Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Badai di Arena dan Bayangan Guntur
Arena raksasa yang terbuat dari Batu Bintang hitam pekat itu berdiri kokoh di tengah alun-alun Puncak Utama. Batu Bintang dikenal mampu menahan serangan dari kultivator tingkat Inti Emas (Golden Core) tanpa hancur, menjadikannya panggung yang sempurna bagi pertarungan hidup dan mati para Murid Inti.
Ribuan murid memadati tribun yang mengelilingi arena. Di udara, sebuah paviliun giok melayang, menaungi para Tetua Sekte yang duduk menyaksikan dengan wajah penuh wibawa.
Di antara mereka, Penatua Zhao menatap tajam ke arah kerumunan di bawah, matanya memerah penuh dendam. Di sebelahnya, Penatua Kepala duduk dengan tenang, matanya setengah terpejam.
Tiba-tiba, suara riuh penonton terbelah.
Seorang pemuda berjubah putih bersih berjalan menembus kerumunan. Di punggungnya, sebuah benda panjang raksasa terbalut kain abu-abu kusam bertengger dengan tenang. Langkahnya tidak cepat, tidak lambat, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, sebuah ritme aneh membuat napas para murid di sekitarnya terasa sesak.
"Itu Ye Xuan! Si penakluk Tangga Darah!"
"Kudengar dia pergi ke Celah Vulkanik dan membunuh Ular Sisik Api sendirian. Dia monster yang berwujud manusia!"
"Sst, pelankan suaramu! Kau tidak lihat Kakak Pertama Zhao Feng sedang menatapnya?!"
Di area ruang tunggu Murid Inti, Zhao Feng berdiri dengan tangan terlipat di dada. Matanya sedingin es abadi saat ia menatap Ye Xuan yang baru saja tiba. Di sebelahnya, Su Yan berdiri diam. Matanya mengikuti sosok Ye Xuan, hatinya bergejolak melihat betapa tenangnya pemuda yang dulu ia anggap sampah itu sekarang.
Ye Xuan mengabaikan semua tatapan itu. Ia menemukan sudut yang sepi, menyandarkan punggungnya ke pilar batu, dan menutup mata untuk beristirahat, sama sekali tidak mempedulikan kemegahan turnamen.
TENG!
Seorang wasit dari Balai Disiplin melompat ke tengah arena. "Turnamen Inti Sekte Awan Azure, resmi dimulai! Babak penyisihan pertama, Su Yan melawan Chen Li!"
Pertandingan pertama langsung memanas. Su Yan melangkah ke arena. Gaun putihnya berkibar, memancarkan hawa dingin yang membekukan uap air di udara. Lawannya, Chen Li, adalah kultivator Pembentukan Fondasi Awal yang cukup berbakat.
Namun, pertarungan itu berakhir dalam hitungan detik.
"Seni Teratai Es!" Su Yan menjentikkan jarinya. Sebuah teratai es raksasa mekar di bawah kaki Chen Li, membekukan pemuda itu dari ujung kaki hingga ke leher dalam sekejap mata.
"Pemenang, Su Yan!" seru wasit.
Tribun bersorak. Bakat garis keturunan es milik Su Yan memang menakutkan. Su Yan berjalan turun, tanpa sadar melirik ke arah Ye Xuan, berharap melihat ekspresi terkejut di wajahnya. Namun, pemuda itu masih menutup matanya, seolah kemenangan Su Yan bahkan tidak layak untuk ditonton. Su Yan menggigit bibirnya, rasa kesal menyelinap di hatinya.
Beberapa pertandingan berlalu. Tiba-tiba, suara wasit kembali menggelegar.
"Pertandingan Ketujuh! Ye Xuan melawan Lin Kuang!"
Mendengar nama itu dipanggil, seluruh alun-alun seketika hening, lalu meledak dalam bisikan penuh antusias. Lin Kuang bukanlah murid sembarangan. Ia berada di peringkat ke-lima di antara Murid Inti, seorang kultivator Pembentukan Fondasi Menengah yang terkenal dengan kekuatan fisik dan kekejamannya, serta merupakan salah satu tangan kanan Zhao Feng.
Seorang pemuda bertubuh raksasa, setinggi hampir dua setengah meter, melompat ke arena. Tubuhnya dipenuhi otot yang menonjol seperti bongkahan batu. Ia memegang sepasang kapak raksasa berduri yang memancarkan Qi elemen tanah yang berat.
"Ye Xuan! Naiklah, Sampah!" raung Lin Kuang, suaranya menggetarkan udara. "Kau mungkin membunuh Ma Teng dengan trik kotor di luar sana, tapi di arena terbuka ini, kapakku akan membelah tengkorakmu!"
Di sudutnya, Ye Xuan perlahan membuka mata. Ia melangkah maju, dan bukannya melompat dengan gaya pamer seperti kultivator lain, ia hanya menaiki tangga arena satu per satu.
Tombak raksasanya masih terbalut kain di punggungnya. Ia bahkan tidak repot-repot menghunusnya.
