NovelToon NovelToon
Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Tuan Adiwangsa Hanya Bergairah Kepadaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Disfungsi Ereksi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Seluruh Jakarta percaya Narendra Adiwangsa impoten.

Tiga puluh lima tahun hidupnya, pewaris Grup Adiwangsa itu tak pernah menginginkan perempuan. Bahkan dua tahun menikah, ia tak pernah menyentuh istrinya. Setelah perceraian, semua orang yakin satu hal—Narendra memang “tidak bisa”.

Narendra tak pernah repot membantah.

Sampai Sekar Melati Wardani muncul di hadapannya.

Perancang kebaya dari Bekasi itu bukan siapa-siapa. Tak punya nama besar, tak punya harta, bahkan keluarganya sendiri menganggapnya barang tukar demi mahar. Namun saat Narendra melihat Sekar mengenakan kebaya yang membungkus lekuk tubuhnya, sesuatu yang mati selama tiga puluh lima tahun tiba-tiba bangkit.

Untuk pertama kalinya, Narendra menginginkan seorang perempuan.

Bukan sekadar ingin menyentuhnya.

Ia ingin Sekar di rumahnya, di ranjangnya, dan memakai namanya.

Sekar mengira lelaki tampan di seberang apartemennya hanyalah pekerja kantoran biasa. Ia tak tahu Narendra sengaja menyewa tempat itu demi mendekatinya—dan semakin Sekar mencoba menjaga jarak, semakin pria itu kehilangan kendali.

“Katanya kamu tidak bisa?”

Narendra menarik pinggangnya hingga tubuh mereka menempel.

“Coba sendiri. Masih percaya rumor itu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Tiga Meter

"Kar, lihat aku dulu."

Nindy menyentuh punggung tangan Sekar. Sumpit itu akhirnya turun, tetapi pandangan Sekar masih mengikuti dua sosok di seberang jalan sampai keduanya menghilang di balik deretan mobil.

"Mau gue susul?"

"Jangan."

"Setidaknya foto. Biar besok dia nggak bisa ngeles."

Sekar menggeleng. "Kami nggak punya hubungan apa-apa. Dia nggak wajib menjelaskan."

Kalimat itu terdengar rapi. Tangannya tidak. Saat menuang air, bibir teko beradu dengan gelas dua kali.

Nindy mematikan kompor meja. "Lo mau pulang?"

"Aku masih bisa makan."

Namun daging yang baru matang mengeras di piring. Saus terasa terlalu asin, asap membuat matanya perih, dan setiap kali pintu restoran terbuka, Sekar menoleh tanpa sengaja.

Narendra tidak kembali terlihat.

Pukul sembilan lewat dua puluh, Nindy meminta tagihan. Ia tidak memaksa Sekar bicara selama perjalanan pulang. Musik di BMW putihnya dikecilkan, lalu dimatikan ketika Sekar menyandarkan kepala ke kaca.

"Kalau ternyata dia main dua kaki, bilang ke gue," kata Nindy saat mobil memasuki area Cempaka. "Gue nggak peduli dia seganteng apa."

"Dia belum pernah bilang kami sepasang."

"Kebaikan yang terus-terusan juga bisa jadi janji, Kar. Apalagi kalau dia tahu lo mulai berharap."

Sekar menatap pantulan wajahnya di jendela. "Mungkin dia memang begitu ke semua orang."

Nindy menggenggam kemudi lebih kuat. "Kalau begitu, dia bodoh."

Mobil berhenti pukul 21.47. Nindy menunggu sampai Sekar masuk lobi, baru melaju pergi.

Di dalam lift, angka lantai naik satu demi satu. Sekar merogoh tas mencari kunci meski ia tahu pintu unitnya memakai kartu akses. Ia hanya membutuhkan sesuatu untuk dilakukan dengan tangan.

Pintu lift terbuka.

Koridor lantai dua puluh dua lengang. Hanya dengung pendingin udara dan lampu dinding yang menyisakan bayangan lembut di karpet.

Sekar baru melangkah tiga kali ketika pintu di seberangnya terbuka.

Narendra muncul mengenakan jubah tidur abu-abu gelap. Rambutnya masih sedikit basah. Ikatan jubah itu rapi, tetapi bagian lehernya terbuka cukup rendah untuk memperlihatkan tulang selangka.

Sekar biasanya akan salah tingkah melihatnya.

Malam ini, yang ia lihat hanya tangan perempuan bergaun kuning pada lengan yang sama.

"Kamu baru pulang?" Narendra mengangkat sebuah kotak kue merah muda. "Aku tadi lewat Senopati. Kamu pernah bilang ingin coba kue strawberry dari tempat ini."

