Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Layar monitor ganda berukuran tiga puluh dua inci di sudut meja kerja Kenzo menyala terang di tengah. Di luar jendela, hujan gerimis masih setia membasahi jalanan Mayfair. Namun di dalam ruangan CEO yang dingin dan sunyi itu, suhu udara terasa mendadak anjlok hingga mencapai titik beku.
Kenzo menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam. Tangannya menggenggam gelas kristal berisi whisky tanpa es, sementara manik matanya yang hitam pekat mengunci tampilan siaran langsung CCTV beresolusi tinggi yang terhubung langsung dari Mexico.
Kamera tersembunyi yang terpasang di sudut koridor gedung perkuliahan memperlihatkan Clara. Hari ini adalah hari pertamanya kembali menginjakkan kaki di kampus setelah penculikan dan masa isolasinya. Clara mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain gelap, berjalan dengan langkah pelan seraya memeluk beberapa buku tebal di dadanya.
Melihat bayangan gadis itu bergerak hidup di layar kaca sedikit meredakan dahaga rasa rindu yang merogoh dada Kenzo selama beberapa hari terakhir. Namun, kedamaian kecil itu tidak bertahan lama.
Sebuah bayangan pria melangkah masuk ke dalam bingkai kamera. Julian.
Pria dari masa lalu Clara itu mencegat langkah Clara di tengah koridor yang mulai sepi. Tampilan CCTV yang dilengkapi mikrofon terarah berteknologi tinggi menangkap setiap detik pergerakan dan suara mereka dengan begitu jernih.
"Clara!"
suara Julian terdengar bergetar melalui pengeras suara internal di meja Kenzo. Pria itu tampak cemas, matanya liar memindai sekeliling koridor. "Aku sudah mengirim pesan padamu beberapa hari lalu! Kenapa kau tidak membalasnya? Apa Kenzo menyakitimu lagi? Di mana bajingan itu sekarang?"
Di layar monitor, Clara tampak tersentak kaget. Ia melangkah mundur satu tapak, memeluk bukunya lebih erat.
"Julian, jangan mendekat. Tempat ini tidak aman untukmu."
"Aku tidak peduli, Clara!"
Julian nekat maju satu langkah, tangannya terulur mencengkeram pergelangan tangan Clara, mencoba meyakinkan gadis itu.
"Pengawal-pengawal Kenzo di luar, aku tahu mereka mengawasimu! Tapi Kenzo sekarang sedang di London, kan? Ini kesempatan kita! Ikutlah denganku sekarang, aku akan membawamu keluar dari Jakarta!"
CRACK.
Gelas kristal di tangan Kenzo retak. Cairan whisky amber merembes keluar melalui celah jarinya, bercampur dengan titik-titik darah merah yang menetes dari telapak tangannya yang mencengkeram kaca terlalu kuat.
Wajah Kenzo berubah sangat mengerikan. Urat-urat di rahang dan lehernya menegang menahan amarah yang meledak liar di dalam dadanya. Pria itu tidak memedulikan rasa sakit di tangannya, matanya tetap terpaku pada layar monitor, menyaksikan jemari Julian yang masih berani menyentuh kulit Clara.
Rasa cemburu dan obsesi yang membakar jiwanya meledak seketika. Jarak ribuan mil antara London dan Mexico terasa menguap, digantikan oleh dorongan membunuh yang teramat pekat.
"Lepaskan tanganku, Julian!"
suara Clara terdengar panik dari layar. Gadis itu menepis tangan Julian dengan kibasan kuat. "Kau tidak mengerti! Kenzo tidak pernah benar-benar pergi! Dia mengawasi setiap jengkal langkahku! Jika kau terus nekat seperti ini, dia akan membunuhmu!"
"Biarkan dia mencoba!"
bentak Julian frustrasi.
Di dalam ruangan kerjanya di London, Kenzo meletakkan sisa pecahan gelas ke atas meja dengan hentakan pelan yang menakutkan. Ia menyapu darah di tangannya menggunakan saputangan hitam, lalu meraih ponsel berenkripsi khususnya. Pria itu menekan satu tombol panggilan cepat.
"Tuan Kenzo,"
suara Kevin kepala pengawal yang bertugas mengawasi Clara di Mexico langsung terdengar di seberang telepon.
"Kau melihat apa yang kusaksikan di layar monitor, Kevin?"
suara Kenzo mengalun sangat rendah, tenang, sarat akan janji kematian yang teramat dingin.
