ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Pagi itu langit tampak cerah bersinar, seolah ikut merayakan hari terpenting dalam penyatuan dua keluarga besar. Di luar pagar rumah Yhosep, sudah berjejer mobil mewah, undangan yang berdatangan, dan awak media yang bersiap meliput acara megah yang sudah dinanti berbulan-bulan. Namun di dalam rumah besar itu, suasana justru hening dan menyesakkan, seolah ada petir yang bersiap menyambar kapan saja.
Belinda Yhosep berjalan menaiki tangga dengan langkah ringan dan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Ia membawa nampan berisi susu hangat dan sarapan ringan untuk putri sulungnya. Matanya berbinar bahagia membayangkan Adelin akan segera menjadi istri dari pria terbaik yang ia kenal, dan menyelamatkan masa depan seluruh keluarga mereka.
"Adelin, sayang... bangunlah," panggilnya lembut sambil mendorong pintu kamar yang tidak terkunci rapat. "Matahari sudah tinggi, hari ini hari bahagiamu. Kita harus segera bersiap sebelum Gyantara datang menjemputmu."
Namun senyum di wajah Belinda perlahan memudar, lalu hilang sama sekali. Kamar itu terlihat berbeda dari biasanya. Tempat tidur rapi terbungkus sprei putih bersih, tapi tidak ada sosok Adelin di sana. Lemari pakaian besar yang biasanya penuh dengan gaun mahal kini tampak kosong di bagian rak bawah. Beberapa barang kesayangan Adelin yang biasa ia pakai sehari-hari juga sudah tidak ada di tempatnya.
Dengan langkah terhuyung, Belinda masuk ke dalam kamar. Ia memeriksa kamar mandi—kosong. Melihat ke arah balkon—tidak ada siapa-siapa. Pandangannya kemudian tertuju pada selembar kertas yang terlipat rapi di atas bantal empuk Adelin. Tangannya gemetar hebat saat meraih kertas itu, dan saat mulai membaca tulisan tangan putrinya, kakinya seketika terasa lemas tak bertulang.
"Maafkan aku, Papa, Mama. Aku tahu kalian berharap banyak padaku hari ini. Aku tahu pernikahan ini satu-satunya cara menyelamatkan segalanya. Tapi aku tidak sanggup melangkah lebih jauh. Aku tidak bisa menipu Gyantara seumur hidup, dan aku tidak bisa menghabiskan sisa hidupku dengan orang yang tidak kucintai. Aku pergi bersama Dimas, pria yang benar-benar mengerti hatiku. Aku tidak tahu ke mana kami akan pergi, tapi aku berjanji akan hidup dengan jujur pada diriku sendiri. Jangan cari aku. Dan satu hal lagi, tolong jangan sakiti Adelia karena kesalahanku. Dia tidak bersalah apa pun. Maafkan anakmu yang pengecut ini."
Kertas itu terlepas dari tangan Belinda, jatuh melayang ke lantai. Gelas susu di nampan yang ia pegang tadi tergelincir, pecah berkeping-keping di lantai keramik, cairannya membasahi sepatu mahalnya. Namun Belinda tidak merasakannya. Ia jatuh berlutut di tepi tempat tidur, tangisnya meledak memecah keheningan pagi itu.
"Adelin!! Anakku!! Ke mana kamu pergi!!"
Jeritan penuh keputusasaan itu terdengar hingga ke lantai bawah. Tak lama kemudian, Adam berlari menaiki tangga dengan napas terengah-engah, diikuti oleh beberapa pelayan yang kebingungan. Saat melihat istrinya menangis tersedu-sedu di lantai dan membaca surat yang disodorkan kepadanya, wajah Adam seketika berubah pucat pasi seperti kertas. Tubuhnya terhuyung mundur, punggungnya menabrak dinding hingga membuat lukisan di sana bergoyang.
"Pengecut..." bisiknya dengan suara parau bergetar. "Dia lari... dia benar-benar lari di saat kita paling membutuhkannya."
Kekacauan pun tak terelakkan. Adam segera memerintahkan semua orang mencari ke setiap sudut rumah, halaman belakang, garasi, bahkan memeriksa apakah ada mobil yang hilang. Namun tidak ada jejak Adelin. Asisten pribadi yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana akhirnya berani berbicara dengan wajah takut-takut.
"Maafkan saya Tuan, Bu... dini hari tadi saya melihat Nona Adelin keluar lewat pintu samping. Ada mobil biasa yang menunggunya. Dia menyuruh saya diam saja, katanya ada urusan penting sebentar dan akan kembali sebelum pagi. Saya tidak menyangka dia tidak akan pulang."
Berita itu membuat Adam memijat pelipisnya yang berdenyut sakit sekali. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia tahu betul apa artinya kepergian Adelin di saat ini. Perjanjian dengan keluarga Raharja menyatakan jika pernikahan batal sepihak, maka kesepakatan penyatuan usaha dan bantuan dana yang dijanjikan akan dicabut sepenuhnya. Tanpa bantuan itu, bank pasti akan segera menyita seluruh aset mereka mulai besok pagi. Ribuan karyawan bisa kehilangan pekerjaan, dan nama baik keluarga yang dibangun puluhan tahun akan hancur dalam sekejap.
"Bagaimana kita menghadapi Gyantara?" tanya Belinda di antara isak tangisnya. "Bagaimana kita menghadapi ratusan tamu yang sudah berangkat dari berbagai kota dan luar negeri? Bagaimana kita bisa menatap wajah mereka semua?"
Adam tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela kamar yang menghadap ke gerbang depan. Di sana sudah terlihat mobil-mobil tamu yang mulai berdatangan. Waktu seolah berjalan terlalu cepat, sementara jalan keluar dari masalah besar ini belum terlihat sama sekali. Kepanikan melanda hati kedua orang tua itu, menyisakan ketakutan yang pekat dan kebingungan yang tak berujung.