Sekar menatap logo toko yang antreannya pernah viral. Ia ingat pernah mengatakannya sambil menggulir layar, lalu melupakannya lima menit kemudian.

Narendra mengingat.

Itulah yang membuat dada Sekar terasa lebih sakit.

"Terima kasih, Mas Narendra. Tapi nggak usah."

Narendra membeku. "Nggak suka strawberry?"

"Sudah kenyang."

"Bisa disimpan untuk besok."

"Kasih saja ke orang lain."

Panggilan Mas Narendra, bukan Mas Nara, membuat kerutan kecil muncul di antara alisnya.

"Sekar."

"Aku capek. Selamat malam."

Sekar menempelkan kartu pada pemindai. Lampu hijau menyala. Ia masuk tanpa menoleh dan menutup pintu sebelum Narendra sempat mengatakan apa pun.

Klik kunci terdengar terlalu keras.

Narendra masih berdiri di koridor dengan kotak kue di tangannya.

Ia maju satu langkah dan mengangkat tangan, berniat mengetuk. Sebelum buku jarinya menyentuh kayu, terdengar bunyi tas Sekar jatuh dari balik pintu.

Kemudian sunyi.

"Sekar?"

Tidak ada jawaban.

Narendra menunggu. Dari jarak sedekat itu, ia bisa mendengar tarikan napas yang tertahan, tipis dan tidak teratur. Ia menempelkan telapak pada pintu, lalu buru-buru menariknya kembali. Pintu itu batas rumah Sekar. Sekalipun cemas, ia tidak berhak menerobos.

"Aku taruh kuenya di sini?"

Di dalam, Sekar menutup mulut lebih rapat. Bayangan Narendra bersama perempuan bergaun kuning belum hilang. Jika ia membuka pintu sekarang, ia takut akan bertanya dengan hak yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Narendra menunggu hampir satu menit. Kotak merah muda itu terasa makin berat di tangannya.

"Istirahatlah," katanya akhirnya. "Kalau butuh apa pun, aku di seberang."

Langkah sandalnya menjauh tiga meter. Pintu unitnya terbuka, lalu tertutup pelan.

Sekar tetap duduk di lantai. Kalimat yang biasanya membuatnya merasa aman kini justru menegaskan betapa dekat jarak rumah mereka dan betapa jauh hubungan yang tidak pernah mereka beri nama.

***

Pendingin udara di unit Narendra sudah menyala sejak ia pulang. Ia sengaja mengaturnya lebih dingin agar lapisan krim kue tidak meleleh.

Kotak itu diletakkan di atas lemari sepatu. Pita merah mudanya tetap utuh.

Narendra duduk di sofa, kedua siku bertumpu pada lutut.

Apa yang baru saja terjadi?

Tadi sore Kirana menelepon dari bandara, meminta dijemput karena penerbangannya berubah. Ia membawa adiknya makan, mengantar ke hotel tempat tim risetnya menginap, lalu mengantre kue strawberry hampir setengah jam sebelum pulang.

Ia bahkan menolak ajakan Kirana minum kopi karena ingin tiba sebelum Sekar kembali.

Sekarang kue itu tidak disentuh.

Narendra mengambil ponsel. Percakapan mereka sore tadi masih terbuka.

Malam ini makan bareng?

Ia membaca jawabannya sendiri.

Maaf. Malam ini ada urusan. Kapan-kapan, ya.

Tidak ada yang salah. Setidaknya menurut logika.

Mungkin jawaban itu terlalu dingin.

Ia mengetik pesan.

Kamu marah?

Jempolnya berhenti, lalu menghapus semuanya. Jika Sekar memang lelah, pesan itu hanya akan mengganggu.

Narendra berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali. Ia membuka kotak kue, memeriksa bentuknya, dan menutupnya lagi. Tidak rusak. Stroberi masih tersusun rapi. Krimnya tidak meleleh.

Bukan kuenya.

Ia mengingat sebulan terakhir. Sekar tidak pernah menolak ketika ia mengetuk pintu. Bahkan saat sibuk, perempuan itu akan membuka pintu sedikit dan berkata, "Lima menit lagi, ya."

Tadi malam mereka masih mencuci piring bersama. Pagi tadi Sekar mengirim foto tanaman kecilnya yang menumbuhkan daun baru.

Apa ia lupa janji?

Tidak.

Apa ia mengatakan sesuatu yang menyakiti?

Tidak ada percakapan sejak sore.

Narendra menatap dinding yang memisahkan kedua unit. Jarak sofa mereka mungkin tidak sampai tiga meter. Ia bisa membayangkan Sekar melepaskan sepatu di seberang sana, menggantung tas, lalu berjalan menuju kamar.

Namun malam ini jarak itu terasa seperti seluruh kota.

