campur urusanku, dan aku nggak akan ikut campur urusan pribadi mu "
Sevim bodoh..apakah dia tidak menyadari jika kesepakatan yang mereka buat, nantinya akan membuat Sevim menjadi pihak yang dirugikan? Sevim memang polos, dia terlalu terobsesi untuk mewujudkan cita-citanya. Hingga dia lupa, jika ada hati yang harus dia jaga. Hati siapa? tentunya hati Sevim sendiri.
" Kamu makan ya. Daritadi kamu cuma liatin aku aja.., apa kamu terpesona sama wajahku?" goda Ahimsa.
" Dih...Geer banget sih.." ucapnya sambil mencubit perut Ahimsa.
" Aduh...Se...sakit..",
" Biarin.."
" Kamu kenapa sih hobinya mukulin aku.."
" Bodo..sapa suruh nyebelin..",
Suasana sudah mencair, Sevim pun sudah terlihat tenang, sudah tidak lagi memasang wajah tegang seperti tadi.
Sepasang mata sedari tadi mengamati gerak-gerik Ahimsa dan Sevim dari kejauhan. Sedari tadi dia menahannya, untuk tidak menganggu momen kebersamaan mereka. Namun, kali ini dia sudah tidak tahan. Apalagi, dilihatnya Ahimsa dan Sevim nampak bercanda. Mereka berdua tertawa bersama, entah apa yang mereka bicarakan.Yang jelas, dia merasa tidak senang, hingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui Ahimsa dan Sevim. Emosinya sudah memuncak, dia cemburu melihat kedekatan Sevim dengan kekasihnya.
Brakkkk...
Perempuan sexy itu menggebrak meja dengan tiba-tiba membuat Sevim yang sedang meneguk minumannya, kaget. Untungnya Sevim tidak sampai tersedak.
" Oh..jadi gini ya Beb..kamu nolak makan sama aku, tapi kamu jalan sama perempuan lain.."
" Ros..., tenang. Kamu jangan bikin keributan disini..",
" Aku nggak peduli,, aku marah sama kamu. Heh, perempuan ganjen, murahan..mau-maunya jalan sama pacar orang, nggak laku?",
Sevim masih diam. Dia merasa ini bukan urusannya. Ahimsa yang mengajaknya kesini, lagi pula barusan dia hanya membahas hal penting yang menyangkut masa depannya.
" Cukup Ros..kita bisa bicara baik-baik"
" Dasar jal*ang", ucap Rosy lagi, dia menyiramkan segelas air ke arah Sevim.
" Aaaahhhh..", Sevim berteriak atasan yang dia kenakan basah .
Plakkkk....
Tanpa diduga, Ahima menampar pipi Rosy yang sudah bertindak kurang ajar dan tidak punya sopan santun. Mulut Rosy juga barusan telah merendahkan harga diri Sevim. Ahimsa merasa kecemburuan Rosy sangat berlebihan.
" Kenapa kamu tampar aku beb, hanya gara-gara perempuan ini?"
" Him..aku permisi ke toilet..", Sevim pergi dari hadapan Ahimsa dan Rosy yang sedang bertengkar.
" Perlu aku temani Se?"
" Beb..kita belum selesai..", kata Rosy sambil mencengkal lengan Ahimsa yang hendak menyusul Sevim.
" Mau kamu apa sih? Kamu tau nggak, bodyguard ku bisa aja ngelaporin kejadian ini sama kakek. Dan kamu tau apa yang terjadi nanti? Kakek pasti tambah menentang hubungan kita. Perempuan tadi, namanya Sevim. Dia calon istriku, dan kamu tau jika nanti dia bilang kejadian ini sama kakek atau keluarganya? Aku nggak akan pernah bisa jadi Presdir dan jika itu terjadi sampai kapanpun aku nggak akan pernah maafin kamu. Perbuatan kamu barusan itu kampungan", Ahimsa marah besar, baru pertama kali ini dia berbicara dengan nada tinggi kepada kekasihnya.
" Beb..aku minta maaf..",Rosy yang tadinya tersulut emosi, langsung berbalik meminta maaf pada Ahimsa. Sebelumnya Ahimsa memang sudah bercerita jika dia akan menjalani pernikahan pura-pura.
" Lebih baik kamu pulang..", ucapnya berlalu meninggalkan Rosy yang tengah berdiri mematung. Ahimsa menyusul Sevim yang tadi meminta izin untuk membersihkan bajunya yang basah karena minuman.
" Hiks hiks hiks..Mama.., kenapa jadi gini. Sevim nggak mau dicap perebut kekasih orang..Hiks hiks..", Sevim menangis karena mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari kekasih Ahimsa. Sevim tidak salah, tidak ada yang ingin merebut Ahimsa dari Rosy. Sevim hanya menerima perjodohan yang sudah keluarganya susun. Perjodohan yang sama-sama akan memberikan keuntungan bagi Ahimsa dan Sevim.
Tok..tok..tok..
" Se...kamu nggak apa-apa kan?", tanya Ahimsa dibalik pintu.
