Clarissa Binar, seorang wanita yang terus mengabdi pada suaminya. Mencintai suaminya meskipun lima ahun ini suaminya tidak menoleh padanya, hanya menoleh pada putranya Abra.
Namun dalam lima tahun ini dia harus dihadapkan kenyataan pahit. Tiba-tiba seseorang masa lalu dari Adam, suaminya datang dan membawa seorang anak berumur lima tahun.
Akankah Binar memaksa pernikahannya bertahan atau justru memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Adam Marah
Mama Mahira menatap jengah wanita di depannya, niatnya tadi mau bertemu dengan menantunya malah bertemu dengan wanita yang sama sekali tidak ingin ia temui.
Sejujurnya hatinya tidak setega itu melihat bocah di depannya. Dia melihat versi adam kecil dan ia yakin kalau ia adalah cucunya.
"Mau mu apa?" tanya Mama Mahira.
"Aku datang kesini hanya demi Andra Ma, dia butuh Adam."
Mama Mahira tersenyum sinis, setelah berhasil menaklukkan hati Adam demi Andra, lalu ibunya. Dia takut pikirannya akan menjadi kenyataan.
"Kau tidak memanfaatkan Andra kan?" tuduh Mama Mahira bertanya. Dia takut wanita ini akan berbuat lebih.
"Kalau Adam mencintai saya, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa Nyonya, karena kami di pisahkan oleh Nyonya."
"Kau!"
"Nyonya memilih wanita seperti itu. wanita murahan yang tidak pantas untuk Adam."
Plak
"Mama!" teriak Adam. Kedua matanya melotot tajam saat tangan itu melayang di pipi Ayu.
Sedangkan Mama Mahira, wanita itu masih belum puas kalau tidak merobek mulutnya.
"Apa yang Mama lakukan?" tanya Adam. Dengan kedua matanya sendiri dia melihat Mamanya menampar Ayu, wanita yang datang dengan putranya.
"Sudahlah Mas, Mama memang tidak suka pada ku," lirih Ayu.
"Nenek Jahat pada Mama, Pa. Dia tadi memarahi Mama Pa," adu Andra. Anak kecil itu sama sekali tidak menyukai wanita yang di sebut neneknya.
"Apa yang Mama lakukan? Andra ketakutan Ma," ucap Adam. Dia menggendong Andra dan bocah itu memeluk erat Adam.
"Mas, jangan bentak Mama. Pasti ada alasannya, jangan hanya melihat satu mata."
"Kau menyalahkan aku?" tanya Ayu. Selama ini ia menderita dan cukup bersabar, tapi kali ini ia tidak akan diam dan menyerah, semua ini demi Andra dan cinta yang masih sama seperti dulu. Ia akan memperjuangkan cintanya kembali.
"Andra, ayo pulang sayang, kita memang tidak di butuhkan di sini."
Andra meronta, dia menangis sejadi-jadinya dan membangunkan Abra yang tidur nyenyak.
"Lihat Ma, Adam tahu Mama tidak menyukai Ayu, tapi Adam memikirkan Andra. Dia juga butuh Adam Ma."
"Kau memarahi Mama hanya karena wanita itu? Adam, wanita itu menjelekkan Binar, dia mengatakan Binar ... "
Mama Mahira menghentikan ucapannya, dia menoleh pada Binar dan tidak tega menyakitinya.
"Itu hanya alasan Mama kan? Binar lagi, Binar lagi," geram Adam. Sejak tadi dia memang sudah kesal dengan Binar yang tidak menganggapnya. Adam melangkah, meninggalkan Mama Mahira yang tampak syok saat Adam membentaknya.
"Mama," Binar mengelus pundak Mama Mahira. "Jangan pernah membela ku Ma, kalau hanya membuat hubungan Mama dengan Mas Adam retak. Biarkan orang lain mengatakan apa pun."
"Tapi Binar, wanita itu tidak pantas mengatakan hal buruk tentang mu."
"Maa, kadang Binar berpikir, Andra juga butuh sosok Mas Adam. Ya, Binar ingin keluar dari rumah ini,"
"Kenapa? kau tidak menyukainya?"
Binar menggeleng, rumah ini memang di hadiahkan oleh mertuanya kepadanya. Ia menyukai rumah ini, tapi banyak kenangan pahit di dalam rumah ini. Ia tidak ingin terbayang-bayang kesakitan yang setiap harinya menghantuinya.
"Aku ingin memulai hidup baru, Ma. Mas Adam masih mencintai Ayu, Andra juga butuh sosoknya. Binar tidak membayangkan selama lima tahun mereka menjalani tampa sosok suami dan Andra tanpa seorang ayah, bayangkan saja Ma? kalau aku dan Abra masih bisa melihat Mas Adam."
"Binar, kau benar-benar ingin menyerah?"
Binar mengangguk dan tersenyum, ia lelah harus makan hati setiap harinya.
"Baiklah, Mama akan bantu kamu, tapi dengan syarat kamu harus tinggal dengan rumah yang Mama pilihkan,"
Binar mengangguk patuh, menolak pun percuma. Mama Mahira tidak akan melepaskannya, apa lagi sudah ada Abra. Kedua mertuanya butuh Abra, begitu pun Abra.
Binar membuka handle pintu itu di ekori oleh Mama Mahira. Dia pun menyapu kamar putra dan menantunya, melihat sebuah foto besar pernikahan anak dan menantunya.
Karena penasaran dengan ruangan itu, ia semakin mengedarkan kedua pandangannya. Kedua matanya melihat beberapa laci, dia pun membuka satu per satu laci itu. Di laci terakhir dia menemuka sebuah figura kecil yang terbalik. Dia pun membukanya, kedua bibirnya gemetar melihat foto putranya dengan Ayu.
"Binar? kau tahu foto ini."
Binar menatap sayu foto di tangan mertuanya, dia pun mengangguk. Sudah biasa baginya melihat beberapa foto Adam dengan Ayu, bukan hanya di ruangan ini, melainkan beberapa ruangan di rumah ini. Tapi foto itu hanya tersimpan di laci, Adam tidak memajang foto itu.