***

Di balik pintu, Sekar tidak sempat mencapai sofa.

Punggungnya menempel pada kayu, lalu tubuhnya perlahan melorot sampai duduk di lantai. Tas jatuh di samping paha. Ia menutup mulut agar napasnya yang patah tidak terdengar ke koridor.

Betapa memalukan.

Narendra hanya memberi kue. Sikapnya tetap baik. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji, tidak ada hubungan yang dilanggar.

Sekar yang membuat cerita sendiri.

Ia mengira piring yang ditukar, rambut yang diselipkan, dan bubur yang dibawa tengah malam berarti dirinya berbeda. Ia mulai menunggu pesan. Mulai memilih baju sedikit lebih lama jika tahu Narendra akan datang. Mulai menyisakan lauk karena yakin pria itu akan mengetuk pintu.

Sementara Narendra mungkin melakukan hal yang sama kepada perempuan lain.

Perempuan bergaun kuning itu bahkan tampak cocok dengannya. Rambut panjang terawat, tas mungil mahal, langkah percaya diri. Saat berdiri di samping Narendra, mereka seperti berasal dari bingkai yang sama.

Sekar memandang telapak tangannya sendiri. Ada bekas tusukan jarum di jari telunjuk dan noda tipis pewarna kain di kuku.

Untuk pertama kalinya, kedua hal yang biasanya membuatnya bangga terasa seperti bukti jarak.

Ponselnya bergetar.

Nindy: Sudah masuk?

Sekar menjawab singkat.

Sudah.

Nindy: Dia ada?

Sekar menatap pintu di belakang kepalanya.

Ada. Bawain kue.

Tiga titik muncul seketika.

Nindy: HAH?

Sekar mematikan layar. Ia tidak punya tenaga menjelaskan bahwa justru kue itu yang membuat semuanya lebih buruk. Bagaimana mungkin seseorang mengingat makanan yang diinginkannya, sementara pada malam yang sama berjalan mesra dengan perempuan lain?

Bahunya bergetar. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di antara lutut.

Tidak ada tangis keras. Hanya air mata yang jatuh ke rok dan napas yang terus tersangkut.

Setelah lama, Sekar memaksa berdiri. Ia mandi, mengganti baju, lalu meletakkan ponsel terbalik di meja samping ranjang.

Mulai besok, ia tidak akan mengirim foto makanan. Tidak akan menunggu ketukan. Tidak akan menyediakan piring kedua.

Narendra punya hidup sendiri.

Sekar juga harus mengambil kembali hidupnya.

***

Lewat tengah malam, kotak kue itu masih berada di atas lemari sepatu Narendra.

Ia sudah memindahkannya ke kulkas dua kali, lalu mengeluarkannya lagi karena takut Sekar mungkin berubah pikiran dan mengetuk pintu. Teh di meja telah dingin.

Narendra membuka percakapan dengan Reno, menutupnya, kemudian membuka nomor dr. Yudha. Kedua temannya pasti akan menertawakan ketidakmampuannya membaca hati seorang perempuan.

Ia kembali memikirkan panggilan Sekar.

Mas Narendra.

Formal. Jauh.

Berarti Sekar sengaja menarik garis.

Narendra mengusap wajah. Perasaan tidak nyaman menekan dadanya, tetapi di balik itu muncul sebuah kemungkinan yang membuatnya duduk lebih tegak.

Jika Sekar sama sekali tidak peduli, kenapa nada suaranya berubah?

Jika ia hanya tetangga, kenapa penolakan makan malam bisa membuatnya semarah itu?

Mungkin Sekar kecewa karena Narendra tidak bisa menemaninya.

Mungkin Sekar menunggu.

Dan kalau ia menunggu, bukankah itu berarti Narendra punya tempat di dalam harinya?

Sudut bibirnya bergerak sedikit. Penjelasan itu mungkin terlalu optimistis, tetapi setelah berjam-jam tersesat, Narendra memegangnya seperti tali penyelamat.

Ia harus meminta maaf.

Bukan lewat bunga. Bukan lewat kue. Ia perlu tahu cara yang benar agar tidak membuat Sekar semakin menjauh.

Narendra melihat jam. Pukul 02.13.

Lampu kamar Sekar yang tampak dari celah bawah pintu akhirnya padam. Koridor kembali gelap.

Di unit seberang, Narendra menatap kotak kue strawberry yang belum dibuka, lalu meraih ponselnya.

Cahaya layar menerangi wajahnya yang telah mengambil keputusan.

1
Siti Kamisah Hasnul
Bagusss sekalii
semoga konsisten bagus sampe tamat 🥰
Qwerty789 10
suka banget pokoknya,,,,lanjut trus kakakkkk💪
Qwerty789 10
sukak banget ma kata-katanya 🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!