Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8.Awal Kerja Sama yang Canggung
Jadwal piket sore itu menyisakan hanya Kenzo
dan Anisa di dalam kelas. Sinar matahari mulai miring ke barat, menyelinap masuk lewat celah jendela dan menyinari debu-debu halus yang menari perlahan di udara. Keheningan terasa begitu berat di antara mereka, seakan dinding tak kasatmata berdiri tegak memisahkan dua sisi ruangan tempat mereka duduk berjauhan. Di atas meja yang tersusun rapi di tengah, terbentang lembaran tugas kelompok yang menjadi alasan mereka masih tertahan di sana. Namun tak ada satu pun yang berani membuka suara lebih dulu.
Anisa melirik sekilas ke arah Kenzo. Lelaki itu duduk tegak di kursinya, kedua tangannya saling bertaut di atas meja, menatap lurus ke arah lembar kertas di hadapannya tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya masih tampak kaku seperti biasa, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda—bibirnya terkatup rapat, seakan menahan kata-kata yang sulit diucapkan. Anisa menarik napas pelan, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak menentu. Aneh saja, padahal biasanya ia tak pernah segan menantang Kenzo, namun kini saat harus bekerja sama, lidahnya terasa kaku dan sulit melontarkan kalimat pembuka.
"Jadi..." Anisa akhirnya memecah keheningan dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya. "Kita mulai dari bagian mana?"
Suaranya terdengar agak asing bahkan di telinganya sendiri. Kenzo menoleh perlahan, menatapnya sejenak sebelum kembali memandang kertas di depannya. Ia berdehem pelan, lalu menjawab dengan nada yang tetap berusaha terdengar tenang dan tegas, meski terasa sedikit lebih lembut dari biasanya.
"Kita lihat dulu kerangka yang sudah disepakati kemarin. Kamu yang mengerjakan bagian pengumpulan data, aku yang menyusunnya menjadi laporan," ujar Kenzo. Namun setelah ucapannya terhenti sejenak, seakan ia menyadari nada bicaranya yang kembali terdengar seperti memberi perintah, buru-buru menambahkan dengan nada yang sedikit berubah, "...maksudnya, apakah pembagian tugas seperti itu masih keberatan menurutmu?"
Anisa tertegun sejenak. Kalimat terakhir itu sungguh keluar dari mulut Kenzo? Biasanya ia tak akan pernah menanyakan pendapatnya seperti itu. Rasa ingin tersenyum muncul di benaknya, namun ia tahan. Sebaliknya, Anisa hanya mengangguk pelan sambil menarik kursi mendekat—namun tidak terlalu dekat, masih menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka berdua.
"Tidak keberatan," jawab Anisa sambil menata buku catatannya di meja. "Bagian datanya sudah ada beberapa yang aku catat. Tinggal dilengkapi sedikit lagi."
"Baik." Hanya satu kata itu yang meluncur dari bibir Kenzo. Lalu suasana hening kembali menyelimuti mereka.
Keberadaan satu sama lain terasa begitu dekat namun sekaligus begitu jauh. Setiap kali Kenzo hendak mengambil pulpen yang berada di sisi Anisa, tangannya seakan terhenti sejenak, takut tak sengaja bersentuhan. Begitu juga Anisa, setiap kali ingin menunjuk sesuatu di atas kertas, tangannya terangkat perlahan lalu berhenti di udara, tak tahu apakah pantas menyentuh lembaran yang juga sedang dilihat Kenzo. Mereka berdua berusaha sebaik mungkin untuk tidak saling bersentuhan sedikit pun, seakan sentuhan sekecil apa pun akan membakar kulit mereka.
Beberapa kali terjadinya momen canggung yang tak terduga. Saat Anisa berusaha meraih buku yang sedikit menjauh, bahunya tanpa sengaja nyaris menyandung lengan Kenzo. Serentak mereka berdua menarik tubuhnya menjauh, lalu sama-sama membuang muka ke arah yang berlawanan. Kenzo berpura-pura membetulkan posisi duduknya, Anisa berpura-pura merapikan rambutnya yang tak berantakan sama sekali. Wajah Kenzo tampak tetap tenang, namun samar-samar terlihat telinganya yang sedikit memerah. Begitu juga Anisa, merasakan panas yang merambat pelan ke pipinya sendiri.
