Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Bisa
Apa yang dialami oleh temannya itu, membuat Alano terkejut.
Dia benar-benar tidak pernah menyangka, jika apa yang dilakukan oleh Gavino berakibat fatal bagi temanya tadi. Karena bisa dipastikan bahwa, kaki kanan temannya itu mengalami cidera yang serius.
Entah patah atau retak tulang kering pada kaki tersebut. Karena temannya itu langsung terjatuh dengan menjerit kesakitan dan memegangi kakinya. Yang tadi ditendang oleh Gavino.
Ini membuat Alano dan kawan-kawannya meradang marah. Mereka menerjang Gavino secara bersamaan.
( Sistem pertahanan diaktifkan )
1%
10%
80%
100%
( Ting )
Dan ternyata, Gavino melompat tinggi, sehingga mereka semua justru mendapatkan tendangan dan pukulan dari teman-temannya juga.
Dughhh!
Bughhh!
Krakkk!
"Auwwwhhhh!"
"Ahhhh!"
"Aghhh!"
Mereka semua merasakan kesakitan, akibat dari serangan yang salah sasaran.
Sedangkan Gavino sudah melompat, kemudian berlari menjauh dari kepungan mereka semua.
Dia terus berlari, meninggalkan tempat Alano dan kawan-kawannya.
"Ehhh..."
"Hei! Apa yang terjadi?"
Madalena yang tadi sudah terpana, dan mengira jika Gavino akan terdesak dengan mengalami beberapa luka akibat serangan mereka, justru terpekik kaget.
Dia tidak pernah menyangka jika, serangan yang tak terduga ini mengakibatkan teman-temannya tidak berdaya.
Satu persatu dari mereka bangkit. Dengan merasakan kesakitan pada tubuh mereka, di bagian-bagian tertentu.
Sedangkan temannya yang tadi terkena tendangan Gavino, masih mengerang kesakitan.
Akhirnya, mereka semua saling bantu membantu. Untuk membawa temannya itu pergi dari tempat itu. Mereka akan membawanya ke rumah sakit.
Di sana, mereka juga akan meminta perawatan atas luka-luka yang ada pada tubuh mereka.
Madalena jadi kerepotan sendiri. Karena hanya dialah yang tidak terluka sama sekali.
"Heh! Apa-apaan ini kalian semua. Merepotkan orang saja!" umpat Madalena kesal.
Dia merasa kesal, karena harus direpotkan dengan keadaan mereka yang seperti ini. Karena dengan begitu, dia juga yang harus menjawab setiap pertanyaan dari pihak rumah sakit nanti.
*****
Sebenarnya, Gavino bukannya tidak tahu dengan semua rencana Alano dan kawan-kawannya.
Karena sebelumnya, ada salah satu temannya yang memberitahukan rencana tersebut pada Gavino sendiri.
Tapi karena Gavino ingin membuktikan kebenaran tentang sistem yang ada di dalam otaknya. Akhirnya dia pun mengabaikan keselamatannya sendiri, seandainya sistem tersebut tidak bisa digunakan.
Dengan perasaan was-was, Gavino pun akhirnya ikut dalam permainan dan rencana Alano.
Dia pura-pura tidak tahu, bagaimana keadaan yang sebenarnya ingin dilakukan oleh Alano bersama dengan kawan-kawannya. Untuk mencelakai dirinya di belakang sekolah.
Karena itulah, Gavino juga mau diajak Madalena untuk pergi ke belakang sekolah. Karena memang itulah rencana yang sudah mereka susun.
Dia tidak memperdulikan perkataan Bianca dan Lorenzo, yang sudah memperingatkan dirinya.
Tapi Gavino meminta pada mereka berdua, supaya ikut pura-pura tidak tahu. Jika rencana Alano sudah mereka ketahui.
Itulah sebabnya, Bianca dan Lorenzo, juga mau saja di mintai tolong oleh Madalena untuk membantunya membawa barang-barang ke dalam mobilnya.
Dan Bianca bersama dengan Lorenzo, hanya mengikuti langkah Madalena yang membawa Gavino ke belakang sekolah. Sehingga mereka berdua juga bisa melihat, bagaimana keadaan yang sebenarnya terjadi di tempat itu.
Tentu saja, apa yang mereka lihat juga tidak mereka percayai begitu saja. Hal yang sama sekali tidak pernah mereka sangka, dan duga. Jika Gavino, bisa melawan mereka tanpa harus banyak pergerakan dan bantuan dari siapapun.
