NovelToon NovelToon
Retak Mimpi

Retak Mimpi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Patahhati / Balas Dendam / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:526.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Bagaimana jika pasanganmu, merasa bahwa dirinya seperti korban dari lagu Joji Glimpse of Us?

"Mas, yang setia. Ingat mimpi kita, katanya ingin menua bersama?"

Sesederhana itu mimpi mereka. Namun, bisakah mereka mempertahankan hubungan mereka sampai mimpi itu tiba?

Memiliki enam orang anak, tidak menjamin membuat mereka menjadi orang tua yang baik. Lika-liku rumah tangga, bahkan perceraian sekalipun, mereka sudah alami dan akhirnya memutuskan untuk kembali. Nyatanya, semua itu tidak mampu mendewasakan diri mereka.

Tetapi ada satu nama, yang mengukir sejarah di hati Ananda Givan. Seorang wanita, yang kembali dengan kondisi yang begitu memprihatinkan. Ia disebut-sebut, sebagai perempuan yang paling dicintai Ananda Givan. Tapi, apakah benar demikian?

Hingga Canda Pagi Dinanti, istri yang setiap hari memanjatkan doa untuk keberhasilan suaminya, mempercayai tentang kabar burung yang mengatakan bahwa Ananda Givan masih begitu mencintai perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RM9. Rumah sakit

"Mas, aku diare." Tangis Canda begitu lepas.

"Ya Allah, Canda. Kok bisa sih?" Givan langsung terserang panik mendengar kabar tersebut.

Kesadarannya mendadak pulih kembali, dengan mata yang begitu merah. Ia melupakan dosanya, yang ia geletakan di ranjang berbusa tersebut.

Ia keluar dari pintu kamar rahasia tersebut, sehingga para teman-temannya melihatnya dengan kebingungan. Mereka merasa aneh, dengan Givan yang melakukan aktivitas cepat. Beberapa dari mereka berpikir, bahwa Givan memiliki kelemahan dalam bidang warisan turun temurun itu.

"Baksonya pedas, kan isian tengahnya daging sama cabai. Namanya juga mercon. Salahnya aku lagi, aku malah tambahkan sambal sama saos. Jadi rasanya puedese pollll," jelas Canda, membuat Givan ingin memaki istrinya sendiri.

Watak aslinya keluar.

"Kau tau itu pedas, tapi tetap kau makan?! Ya ampun, Canda! Kau kira aku tak mampu ganti bakso kau yang tak pedas kah, kalau misal kau buang bakso tak layak makan itu?!"

Teman-temannya melongo saja, melihat Givan berbicara begitu nyaring dengan ponselnya. Mereka langsung berasumsi, bahwa Givan adalah pimpinan yang galak.

"Mas marahinnya nanti aja." Tangis Canda tidak bisa dikondisikan lagi. "Tolongin aku dulu, aku udah lemes bolak-balik kamar mandi. Aku udah BAB lima kali, part belakang aku pedas betul rasanya." Canda sesenggukan di seberang sana.

"Ya udah tunggu, aku lagi jalan. Jangan dimatikan telponnya, aku takut kau pingsan. Lepas ini kita ke rumah sakit langsung, aku takut kau kekurangan cairan." Givan nyerocos saja, dengan meninggalkan ruang VVIP tersebut.

Ia beberapa kali berjalan sempoyongan, meski terlihat masih kuat dan tegap. Ia masih bisa menjaga keseimbangannya sendiri, untuk sampai di kamar hotel tempatnya dan istrinya menginap.

Menyisakan, para temannya yang menatap lapar kamar rahasia tersebut. Sejurus kemudian, perebutan terjadi malam itu juga.

"Mas, lama betul!" Isakan Canda terus didengar Givan.

"Aku ini lari, Canda. Lift penuh, aku dari tangga darurat." Saking tidak sabarnya menunggu lift bergerak, Givan memutuskan untuk membuat kakinya lelah.

Napas ngos-ngosan Givan, cukup membuktikan bahwa benar dirinya bergerak cepat di tangga darurat tersebut. Ia berpegangan kuat pada besi, ketika pengarnya tak tertahankan.

"Canda.... Kau masih di sana?" Givan ingin Canda bersuara terus, agar ia tahu bahwa kondisi istrinya stabil.