"Kami sudah bersiap melumpuhkan target di area parkir kampus, Tuan,"
jawab Kevin tegas.
"Jangan bunuh dia di area kampus. Itu akan membuat Clara ketakutan dan membenciku."
Kenzo menghentikan kalimatnya sejenak, menyunggingkan senyuman iblis yang membekukan darah.
"Patahkan kedua tangan yang digunakannya untuk menyentuh Clara hari ini,"
perintah Kenzo mutlak tanpa kedipan mata.
"Lalu kirimkan rekaman prosesnya langsung ke ponsel pribadi Julian sendiri sebagai peringatan terakhir. Jika esok hari dia masih berani menampakkan wajahnya dalam radius satu kilometer dari Clara, lenyapkan seluruh keluarganya dari peta bisnis Mexico."
"Baik, Tuan."
Panggilan terputus.
Kenzo kembali menatap layar monitor. Di layar, Clara tampak berjalan cepat meninggalkan Julian yang berdiri terpaku dengan raut wajah frustrasi. Gadis itu terus menoleh ke belakang dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena merindukan Julian, melainkan karena ketakutan mendalam bahwa bayangan Kenzo akan menerkam pria itu kapan saja.
Kenzo mendekatkan jemarinya yang bernoda darah ke permukaan layar monitor, mengusap lembut bayangan pipi Clara yang pucat.
"Kau makin pintar, Dear,"
bisik Kenzo dengan kekehan pelan yang sarat akan kegilaan romantis.
"Kau tahu betul betapa kejamnya aku jika ada pria lain yang mencoba menyentuh milikku. Berperilaku yang baik di sana, karena aku akan segera pulang untuk menagih kepatuhanmu secara utuh."
Aroma alkohol keras bercampur amis darah yang mengalir dari telapak tangan Kenzo perlahan memenuhi ruang kerja CEO yang serba megah itu. Pria itu sama sekali tidak mengacuhkan rasa perih di kulitnya. Tatapannya masih terkunci rapat pada monitor, memperhatikan tiap jengkal pergerakan Clara yang kini sudah melangkah keluar dari gedung fakultas menuju area parkir.
Setiap kali Clara menoleh ke belakang dengan raut cemas, dada Kenzo berdesir oleh kepuasan yang gelap. Pria itu tahu betul, Clara bukan cemas karena memikirkan nasib Julian, melainkan karena gadis itu sadar mata-mata Kenzo ada di setiap sudut angin yang berembus di sekitarnya. Clara tahu ia sedang diawasi, dan ketakutan itu adalah wujud kepatuhan paling murni yang dirajut Kenzo di dalam jiwanya.
Kenzo menyeka darah di telapak tangannya dengan saputangan sutra hitam, lalu melempar kain bernoda itu ke dalam tempat sampah. Pria itu kembali menduduki kursi kebesarannya, menarik naskah dokumen laporan ekspansi perusahaan di Eropa yang disiapkan ayahnya, lalu menyebarkannya di atas meja.
Pria tua di Mexico itu berpikir telah berhasil mengasingkan Kenzo ke benua lain, melemahkannya dengan jarak. Tapi sang Ayah lupa satu hal, Kenzo bukanlah raja yang bisa diatur pionnya.
"Kau salah besar, Ayah,"
gumam Kenzo dingin seraya menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang membeku. "Pengasingan ini tidak melepaskan cengkeramanku dari Clara. Tempat ini justru menjadi panggung di mana aku akan meruntuhkan seluruh kekuasaanmu dari balik layar."
Kenzo meraih pena perak berujung emasnya, menandatangani lembar demi lembar dokumen penting itu dengan presisi mematikan. Pikiran dan rencananya bergerak cepat bagai jalinan catur. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, ia akan menguasai seluruh hak voting saham di cabang Eropa, melumpuhkan pengaruh ayahnya di Mexico, dan terbang kembali melintasi benua untuk menjemput Claranya yang berharga.
Layar monitor di sudut meja memancarkan gambar Clara yang baru saja masuk ke dalam SUV hitam berpenumpang pengawal pribadi. Pintu mobil tertutup rapat, mengisolasi gadis itu kembali dari dunia luar.
Kenzo tersenyum mematikan saat membayangkan ekspresi pasrah Clara saat pesan peringatan tentang Julian sampai di genggamannya malam nanti.