Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Panggilan dari Miss Regina
Selama seminggu setelah malam badai, Vivi dan Sebastian hampir tidak pernah bertemu.
Bukan karena pria itu menghindar sepenuhnya. Sarapan tetap menunggunya setiap pagi. Obat vitamin selalu diganti. Sebuah payung baru muncul di mobil setelah payung lama Vivi rusak diterpa angin.
Namun, Sebastian berangkat sebelum Vivi turun dan pulang setelah lampu kamarnya padam.
Ia memberi ruang.
Vivi seharusnya lega. Sebaliknya, rasa bersalah tumbuh setiap kali mengingat kalimat terakhirnya.
Jangan pernah tinggalkan aku.
Ia tidak menjawab malam itu. Hanya duduk diam sampai hujan reda, lalu pura-pura mengantuk. Sebastian menyelimutinya, meninggalkan kamar tanpa menyentuh lagi, dan sejak itu mundur sejauh yang Vivi perlukan.
Pada hari ketujuh, Vivi menyerah memikirkan semuanya sendirian.
Ia menemui Jocelyn di sebuah kafe dekat SCBD.
“Jadi,” kata Jocelyn setelah mendengar ceritanya, “dia menceritakan trauma masa kecil, memelukmu, bilang jangan pergi, lalu kamu pura-pura tidur?”
Vivi mengaduk es kopi tanpa menatapnya. “Aku panik.”
“Wajar.”
“Sekarang dia pulang larut setiap hari.”
“Dia memberimu ruang.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu kesal karena dia memberimu apa yang kamu butuhkan?”
“Aku tidak bilang kesal.”
Jocelyn menatap lingkaran yang sudah dibuat sedotan Vivi di permukaan minuman. “Kopi itu akan membentuk pusaran sebelum kamu jujur.”
Vivi menjatuhkan sedotan. “Aku cuma merasa bersalah.”
“Kalau begitu bicara dengannya.”
“Semudah itu?”
“Komunikasi biasanya lebih mudah daripada meramal pikiran suami sambil menyiksa es batu.”
Vivi tahu Joce benar. Masalahnya, setiap kali hendak mengirim pesan, ia teringat wajah Sebastian di rambutnya dan bagian gelap dari kalimat tersebut.
Ponsel Jocelyn memutar video berikutnya secara otomatis. Musik klasik terdengar dari layar, tetapi gerak penarinya membuat Vivi langsung menoleh.
Lima perempuan mengenakan rok tutu pendek berkilau, menari di studio dengan pencahayaan merah muda. Judul video menyebut “balet modern paling berani”, tetapi tekniknya berantakan. Pergelangan kaki tidak lurus. Pendaratan terlalu berat. Potongan koreografi yang mereka pakai membuat dada Vivi menegang.
“Itu...”
Jocelyn melihat caption. “The Sweet Ballerinas. Pemimpinnya Nadya Oktaviani.”
“Mereka memakai bagian dari Angsa di Bawah Cahaya Bulan.”
“Karyamu?”
“Karya Miss Regina.” Vivi mengambil ponsel itu. “Aku pernah menjadi penari utama untuk versi murid.”
Di video, Nadya memotong rangkaian gerak yang seharusnya menggambarkan angsa terluka, lalu mengubahnya menjadi pose menggoda ke kamera. Ribuan komentar memuji “versi yang lebih panas”.
Vivi tidak keberatan balet berkembang. Ia keberatan ketika teknik buruk dijual dengan nama karya gurunya tanpa menghormati struktur dan lisensi.
“Mereka punya izin?” tanya Jocelyn.
“Aku tidak tahu.”
Seolah dipanggil oleh pertanyaan itu, ponsel Vivi berdering.
Nama Miss Regina muncul di layar.
Vivi segera mengangkat. “Selamat sore, Miss Regina.”
“Vivi, maaf mengganggumu.” Suara Regina Halim terdengar lelah. “Kamu sudah melihat video Nadya?”
“Baru saja.”
“Mereka memakai koreografi saya di konten komersial tanpa lisensi, lalu menantang studio saya tampil di festival Balai Seni Jakarta.”
“Tantangan?”
“Tim mereka mengirim draf perjanjian. Jika studio saya kalah dalam penilaian juri, mereka meminta lisensi eksklusif Angsa di Bawah Cahaya Bulan selama lima tahun. Jika mereka kalah, semua konten tanpa izin diturunkan dan pendapatannya dibayar sebagai kompensasi.”
Jocelyn mendekat agar bisa mendengar.
“Jangan tanda tangan dulu,” kata Vivi. “Periksakan ke pengacara hak cipta.”
“Sudah. Secara hukum kita bisa menolak dan menggugat. Tapi video mereka sudah membentuk opini bahwa balet klasik takut bersaing.” Regina menarik napas. “Saya tidak ingin menyerahkan panggung kepada mereka.”
Vivi memahami nada itu. Regina bukan sedang mempertaruhkan ego. Ia mempertahankan karya yang dibangun puluhan tahun.
“Miss ingin aku membantu apa?”
Hening pendek.
“Menarilah untuk saya.”
Jari Vivi menegang di ponsel.
“Kamu murid terbaik yang pernah membawakan karya itu,” lanjut Regina. “Festival berlangsung di Balai Seni Jakarta. Saya akan mengurus latihan, lisensi, dan tim medis. Saya hanya perlu tahu apakah kamu bersedia kembali ke panggung.”
Kembali.
Kata itu membuka pintu yang sudah lama Vivi tutup.
Ia pernah hidup dari bunyi sepatu balet menyentuh lantai. Menari adalah satu-satunya saat tubuhnya yang mudah sakit terasa benar-benar miliknya.
Lalu ruam merah muncul setiap kali ia memakai kostum latihan. Dokter menyebut alergi tekstil yang tak diketahui pemicunya. Obat tidak banyak membantu. Setelah menikah, Vivi berhenti mencoba.
Ia belum pernah memberi tahu Sebastian bahwa “alergi” itulah alasan utama panggungnya hilang.
“Beri aku waktu untuk berpikir,” katanya.
“Tentu. Apa pun keputusanmu, saya tidak akan memaksa.”
“Terima kasih, Miss Regina.”
Panggilan berakhir.
Jocelyn menatapnya. “Kamu ingin melakukannya.”
Sebelum video itu bisa dihapus, Jocelyn menyimpan tautan, merekam layar lengkap dengan jumlah penayangan, lalu mengirim semuanya ke surel Vivi.
“Untuk bukti penggunaan komersial,” katanya. “Kalau Nadya menurunkannya diam-diam, Miss Regina tetap punya arsip.”
Vivi mengangguk. “Aku akan teruskan ke pengacara hak cipta studio.”
Regina juga mengirim jadwal festival, draf perjanjian, dan daftar juri melalui WA. Vivi tidak menandatangani apa pun. Ia menyimpan semua dokumen untuk diperiksa lebih dahulu, memisahkan keputusan hukum dari keputusan apakah tubuhnya sanggup kembali menari.
Vivi kembali memutar video Nadya. Musik gurunya terdengar, tetapi setiap gerak telah kehilangan jiwa.
Kulit di bawah pakaiannya seakan mengingat ruam lama. Rasa gatal, panas, dan malu ketika harus menjelaskan mengapa seorang penari tidak bisa mengenakan kostum.
Kehidupan pertama mengambil panggung itu darinya.
Kali ini, Vivi tidak ingin menyerah sebelum mencoba.
Ia menggenggam ponsel lebih erat.
“Kali ini,” katanya, “aku akan memenangkan panggung itu, termasuk melawan alergiku sendiri.”