"Ini seperti mimpi." Ucap Bianca, sambil menahan suaranya supaya tidak terdengar Alano dan kawan-kawannya juga.
Dia berkata demikian, saat melihat Gavino yang menendang kaki orang yang tinggi besar tadi. Yang juga sedang menahan tangan Gavino.
"Kita pantau saja. Tidak usah ikut campur. Sama seperti yang dikatakan oleh Gavino."
Lorenzo memperingatkan pada Bianca, supaya tidak banyak bicara dan melakukan pergerakan. Yang bisa menimbulkan kecurigaan Alano ataupun teman-temannya yang lain.
Dan apa yang mereka lihat selanjutnya, justru membuat mereka berdua kembali tidak percaya. Dengan penglihatan mata mereka sendiri. Karena sesuatu hal yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Bianca hampir saja menjerit keras, saat Gavino di keroyok Alano dan kawan-kawannya.
Tapi dengan sigap, mulut Bianca di tutup oleh Lorenzo dengan mengunakan telapak tangannya. Sehingga Bianca tidak bisa menjerit atau mengeluarkan suara apapun.
"Emppp... Emppp..."
"Shttt! Diam Bianca. Nanti mereka tahu keberadaan kita di sini."
Bianca akhirnya tersadar bahwa mereka sedang dalam keadaan mengintip. Jadi, mereka harus menjaga diri, agar tidak terlihat oleh orang-orang tersebut.
Jika itu sampai terjadi, bisa dipastikan jika mereka berdua juga tidak akan luput dari dampak negatifnya.
Yang paling parahnya, mereka berdua juga bisa ikut babak belur. Karena ikut di hajar juga.
Tapi pada sepersekian detik kemudian, mereka berdua tercengang dengan apa yang terjadi.
Mereka melihat pergerakan Gavino yang secara tiba-tiba melompat tinggi ke udara. Kemudian pergi dari tempat tersebut.
Sedangkan orang-orang yang tadi menyerangnya, justru saling memukul dan menendang satu sama lainnya. Hal yang sering mereka lihat dalam film-film laga.
Akhirnya, Bianca dan Lorenzo pergi meninggalkan Alano dan kawan-kawannya yang sedang terluka. Mereka berlari menyusul Gavino yang berlari menjauh dari tempat tersebut.
"Vin, tunggu!"
"Gavin. Tunggu!"
Bianca dan Lorenzo, memanggil Gavino yang hampir tidak bisa mereka kejar.
"Hoshhh..."
"Hoshhh..."
"Hoshhh..."
Mereka berdua, sama-sama ngos-ngosan. Mengejar Gavino yang tampak lari dengan cepat.
"Eh, Aku pikir kalian pergi tadi."
Gavino akhirnya berhenti. Menunggu kedua temannya itu.
"Mana bisa Kami pergi begitu saja! Meninggalkan Kamu sendirian, yang ada di dalam kandang macan."
"Kami tidak setega itu Vin!"
Gavino tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh kedua temannya itu.
Dia memang tidak melihat keberadaan mereka tadi. Dia hanya fokus pada keadaan yang sedang dia hadapi. Karena dia juga ingin memastikan bahwa, sistem yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya ini bisa berfungsi secara otomatis. Di saat dia memang dalam keadaan seperti tadi.
"Tapi Kamu hebat Vin!" puji Bianca, dengan rasa kagum.
"Iya betul. Kamu tadi hebat. Aku gak pernah menyangka jika Kamu bisa sehebat tadi."
"Tapi kenapa selama ini Kamu diam saja?"
Perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Lorenzo, tidak bisa dijawab dengan mudah oleh Gavino.
Dia juga tidak tahu, apa dan bagaimana menjelaskan tentang sistem yang saat ini ada pada dirinya. Kepada Bianca dan Lorenzo, yang saat ini ada bersama dengannya.
Namun yang pasti, dia sekarang menjadi yakin. Jika sistem yang ada pada dirinya saat ini, bisa dia gunakan secara otomatis. Sesuai dengan keinginannya.
Jadi, dia tidak perlu banyak mengkhawatirkan keadaan dirinya, yang selama ini dianggap remeh dan tidak ada apa-apanya.
Sekarang, dia sudah mampu mengatasi semua permalasahan yang dia hadapi selama ini.