Melihat Ye Xuan tidak menarik senjatanya, wajah Lin Kuang memerah karena merasa dihina. "Kau mencari mati! Jangan pikir kekuatan fisik liarmu bisa menang melawanku! Tubuhku telah ditempa oleh Seni Tubuh Batu Besi!"
Di paviliun VIP, Penatua Zhao menyeringai tipis. "Lin Kuang memiliki kekuatan tujuh puluh ribu kati ditambah Qi elemen tanah. Jika anak itu berani beradu pukulan murni, organ dalamnya akan hancur oleh getaran kapak ganda!"
"Mulai!" teriak wasit.
BOOM!
Lin Kuang meledakkan Qi kuning kecokelatan dari tubuhnya. Lantai Batu Bintang di bawah kakinya sedikit melesak saat ia menerjang maju bagaikan banteng mengamuk. Kedua kapak raksasanya disilangkan, membentuk bayangan gunung yang siap menimpa Ye Xuan.
"Mati!!"
Kapak itu menebas ke arah leher dan pinggang Ye Xuan secara bersamaan, mengunci semua rute pelarian. Kecepatannya sangat luar biasa untuk pria bertubuh sebesar itu.
Namun, di bawah bayangan kapak kematian itu, Ye Xuan hanya menghela napas pendek.
Di dalam dantian-nya, pusaran naga mengalirkan seutas Qi berwarna emas yang dipenuhi percikan petir langsung ke meridian telapak kakinya.
Seni Langkah Guntur Sembilan Bayangan!
BZZZT—KRAAAK!
Suara guntur yang memekakkan telinga meledak tepat di tempat Ye Xuan berdiri!
Kapak ganda Lin Kuang menghantam tubuh Ye Xuan, membelahnya menjadi dua. Penonton menahan napas dalam horor. Namun, alih-alih darah yang muncrat, sosok Ye Xuan yang terbelah itu berkedip-kedip, lalu memudar menjadi kepingan cahaya spiritual.
"B-bayangan ilusi?!" Lin Kuang membelalakkan matanya ngeri. "Bagaimana mungkin tubuh kasarnya memiliki kecepatan setinggi ini?!"
"Di atasmu, Bodoh," sebuah bisikan sedingin es terdengar dari udara di belakang Lin Kuang.
Semua orang mendongak dengan syok. Ye Xuan melayang di udara, lima meter di atas Lin Kuang. Tidak ada yang melihat bagaimana ia bergerak, seolah-olah ia berteleportasi melalui celah ruang itu sendiri!
Ye Xuan memegang benda panjang berbalut kain di punggungnya dengan satu tangan. Tanpa membuka kainnya, tanpa meledakkan aura sedikit pun, ia mengayunkan senjata seberat sembilan puluh ribu kati itu ke bawah dengan kendali mutlak layaknya dewa kematian yang menurunkan sabitnya.
"Tahan ini jika kau bisa," bisik Ye Xuan.
SWUUUSH—BAMMMMM!!
Tumbukan itu terjadi terlalu cepat. Kain abu-abu yang membalut senjata Ye Xuan menghantam punggung Lin Kuang.
Terdengar suara ledakan daging dan patahan tulang yang begitu nyaring hingga membuat para murid di barisan depan menutup telinga mereka.
Seni Tubuh Batu Besi kebanggaan Lin Kuang hancur berantakan seperti kerupuk tipis yang dipukul palu godam. Tubuh raksasa seberat dua ratus kilogram itu terhempas ke bawah dengan kekuatan meteor, menghantam lantai Batu Bintang yang legendaris hingga lantai itu retak membentuk kawah laba-laba sedalam satu meter!
Darah segar menyembur dari mulut, hidung, dan telinga Lin Kuang. Ia tertanam di dalam lantai batu, tak sadarkan diri dengan tulang punggung yang hancur total.
Satu serangan. Bahkan senjata Ye Xuan belum terbuka dari sarungnya.
Arena menjadi hening seketika. Bahkan napas pun tak terdengar.
Di paviliun VIP, Penatua Zhao berdiri dari kursinya, matanya nyaris copot. "K-keterampilan gerak atribut guntur?! Mustahil! Dari mana dia belajar tingkat kecepatan seperti itu?!"
Di sudut arena, Zhao Feng mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, meneteskan darah segar. Rahangnya terkatup rapat menahan amarah yang meledak-ledak.
Ye Xuan mendarat di atas arena dengan ringan, sama sekali tidak mengacuhkan mayat setengah mati di bawah kakinya. Ia menyandarkan senjatanya kembali ke bahu, lalu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah ruang tunggu tempat Zhao Feng berdiri.
Ye Xuan mengangkat tangan kirinya, mengaitkan jari telunjuknya dalam gestur provokasi yang paling arogan yang pernah disaksikan oleh Sekte Awan Azure.
"Jangan buang waktuku dengan mengirim anak-anak anjingmu lagi," suara Ye Xuan menggema ke seluruh pelosok alun-alun, jernih dan penuh dominasi. "Zhao Feng. Naiklah ke arena sekarang, dan serahkan nyawamu padaku."