"Bentar, Mas. Cebok dulu."

Givan hanya bisa geleng-geleng kepala. Perempuan seperti ini yang ia tangisi setiap perempuan tersebut kesakitan, kadang Givan merasa geli pada perasaannya yang terlalu berlebihan pada Canda.

Ya, ia merasa cukup berlebihan. Karena, hanya Canda seorang yang mampu membuatnya panik dan menangis. Hanya Canda seorang, yang bisa membuatnya diapit kesabaran ekstra, tapi ia tetap mencoba melebarkan sabarnya lagi . Hanya pada Canda, amarahnya begitu cepat berubah menjadi tawa.

"Aku udah di depan kamar hotel, Canda. Bentar, aku cari kartu kamar dulu." Givan menjepit ponselnya kembali, dengan ia yang merogoh saku belakangnya.

Setelah ia berhasil masuk, ia langsung menuju ke kamar mandi hotel. Tertutup rapat, membuat Givan harus mengetuk beberapa kali.

"Canda...," panggil Givan di depan pintu kamar mandi.

"Ya hallo, Mas."

Givan menilik pada ponselnya, kemudian berbalik menatap daun pintu kamar mandi.

"Ish, Cendol. Udah matikan teleponnya!" Givan menyentuh ikon merah tersebut, kemudian memasukkan ponselnya ke saku.

"Canda...." Givan mengetuk kembali pintu kamar mandi.

"Ya, Mas. Aku masih mules, padahal tadi udah mau keluar dari kamar mandi."

Sontak, Givan langsung panik kembali.

"Tak dikunci kan?" tanyanya cepat.

"Tak, Mas."

Setelah mendengar jawaban tersebut, Givan langsung masuk. Ia tidak memperdulikan bau yang tidak nyaman tersebut. Yang hanya di pikirannya, tentang keadaan Canda.

Setelah memastikan sendiri keadaan Canda, Givan memilih untuk menanggalkan pakaiannya. Ia teringat, bau-bauan apa yang menempel di pakaiannya ini.

Dalam mata yang berat terbuka, karena pengaruh alkohol yang masih terasa. Givan memutuskan untuk mandi, dengan alasan kepalanya kejatuhan kotoran cicak.

Padahal, ada alasan lain yang lebih Givan ketahui sendiri.

Malam itu juga, Givan membawa istrinya ke rumah sakit dengan mata yang begitu merah. Matanya seperti mata iblis dalam animasi.

"Silahkan urus kamar dulu, Pak." Seorang perawat menunjukkan ruang administrasi untuk mengurus ruang inap pasien.

"Baik, Sus." Givan membelai wajah pucat istrinya, kemudian ia langsung meninggalkan istrinya untuk mengurus administrasi tersebut.

Sampai akhirnya, mata lelahnya tidak tertahankan lagi ketika Canda sudah dipindahkan ke kamar inap.

Canda mengusap wajah suaminya, yang pulas di sampingnya. Brankar khusus pasien tersebut, diisi oleh dua orang. Pasti saat malam nanti, petugas medis yang mengganti kantong infus Canda akan terkekeh geli.

"Ganteng betul sih, Mas. Lepas KB nanti, kasih aku anak laki-laki lagi ya, Mas?" ucapnya lirih.

Telinga Givan yang masih bekerja, merespon dengan anggukan kepala meski keadaannya sudah pulas. Canda pun terkekeh kecil, kemudian mencium hidung mancung suaminya.

Tanpa memikirkan hal lain, pokok kehidupannya adalah suaminya dan anaknya. Tapi, itu jelas berbeda jika ada yang mengusik.

Canda memperhatikan selang infusnya kembali, kemudian ia mendongak untuk menatap kantong infusnya. Setelah disuntikkan obat ke selang infusnya, diarenya langsung mereda. Perutnya pun, tidak begitu melilit. Namun, masih terasa tidak nyaman karena terus berbunyi. Tentunya, bunyi karena keadaan perutnya yang tidak baik-baik saja. Bukan karena ia tengah lapar.

Tanpa mencurigai apapun yang dilakukan suaminya di luar sana. Canda mengeratkan pelukannya lebih nyaman, untuk berlindung di dada bidang suaminya.

