seorang pemuda remaja yang bernama Gilang, dipindahkan dari sekolah lamanya menuju sekolah baru yang berada di Sumatera.
Sumatera itu sendiri adalah tempat kelahiran asal Gilang dan orang tuanya sebelum pada akhirnya mereka pindah ke kota Jakarta.
di sanalah Gilang diuji untuk mendapatkan jati dirinya yang sesungguhnya.
pernyataan bahwa gelang bukan seorang manusia biasa, membuat gelang shock namun tidak membuat gelang depresi.
tugasnya kali ini, selain mencari jati dirinya ialah mengumpulkan semua keturunan terakhir dari inyek leluhur/manusia harimau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuliana.ds, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps9
Gilang dan semua teman-temannya belajar seperti biasa. Dalam pelajaran pertamanya sekitar 1 jam lebih, Gilang mulai merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya.
Rasa gatal yang menyerang seluruh bagian tubuhnya, area di mana bulunya tumbuh menjadi sangat sangat gatal dan sensitif.
Gilang sedikit menyeringai menggaruk semua bagian tubuhnya yang bisa ia gapai. Melihat tingkah Gilang, semua orang di kelas bingung.. hingga guru pun bertanya kepada Gilang.
"Gilang, kamu kenapa?.. kok garuk-garut gitu..?"
"Oh nggak apa-apa pak. Tahu nih badan tiba-tiba gatal semua.!!"
"Hahaha Gilang kamu habis dari mana, kamu blusuk-blusuk ya tadi.. ada ulatnya kali itu!!. Hahaha."
Ucap beberapa teman-teman Gilang yang menertawakannya dan tidak menyadari keseriusan masalah tersebut.
Gilang mengira gatal di tubuhnya masih bisa ditahan hingga pelajaran selesai.
Siapa sangka gatal di tubuhnya semakin menjadi dan rasa gatal tersebut telah diiringi oleh rasa sakit seperti gigitan semut halus.
Rasa yang tidak bisa ia tahan, akhirnya Gilang pun meminta izin kepada gurunya untuk ke kamar mandi.
"Pak saya permisi dulu, Saya mau mandi sebentar ya pak. Saya benar-benar nggak tahan lagi.!!"
"Hahaha, itu mah gejala Gilang karena nggak mandi pagi itu jadi semut-semut suka di badannya. hahaha.!"
Ucap para teman-teman Gilang yang mengolok-oloknya.
Setelah mandi Gilang pun merasa tubuhnya menjadi agak sedikit lebih baik. Namun tubuhnya sekarang menjadi merasa panas suhu yang seperti sangat meningkat menjadi beberapa derajat Celcius.
Waktu istirahat tiba, Mereka pergi ke kantin dan Gilang bersama Tasya dan murid baru pergi ke kantin untuk makan.
Gilang heran oleh perubahan iklim di sana. Hingga Ia pun mengipasi dirinya sendiri menggunakan kipas jalinan yang dibuat oleh pelayan tokoh.
"Duh gila kok jadi panas banget kayak gini sih..? Gue udah mandi tadi gatal-gatal sekarang panas banget, cuaca di sini emang suka ganti-ganti kayak gini ya.??"
Tasya dan Alina merasa heran karena mereka tidak merasakan hawa panas apapun.
"Gilang. kami tidak merasakan hawa panas apapun, Malah suasana kali ini terasa lembab. Apa jangan-jangan kamu diracuni oleh sesuatu?"
Ucap Tasya sembari mulai curiga oleh semua gejala yang tiba-tiba muncul pada Gilang.
"Hah masa sih..!? Tapi gue ngerasa panas banget, masa cuma gue sendiri yang ngerasain. Bahkan di Jakarta tempat yang panas pun nggak sepanas ini!!."
Mereka semakin merasa aneh dengan pernyataan tersebut.
"Lang coba kamu ingat-ingat lagi deh, siapa tahu ada sesuatu yang kamu lupain atau macam alergi gitu??."
Mendengar ucapan dari Alina, mengingatkan tentang ucapan kakek-kakek misterius malam. Ya berpikir apakah ini ada hubungannya dengan ucapan kakek tersebut, tapi itu mana mungkin.
Gilang merasa risau, apa benar semua yang diceritakan kakek tersebut atau apakah dia mendapat sebuah kutukan.
Hingga hari ini ia mendapatkan begitu banyak kesulitan di sekolah maupun di luar sekolah.
Setelah Gilang sampai di rumahnya, ia duduk termenung menghadap jendela rumahnya sembari berpikir apa yang sebenarnya terjadi hari ini mengapa sangat aneh. Bahkan ia mampu berlari dengan kecepatan yang manusia pada umumnya rata-rata tidak memiliki kekuatan secepat itu.