Sevim langsung menyeka air matanya. Dia tidak ingin Ahimsa melihat jika Sevim baru saja menangis.
" Iya..bentar..",
Setelah merapikan penampilannya, Sevim keluar dari toilet.
" Kamu nggak apa-apa kan? ", tanya Ahimsa sedikit khawatir.
" Nggak apa-apa..",
" Kamu habis nangis? "
" Hmm, enggak..kok..",
" Kenapa mata kamu merah? "
" Kelilipan.."
" Make up kamu kok luntur?"
" Hmm, aku nggak pake make up waterproof. Kena air tadi Him.."
Ahimsa tau Sevim berbohong. Dia tau betul jika Sevim memang terlihat habis menangis. Namun, gadis itu mungkin tidak mau menunjukkan kepada Ahimsa.
" Kamu pake ini ya..", Ahimsa langsung menutupi bagian atas tubuh Sevim yang basah dengan jas nya.
" Aku nggak apa-apa kok Him.."
" Kita pulang..",
Sevim hanya diam saat berada di dalam mobil, mungkin dia masih shock karena merasa dipermalukan. Apalagi, tadi orang-orang yang berada di Cafe melihat ke arahnya.
" Se..kamu kenapa? "
" Takut mama papa marah..aku pulang selarut ini Him..",
Jam masih belum genap menunjukkan pukul 10 malam, tapi gadis yang berada disampingnya barusan berkata jika hari sudah larut malam. Ahimsa hanya tersenyum, Sevim memang polos. Benar apa yang kakek katakan selama ini.
" Aku udah izin sama om tante..kamu nggak usah khawatir"
Sevim mengangguk pelan. Dia berusaha untuk menunjukkan jika keadaannya baik-baik saja. Namun, Ahimsa bukan laki-laki bodoh, dia tau jika Sevim merasa tidak nyaman.
" Maaf untuk yang tadi ya",
" Aku yang salah.."
" Rosy memang pacarku, tapi apa yang dia lakukan tadi itu salah, aku nggak suka"
" Dia mungkin cemburu Him.."
" Iya aku tau, tapi seharusnya dia nggak seemosi tadi. Kita bisa bicara baik-baik.."
" Hmmm ",
Saat ini mereka sudah tiba di kediaman Sevim. Ahimsa merasa iba, dia tidak tega untuk membangunkan Sevim yang sudah terlelap di kursi penumpang. Ahimsa memandang wajah Sevim yang tengah tertidur. Teduh dan menenangkan.
" Cantik..", ucap Ahimsa.
Ahimsa memutuskan untuk menggendong Sevim masuk ke dalam rumahnya. Sebelumnya, dia meminta bantuan bodyguardnya untuk membantunya memencet bel rumah Sevim.
" Loh..Sevim tidur ya Aa'.." ucap mama.
" Iya tan..mungkin kecapekan. Maaf ya tan, kita pulang terlambat",
" Iya nggak apa-apa. Langsung bawa Sevim ke kamarnya aja Aa'.."
Dengan dipandu Mama, Ahimsa membawa Sevim ke dalam kamarnya yang terletak di lantai 2. Ahimsa bisa menilai jika Sevim adalah perempuan yang simple. Bisa dilihat saat Ahimsa memasuki kamar Sevim yang berdesign minimalis. Sangat berbeda dengan keadaan rumah Sevim yang terlihat sangat mewah.
" Tante..Himsa pamit dulu",
" Iya..makasih ya Aa'..Tante seneng loh akhirnya ada laki-laki yang dateng kerumah.."
" Sebelumnya nggak ada tan? "
" Mana mungkin Sevim berani. Papanya melarang keras dia pacaran",
" Himsa laki-laki pertama buat dia ya tan.."
" Iya dong Aa'.., tante seneng kalian terima perjodohan ini. Bahagiain Sevim ya Aa'..jangan disakitin. Sevim anak perempuan tante satu-satunya..",
" Iya tante..",
Ahimsa merasa bersalah, bagaimana jika mama Sevim itu tau jika baru saja Ahimsa sudah menyakiti hati Sevim. Bukan Ahimsa memang yang melakukannya, tapi Rosy. Tapi Sevim mendapat perlakuan buruk dari Rosy , semua gara-gara Ahimsa, dialah pemicunya. Ahimsa merasa mempunyai beban, keluarga Sevim sudah mempercayakan anak perempuannya kepadanya. Tetapi, Ahimsa malah jahat. Dia menikahi Sevim karena hanya ingin memanfaatkan keadaan Sevim. Gadis itu satu-satunya kunci bagi Ahimsa untuk mendapatkan jabatan yang memang seharusnya menjadi miliknya.
Menurut reader gimana? Ahimsa baik karena dia mulai tertarik sama Sevim, atau hanya karena Sevim itu kesayangan kakeknya ?
Sevim lemah , kayaknya dia kudu cepat dipertemukan sama Aira Farah biar diajarin jadi perempuan strong.
Next episode ya , disini akan Author ceritakan awal mulanya Sevim bisa ketemu sama Aira dan Farah.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl