Karena keadaan keluarganya, Arimbi ingin membawa ibu dan neneknya pindah ke tempat baru yang di mana tidak ada orang yang tahu asal mereka. Tentu semua itu membutuhkan biaya yang cukup besar. Sampai suatu saat tawaran datang dari seorang gadis kaya yang menjanjikan uang yang menggiurkan, membuat Arimbi pergi ke kota dan nekat menerima tawaran itu. Apa yang selanjutnya terjadi dengan Arimbi gadis cantik dan polos yang berasal dari desa itu?
Hati-hati ya, ceritanya bikin sakit perut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingat ajaran papa
"Iya, aku memilih kak Hugo menikahi ku," sahut Arimbi cepat tanpa menunggu ucapan Hugo selanjutnya.
"Walaupun aku suka dengan uang, tapi sudah seperti ini aku lebih memilih dinikahi," sahut Arimbi dengan terus terang membuat Hugo sampai tersedak oleh ludahnya sendiri karena merasa kaget. Baru kali ini dia bertemu perempuan yang berkata apa adanya.
Belum sempat dia membuat Arimbi takut dengan ucapannya, tetapi Arimbi langsung menjawab cepat tanpa berpikir terlebih dahulu. Sebenarnya tadi Hugo hanya menyindir Arimbi, setelah itu dia ingin mengatakan hal-hal buruk yang akan terjadi dengan mereka kalau sampai mereka berdua menikah. Hugo ingin menakuti Arimbi agar Arimbi tidak meminta tanggung jawabnya dengan menikahi Arimbi.
"Uhuk...huk huk."
Arimbi segera mendekat ke Hugo dan menepuk punggung belakang Hugo.
"Kau kenapa kak Hugo?" tanya Arimbi memperhatikan wajah Hugo yang memerah karena batuk.
"Lepaskan!" ujar Hugo menepis tangan Arimbi marah dan bangun dari duduknya.
"Kau benar-benar perempuan tidak tahu malu, aku yakin kalau kau sudah menjebak ku bukan? Kau sengaja melakukan itu biar aku menikahi mu! Kau pasti sudah menaruh sesuatu ke minuman ku bukan? Katakan apa tujuan mu!" omel Hugo yang menatap tajam ke arah Arimbi.
Arimbi menggeleng dan kebingungan menjawab Hugo. Dalam hati, Arimbi memang sempat merasa bersalah karena sudah bekerjasama dengan Clara, tapi bukan seperti ini yang direncanakan Clara, kata Clara dia hanya perlu terlihat tidur di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun. Arimbi hanya disuruh bersandiwara saja, Arimbi sendiri tidak mengerti tujuan Clara yang sebenarnya. Arimbi sudah sering mendengar kalau banyak orang kaya yang memiliki sifat aneh. Dan memang begitu dia bertemu dengan orang kaya, Arimbi memang merasa Clara termasuk salah satu orang kaya yang memiliki kemauan yang aneh.
**********
"Kok aku merasa misi ku ini aneh nona, tujuannya apa? Mengapa aku harus berlagak seperti itu? Yang ada nanti kakak nona kaget karena mengira dia sudah benar-benar melakukan hubungan suami istri dengan ku. Apalagi kalau kakak nona sudah punya kekasih!" tanya Arimbi curiga saat pertama kali mereka bertemu.
"Sebenarnya kau hanya cukup melaksanakan tugas dari ku tanpa harus tahu tujuan ku. Tapi baiklah akan ku beritahu agar kau tenang menjalankan tugas mu! Ini kan bulan April! Kau tahu gak April mop?" tanya Clara.
"Apa itu nona, aku gak ngerti," sahut Arimbi menggeleng.
"Kau lulusan apa sih? Masak April Mop saja gak tahu. Mama ku saja tahu! Kudet banget sih, haduh!" omel Clara yang saat itu sudah lupa kalau dia memang meminta Tatang mencari gadis desa.
"Maaf nona, saya cuman sampai kelas dua," sahut Arimbi malu.
"Kelas dua SMA?" tanya Clara, disambut gelengan Arimbi.
"SMP?" tanya Clara membelalak kaget, tidak menyangka kalau perempuan cantik di hadapannya bahkan tidak lulus SMP.
"Enggak nona, cuman sampai kelas dua Sekolah Dasar," sahut Arimbi yang membuat Clara shock, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjut mencapai kata sepakat dengan Arimbi.
Akhirnya mau tidak mau Clara harus menceritakan sedikit tentang adat April Mop yang berasal dari negeri Barat itu.
"Ooo, ternyata ada hari seperti itu juga nona, aku malah gak tahu. Aku cuman tahunya hari kemerdekaan saja nona, itu hari yang paling ditunggu nenek saya, setiap nenek ikut lomba panjat pinang, pasti nenek mendapat hadiah yang paling bagus," sahut Arimbi dengan bangga, tapi membuat Clara kaget. Tapi Clara sama sekali tidak berminat untuk tahu kehidupan Arimbi lebih lanjut, saat itu dia hanya membutuhkan bantuan Arimbi saja.
"Jadi aku itu cuman mau bikin kejutan buat pacarnya kak Hugo dan cemburu saja, soalnya tahun lalu pacarnya itu sudah usil pada ku, jadi tahun ini aku mau membalasnya," ujar Clara berbohong, Arimbi pun mengangguk mengerti dan tidak banyak bertanya lagi. Yang penting saat itu dia dapat uang banyak, dan menurut Arimbi itu kerjaan yang halal, kan cuman bikin orang kaget doang, dan Clara juga sudah bilang kalau kakaknya dan pacarnya itu tidak menderita sakit jantung saat Arimbi bertanya. Jadi aman melanjutkan misinya.
**********
"Kau jangan menangis saja untuk mengambil simpati ku! Katakan pada ku apa tujuan mu?" tanya Hugo semakin marah setelah merasa Arimbi sepertinya sedang berpikir dan hendak membohonginya. Sejak pertama bertemu dia sudah merasa curiga pada Arimbi, kini kecurigaannya semakin bertambah .
Tok..Tok...Tok....
Tiba-tiba suara ketukan pintu kamar membuat pandangan Hugo beralih ke pintu. Arimbi setidaknya dapat menarik nafas lega ketika terlepas dari tatapan tajam Hugo.
Mengapa aku yang harus merasa bersalah? Bukankah harusnya aku yang marah? Bukankah dia yang sudah merenggut mahkota ku? Aku tidak melakukan apapun, mengapa aku harus merasa bersalah? Aku juga tidak melakukan apa yang dia tuduhkan pada ku, pikir Arimbi. Setelah Hugo berlalu Arimbi baru bisa berpikir jernih.
*********
Hugo yang berpikir kalau petugas hotel yang mengetuk pintu merasa kaget ketika baru saja dia memutar handel pintu kamarnya, tiba-tiba seseorang mendorong pintu kamar nya dan melangkah masuk.
Tampak Clara yang menatap ke arah Arimbi yang masih berada di tempat tidur dengan selimut membungkus tubuhnya. Wajah Clara terlihat begitu kaget dan memandang Hugo dan Arimbi bergantian. ggb
"Kak Hugo! Apa yang sudah kau lakukan pada Arimbi! Aduh aku yang mengajaknya pergi dan berjanji pada ibunya akan menjaga Arimbi, bagaimana aku harus bertanggung jawab pada ibunya?" tanya Clara sambil memukul lengan Hugo. Setelah itu Clara segera menghampiri Arimbi dan memeluk Arimbi, Arimbi yang benar-benar sedih tentu menangis terharu ketika Clara membelanya.
"Jangan khawatir bi, aku akan meminta kak Hugo untuk bertanggung jawab," ujar Clara sambil melayangkan pandangannya ke atas tempat tidur yang bernoda darah itu, kemudian memindahkan pandangannya ke arah Hugo, menyalahkan Hugo yang sudah merenggut kesucian Arimbi.
"Kau tahu aku ke sini, mengapa kau tidak berusaha mencegah ku Ra? Kau kan tahu sendiri kalau aku sedang menjalin kasih dengan Fani dan sebentar lagi bertunangan!" sesal Hugo.
"Aku tidak tahu kak, dari kemaren aku dan Reyhan mencari mu, apalagi sejak semalam Arimbi dan kau hilang bersama. Baru pagi ini aku tahu dari pelayan di Dynasti club' kalau kau bersama seorang perempuan masuk ke hotel ini," ujar Clara dengan wajah yang kelihatan menyesal.
"Tapi aku merasa kalau teman mu sudah menjebak ku Clara! Jangan-jangan dia sudah memberikan obat pada ku!" ujar Hugo.
"Tidak mungkin kak, Arimbi perempuan yang polos dan baik. Dia sama sekali tidak mengerti hal begini, dia saja asalnya dari desa kak," bela Clara.
"Tetapi kau juga cukup mengenal ku Ra! Kau tahu aku bukan pria seperti itu, kalau mau sudah sejak dulu aku melakukannya," ujar Hugo yang berharap adik tirinya mau berpihak padanya.
"Aku percaya pada mu kak, tetapi mungkin kau kena pengaruh minuman keras. Kemaren aku bertanya pada Reyhan, katanya kau sempat minum dua gelas bersamanya. Aku sampai memarahi Reyhan yang mengajak mu minum minuman keras!' ujar Clara.
"Terus aku harus bagaimana Ra? Semua sudah terlanjur terjadi, atau aku mengganti rugi pada teman mu?" tawar Hugo.
"Kak Hugo, kau sama sekali tidak memiliki hati nurani. Sudah seperti ini kau harus menikahinya kak, kau harus bertanggung jawab," omel Clara perlahan melepaskan pelukannya pada Arimbi dan menghampiri Hugo.
"Tapi aku sudah berjanji pada Fani, Ra!" ujar Hugo.
"Orang menikah saja bisa cerai, apalagi baru pacaran kak. Bahkan kakak pacaran sama Fani juga belum lama. Putuskan saja, kakak ingat apa nasehat papa? Yang paling penting dalam hidup ini, kita harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Aku yang anak tirinya saja selalu ingat nasehat papa, masak kau anak kandungnya bisa lupa?"
Bersambung.........
aduh othor sayang, ku candu dengan cerita mu, sehat sehat biar up teratur 🫰❤️
semangat othor kesayangan