Dengan semua keheranan di benak gilang, tanpa sadar ia menutup matanya dan tertidur. Ketika ia terbangun, entah kenapa iya berada di tempat yang berbeda.
Tempat itu tidak pernah IA kunjungi sebelumnya, Gilang seperti benar-benar tersesat di tempat tersebut.
"Loh di mana gue?, tempat apa ini?, kenapa gue ada di sini!? Kok gue bisa sampai di sini sih."
"Ucap Gilang sembari menatap ke seluruh lokasi berkeliling mengamati sudut demi sudut tempat tersebut."
"Hehehe.. selamat datang cucuku.. Bagaimana harimu di sekolah tadi."
Suara yang terdengar entah dari mana, itu terasa sangat familiar. Jika diingat-ingat kembali benar saja itu suara kakek misterius tersebut.
Gilang mencari sumber suara tersebut.
"Hei gue tahu ini aki-aki rese plus aneh itu kan. Di mana aKi,.. keluar oi jangan sembunyi. Bisa-bisanya memantulkan suara kayak gitu ya."
Gilang tetap mencari arah dari sumber suara tersebut.
Hehehe he
"Ki keluar Ki,, gue tahu itu elu... Nggak usah iseng deh ah, udah tua juga."
Mendengar ucapan Gilang, suaranya tawa kakek itu perlahan hilang.
Dari balik rumpun bambu di belakang hilang, asap kabut yang cukup tebal. Ditambah dengan suasana seperti gelap terang cahaya kebiruan, membuat suasana seperti sedang adegan shooting horor.
Dari balik lagu tersebut terlihat sesosok bayangan yang sangat besar.
Gilang terkejut melihat sosok yang sangat besar tersebut, iya sontak memegang dadanya karena terkejut.
Namun siapa sangka, sosok yang terlihat sangat besar dan tinggi tersebut adalah sosok kakek misterius yang selalu mengganggu Gilang.
"Astagfirullah aki,, gue pikir siapa. Tinggi gede ternyata, aki. Bayangannya besok segede gaban begono."
Ucap bilang sembari melihat wajah kakek tersebut yang tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana Aden apakah sudah siap,?"
"Eh bentar, siap apa nih,,?"
"Hehehe, hari ini aden harus berlatih, untuk mencegah rasa sakit dari kekuatan aden sendiri. Karena malam ini adalah malam bulan purnama merah. Dan yang seperti saya janjikan, saya akan mengajari aden."
"Duh aki sebenarnya ngajarin apa sih, kan gue udah bilang gitu nggak kenapa-kenapa."
Belum kering bibir kilang perkata demikian, tiba-tiba tubuhnya merasa sangat panas dan wajahnya terasa sangat merah.
"Loh loh loh,, aki...aki.. ini badan gue kenapa kok panas semua,, aki kenapa ini,,"
Ucap Gilang sembari berteriak panik. Dengan wajah yang mulai serius aki memegang pundak gilang.
"Duduklah Aden, Saya akan membantu menetralkan suhu di dalam tubuh aden terlebih dahulu."
Karena tidak tahan dengan hawa panas yang ada di, Gilang pun akhirnya menuruti kata-kata kakek tersebut.
Gilang seketika duduk di tempat, menyilahkan kaki dan mulai berfokus sembari menutup mata.
Dan dari belakang kakek yang juga menyerahkan kaki, mengangkat kedua telapak tangannya ke punggung Gilang.
Dengan entah mantra apa yang ia baca, kakek itu membuat mulutnya sendiri berkomat kamit.
Selang beberapa menit, Gilang merasa tubuhnya seperti dimasuki hawa dingin dari belakang, yang membuat dirinya menjadi sejuk perlahan demi perlahan.
Hingga pada titik ketika Gilang telah merasakan tubuhnya menjadi normal kembali, Gilang menghadap ke arah kakek tersebut, menatapnya dengan cermat lalu bertanya.
"Sebenarnya apa yang aki lakukan kepadaku, kenapa badanku jadi aneh hari ini."
Tanya Gilang mulai serius terhadap kakek tersebut.
"Ketahuilah Aden, Saya hanya utusan. Tugas saya di sini untuk menyampaikan titah dan Wahyu dari leluhur. Jika engkau ingin selamat, ambillah tanggungan yang sudah dibebankan kepada masjid lahir."
Kata-kata tersebut memiliki makna dan arti yang begitu mendalam, walau Gilang nakal namun ia mengerti dan paham mengenai sains.