1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31 kalimat terakhir
"ELANG!!"
Teriakan Alea menggema memenuhi Perpustakaan XIII Elang terjatuh ke lantai.
Belati itu menancap tepat di bawah bahu kirinya. Darah mulai membasahi pakaiannya Naura langsung berlari menghampiri.
"Elang! Bertahan! Tolong bertahan!"
Elang tersenyum lemah sambil menahan rasa sakit.
"Tenang..."
"Aku masih hidup."
Semua mengembuskan napas lega belati itu tidak mengenai jantungnya Namun luka itu tetap serius Direktur X mendesak pelan.
"Sayang sekali."
"Aku meleset."
Lucian menatap Direktur X dengan kemarahan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Selama ratusan tahun..."
"...kalian tidak pernah berubah."
"Kalian selalu mengorbankan orang lain demi keinginan sendiri."
Direktur X hanya tersenyum.
"Begitulah manusia."
"Bahkan kau pun pernah melakukan hal yang sama."
Lucian terdiam.
Ia tidak bisa menyangkalnya.
Dimas menggenggam pena hitam itu semakin erat Tangannya masih gemetar Di hadapannya berdiri ibunya.
Di belakangnya, teman-temannya bertarung mempertaruhkan nyawa.
Saat itulah ia menyadari sesuatu.
Selama ini ia terus berpikir bahwa ia harus memilih salah satu Menyelamatkan ibunya...Atau menyelamatkan dunia Namun...Bagaimana jika ada pilihan ketiga?Dimas memandang Buku Ketiga Belas.
"Kalau aku seorang Penulis..."
"...berarti aku tidak hanya mengakhiri cerita."
"Aku juga bisa menulis akhir yang baru."
Eleanor membelalak.
"Dimas..."
Lucian perlahan tersenyum.
"Akhirnya..."
"...kau mengerti."
Buku Ketiga Belas mulai bersinar terang Pena di tangan Dimas memancarkan cahaya putih.Dengan napas panjang, ia mulai menulis.
«"Perjanjian Karunia berakhir malam ini."»
Seluruh perpustakaan bergetar Gerbang mulai mengeluarkan cahaya merah Dimas melanjutkan.
«"Tidak akan ada lagi kehidupan yang ditukar dengan kehidupan lain."»
Kabut hitam mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Direktur X berteriak.
"Hentikan dia!"
Puluhan anggota XIII berlari ke arah Dimas.
Namun Raka, Alea, Naura, Keanu, dan bahkan Elang yang terluka berdiri menghalangi mereka.
"Tidak akan kami biarkan!" teriak Raka.
Dimas menulis kalimat berikutnya.
«"Semua jiwa yang terikat akan dibebaskan..."»
Ibunya tersenyum.
Tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya.
"Dimas..."
"Ibu bangga padamu."
Air mata Dimas jatuh ke halaman buku.
"Aku juga sayang Ibu..."
Wanita itu mengangguk.
"Lanjutkan."
"Dunia membutuhkanmu."
Dimas menghapus air matanya Lalu menuliskan kalimat terakhir.
«"...dan tidak seorang pun lagi boleh menggunakan Gerbang Karunia untuk melawan takdir."»
Begitu titik terakhir selesai ditulis...
caaaaar!!
Cahaya putih raksasa memenuhi seluruh perpustakaan.
Buku Ketiga Belas menutup sendiri.
Gerbang Karunia mulai tertutup perlahan.
Lucian mengembuskan napas lega.
"Berhasil..."
Namun...
Di tengah cahaya itu, Direktur X justru tertawa.
"Hahaha..."
"Kalian memang berhasil menutup Gerbang..."
"Tapi..."
Ia mengangkat sebuah benda kecil yang sejak tadi disembunyikannya.
Jam pasir hitam.
Retakan-retakan merah muncul di permukaannya.
"Kalian lupa..."
"Masih ada satu perjanjian yang belum berakhir."
Jam pasir itu tiba-tiba pecah Dan dari pecahannya...Muncul bayangan seorang pria berjubah putih Wajahnya tidak terlihat Namun suaranya membuat Lucian langsung membeku.
"Guru..."
bisik Lucian.
Pria berjubah putih itu tersenyum.
«"Permainan baru saja dimulai."
Cahaya putih perlahan menghilang Gerbang Karunia telah tertutup Kabut hitam lenyap.