"Maaf..." ucap mereka berdua hampir bersamaan. Lalu keduanya terdiam kembali, semakin canggung dibuatnya.
Suara pena yang menari di atas kertas terdengar jelas memecah kesunyian. Namun sesekali terdengar suara dehem pelan, suara gesekan kursi yang tak sengaja tergeser, hingga suara napas yang berusaha diatur agar terdengar tenang. Tak ada ejekan, tak ada bantahan, tak ada tatapan tajam yang saling beradu. Namun keheningan yang tercipta justru terasa lebih menegangkan daripada saat mereka sedang berdebat. Ada jarak yang dipaksakan, ada kesopanan yang berlebihan seakan mereka baru pertama kali saling berhadapan.
Sesekali Kenzo melirik ke arah Anisa yang sedang serius menuliskan sesuatu. Cahaya matahari sore menyinari sisi wajah gadis itu, menampakkan garis pipi yang halus dan bulu matanya yang panjang. Kenzo terdiam sejenak, seakan baru menyadari bahwa Anisa... sebenarnya terlihat tenang dan jauh lebih menyenangkan saat sedang tidak sedang menantangnya. Namun seketika ia menggeleng pelan, membuang pikiran yang tak seharusnya itu muncul.
"Bagian ini..." Kenzo mulai berbicara lagi, suaranya terdengar sedikit lebih tenang dan alami dibanding sebelumnya. Menunjuk satu baris tulisan tanpa terlalu mendekatkan jarak tubuhnya. "...datanya kurang lengkap. Sumbernya perlu diperjelas."
Anisa menunduk melihat, lalu mengangguk. "Iya, aku tahu. Tinggal ditambahkan sedikit saja sumbernya. Nanti aku lengkapi."
"Hmm. Kalau begitu..." Kenzo berhenti sejenak, seakan sedang menyusun kalimat agar tak terdengar seperti memerintah. "...bisa dipercepat? Supaya besok aku bisa mulai menyusun laporannya."
Anisa menatapnya sekilas. Kali ini tatapan mereka tidak saling menantang, melainkan hanya sekadar bertemu sebentar lalu berpaling perlahan. "Bisa. Besok pagi kubawa lengkap."
Percakapan pun berjalan perlahan, sedikit demi sedikit. Masih terasa canggung, masih terasa kaku. Masih banyak jeda hening yang terselip di antara kalimat-kalimat pendek yang terucap. Namun entah mengapa, ketegangan yang biasanya membara di antara mereka perlahan menyusut, berganti dengan kehati-hatian yang tak biasa. Mereka sama-sama berusaha tidak menyakiti perasaan satu sama lain, berusaha tidak menyinggung, berusaha menjaga agar tidak kembali memicu pertengkaran.
Saat cahaya matahari semakin meredup dan bayangan mulai memanjang, mereka pun membereskan perlengkapannya. Hampir saja Anisa mengucapkan sesuatu yang hangat sebagai penutup, namun tertahan di tenggorokan. Sebaliknya, Kenzo yang lebih dulu berdiri, merapikan tumpukan kertas di meja, lalu menoleh sekilas padanya.
"Sampai ketemu besok," ucap Kenzo pelan. Tanpa nada tinggi, tanpa ketegasan yang menusuk. Hanya kalimat sederhana yang membuat jantung Anisa berdetak sejenak lebih cepat dari biasanya.
"Iya. Sampai ketemu besok," jawab Anisa, dan kali ini tanpa disadari, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang tak sengaja.
Kenzo menatapnya sejenak, lalu buru-buru memalingkan wajah dan berjalan mendekat ke pintu kelas. Langkah kakinya terdengar meninggalkan ruangan, namun langkahnya tak lagi secepat biasanya. Anisa tetap terpaku berdiri di tempatnya, menatap pintu yang perlahan tertutup itu. Hatinya terasa berdebar tak menentu. Awal kerja sama yang penuh kecanggihan hari itu ternyata tidak berakhir dengan pertengkaran. Sebaliknya... ada sesuatu yang lain, sesuatu yang samar dan belum pernah dirasakan sebelumnya, mulai perlahan-lahan menyelinap masuk di antara keheningan dan kecanggihan yang mereka lalui bersama sore itu.
BERSAMBUNG...