Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pedang Naga
Hiragi dan Harui pergi menuju Kota bersama, Harui berkata akan mengunjungi suatu tempat, jadi Hiragi mengikutinya sesuai kemauan Harui. Sementara Harui memperbolehkan Hiragi untuk menempati kamarnya.
Jika diucapkan dengan kata-kata zaman sekarang, mereka berdua sangat serasi, seperti bintang malam yang berjalan. Rambut panjang Blue Dark milik Hiragi banyak yang mengaguminya, warna mata yang senada dengan rambutnya itu membuatnya unik.
Kalau Harui memiliki rambut hitam pekat serta badan yang atletis dan tinggi, warna matanya hitam samar-samar sama bentuk seperti Hiragi namun yang membedakan hanya warnanya saja.
Setelah itu mereka sampai di tujuan. Yaitu tempat peralatan senjata.
Hiragi yang menyadari ada kenalan langsung menegurnya.
"Hai Paman!" Teriak ceria Hiragi berlari menuju paman pembuat senjata itu.
Lupa? Tentu saja tidak, Paman itu masih mengingat jelas kejadian hari itu, karena dialah yang menolong Hiragi.
"Tuan Muda Harui kau datang juga, silahkan kalian duduk dulu, aku akan menghampiri kalian dalam lima menit lagi." Ucap Paman itu dan langsung pergi.
"Sejujurnya mau apa dia membawaku kesini." Batin Hiragi.
Luka Hiragi memang bisa dikatakan sembuh karena telah melewati beberapa kali pengobatan tanpa adanya pertikaian di antara mereka berdua.
"Harui kau-"
"Bi Mina minuman dua, yang satunya jus saja." Ucapnya memotong perkataan Hiragi.
"Hei!" Hiragi menggebrak meja dengan sedikit keras.
"Kau akan tahu nanti." Ucap Harui datar.
Tak lama kemudian paman yang tadi muncul, dan menuju ke arah meja Harui dan Hiragi.
"Ada apa dengan pedangmu? Apa ada yang bermasalah? Tanya paman itu. Lalu melirik ke arah Hiragi yang diam beku.
"Astaga maafkan aku, kau pasti belum mengenalku, perkenalkan namaku Daisi pembuat senjata di Negara besar Obelia, yah walaupun banyak yang membuat peralatan senjata, jadi aku adalah saingan mereka." Penjelasan dari Paman Daisi membuat Hiragi semakin tenang dengan keadaan.
Dan selanjutnya giliran Hiragi memperkenalkan dirinya. Hiragi berdiri dan menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Hai Paman, namaku Katsura Hiragi, senang mengenalmu Paman!"
Daisi merasa tersentuh atas kesopanan dan tingkah laku Hiragi, hal itu membuatnya lupuh.
Minuman mereka telah datang. Harui dan Paman Daisi asik berbincang di meja bar, entah membicarakan apa. Hiragi hanya berdiam diri sambil menatap jam yang menunjukkan pukul delapan lewat lima menit.
Sebentar lagi adalah waktunya untuk bekerja. Hiragi menghampiri Harui yang sedang berbincang dengan Paman Daisi.
"Harui, sebentar lagi aku akan pergi bekerja, jadi aku harus cepat." Ucapnya pelan.
"Bekerja? Apa kau bekerja Hiragi?"
"Iya Paman, aku bekerja di perpustakaan, lagipula aku menyukai membaca jadi aku bekerja di sana." Penjelasan dari Hiragi membuat paman Daisi melirik tajam ke arah Harui.
Harui menghentikannya dulu untuk beranjak dari tempat itu, dan menyuruh gadis itu memilih senjata yang ingin dia gunakan.
"Senjata? Apa harus?!"
Oh tidak, sebelumnya Harui menyuruh Hiragi agar tidak memberi tahu tentang asal-usulnya, takut akan hal itu menjadi ancaman besar bagi mereka berdua.
"Maksudku, Paman pasti sibuk!" Ucap Hiragi dengan cepat agar tidak membuat kecurigaan.
"Tentu saja tidak." Ucap Paman Daisi sambil menyerahkan beberapa gambar atau foto tentang senjata termasuk pedang.
Harui menyuruh Hiragi untuk menggunakan panah saja. Tapi Hiragi tetaplah Hiragi, dia menginginkan pedang. Hiragi membolak-balik lenbaran demi lembaran itu. Ada banyak jenis pedang yang unik bagus.
"Kalau pedang unik dan bagus belum tentu kualitasnya akan sama, namun jika aku memerhatikan kualitasnya aku tidak akan tahu apa resikonya." Ucap Hiragi sendiri sambil memerhatikan gambar-gambar senjata tersebut.
Menurut Harui, Hiragi lumayan cerdas dan perhitungan. Dia tau apa yang harus dia lakukan. Memang Hiragi yang unik.
Setelah memerlukan beberapa menit untuk memilih akhirnya Hiragi mendapatkan apa yang diinginkannya.
Yaitu, pedang dengan ukuran yang lumayan besar di ujung ganggang pedang tertancap bulan sabit yang indah. Yang lebih bagusnya lagi adalah warna pedang itu seperti dengan warna rambut Hiragi. Jadi Hiragi merasa pedang itu memang cocok padanya.
"Apa kau tak salah memilih?" Tanya Harui setelah melihat apa yang dipilih oleh Hiragi.
Saat Paman Daisi kembali ke bar, dia melihat Hiragi yang telah usai memilih pedang yang ingin dibuat.
"Tunggu dulu, bukankah pedang ini mir-umph!" Harui langsung membungkam mulut Paman Daisi.
"Jangan katakan apapun tentang pedangku." Ucap Harui dengan nada kecil agar tidak terdengar oleh Hiragi.
"Turuti saja apa yang dia mau!" Titah Harui pada Paman Daisi, mau tak mau Daisi hanya mengangguk patuh.
"Pedang ini sebenarnya sudah dalam proses penyelesaian." Ucap Paman Daisi membuat Harui terkejut.
Memang biasanya kalau membuat pedang itu membutuhkan dua sampai lima bulan untuk menyelesaikannya. Tapi karena pedang yang dipilih oleh Hiragi dalam proses penyelesaian jadi itu akan bisa cepat diambil.
...☄☄☄☄...
"Aku akan menjemputmu saat malam pulang, jadi tunggulah dan jangan berkeliaran sendiri!"
Hiragi mengangguk atas perintah Harui, dan saat ingin memasuki toko, Harui memanggil Hiragi dan tentu saja Hiragi menoleh.
"Pedang yang kau pilih, itu lumayan, jagalah baik-baik." Ucapnya dan langsung pergi begitu saja.
"Jarang melihatnya memuji orang, apa yang sedang dipikirkan olehnya?"
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????