Namun tidak ada seorang pun yang merasa benar-benar menang.
Di tengah ruangan, bayangan pria berjubah putih masih berdiri dengan tenang Wajahnya tetap tersembunyi di balik tudung.
Hanya sepasang mata berwarna biru terang yang terlihat Lucian langsung berlutut.
"Guru..."
"Aku pikir... Guru sudah tiada."
Pria itu tersenyum tipis.
«"Banyak orang mengira kematian adalah akhir."»
«"Padahal..."»
«"...itu hanya awal dari cerita yang lain."»
Naura berbisik kepada Alea.
"Dia siapa sebenarnya?"
Alea menggeleng.
"Aku juga nggak tahu."
Namun Eleanor tampak sangat ketakutan.
Tangannya sampai gemetar.
"Itu..."
"...Mustahil."
"Apa?" tanya Raka.
Eleanor menatap bayangan itu tanpa berkedip.
"Dia adalah orang yang pertama kali menemukan Gerbang Arunika."
"Bahkan sebelum Lucian."
Semua langsung terdiam.
Berarti...
Orang inilah yang mengetahui seluruh rahasia sejak awal.
Pria berjubah putih melangkah perlahan.
Setiap langkahnya membuat lantai batu dipenuhi cahaya keemasan.
"Aku dikenal dengan banyak nama."
"Sebagian memanggilku Guru."
"Sebagian lagi..."
"...menyebutku Penjaga Waktu."
"Namun nama asliku..."
Ia melepas tudungnya Semua membeku Wajahnya...Sangat mirip dengan Lucian Namun terlihat jauh lebih tua.
"Aku..."
Aurelius.
"Ayah Lucian dan Adrian."
Lucian menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, Ayah."
Aurelius tersenyum sedih.
"Yang seharusnya meminta maaf adalah Ayah."
"Karena semua ini..."
"...berawal dari kesalahan Ayah."
Ruangan kembali sunyi.
Aurelius memandang semua orang.
"Lima ratus tahun yang lalu..."
"Ayah menemukan Gerbang Arunika."
"Saat itu Ayah mengira gerbang itu adalah anugerah."
"Ternyata..."
"...itu adalah ujian."
"Dan Ayah gagal."
Naura bertanya pelan.
"Kalau begitu..."
"Kenapa semua ini harus terjadi?"
Aurelius menatap Dimas.
"Karena manusia selalu takut kehilangan."
"Dan rasa takut..."
"...mudah berubah menjadi keserakahan."
Dimas menggenggam Buku Ketiga Belas.
"Kalau Perjanjian sudah berakhir..."
"...kenapa Guru masih muncul?"
Aurelius tersenyum.
"Karena ceritanya belum selesai."
Ia mengangkat tangan.
Buku Ketiga Belas melayang ke udara.
Halaman terakhir terbuka kembali.
Semua terkejut.
Tulisan yang tadi dibuat Dimas perlahan memudar.
"Tidak!"
teriak Dimas.
"Aku sudah mengakhirinya!"
Aurelius mengangguk.
"Kau memang telah mengakhiri Perjanjian."
"Tapi..."
"...kau belum mengakhiri pilihan manusia."
Semua terdiam.Aurelius melanjutkan,
"Selama masih ada manusia yang ingin mengubah takdir..."
"...akan selalu ada Gerbang Arunika yang baru."
Kalimat itu menghantam hati semua orang.
Mereka akhirnya memahami bahwa musuh sesungguhnya bukanlah sebuah pintu.
Melainkan keinginan manusia untuk menolak kenyataan.
Aurelius tersenyum kepada Dimas.
"Kau berhasil menjadi Penulis."
"Sekarang..."
"...jadilah orang yang mengajarkan dunia menerima kehilangan."
Sesaat kemudian...
Tubuh Aurelius berubah menjadi ribuan cahaya keemasan.
Sebelum menghilang, ia meninggalkan satu kalimat.
«"Cerita yang indah bukanlah cerita tanpa perpisahan... melainkan cerita yang membuat orang tetap melangkah setelah perpisahan itu."»
Cahaya itu menghilang.Perpustakaan XIII kembali sunyi Namun di luar...Langit yang sejak tadi gelap perlahan mulai memerah.
Fajar pertama akhirnya muncul Untuk pertama kalinya...Setelah bertahun-tahun Malam Hotel Arunika benar-benar berakhir.