Ia amat percaya, ia pasti akan selalu aman dengan pelindungnya ini. Meski suaminya sering membentaknya dan memarahinya, tapi Canda paham bahwa itulah karakter suaminya.

Ketika sakit seperti ini pun, masih sempat-sempatnya Givan memarahinya. Memang, intinya untuk kebaikan Canda sendiri. Tapi, pasti ada cara lain yang lebih halus untuk menyampaikannya. Sayangnya, hal itu tidak bisa dilakukan oleh suaminya.

Bukan karena tidak percaya, tapi hal ini adalah rutinitas isengnya. Memainkan ponsel suaminya, ketika mereka tengah memiliki waktu bersama. Hal itu, tidak pernah dipermasalahkan Givan. Karena Givan pun, tidak pernah menyembunyikan apapun dari istrinya.

Sayangnya, kecerobohan atas rasa pengar yang tidak tertahankan itu. Membawanya mendapat kecurigaan dari istrinya secara mendadak.

[Istri Saya masuk RS. Saya kirim uangnya aja, tolong urus sampai beres.] pesan teks dalam aplikasi chat tersebut, dibaca oleh Canda.

Canda memperhatikan nama kontak tersebut, yang berada di pojok kiri atas. Farhad, enam huruf tersebut memberikan kebingungan untuknya.

Bukti transfer sesama Bank di bagian bawah pesan tersebut, membuat Canda langsung mengerutkan alisnya.

"Lima puluh juta? Untuk transaksi apa?" batin Canda bertanya-tanya.

Pesan tersebut hanya terbaca saja, tanpa mendapat balasan dari kontak tujuan tersebut. Canda melirik wajah lelah suaminya, yang berada di belakang ponsel yang tengah ia genggam tersebut. Transaksi pun dilakukan lima belas menit yang lalu, berarti saat suaminya pergi untuk mengurus kamar inapnya.

"Awas aja!" Canda merencanakan untuk memberikan suaminya banyak pertanyaan esok pagi.

Karena ia tahu, bahwa Farhad tidak ada sangkut pautnya dengan rumah sakit ini. Berarti biaya yang keluar tersebut, bukan untuk biaya pengobatannya di rumah sakit ini.

...****************...

1
Hi Dayah
kangen canda jadi kesini baca lagi🥰
falea sezi
aib ma perempuan lain di ceritain ke istri najis bgt tau
falea sezi
pernah ada yg telfon g ada nomernya suara nya jg kek aneh
Lismardiana
ngk malu si ainya
Yunia Spm
kayaknya yg lebay mbak nisa deh ini
Yunia Spm
karakter nya ai bikin gemes banget
Yunia Spm
eng ING eng.... konflik di mulai 😁
Red Velvet
yang penasaran langsung aja baca jgn lupa subscribe
Rosita💖
Merujuk dari cerita sebelumnya aku mulai suka dengan pengokohan karakter Canda yang tegas dan lugas...

Pokoknya suka banget deh sama ceritanya...
Siti Latifah
keren
Ai Oncom
bagus banget ceritanya..
Mafa
ih modusnya yayah givan , beraksi dibalik alasan cemburu😂
Febrians
iq canda jongkok betul wkwkwkwk
Novalia Fatmawati
sehat sll kak Annisah, karyamu sll dinanti dan dihati 🤗
IG : anissah_31: terima kasih kak 🥰 bantu dukung subscribe favorit
total 1 replies
Red Velvet
Yayah harus bisa membimbing anak2nya, karena disini papah Adi dan mamah Dinda udh gak ada. 🥺
Edelweiss🍀
gak akan pernah bosan sama karya2 kak Nissah😘
chaia
makasih kak Nisa...sehat selalu😍
Komsatun Komsatun
terima kasih buat kak nisa atas cerita yang banyak hikmahnya ini.....
Yuli Amoorea Mega
Alhamdulillah ya mujabiddu....
mudah"an kak nissa ku di tangtayunan ku gusti Allah sehat" selalu biar lanjut cerita"nya...hatur nuhun author....
IG : anissah_31: terima kasih kembali kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nirwana Fabil
gk papa tamat d cerita retak mimpi..
aku tunggu d cerita seanjutnya....
sehat" selalu kak nissa🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!